
Pagi itu di sekolah seperti biasa mereka belajar untuk mempersiapkan ulangan kenaikan kelas, yang akan diadakan bukan depan.
Leon dan teman temannya selain belajar juga sibuk berlatih menari untuk kompetisi pekan ini.
Arumi sangat keras dan disiplin mengenai latihan menari mereka, sama seperti saat ia berlatih dulu, sehingga ia menjadi juara nasional, yang akhirnya membawanya menjadi runner-up kejuaraan dunia.
Arumi sangat penasaran bertemu dengan Mamanya Nina dan Dito, yang merupakan salah satu pengajar sekolah menari dunia yang bergengsi itu. Yang konon katanya merupakan teman Mamanya juga. Arumi ingin mendengar secara langsung cerita tentang Mamanya saat tampil di panggung dunia dari mulut teman Mamanya sendiri.
Gisel duduk di bangku kantin saat istirahat, Bela membawa gelas es teh padanya.
"Lama lama aku muak melihat mereka, Sel. Lagaknya sudah sok paling cantik. Memang sih Mamanya artis, tapi wajahnya kalo sama kita ga jauh jauh banget loh. Apalagi sama Nina, Rea ga ada apa apanya!" Gumam Bela dengan ketus.
"Kita kasih pelajaran saja dia!" Seringai Gisel sambil mengedipkan mata pada Bela.
"Gila kamu! Gimana caranya?" Bisik Bela sambil memukul lengan temannya itu saat mendengar ide gila dari Gisel.
Gisel berbisik pada Bela tentang rencananya, Bela menyimak dengan mengerut keningnya, lalu mengangguk mengerti. Setelah itu dia melotot ke arah Gisel.
"Gila! Tapi, mana mungkin kita bisa masuk ke sana tanpa pengawasan?" Tanya Bela.
"Gampang, saat pesta pembukaan turnamen tari kita jalankan rencana ini."
"Lalu, apakah Andin perlu tau ini?" Tanya Bela.
"Untuk saat ini cukup kita berdua dulu, nanti jika dirasa kita memerlukan bantuan, aku akan bilang pada Andin." Jawab Gisel santai, sambil menikmati es tehnya.
****
Usai pulang sekolah, Leon menemui Arumi untuk menemaninya mencari sepatu untuk lomba besok.
Di kejauhan Arumi melambat tangan saat melihat Leon.
Leon mempercepat langkahnya menemui Arumi. Mereka berjalan-jalan berkeliling mall sambil melihat-lihat.
Tiba di sebuah toko sepatu, mereka melihat lihat sepatu yang cocok untuk lomba besok.
"Hai Leon!" Panggil Nina.
"Hai Kak Nina!" Balas Leon,
"Oh, hai Rumi, kamu juga di sini?" Tanya Nina sedikit terkejut.
"Aku menemani Leon mencari sepatu untuk turnamen besok." Jawab Arumi.
"Oh, kalo aku menemani Mamaku, yang juga menemani Dito mencari sepatu. Bukannya kalian satu team, kan?"
"Iya. Aku juga akan mencari untuk beberapa teman yang belum memiliki sepatu baru untuk besok." Sahut Leon.
Mata Arumi mencari cari sosok Mama Nina yang katanya ada di sana.
Tak jauh dari sana terlihat Dito sedang mencoba sepatu ditemani oleh seorang perempuan yang cantik, dengan postur proposional ala balerina. Arumi tertegun sejenak mengagumi perempuan itu. Ia teringat akan Mamanya yang menunjukkan foto saat ia memakai pakaian menarinya.
"Eh, sudah dulu ya, aku ke tempat Mamaku dulu." Pamit Nina sambil bergegas mendekati Mamanya dan Dito.
Setelah selesai memilih beberapa sepatu, Arumi dan Leon menuju kasir, membayar semua belanjaan, lalu keluar dari toko itu.
Mereka berjalan berdampingan, tiba tiba, tangan Leon meraih tangan Arumi dan menggenggamnya.
Leon tersenyum menatap Arumi, lalu melangkah bersama sama menuju booth snacks dan minuman. Mereka memesan beberapa menu untuk dinikmati bersama.
"Ya, aku pun juga. Oya, apakah kamu pernah bertemu Mamanya Dito?"
"Tentulah! Mamanya Dito itu, sahabatnya Mamaku. Sama sama penari. Itulah sebabnya, Dito dan Nina tinggal bersama Omanya di sini. Papanya seorang vokalis band, yang terkadang sibuk dengan tournya. Sama dengan Nina. Tak jarang mereka sering berkumpul di negara lain bersama sama, lalu pulang kembali. Mamanya salah satu pengajar di sekolah menari itu. Dito telah mendapat tiket untuk masuk ke sana, tanpa audisi." Cerita Leon terlihat sedih.
