
Hari sudah berganti senja, cahaya jingga mentari dari atas cakrawala langit seakan menyoroti empat sosok mayat yang terkapar di tengah persawahan. noda darah merah yang menetes dari tubuh mayat menghiasi daun dan batang padi yang sebagian mulai menguning.
Jemari tangan yang tadinya membentuk cakar burung hantu hitam kini sudah kembali ke asalnya. tangan yang pucat berotot kehijauan itu masih berkepotan darah yang anyir dan mengering. gumpalan jantung yang tergenggam juga telah lenyap. entah dibuang atau malah dia remas hancur tanpa sisa.
Pranacitra cuma melirik gadis berbaju hijau yang masih jatuh bersimpuh dengan muka pucat di cekam kengerian. dia seakan lupa dengan baju hijaunya yang basah kuyup berlepotan lumpur sawah. walaupun dia termasuk gadis yang pemberani, tapi semua kejadian yang dia lihat barusan sungguh sangat menyeramkan hati.
Jika dia teringat perbuatannya yang telah berani mengancam pemuda pincang itu dengan aritnya sambil menggertak, gadis itu menjadi semakin gemetar ketakutan. bagaimana mungkin dia berani main ancam pada seorang iblis tanpa perasaan seperti pemuda ini.?
Gadis itu masih saja di cekam rasa ngeri, sampai- sampai dia tidak merasakan ada yang bergerak di belakangnya. saat tersadar semuanya sudah terlambat. seorang murid 'Setan Bungkuk Rombeng' yang paling muda dan masih hidup sudah berdiri di belakang gadis itu sambil kalungkan goloknya di depan leher si gadis berbaju hijau.
Dengan nafas tersengal ketakutan dan menahan rasa sakit akibat luka di pahanya, pemuda yang tampangnya paling gagah di bandingkan murid Setan Bungkuk Rombeng yang lainnya itu berniat mengancam. ''Kau., kau iblis. pe., pemuda pin., cang jah., jaha., nam. sia., siapa kau se., sebenar, nya.?''
''Jang., jangan ber., berani men., mende., kat. aa., atau kupotong leh., leher gadis ini.!'' gertaknya tergagap gemetaran saat melihat kilatan mata dingin pemuda pincang itu yang menatap tajam ke arahnya.
Biarpun tubuh si pincang tetap berdiri diam di tempatnya, namun pandangan matanya yang tajam menusuk tanpa ada gambaran perasaan apapun terasa lebih menakutkan dari ancaman seribu pedang. pemuda itu gemeletuk giginya saat melihat si pincang mulai berjalan perlahan.
Kaki kanannya melangkah setapak kedepan, yang kiri terseret mengikuti. yang kanan maju selangkah, kaki kiri terseok di belakang. ujung tongkat besi hitamnya yang menancap di tanah turut meninggalkan jalur guratan yang panjang dan dalam. meskipun itu sebuah gerakan langkah yang menggelikan tapi tidak seorangpun yang berani tertawa.
''Tet., tetap diam di tempatmu., aa., atau aku penggal kep., kepala gadis ini.!'' kembali dia membentak panik. mata goloknya yang gemetaran nyaris menggores leher putih gadis di depannya yang hanya bisa pasrah bercampur khawatir.
Sebenarnya dalam hatinya dia masih berharap si pincang mau menuruti perintah pemuda murid Setan Bungkuk Rombeng yang tersisa itu. namun kalau di lihat dari sikap dingin si pincang, harapannya cuma sia- sia belaka.
Di luar dugaan pemuda pincang bernama Pranacitra itu malah hentikan langkahnya saat jarak tinggal terpaut tiga langkah saja. pemuda berwajah gagah itu tergelak karena mengira kalau gertakannya berhasil. namun belum sempat dia mengumbar suara, si pincang sudah keburu menyala. ''Katakan padaku., sebenarnya kau ingin mati dengan cara seperti apa.?''
Hanya sebuah pertanyaan yang terucap dingin dari mulut si pincang. tidak ada nada penghinaan atau ancaman dari kalimat itu. semuanya terasa sangat datar dan tanpa perasaan apapun. namun anehnya justru membawa semacam kengerian yang tidak berwujud.
''Bukankah kau ingin menggorok leher gadis itu, lalu kenapa tidak kau lakukan sekarang saja. atau., dengan menyandera dia kau berpikir dapat mengancamku. huhm., pikiranmu sungguh kekanakan..''
''Aku dan gadis itu tidak ada hubungan apapun. bukan teman, apa lagi saudara. bahkan kenalpun juga tidak. jadi., hidup dan matinya tidak ada urusannya dengan diriku..''
