
Setelah selesai makan malam, Tuan Haris memanggil Thomas di ruangan kerjanya. Arumi dan Will mengikuti mereka.
Gisel ditemani oleh Bela malam itu di kamar tamu, sebelah kamar tempat Thomas tidur selama di sana.
Leon, Dito, dan Bin sedang berlatih menari di ruang latihan lantai atas. Mereka berencana mengikuti lomba dance tingkat nasional.
***
"Duduklah!" Tuan Haris meminta Thomas untuk duduk di depannya. Arumi duduk di samping Thomas, dan Will berdiri di belakang Tuan Haris.
"Thomas, untuk ke depannya aku yang akan membantu biaya kuliahmu. Lalu, aku harap kamu dapat membantu mengurus beberapa perusahaanku di sini. Termasuk perusahaan Papamu yang membuatku harus merombak hampir semua jajaran karyawannya.
Kamu tau, perusahaan itu benar benar sudah tak ada untung sama sekali. Hanya sebagai kedok bisnis gelap Papamu saja. Dan kini, setelah sekitar tiga bulan aku berhasil menjadikan tempat usaha baru. Perusahaan itu kini kujadikan sebagai kantor pusat beberapa restoran milikku.
Aku ingin kamu dapat membantuku menjalankan bisnis. Untuk Gisel, biar dia tinggal di rumahku. Rumah kalian biarlah kosong, sampai polisi selesai melakukan olah TKP. Demi keamanan dan keselamatan kalian, sebaiknya jangan kembali ke rumah itu dulu. Aku khawatir kalian masih diincar, mengingat Papamu belum ditemukan.
Jika dia mau, aku akan suruh Arumi membawanya ke dokter kandungan untuk memberikan suntikan anti hamil, seandainya, ia tidak menginginkan bayi dari hasil peristiwa buruk yang menimpa dirinya itu." Ucap Tuan Haris.
"Terima kasih atas semua kebaikan yang telah Tuan Haris berikan pada kami. Namun, adakan konsekuensi seandainya, saya tidak dapat bekerja pada anda setelah menyelesaikan kuliah saya?"
"Ya, tidak ada konsekuensi sama sekali. Aku hanya berharap kamu dapat bergabung di perusahaan milikku. Namun, seandainya kamu dapat pekerjaan yang lebih baik, ya tidak masalah." Jawab Tuan Haris sambil menatap Thomas.
"Lalu adikku bagaimana setelah ia lulus nantinya?"
"Adikmu telah beranjak dewasa. Terserah dia mau meneruskan kuliah atau bekerja. Aku akan membantunya. Arumi akan membantu mengurusnya." Jawab aturan Haris.
Thomas menganguk angguk mengerti. Tuan Haris juga menceritakan tentang penemuannya dalam laporan perusahaan Dipo, mengenai bisnis narkoba, yang tak sengaja diketahui olehnya.
Tuan Haris juga meminta Thomas untuk rajin menghubunginya atau Arumi.
****
Di tempat lain, di kamar Gisel.
"Kamu gimana sekarang? Agak mendingan?" Tanya Bela penuh simpati.
"Seperti yang kamu lihat. Lebih baik dari sebelumnya." Jawab Gisel.
"Tapi, kamu beruntung, sepupumu, istri Tuan Haris. Orang terkaya di kota ini, dan ketua dewan kota juga. Pasti kamu terjamin."
Gisel tersenyum kecut mendengarnya. Dari dulu, ia selalu dibandingkan dengan Arumi. Ia sangat membencinya.
Namun, karena ia dapat lebih dekat dengan Leon, ia akan berusaha baik pada sepupunya.
"Apalagi Leon ada di sini. Kamu bisa ketemu tiap hari." Sambung Bela.
"Ya, itulah yang membuatku paling senang dapat tinggal di sini." Gisel mengaku.
"Kamu dapat salam dari Alan. Dia sangat khawatir padamu."
"Alan?" Gisel tersenyum geli sendiri, mengingat kejadian ia dengan Alan di kamar mandi sekolah.
Alan anak basket, yang selalu diteriaki oleh para gadis, saat berciuman saja gugup. Gisel hanya geleng-geleng kepala saat mengingat peristiwa itu.
"Ada apa sih, kamu dan Alan?" Tanya Bela penasaran.
"Ga ada, beneran." Ucap Gisel berbohong.
Malam itu Bela menginap di rumah Tuan Haris menemani Gisel. Mereka mengobrol hingga malam. Saling bercanda dan tertawa bersama.
Arumi yang mendengarnya, jadi rindu masa masa sekolah dulu. Ia dan teman temannya. Kini mereka telah sibuk kuliah dan tak ada waktu untuk Arumi.
