Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Akhirnya berkumpul kembali


"Arumi!" Pekik Gisel sambil membelalakkan matanya. Thomas membuka kaca jendelanya.


"Rumi?" Thomas juga tak kalah terkejutnya.


"Ayo, ikuti aku. Di sini mungkin tidak terlalu aman untuk kita."


Thomas menganguk. Arumi masuk ke mobilnya, dan mengendarainya kembali, diikuti oleh Thomas.


Arumi melajukan mobilnya, menuju sebuah kawasan besar, di daerah pantai. Thomas yang tidak begitu familiar dengan daerah itu, hanya terus fokus mengikuti mobil Arumi.


Gerbang dijaga oleh beberapa orang bertubuh besar, berperawakan seperti tentara dan bersenjata.


Saat melihat mobil Arumi, mereka membukakan gerbang dan tersenyum, Arumi terlihat berbicara sejenak dengan penjaga itu, dan para penjaga melirik ke arah mobil Thomas sambil mengangguk.


Lalu Arumi melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke sebuah rumah dalam kawasan itu, diikuti Thomas juga.


Arumi berhenti tepat di depan sebuah rumah, Thomas memarkir tepat di samping mobil Arumi.


Tiba tiba Beberapa penjaga mendekat ke arah mereka.


"Mobil itu tidak steril!" Ucap salah satu dari mereka.


Arumi menoleh ke arah Thomas, yang masih bingung.


"Di mobil ada pelacaknya, Thomas! Biar mereka yang membereskan!" Ucap Arumi dengan tegas.


Thomas menyerahkan kunci mobil pada penjaga itu, dan sesegera mungkin membawa mobil itu pergi dari kawasan itu, sebelumnya, mereka mengutak-atik pelacak itu, sebelum meninggalkan mobil di area perkebunan anggur milik Tuan Haris.


"Rumi?!" Gisel masih tak percaya dengan yang ada di hadapannya.


"Kata mereka kamu...!" Ucap Gisel tertahan, lalu memeluk Arumi dan menangis sejadi jadinya dalam pelukan sepupunya itu.


"Aku bertemu Om Dipo." Ujar Arumi, yang membuat Thomas dan Gisel terkejut. Gisel melepas pelukannya, dan menatap tajam ke arah Arumi.


"Dia ada di mana?" Tanya Thomas.


"Amerika. Dia berlindung dan bekerja dengan salah satu bos di sana. Kamu, tahu, dalang dari peristiwa itu adalah Tuan Marco." Arumi menceritakan pada Thomas dan Gisel.


Thomas hanya mendengarkan dan terdiam, sedangkan Gisel tertunduk selama Arumi menceritakan semua kebenaran.


"Sel? Kamu tidak apa apa? Maaf, aku tidak sempat memberi kabar pada kalian."


"Bukan salahmu Rumi. Dan aku juga mengetahui bahwa Mark adalah orang yang disuruh Tuan Marco untuk menghabisi kami sekeluarga. Lalu dengan penuh simpati dia beralasan menemukanku, padahal sebenarnya dia tidak kemana mana. Dia menyeretku, melucuti semua pakaianku, membungkam mulutku dengan dalamanku supaya tidak berteriak, dia lah yang membuat aku tersiksa seumur hidupku dengan bayang bayang peristiwa mengerikan itu, Rumi! Ternyata dia, yang selama ini memintaku untuk menikah dengannya. Dasar brengsek!" Maki Gisel dengan penuh amarah.


Thomas mendekati Gisel dan memeluk adiknya itu.


"Aku tak tahu Will ada di pihak mana saat ini. Tapi yang pasti, Leon saat ini dekat dengan Pak Walikota. Ia, Dito, Bin, dan Andra bekerja dengan Walikota. Itu yang aku tahu. Dito mengetahui beberapa bisnis kotor yang dilakukan oleh kakeknya saat ini. Jadi, dia akhirnya tinggal bersama Leon dan benar benar keluar dari kediamannya." Cerita Thomas.


"Aku tidak tahu, Will akan ada pihak siapa kelak. Dia sangat dendam pada Om Dipo, tapi apakah dia tahu, jika Om Dipo dahulu hanyalah suruhan dari Tuan Marco?" Tutur Arumi.


"Tuan Marco?"


"Ya. Dialah sebenarnya yang benar benar menguasai kota ini, dan ambisinya adalah menguasai seluruhnya. Tapi Walikota masih waras dan melaporkan semua ke pusat. Semoga semua bisa berjalan dengan lancar."


"Bagaimana kamu bisa tahu sebanyak ini Rumi?" Gisel menatap Arumi dengan heran.


"Semua bermula dari salah culik waktu di Amerika kemarin."


