
Orang tua bergelar si 'Dewa Kikir' yang menjadi salah satu sesepuh dalam partai aliran hitam terkuat 'Gapura Iblis' itu terus berjalan melewati beberapa lorong goa batu pualam yang cukup lebar dan panjang berliku. beberapa orang berjubah dan penutup kepala hitam yang kebetulan berpapasan dengannya sama berhenti sebentar dan membungkuk penuh hormat.
Dari sini dapat diketahui kalau kedudukan orang tua itu sangat tinggi dalam partai Gapura Iblis. Dewa Kikir edarkan pandangan matanya kesekeliling tempat. saat itu dia berada disebuah ujung lorong yang menuju suatu ruangan berpintu besi. dua buah obor batu kecil tertancap di samping kanan kiri pintu besi berwarna putih keperakan. dua orang penjaga berjubah dan penutup kepala hitam yang berada di depan pintu cepat menyambut.
''Aku mau masuk ruangan ini, selama diriku berada di dalam, tidak boleh ada seorangpun yang di ijinkan masuk dan menggangguku.!'' kedua penjaga itu mengangguk hormat. salah satunya mengeluarkan sebuah anak kunci perak dari balik jubahnya. dengan kunci itu dia membuka gembok pintu ruangan. Dewa Kikir yang tidak mau membuang waktu langsung masuk ke dalam sana.
Ruangan itu gelap hingga tidak dapat terlihat luas dan isinya. hanya dengan sekali kibasan ditangan muncul selarik cahaya api merah redup yang menyambar. empat buah obor yang tertancap di sudut atas ruangan itupun menyala hingga ruangan seluas enam tombak keliling itu menjadi terang.dan jelas.
Rupanya ruangan itu bukan saja luas tapi juga cukup tinggi, mungkin tingginya lebih dari empat tombak dan terbuat dari batu pualam putih. dalam ruangan itu terdapat banyak sekali buku catatan dan bermacam kitab baik tebal dan tipis, yang terlihat masih baru maupun sudah kuno. belasan rak dari kayu jati yang tinggi menampung tumpukan ratusan atau bahkan ribuan kitab catatan itu.
''Seharusnya kitab catatan para anggota lama Gapura Iblis masih berada di disini. tapi disebelah mana letaknya aku juga tidak ingat. sialan., terpaksa diriku mesti mencarinya sendiri. sungguh merepotkan.!'' sungut orang tua berjubah putih usang yang sudah robek- robek itu. sekali kakinya menjejak lantai, tubuh tuanya sudah melayang dan bergerak secepat siluman diantara rak penuh tumpukan buku.
Hampir sepeminum teh waktu berlalu, si Dewa Kikir sudah kembali menjejak lantai. dengan membawa tiga jilid buku usang. tidak terlihat sedikitpun kelelahan, hanya ada raut tegang diwajah tuanya yang penuh keriput. diatas sebuah meja kursi batu pualam yang berada disudut ruangan dia mulai membuka lembaran kitab catatan itu.
''Semua ini adalah catatan lama para anggota partai yang menjadi bawahan atau orang dekat ketiga kembaran ketua dimasa lalu. meskipun kebanyakan dari mereka sudah mati tapi bisa jadi ada petunjuk yang tertinggal. keparat sial., kenapa hatiku jadi semakin yakin telah melewatkan sesuatu yang sangat penting.?'' geramnya kesal.
''Kembaran pertama yang tertua dan menjadi calon terkuat untuk menjadi ketua baru partai Gapura Iblis, mati terbunuh oleh pukulan sakti dan beracun, saat terjadi pertarungan untuk berebut kekuasaan dalam partai. mayatnya hitam membusuk hingga sulit dikenali. jasadnya dipendam dibawah dinding lukisan lambang partai Gapura Iblis..'' gumam Dewa Kikir membaca tulisan yang berada dibuku catatan itu.
Dibawah catatan itu juga tertulis nama para bawahan dan orang- orang dekat dari sang kembaran pertama. ''Nyi Upas Jagad., 'Dewa Alis Hitam'., 'Pendekar Keji Berpedang Darah', 'Nini Cula Sadeng' lalu..'' Dewa Kikir masih terus membaca semua nama yang tertulis di kitab catatan itu berikut segala yang berkaitan dengan mereka.
Tapi sampai lembar terakhir kitab catatan yang pertama itu selesai dibaca, Dewa Kikir merasa belum juga mendapatkan petunjuk apapun yang dicarinya. dengan mengomel diapun mulai membaca buku catatan kedua yang menuliskan riwayat kembaran sang ketua yang nomor tiga. sayangnya setelah waktu sepenanak nasi lewat dia juga tidak menenemukan apapun. padahal catatan itu lebih tebal dan dibandingkan kitab yang sebelumnya.
Orang tua itu semakin gusar mengetahui tidak ada yang dicarinya berada dalam catatan yang ke tiga. kitab itu menuliskan tentang riwayat hidup kembaran yang bungsu dan satu- satunya perempuan, berikut semua pengikut dan orang dekatnya. kematian perempuan ini diceritakan sama dengan kembaran yang ketiga. keduanya mati terpenggal dalam pelariannya.
