
"Sudah aku bilang, bereskan tanpa bersisa? Mengapa polisi bisa tau? Dasar bodoh!" Umpat Dipo pada anak buahnya.
"Ta-tapi Bos, kami sudah menjalankan sesuai perintah, namun sepertinya ada mata mata menyusup. Atau ada seseorang yang membocorkan rencana kita Bos." Jawab salah satu anak buahnya.
Dipo manggut-manggut berpikir, ia menduga duga siapa saja yang bisa menjadi penyusup atau penghianatan itu.
"Pergilah kalian! Aku akan mencari tau siapa penyusup itu!" Ucap Dipo geram.
Dipo masuk dalam rumah, di sana Anne istrinya sedang menyiapkan makan di meja makan.
Ia mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang. Ia mencium Anne dan mencumbunya.
"Sudahlah, aku akan menyiapkan makanan dulu. Gisel sebentar lagi akan pulang." Jawab Anne sambil melepas pelukan suaminya.
"Maafkan aku Ne. Aku telah membuatmu berdarah seperti ini." Dipo menyentuh luka pada sudut bibir Anne yang memerah cenderung lebam.
Anne hanya mengangguk, dan menaruh mangkok yang berisi sayur di meja makan.
"Aku pulang...!!" Teriak Gisel sambil membuka pintu rumahnya.
Ia masuk menuju ruang tengah, saat melihat ada orang di ruang makan ia berjalan ke sana.
"Wah.. enak sekali baunya. Aku mau makan ah..." Sorak Gisel.
"Jangan! Cuci tangan dan kaki, bersihkan dirimu dulu, ganti baju, baru boleh makan!" Ucap Anne setengah membentak, sambil memukul tangan Gisel yang hendak mencomot sepotong tempe.
"Ah.. Mama..!" Keluhnya.
Anne hanya melotot menatap putrinya itu.
"Sudah, turuti Mamamu! Daripada nanti sakit perut karena tanganmu kotor." Nasihat Dipo.
Gisel berbalik menuju kamarnya sambil menggerutu. Melihat tingkah putri mereka, Dipo dan Anne hanya bisa tersenyum.
***
Di kediaman Tuan Haris yang besar, tampak Arumi sedang berada di ruang latihan milik istri Tuan Haris sebelumnya. Ia bersama Nina berlatih di sana. Nina mungkin seusia Arumi, dia sejak kecil memang sudah menyukai bernyanyi. Dari menjuarai kontes menyanyi, ia mencoba akting dan model.
Kini untuk menyiapkan film terbaru dengan genre drama musikal. Ia meminta Arumi untuk menjadi pelatih pribadi untuk menari.
"Kamu banyak sekali kemajuan dalam tiga kali pertemuan ini." Puji Arumi pada Nina.
"Terima kasih, berkat kesabaran kamu melatihku." Jawab. Nina sambil tersenyum. Ia menyeka keringat dengan handuk kecilnya yang terkalung di lehernya.
"Aku ingin menjadikan menari sebagai latihan kebugaran setelah ini. Aku suka, hitung hitung, banyak lagu yang dapat dipakai untuk mengisi gerakan tariannya." Sambung Nina.
"Ya, nih minum dulu." Tawar Arumi sambil memberikan sebotol air mineral pada Nina. Nina menerima, membuka botol, dan meneguknya hingga habis setengah.
"Setelah ini kamu mau mengajar?" Tanya Nina.
"Ya."
"Keren, kamu ga ada capeknya. Eh itu Leon kan?"
Nina melongok kepalanya dari pintu memanggil Leon.
"Leon!" Panggil Nina.
Leon menengok saat namanya dipanggil seseorang. Ia melihat Nina melambaikan tangannya, membalas Nina.
Nina adalah kakak dari Dito, sahabatnya. Mereka tinggal di kota itu bersama kakek dan neneknya, sedangkan orang tua mereka ada di ltali, karena Papanya Nina dan Dito kewarganegaraan asing, dan mempunyai perusahaan di Itali dan beberapa di negara Eropa lain.
Selesai sma, Dito pun berencana meneruskan pendidikannya di Itali, dan tinggal bersama Papa mamanya di sana. Sedang kan Nina, tetap di Indonesia, karena telah memiliki penghasilan dan reputasi di sini.
"Hai Kak Nina! Ngapain?" Tanya Leon.
"Aku latihan menari. Bersama Arumi." Jawab Nina tersenyum lebar.
"Kenapa tidak berlatih sama Dito saja?" Tanya Leon heran.
