Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Koreografi untuk Nina


Arumi membuka ruang latihan menarinya pagi itu. Ia mengikat dan membentuk sebuah gelungan kecil pada rambut panjangnya itu. Ia mengenakan kaos pas tubuh dan celana training. Lalu mengambil sepatu di rak sepatu, dan mengenakan sepatu kets menarinya.


Arumi melakukan gerakan pemanasan sebelum memulai menarinya pagi itu. Nina memberi pekerjaan membuat koreografi untuk lagu terbarunya. Arumi yang telah sering menerima pekerjaan dari Nina sudah mengerti koreografi yang diminta oleh Nina.


Arumi memutar lagu terbaru yang dinyanyikan oleh Nina. Ia mendengarkan terlebih dahulu setiap hentakan dan ketukan pada lagu tersebut. Kali ini musiknya lebih up beat dari biasanya. Ia mengangguk angguk kepalanya, lalu memejamkan mata seolah membayangkan gerakan yang akan digerakkannya.


Arumi menggerakkan tangannya, lalu kakinya, dan tubuhnya. Kemudian memutar, melompat, dan berayun. Ia mencoba beberapa kali, beberapa kali merevisi gerakan karena terlalu sulit atau kaku. Lalu mengulang dan mencoba lagi, hingga merasa gerakan yang ia lakukan pas untuk lagu yang akan dinyanyikan oleh Nina.


Tepat pukul sepuluh pagi, Nina dan kru menarinya datang untuk berlatih bersama Arumi. Mereka tiba menggunakan mobil Nina.


"Hallo, Rumi. Aku senang bisa datang kemari lagi." Sapa Nina.


Dia memang hampir beberapa bulan tidak bertemu Arumi karena sedang tour keliling daerah dan beberapa negara untuk mempromosikan album barunya.


Tak jarang Nina menghubungi Arumi melalui video call untuk berkonsultasi mengenakan tarian untuk panggungnya. Nina memang artis yang rajin dan berbakat. Meski tak terlalu pandai menari, namun karena ketekunannya dan giat berlatih, kini ia dapat dikatanya menjadi salah satu penyanyi yang memakai tarian koreografi untuk mengiringi lagunya.


"Aku senang bisa melihatmu lagi. Tidak dibatasi dengan layar ponsel saja." Gurau Arumi.


Nina tertawa geli sendiri.


"Iya, aku pun sama. Oya, kali ini sampai pukul berapa supaya aku juga tak mengganggumu?" Tanya Nina.


"Aku hari ini tidak ada meeting. Lalu pekerjaanku dapat aku pantau dari rumah. Jadwal kuliahku sore, jam empat, lalu aku memiliki kelas menari pukul tujuh malam. Ya kamu bisa sampai siang hari berlatih di sini." Terang Arumi.


"Terima kasih atas waktunya padaku."


"Sama sama."


Mereka kemudian memulai latihan. Nina dan kru penarinya mulai mengikuti gerakan yang Arumi ajarkan pada mereka. Mulanya mereka masih terlihat kaku dan salah salah. Namun, setelah mencoba berulang kali, mereka dapat mengikuti gerakan yang Arumi buat.


Arumi kini menyaksikan Nina dan kru menari dengan lincah, ia hanya sesekali memberi semangat.


"Ya, lebih power!" Atau "Jangan lupa tersenyum!" Atau "Ya, bagus."


Komentar itu berulang kali Arumi lontarkan saat Nina melakukan gerakan koreografi bersama kru menarinya tanpa Arumi.


Hampir sekitar di jam lebih mereka berlatih. Akhirnya Nina merasa cukup yakin bisa melakukannya. Selain untuk dalam video klip, koreografi akan dibawakan pada konser yang akan dilakukannya. Nina salah satu penyanyi yang selalu menggunakan koreografi pada konser sebagai hiburan.


Beberapa lagu lamanya, diubah menjadi lebih beat, supaya dapat digunakan musiknya untuk menari.


"Ayo ikut makan bersamaku!" Ajak Nina sambil menyeka keringat dengan handuk kecilnya.


"Baiklah." Arumi menganguk setuju.


Setelah selesai berganti pakaian, mereka menuju ke sebuah restoran tak jauh dari kediaman Tuan Haris. Mereka memilih tempat agak di pojok supaya lebih leluasa menikmati makanan siang itu.


"Jadi kapan mulai syuting video?" Tanya Arumi.


"Jika tidak ada kendala, besok siang. Benar, kan?" Jawab Nina sambil menoleh ke kru menarinya. Yang lantas di jawab anggukan dari mereka.


"Mengapa tidak belajar dengan Mamamu? Bukankah dia saat ini lebih sering berkunjung kemari sejak acara kompetisi itu."


"Mama?" Nina tersenyum kecut. Arumi hanya mengerutkan keningnya sambil menatap Nina.


