
Sinar mentari yang membias samudra terasa semakin menyengat. padahal waktu masih terhitung pagi hari dan angin laut bertiup kencang. mungkin hawa dendam amarah yang membakar jiwa akibat kemunafikan dan nafsu serakah dari segolongan manusia berhati licik membuat suasana menjadi panas.
Salah satu penyebab yang paling membuat orang terpuruk dalam kesedihan adalah saat dia sadar telah terkhianati dan diperalat oleh orang yang paling dipercaya dan kagumi. suara isakan tangis yang bercampur teriakan penuh dendam terus terdengar dari murid perguruan 'Pasir Selatan' itu. jelas terlihat suatu perasaan sesal dan tidak berdaya dimata pemuda ini.
Biarpun tahu seberapa dalam sakit hati yang dialami orang itu tapi Pranacitra bukan saja tidak berniat untuk menghiburnya, malah dia bicara tajam. ''Kau bisa saja menghabiskan semua tenaga dan pikiranmu untuk terus menangisi seluruh penduduk kampungmu yang telah mati..''
''Atau kau memilih menggunakan seluruh tenaga dan hawa amarah yang membakar jiwamu untuk membalas dendam pada kedua gurumu yang sudah menipumu..'' sindirnya memanasi. ''Keparat sial., mereka berdua bukan guruku. aku tidak sudi punya guru yang berhati iblis.!" teriak pemuda itu dengan muka beringas.
"Aku mau mereka mati secara mengerikan. ingin kuminum darah dan bakar jantungnya didepan kuburan penduduk kampungku yang mati penasaran akibat kekejian mereka berdua. dasar jah., jaha., nam., aa., aku., aku ing., inginkan pem., balasan.!" rutuknya menggigil menahan luapan dendam. hampir bersamaan kawannya yang juga sudah tersadar dari pingsannya sempat mendengar semuanya.
"Aa., apakah yang kalian bicarakan tadi adalah suatu kenyataan. bee., ben., benarkah semua musibah yang melanda kampung kita adalah ulah kedua bangsat tua bangka itu., dasar setan berwujud manusia, kalian akan terpanggang dineraka.!" kedua tangannya yang terkepal menghantam tanah keras dibawahnya berulang kali hingga berdarah.
Pranacitra cuma menyeringai sinis seolah tanpa ada simpati. entah kenapa dia malah merasa senang melihat kedua pemuda murid perguruan Pasir Selatan itu dirasuki dendam kesumat. dia jadi teringat pernah dibakar perasan seperti itu saat guru dan para saudaranya tewas di gunung Bisma.
"Bicara soal balas dendam sangatlah mudah. tapi yang menjadi masalah apakah kalian berdua sanggup untuk melakukannya. memangnya apa yang bisa kau andalkan.?" ucapan Pranacitra yang memotong seakan tanpa belas kasihan seketika membuat kedua pemuda itu terdiam lemas.
Lawan mereka adalah dua orang ketua dari perguruan silat Pasir Selatan yang bukan saja mempunyai ilmu kesaktian tinggi, punya nama besar serta terkenal luhur budi dan dermawan, tapi juga memiliki hubungan baik dengan berbagai kalangan persilatan.
Memangnya siapa yang bakalan percaya dengan perkataan mereka jika Ki Jembar Pambudi dan istrinya Nyi Sekar Bekti yang dijuluki sebagai 'Sepasang Pualam Sakti' itu sebenarnya adalah manusia berhati keji, sementara kemampuan silat mereka jelas teramat rendah. jangankan balas dendam, kemungkinan bertahan hidup saja sudah hampir tidak ada.
Kedua pemuda murid perguruan silat Pasir Selatan itu terlihat putus asa. tapi sinar mata mereka terlihat semakin memerah seakan hendak menangis darah. mendadak murid pertama yang tubuhnya lebih kekar menatap tajam Pranacitra. ''Tuan pendekar muda., harap kau sudi membantu kami untuk menuntut balas. seumur hidup aku Wetonan dan kawanku Danur Jayapadri rela menjadi budakmu.!'' ucapnya lantang sambil kepalanya bersujud membentur tanah keras.
Kawannya yang berbadan sedikit kurus tapi cukup tampan tertegun sesaat lantas turut bersujud berulang kali sampai dahinya memar. ''Kami mohon agar tuan pendekar muda yang budiman sudi membantu kami. apapun yang kelak tuan muda inginkan, biarpun harus berkorban nyawa kami pasti akan mengerjakannya.!'' sahutnya tegas.