''Tapi., apapun yang bakal terjadi padanya, kupastikan kau akan mati hari ini. aku cuma bingung memilih sebaiknya dengan cara apa dirimu aku habisi., kutembus kepalamu dengan tongkat besi secara perlahan hingga darah seisi otakmu mengalir keluar, aku renggut jantungmu seperti gurumu, atau., kupaksa saja meminum racun ganas hingga kau muntah darah sampai habis.?'' gumam si pincang sambil geleng- geleng kepala seakan sedang bimbang memilih sesuatu.
Biarpun si pincang Pranacitra hanya bicara sendiri semaunya, tapi bagi kedua orang pendengarnya terasa menggidikkan hati. bagaimana mungkin seorang manusia waras dapat dengan santainya memilih cara yang terbaik untuk membunuh orang, seakan dia lelaki hidung belang yang sedang memilih wanita di sarang pelacuran untuk dijadikan teman kencannya.
Dalam otak kedua orang yang sedang mengancam dan di ancam sama berpikir, ''Apakah benar pemuda pincang ini manusia, jangan- jangan dia adalah jelmaan Iblis atau siluman jahat. bagaimana mungkin ada orang yang begitu tidak punya perasaan seperti ini., mungkinkah dia cuma seorang pesilat gila yang kesasar di persawahan.?''
''Aah., kurasa yang paling menarik adalah menotok tubuhmu hingga kaku lalu perlahan memotongnya sedikit demi sedikit setiap anggota tubuhmu. paling baik di mulai dari jari kakimu, selanjutnya naik ke paha terus ke selakangan. kemudian bisa kupindah dengan mencongkel biji mata kirimu dan kubakar hingga sedikit hangus lalu aku jejalkan padamu. kemudian dapat kucabut tiga atau empat gigi depanmu yang di ikuti dengan pemotongan jari tanganmu ruas demi ruas..''
''Aah hampir aku lupa mengatakan kalau kau tidak perlu merasa panik., selama aku menyiksamu dirimu tidak bakalan pingsan. kau akan terus tersadar hingga dapat menikmati setiap rasa sakit yang semakin meningkat. karena terlebih dulu aku akan menjejalkan obat penguat tubuh dan pikiran ke mulutmu..'' terang si pincang Pranacitra panjang lebar, seperti seorang guru yang sedang memberi penjelasan pelajaran pada para muridnya.
Pemuda itu seakan sudah tidak tahan lagi mendengarkan semuanya. seperti sedang kesurupan dia meraung gusar, bingung juga sangat ketakutan. ''Hhaah., sudah cukup hentikan., berhentilah bicara orang pincang sialan. dasar jahanam edan.!''
''Aa., aku tidak mau mati., aku masih ingin hidup. ini., ini semua pasti cuma mimpi buruk. setan bangsat., kampret..'' umpatan sumpah serapah kotor tersembur dari mulut pemuda murid Setan Bungkuk Rombeng itu.
Pranacitra menyeringai keji. ''Ooh jadi kau masih kepingin hidup., sebenarnya masih ada jalan untukmu agar terlepas dari tangan mautku..''
Bukan saja pemuda itu yang tercengang mendengar ucapan si pincang, bahkan gadis berbaju hijau yang masih terancam golok lawanpun sampai terhenyak. ''Aa., apa mak., maksud ucapanmu.?'' tanya si pemuda bingung tapi juga penuh harap.
''Sebaliknya kalau kau sampai tidak mampu menjawabnya., umurmu sampai di sini saja..'' ancam Pranacitra dingin hingga pemuda itu semakin mengkeret ketakutan. tapi inilah peluang hidup satu- satunya yang ada. maka tanpa pikir lagi dia mengangguk setuju.
''Baguslah., sekarang jawab sejujurnya, dimana keberadaan dari si 'Setan Hijau Rombeng' dan 'Setan Arit Rombeng'. dua orang jahanam kawan gurumu itu.!''
Yang ditanya terjingkat kaget. ''Ke., kenapa kau bertanya soal itu., sebenarnya siapakah dirimu ini.?''
''Bangsat., jawab saja pertanyaanku atau aku akan berubah pikiran dan menghabisimu sekarang juga.!'' damprat si pincang gusar. karuan saja pemuda itu makin ketakutan dan langsung berbicara.
''Te., terus terang saja aku tidak mengetahui benar di mana kedua kawan guruku itu kini berada. tapi 'Tiga Setan Berbaju Rombeng' tiga tahun belakangan sudah terpisah dan jarang sekali bertemu..''