"Ga adil itu! Kalian punya kemampuan yang sama, harusnya dia juga ikut audisi untuk masuk ke sana, kecuali kalian memenangkan turnamen itu, sebagai tiket masuk sekolah itu." Tegas Arumi.
"Sudahlah, Rumi, kita fokus untuk lomba dulu. Aku sudah sangat senang, Papa telah mengijinkan aku sekolah di sana."
"Ya, berjuanglah! Aku akan selalu mendukungmu."
Mereka menghabiskan waktu hingga sore hari, lalu Arumi mengajar. Leon menunggu sambil belajar untuk ujian kenaikan kelas untuk mengisi waktu latihan setelah Arumi usai mengajar.
Bin, datang satu jam kemudian, lalu mereka belajar bersama terlebih dahulu. Kemudian terlihat beberapa teman mereka datang juga. Mereka berbincang dan berdiskusi untuk persiapan lomba. Kostum, lagu, koreografi, dan betapa gerakan improvisasi untuk tarian mereka supaya terlihat lebih bagus.
****
"Aku senang bertemu kembali setelah sekian tahun. Maaf tak sempat datang melayat saat Emma meninggal." Ucap Viona pada Tuan Haris. Viona adalah Mamanya Nina dan Dito. Sedangkan Papanya adalah vokalis band ternama.
Selama ini Nina dan Dito tinggal bersama Oma dan Opanya. Yang menjadi manager Nina selama ini adalah Pamannya, yang merupakan adik dari Mamanya.
"Tidak apa apa. Terima kasih atas perhatiannya padaku. Berapa lama kamu akan tinggal di sini?" Tanya Tuan Haris.
"Selama kompetisi. Plus beberapa hari untuk berlibur sejenak dan berkumpul bersama keluarga." Jawab Viona.
"Lalu suamimu?"
"Saat ini dia sedang tour keliling dunia promosi album barunya. Jadwalnya ke sini, Minggu depan, ya, itulah saat kami berkumpul." Jawab Viona tersenyum kecut.
"Kamu masih bertahan?"
"Demi anak anak kami, Ris. Hanya itu yang dapat aku lakukan." Jawabnya tertunduk.
Tuan Haris menemui Viona di sebuah kafe kecil di pinggir kota. Tempat mereka biasa bertemu saat masih remaja dahulu.
"Kamu beruntung dapat menikmati kebun anggurmu setiap saat." Puji Viona.
"Kamu mau menikmati juga?" Tanya Tuan Haris.
"Dengan senang hati."
Tuan Haris sengaja menyetir sendiri mobilnya, dan pergi menemui Viona untuk menghabiskan waktu bersama.
Dua puluh lima tahun silam, mereka adalah sepasang kekasih. Mulanya mereka adalah teman bermain sedari kecil. Haris menyukai Viona saat pertama kali bertemu.
Mereka teman sekolah dan bermain. Kedua orang tua mereka saling mengenal. Keluarga Tuan Haris adalah pemilik kebun anggur, dan termasuk pejabat pemerintah kota.
Sedang keluarga Viona hanya keluarga biasa saja, papanya guru. Mereka berteman, hingga saat sekolah menengah pertama, Tuan Haris mengungkapkan perasaan, bahwa ia menyukai Viona. Begitu pula sebaliknya, Viona juga menyukai Haris muda. Mereka menjalin hubungan hingga Sekolah menengah atas.
Lalu suatu hari, ada seorang pencari bakat datang ke kota, dan melihat aksi menari Viona di balai kota. Ia menawari Viona tiket masuk untuk sekolah menari. Seperti mimpi, Viona tak dapat menolaknya. Lalu ia bersekolah di Amerika, dan bertemu dengan vokalis band itu.
Saat Tuan Haris menyusulnya bersekolah di negara yang sama, betapa ia terkejut, Viona telah menduakan cintanya.
Lalu ia bertemu dengan Emma, yang akhirnya menjadi istri, dan Mama dari Leon. Emma adalah teman satu sekolah Viona, mereka juga termasuk penari berbakat.
Namun, dalam hati Haris masih ada nama Viona. Meski dia telah berusaha untuk melupakannya dan menikahi Arumi. Setiap kali melakukan hal itu dengan Arumi, yang ada dipikirannya adalah Viona. Namun, tak mungkin, karena Viona adalah istri orang lain. Jika dia bersama Viona, maka akan terjadi skandal, yang merugikan karirnya.