Pranacitra mendongak. dari mulutnya tersembur gelak tawa yang menggoncang bukit karang. ''Haa., ha., tuan pendekar muda yang budiman. sebuah sebutan yang enak terdengar ditelingaku. jika saja kalian tahu siapa adanya diriku, mungkin kalian akan berbalik menyebutku sebagai iblis terkutuk.!''
Sambil bicara perlahan Pranacitra membuka selubung kain hitam yang menutupi gagang tongkat besinya. kedua pemuda bernama Wetonan dan Danur Jayapadri itu terperanjat melihat sebuah ukiran kepala tengkorak terbuat dari perak dengan rongga matanya yang bersinar merah mengidikan.
Sepasang mata pemuda pincang dihadapan mereka terlihat berubah semakin dingin. caranya memandang sangat aneh sekaligus menyeramkan karena terlihat kosong tanpa ada suatu perasaan apapun didalamnya. sorot mata itu tidak ubahnya tatapan mata orang yang telah mati.
Kejap berikutnya mereka seolah teringat pada suatu cerita seram yang terjadi dirimba persilatan tentang diri seseorang. tanpa sadar tubuh keduanya yang masih berlutut dan gemetaran itu beringsut mundur. mata mereka menatap ngeri si pemuda pucat.
''Berjalan pincang terseret seperti cacing, tongkat besi hitam kepala tengkorak, wajah dingin dan pucat. tatapan mata kosong tanpa perasaan seperti mata mayat dan suka bersiul lagu berirama menyedihkan hati. haa., habis., habislah kita..'' desis Danur Jayapadri bergidik. ''Dii., dia., dia adalah orang itu..'' gumam Wetonan ikut tergagap melirik rekannya yang ketakutan.
''Huhm., sekarang kalian tahu siapa diriku.?'' dengus Pranacitra dingin. yang ditanya serentak mengangguk- angguk keras seperti ayam mematuki beras. ''Setelah tahu apakah kalian masih tetap nekat meminta tolong padaku.?'' sesaat suasana menjadi hening. keduanya sekilas saling pandang lantas mengangguk mantap.
''Sejak awal nyawa kami berdua sudah berada ditanganmu. kurasa lebih baik mati ditangan pendekar sepertimu daripada tewas penasaran ditangan manusia jahat, licik dan munafik seperti kedua ketua perguruan Pasir Selatan itu..'' ujar Wetonan menghapus air matanya.
''Benar yang dia katakan. paling tidak selama ini kau melakukan pembunuhan di dunia persilatan dengan secara terang- terangan. meskipun berilmu rendah tapi kami bukan pengecut yang takut mati. hanya sayangnya., kami tidak punya kesempatan menuntut balas.!'' timpal Danur Jayapadri pasrah.
''Kalau begitu anggap saja nyawa kalian kuperpanjang sementara..'' sambil bicara dari balik bajunya Pranacitra lemparkan empat butir obat berwarna kekuningan dan merah darah. ''Kalian minum dulu obat berwarna kuning lantas bersemedi atur pernafasan..''
Meskipun tidak paham maksud si pincang, tapi perkataannya seakan tidak dapat dibantah. segera mereka melakukan semua yang diperintahkan.
''Obat berwarna kekuningan berguna untuk mengobati luka dalam, keracunan serta menembus jalan darah yang masih tersumbat, hingga aliran hawa sakti menjadi lebih lancar dan meningkat..'' mendengar semua itu kedua pemuda inipun merasakan kalau tenaga mereka jadi semakin kuat.
''Obat yang berwarna merah kalian simpan dulu. pada saatnya nanti akan kukatakan kapan kalian bisa menggunakannya..'' keduanya bangkit menjura hormat. ''Terima kasih tuan pendekar atas obat sakti yang kau berikan pada kami berdua..''
''Jangan keburu senang dulu., sekarang kalian bebaskan semua penambang yang berada di dalam bukit. jika ada penjaga yang menghalangi langsung habisi saja. beri bekal beberapa butiran emas pada mereka lalu suruh semuanya pergi sejauh mungkin.!''
''Selanjutnya kalian pancing 'Sepasang Pualam Sakti' kemari. bilang saja telah terjadi keributan besar diantara para murid karena berebutan mengambil emas berlian untuk mereka miliki sendiri. bahkan sudah mulai saling bunuh.!'' Pranacitra masih sempat memberi beberapa pesan pada keduanya sebelum mereka menghilang kebalik celah bukit karang untuk membebaskan para penambang.
*****
Jika berkenan tolong untuk Share novel ini pada teman" para reader yang lainnya. Terima kasih 😊🙏.