"Salah culik gimana?" Sela Thomas.


"Usai konser di sana setahun yang lalu, seharusnya Nina yang mereka cilik, namun aku tahu saat itu kamu bersama Nina usai konser, dan aku masih memakai kostum yang mirip dengan milik Nina. Saat aku sedang berjalan-jalan dengan Leon, penculik itu menangkapku dan menembak Leon." Arumi berhenti memberi jeda.


"Benarkah? Bagaimana kamu bisa jadi seperti ini?" Tanya Gisel dengan penasaran.


"Aku pun telah pasrah setelah itu. Aku dibawa entah kemana mana, yang jelas aku selalu melawan pada mereka. Hingga aku lelah dan pasrah pada nasibku. Bahkan setelah mendengar berita kematianku sendiri. Tuan Haris, benar benar tidak pernah mencariku, dan memang tidak berniat menolongku selama ini."


"Iya. Dan Nina juga telah berubah sejak popularitasnya menanjak, dan berduet dengan penyanyi itu." Thomas mengucapkan sambil tersenyum kecut.


"Lupakan Nina, banyak gadis gadis yang lebih baik dan pantas untukmu, Thomas." Hibur Arumi sambil menepuk bahu Thomas.


"Rumi, bisakah aku mandi untuk membersihkan tubuhku ini?" Tanya Gisel.


Arumi mengajak Gisel ke sebuah kamar, di sana juga telah tersedia banyak pakaian untuk bisa dipilih oleh Gisel.


"Ini, milik siapa?" Tanya Gisel heran.


"Ini rumah siapa Rumi?" Sambungnya.


"Ini rumah Madam Fey. Dan itu adalah pakaian ganti yang dapat dikenakan oleh siapa saja. Ini milik putri Madam Fey. Dia telah meninggal bertahun-tahun yang lalu. Karena sakit. Putri madam Fey seorang penari juga, namun karena sakitnya, akhirnya dia tidak melanjutkan sekolah menarinya, dan menghabiskan sisa hidupnya di rumah ini." Terang Arumi.


"Lalu, sekarang di mana Madam Fey?"


"Dia jarang tinggal di sini, maka, aku dan gadis gadis penari tinggal di rumah ini. Madam Fey juga membebaskan meminjam pakaian mendiang putrinya,asal dikembalikan lagi."


Gisel menganguk mengerti.


"Sudah, bersihkan dirimu dulu. Aku tunggu di luar saja." Tukas Arumi sambil berlalu meninggalkan kamar itu.


Arumi meletakkan mug berisi kopi di depan Thomas.


"Aku juga tak menyangka hidup kita akan menjadi seperti ini." Ucap Arumi.


"Iya. Apalagi setelah mengetahui kamu jadi korban....!" Ucapan Thomas terhenti saat ia mengingat sesuatu.


"Lalu, yang di dalam peti itu apa? Ia bukan kamu, lalu siapa?"


"Mungkin tuna wisma korban tabrak lari atau hal lainnya?!" Sahut Arumi.


"Ya. Aku senang kita dapat berkumpul kembali." Thomas menyesap kopinya sambil menyulut sebatang rokok.


*


*


Will mendengar kegaduhan dari sebuah kamar, seorang pria keluar dari kamar itu sambil marah marah pada Gisel.


Will mengenali pria itu, yang bekerja menjadi bawahan Mark saat ini. Will hanya diam saja pura pura tidak tahu.


Tiba tiba seorang gadis menabraknya, sambil memberikan sebuah amplop pada Will, lalu bergegas meninggalkannya.


Will menatap amplop kecil pemberian gadis aneh itu. Dia membuka amplop itu dan mengambil isinya.


Isinya berupa fotonya dua bocah. Will membalik foto itu, ada sebuah kalimat di belakangnya. "Selamatkan dirimu! Aku akan membantumu."


Will bergegas mencari gadis tadi. Will menyusuri lorong ke arah kamar, namun banyak yang tertutup. Lalu ia menuju ke bar, dan memesan atau gelas minuman untuk meredakan penatnya.


Entahlah, tiba tiba, Will teringat pada Gisel. Gadis yang selama ini menjadi sahabatnya. Namun, Dipo telah membunuh seluruh keluarganya. Namun, Will selalu tak dapat membenci Gisel maupun Thomas. Mereka adalah sahabatnya selama ini. Sosok sahabat yang selama ini tak pernah dimiliki oleh Will.


Ekor mata Will menangkap siluet tubuh gadis yang menabraknya tadi, yang memberinya amplop. Will langsung bergegas mendekati gadis itu, namun, gadis itu terus berlari menghindar


"Hai, tunggu!" Panggil Will.