"Mamaku terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Urusan sekolah Dito saja, masih Nenek yang mengurusnya. Selesai ujian kelulusan, Dito akan pergi ke sana untuk audisi. Nenek yang menemaninya. Sedang Mama, katanya ada jadwal di kota lain saat itu." Ucap Nina sambil menghela napas.


"Bagaimana dengan Leon?" Tanya Nina selanjutnya.


"Aku juga tidak tahu. Beberapa hari ini sepertinya Leon sibuk dengan urusan sekolahnya. Dia terlihat lebih sering bersama Dito dan Bin."


Bersamaan dengan Arumi menjawab, makanan pesanan mereka tiba. Aromanya sangat nikmat, menggugah selera.


Karena mereka sudah lapar, langsung mereka santap hidangan itu.


Arumi teringat, jika Viona, mamanya Nina adalah perempuan yang bersama di mobil Tuan Haris waktu itu.


Sebenarnya dia tak masalah, jika seandainya Tuan Haris memiliki hubungan dengan Viona, namun ia ingin statusnya menjadi lebih jelas. Tapi mengingat untuk masa depannya, Arumi hanya bisa mengikuti semua yang Tuan Haris minta padanya. Termasuk menjaga Leon.


****


Sore itu selepas bekerja, Gisel berjalan pulang. Ia menyapa satpam yang tengah bertugas di depan saat memasuki kediaman Tuan Haris. Mobil Tuan Haris sudah terparkir di garasi, namun mobil Arumi tidak ada.


Gisel langsung masuk ke ruang belakang hendak ke kamarnya. Tapi, dia menuju dapur hendak minum karena haus. Begitu ia membalik tubuhnya, Will telah berdiri di belakangnya.


"Astaga, Will! Kamu mengagetkan saja." Gisel terlonjak karena kaget.


Will menyeringai geli melihat Gisel terkejut.


"Tumben sudah pulang?" Tanyanya sambil meminum Fanta dari botolnya.


"Iya, karena tadi aku pulang sekolah cepat, jadi aku langsung bekerja di kafe. Lagian sore tadi ada yang borong roti dan kue di sana, makanya aku bisa pulang capat hari ini." Sahut Gisel sambil tersenyum lebar.


"Wah, kalau rame, pasti dapat bonus ya." Celetuk Will.


"Kenapa? Bilang kalau mau minta traktir! Bayaranmu saja dari Tuan Haris berlipat-lipat dari upahku di kafe itu. Dasar Maruk, huh..!" Gerutu Gisel sambil menjebik.


Will terkekeh mendengar gerutu Gisel.


"Ya sudah, mau temani aku jalan jalan tidak? Kebetulan Tuan Haris hari ini sudah tidak memerlukanku. Jadi aku sedikit longgar." Ajak Will.


"Ayo, mau mau." Sorak Gisel. Ia segera bergegas ke kamar untuk mengganti pakaian seragamnya dengan kaos dan celana panjang. Tak lupa ia memakai jaketnya supaya tidak dingin.


Tak lama mereka mereka telah berada di jalanan.


"Mau kemana kita?" Tanya Gisel.


"Ke mall. Aku mau mencari hadiah untuk Nina."


Bola mata Gisel membulat dan mulut menganga lebar, lalu ia buru buru menutup mulut dengan tangannya.


"Jadi, selama ini kamu dan Nina...?"


"Tidak, eh.. belum. Aku hanya mengaguminya saja."


"Ya, berawal dari rasa kagum, lalu jatuh cinta." Kikik Gisel sambil menyeringai nakal.


Will mengacak acak rambut Gisel karena meledeknya.


"Dia sedang membuat lagu baru, beberapa hari ini aku sering melihatnya berlatih dengan Arumi. Jadi, aku ingin memberi hadiah ucapan selamat saja untuknya. Makanya, aku mengajakmu untuk memberi saran, bukan untuk meledekku." Sergah Will.


Gisel masih terkekeh geli, tak percaya Will yang dingin itu, bisa jatuh cinta dan seromantis itu.


"Heh, aku juga manusia, lelaki tulen ya. Bukan robot!" Gerutu Will.


"Iya.. iya... Aku percaya kamu lelaki sejati." Jawab Gisel sambil mengangguk meyakinkan.


Mereka berkeliling mall mencari hadiah untuk Nina. Gisel dengan gesit mencari informasi di sosial media milik Nina untuk mencari tahu kesukaan artis tersebut.


Ternyata tidak susah, Nina sangat suka mengkoleksi sepatu, tas, dan parfum.


Saat melewati sebuah gerai kerajinan tangan. Gisel menarik Will untuk melihat lihat beberapa tas di gerai tersebut. Tas handmade yang dipajang sangat bagus dan elegan. Lalu Will memutuskan membeli sebuah tas ransel rajut berwarna tosca untuk Nina dengan bantuan saran dari Gisel.


Setelah itu Will mengajak Gisel untuk menikmati ramen di sebuah restoran Jepang, sebelum mereka kembali pulang ke kediaman Tuan Haris.