***
Dua Minggu kemudian, Gisel telah dapat bersekolah kembali. Gisel setuju untuk pergi ke dokter menyuntikkan obat anti hamil.
Arumi mengantarnya dan selalu menemani. Dan selama itu pemeriksaan kesehatan Gisel pun tetap dijalani. Gisel juga mendapatkan perawatan salon, dan jasa pijat dari terapis spa, langganan Tuan Haris. Selama itu, Gisel berangsur-angsur membaik, bahkan kejiwaannya pun terlihat pulih. Saat ini Gisel sudah dapat tersenyum dan bercanda kembali.
Thomas telah kembali lagi ke Amerika untuk melanjutkan kuliahnya yang tinggal satu tahun lagi, setelah usai peringatan tujuh hari Mamanya.
***
"Pagi..!" Sapa Leon sambil duduk di kursi makan.
Tak lama Tuan Haris keluar dari kamarnya, dan ikut bergabung di sana.
Arumi melirik jam tangannya, sudah jam setengah tujuh, tapi Gisel belum keluar juga dari kamarnya.
Arumi bergegas menuju kamar Gisel. Ia mengetuk pintu kamar tempat selama ini Gisel tinggal.
Tok.. Tok... Tok...
"Masuk!" Jawab Gisel dari dalam. Arumi membuka pintu kamar yang tak terkunci.
"Ada apa Gisel?" Tanya Arumi.
"Sepertinya aku belum siap untuk ke sekolah. Aku malu dengan keadaanku saat ini." Jawabnya tertunduk.
"Gisel, nanti aku akan bilang ke Leon, untuk menjagamu di sekolah. Jika ada yang mengolok-olok atau berbuat jahat padamu di sekolah biar dia yang melibas. Seandainya itu terjadi, aku akan datang ke sekolah untuk berbicara dengan pihak sekolah.
Sekarang, ayo kita sarapan. Nanti kamu dan Leon berangkat sekolah bersama." Ajak Arumi pada sepupunya itu.
Gisel menatap Arumi dan senyum pun mengembang di bibirnya. Ia mengambil tas ranselnya dan berjalan keluar dari kamarnya bersama Arumi.
Setelah mereka selesai sarapan Leon dan Gisel berangkat ke sekolah. Arumi mengantar mereka hingga masuk dalam mobil.
"Leon, tolong jaga Gisel. Bantu dia, jika ada yang mengolok-olok atau mengganggunya." Pinta Arumi, saat Leon hendak masuk ke dalam mobil.
Leon hanya mengangguk dengan wajah datarnya itu. Sebenarnya ia enggan, namun, karena permintaan Arumi, ia menyanggupinya.
Mobil yang mengantar Leon dan Gisel telah berbelok di jalan raya keluar dari gerbang halaman rumah Tuan Haris.
***
Gisel tersenyum senang melihat wajah Leon dari kaca spion mobil. Leon duduk di depan, dan ia di bangku belakang. Dari dulu ia menyukai pemuda dingin itu.
Sepanjang perjalan ke sekolah mereka terdiam. Bejo menyalakan radio mobilnya untuk memecah keheningan sepanjang perjalanan. Terkadang mengikuti lirik lagu yang sedang diputar.
Sekitar setengah jam perjalanan mereka tiba di gerbang sekolah.
"Terima kasih, Pak." Ucap Leon pada Bejo. Dibalas anggukan kepala oleh Bejo.
Gisel pun turun dari mobil, berjalan mengikuti langkah Leon.
"Bisakah kamu tidak mengikutiku?" Tanya Leon dengan ketus.
"A-aku takut Leon." Ucap Gisel dengan gugup.
Leon hanya mendengus kesal.
"Gisel..!!" Panggil Bela sambil berlari kecil mendekati mereka.
Leon langsung berlalu meninggalkan Gisel setelah melihat Bela berlari mendekati.
"Hai, Bela." Ucap Gisel sambil membalas pelukan sahabatnya itu.
"Kami akhirnya sekolah juga, aku merindukanmu!" Ucap Bela dengan senang.
"Ya, aku pun rindu semuanya." Jawab Gisel.
Mereka berdua melangkah masuk ke ruang kelas, terlihat Andin mendekati mereka dan menyapa Gisel.
Mereka mengikuti pelajaran hari itu dengan tenang.
Dan hari itu Gisel dapat mengikuti pelajaran dengan tenang tanpa ada gangguan.
Kini ia pun telah pulang ke kediaman Tuan Haris untuk beristirahat. Namun, Leon tak tampak. Sepulang sekolah Leon tidak ikut pulang bersamanya.