''Kau tahu kenapa mereka bertiga sampai berpisah.?''
Pemuda itu menggeleng, meskipun sedang kebingungan tapi golok di tangannya yang mengancam si gadis tidak juga mengendur. sandera ini adalah daya tawar kehidupannya.
''Aku tidak tahu persis., tapi pernah kudengar mereka bertiga berselisih karena telah gagal mendapatkan pedang pusaka 'Mentari Biru' dan kitab ilmu pukulan 'Tangan Guntur Wesi Kuning'., soal di mana kedua orang ini berada sungguh aku tidak tahu, tapi di hari ke tiga pada bulan ke dua belas tahun ini mereka bertiga akan bertemu di gunung Bisma. sepertinya mereka sedang mencari sesuatu..''
Mencorong tajam sepasang mata si pincang saat mendengar jawaban pemuda itu, ujung bibirnya menyeringai licik dan kejam. tidak dapat diterka apakah dia sedang marah ataukah justru gembira. ''Janji adalah janji., cukup potong saja pergelangan tanganmu, kau sudah boleh pergi dari sini..''
Gemetaran tubuh pemuda itu. tapi dia sadar tidak punya jalan lain lagi kecuali menuruti. dengan menggertakkan giginya dia ayunkan golok ke pergelagan tangan kirinya sendiri. telapak tangan kiri seketika terpotong jatuh ke lumpur sawah. darah segar deras menetes seiring langkah kakinya yang tertatih berlari menjauh sambil meraung kesakitan.
Dengan ujung tongkatnya Pranacitra mencungkil arit kehijauan milik si gadis hingga jatuh ke sampingnya. gadis remaja itu tertegun menatap si pincang yang diam acuh. sorot mata dinginnya cuma melirik arit hijau dan pemuda murid Setan Bungkuk Rombeng yang berlari kabur. gadis itu tanpa sadar menganguk. dia paham maksud pemuda pincang itu.
Dengan menggenggam senjata arit yang bersinar kehijauan itu, si gadis membentak nyaring sambil tubuhnya berkekebat mengejar si pemuda yang kini buntung sebelah tangannya. arit menyambar secepat kilat membacok leher dan punggung lawan. pemuda itu menjerit dan berbalik sekaligus gerakkan goloknya untuk menangkis. sayangnya dia sudah banyak kehilangan darah dan tenaga sudah melemah.
Hanya dua kali saja terdengar dentingan senjata beradu. kejap berikutnya suara mengerung marah dan kesakitan teramat sangat keluar dari mulutnya saat arit gadis itu merobek perut hingga ususnya terburai keluar.!
Pemuda itu tekap perutnya yang jebol. kedua matanya menatap beringas si pincang dan gadis itu bergantian seakan hendak memaki, mengutuk atau minta penjelasan.
''Dia adalah dia dan aku adalah aku. di antara kami tidak ada hubungan apapun. teman bukan saudara juga tidak., hanya dia yang berjanji membebaskan dirimu, tapi aku tidak bicara apapun soal itu..''
Hanya itulah yang ucapan yang keluar dari bibir si gadis berbaju hijau. bersamaan itu lawannya mendelik, mengerang lalu tubuhnya roboh tersungkur. dengan demikian ada lima sosok mayat yang terkapar di kumbangan lumpur persawahan itu.
Gadis itu gemetaran tubuhnya lalu tersurut mundur dan jatuh terduduk. senjata arit hijaunya terlepas dari tangannya. mulutnya keluarkan suara tercekat. raut wajahnya memucat seakan tidak percaya memandangi tangannya yang berlepotan darah dan lumpur sawah.
Pranacitra tersenyum dingin. sebenarnya sejak awal dia sudah tahu kalau gadis itu belum pernah membunuh orang. ''Huhm., jangan kau pikir gampang menjadi seorang pembunuh. selalu ada peristiwa pertama dalam kehidupan manusia., meskipun mungkin kejadian ini akan menghantuimu sangat lama, tapi yakinlah kalau orang yang telah kau bunuh memang layak untuk mati..''
Gadis itu perlahan mengangkat kepalanya. tapi pemuda pincang itu sudah lenyap dari hadapannya. sementara senja hari sudah beranjak menuju malam.
*****
Asalamualaikum.,
Mohon maaf kalau kami selalu lambat up date, karena kesibukan pekerjaan. Silahkan tulis Komentar, kritik dan sarannya, juga like👍vote jika anda suka. Terima kasih 🙏 Wasalamualaikum.