"Ah, dia marah marah terus kalo mengajariku. Saat menjelang syuting filmku sehatuh yang lalu, aku kan pake dia sebagai pelatih, duh, tiap saat dimarahi. Aku ga suka kaya gitu. Memang sih kami kakak adik, namun kan, yang namanya bakat itu beda beda. Dia berbakat menari, sedang aku bernyanyi. Dito pun, belum tentu bisa bernyanyi sebagus aku." Nina menceritakan kekesalan dirinya saat, Dito, adiknya mengajar dia menari.
Leon tertawa terbahak-bahak mendengar curhatan Nina.
"Jadi bagaimana, sejak berlatih dengan Mama baruku?" Tanya Leon sambil merangkul bahu Arumi.
Membuat jantung Arumi terlonjak, saat bersentuhan dengan Leon.
"Nah, beda sekali... Seratus delapan puluh derajat pokoknya! Arumi sabar banget, pantas saja kelasnya selalu ramai." Nina membandingkan Dito dan Arumi, lalu ia memuji Arumi.
"Jadi kamu akan bermain film apa lagi selanjutnya?" Tanya Leon.
"Aku akan bermain di film musikal, lalu drama remaja, dan satu lagi film aksi. Kalau drama remaja aku sudah biasa. Film aksi kali ini berbumbu komedi. Untuk yang musikal, aku harus menari juga."
"Wah, berarti bayarannya banyak dong!"
"Hasil tak menghianati jerih payahnya kita, Leon. Aku selalu percaya, jika kita sungguh sungguh, maka hasilnya akan memuaskan."
"Iya, benar sekali!" Timpal Arumi.
Saat itu tangan Leon mengelus punggung Arumi hingga area pantatnya. Lalu ia mengelusnya. Membuat Arumi sedikit risih, karena takut terlihat oleh Nina.
"Ah, sudahlah, aku mau pulang dulu. Dua jam lagi aku ada jadwal pemotretan." Nina membereskan perlengkapannya, asistennya yang baru datang untuk menjemput, membantu merapikan kembali pakaian dan perlengkapan Nina.
Setelah itu Nina dan asistennya berpamitan pada mereka. Arumi dan Leon mengantar mereka hingga ke teras. Arumi melambaikan tangan saat mobil Nina meninggalkan rumah itu.
Arumi kembali lagi ke ruangan menari itu, dan Leon mengikuti. Ia menyalakan musik dan menggerakkan tubuhnya. Arumi hanya tersenyum melihat Leon menari.
Arumi meneguk air dalam botol minumnya, lalu meletakkan di atas meja di sudut ruangan itu. Lalu ia bergabung bersamaa Leon dan melakukan koreografi tarian.
"Sebaiknya, gerakan kaki seperti ini dulu, baru setelah itu dihentakkan." Usul Arumi.
Leon memperagakan usulan Arumi barusan, Arumi menganguk.
Lalu ia memberikan contoh gerakan untuk koreksi.
Leon memperhatikan gerakan yang diajarkan oleh Arumi, dan ia menganggukan kepalanya mengerti.
"Aku akan ikut kontes lomba menari." Leon memberi tahu Arumi.
"Wow..!"
"Tari beregu, aku, Dito, dan Bin. Kami akan berlatih sebelum kontes dimulai. Katanya Bin akan mengajak beberapa temannya untuk ikut bergabung bersama kami." Imbuh Leon.
"Aku sangat senang kamu ikut lomba. Aku akan mendukungmu selalu. Kamu bisa gunakan kelas yang di lantai atas itu, kelas besar yang dulu milik Mamamu."
"Papa pasti tak mengijinkan." Keluh Leon.
"Kamu bisa berlatih di sini."
Leon tersenyum.
"Terima kasih Arumi. Kami tak akan menggangu pekerjaanmu. Aku akan menggunakan ruang atas dekat kamarku itu saja untuk berlatih. Atau berlatih di tempat teman yang lain." Leon menolak dengan halus tawaran Arumi.
Mereka saling bertatapan sejenak setelah itu. Ada kerinduan di antara mereka berdua.
"Rumi.." Panggil Leon.
"Ya.." jawab Arumi.
"Jujur yang kemarin itu adalah pengalaman pertamaku. Dan aku benar benar serius dengan ucapanku saat itu."
"Leon, entahlah. Aku rasa aku telah salah. Namun aku tidak bisa membohongi perasaanku ini padamu." Ucap Arumi lirih.
Leon mengambil tangan Arumi dan menggenggamnya erat. Lalu menarik Arumi dalam pelukannya.
"Aku mencintaimu Arumi." Bisik Leon di dekat telinga Arumi.
Arumi tak menjawabnya, ia hanya menggigit bibirnya, menahan gejolak hatinya.
Perasaan dan statusnya berbeda. Namun ia membiarkan semua terus mengalir, entah akan dibawa kemana mereka berlabuh.
Mereka menikmati saat-saat berdua saat ini.