''Kunyuk., setan alas.!'' Dewa Kikir memaki gusar sendirian dalam ruangan itu. ''Hanya karena ucapan gila dari si 'Nenek Iblis Berkaki Ganco' aku jadi ikut penasaran dan khawatir. hampir semua orang yang ada dalam catatan itu sudah jadi setan gentayangan di akhirat..'' gerutunya sambil beranjak keluar ruangan itu. tapi baru saja hendak membuka pintu, selintas pikiran muncul dalam ingatannya.
Orang tua itu tertegun, mata tuanya menatap tajam sebaris tulisan, ''Kembar empat yang tertua paling banyak memiliki budak pesuruh, baik laki- laki maupun perempuan..'' gumam Dewa Kikir terus membaca lebih dari lima puluhan nama budak milik yang tertua dari kembar empat itu.
''Cungkilan, Kampluk, Sawengi juga..., mereka bertujuh budak penyedia segala kebutuhan air. lalu Pariyem, Limbuk Gini, Maripah, Lor Talun dan..., sepuluh orang ini adalah budak yang bekerja sebagai tukang pencari kayu bakar untuk perapian dan memasak. belasan budak suruhan itu semua sudah dihabisi tanpa sisa..''
''Masih ada lagi beberapa budak rendahan yang bertugas sebagai pelayan dan bagian dapur. dua diantaranya adalah kakak beradik Sentanu dan Sintani. Aash., aku ingat mereka adalah tukang masak andalan dibagian dapur. meskipun hanya kaum budak, tapi yang tertua dari kembar empat sangat menghargai mereka berdua..''
''Bahkan saat ketua terdahulu masih hidup, dia juga seringkali memuji masakan kedua kakak beradik itu. akupun pernah juga beberapa kali mencicipi masakan mereka, sungguh sedap. enaknya luar biasa.!'' puji Dewa Kikir sembari mengusap air liurnya membayangkan masa lalu.
''Kalau aku bandingkan, semua makanan dari tukang masak di partai ini tidak akan tersentuh oleh lidahku. semua masakan tukang masak dipartai ini sekarang rasanya seperti sampah, sialan betul. sayangnya., mereka berdua sudah mati terbakar didalam dapur. Eehm., seingatku si kembaran ketiga pernah ingin menjadikan gadis budak tukang masak yang bernama Sintani itu sebagai istrinya, tapi kakaknya sang kembar tertua langsung menolak..''
''Jangan- jangan dia sebenarnya juga suka dengan adik dari Sentanu yang memang cantik manis itu. orang yang punya perasaan kasih sayang di hatinya, tidak pantas menjadi ketua partai sebesar ini. Hee., he., sayangnya terjadi kebakaran besar di dapur saat majikan mereka dan para pendukungnya sudah terbunuh karena kalah bersaing dalam memperebutkan jabatan ketua partai Gapura Iblis ini..''
Dewa kikir mendengus hina. ''Huhm., tidak salah diriku, 'Sesepuh Bungkuk Mata Buta'., dan yang lainnya memberikan dukungan kami pada si kembar yang kedua. karena dia punya sifat yang licik dan kejam tanpa ampun. jangankan orang lain, saudaranya sendiri juga berani dia singkirkan. meskipun secara ilmu silat kesaktiannya pada waktu itu masih kalah dari kembar tertua, tapi dengan tipu muslihat dia mampu menang. Haa., ha.!''
''Walaupun saat itu aku tidak berada disana karena harus menghabisi sisa- sisa para pendukung dari kembar empat tertua yang cukup banyak, tapi kudengar kebakaran itu begitu besar sampai tidak dapat dipadamkan, hingga membuat dua kakak beradik serta semua budak dapur mati terpanggang api. bahkan., sampai mayat merekapun tidak dapat dikenali..'' gumam Dewa Kikir geleng- geleng kepala.
Orang ini tidak menyayangkan nyawa para budak yang mati, karena baginya mereka tidak lebih dari nyawa seekor lalat. memelainkan bermacam rasa masakan lezat yang turut hilang tanpa ada penggantinya. ''Eehm., mayat para budak dapur itu tidak dapat dikenali lagi karena sudah menjadi onggokan daging hangus gosong..''
''Tapi jika aku lihat., dalam buku catatan ini tidak dijelaskan bagaimana kebakaran itu bisa terjadi, dan berapa banyak sebenarnya budak bagian dapur yang saat itu berada disana. Aah., jangan- jangan..'' Dewa Kikir tampak berubah air mukanya. meskipun hanya setitik kecil, tapi dalam hatinya mulai timbul kecurigaan.
*****
Mohon maaf., saat dikirimi chat lanjutan novel PTK ini oleh Authornya, ada beberapa tulisan yang hilang. jadi terpaksa kami karang sendiri. semoga tidak terlalu buruk.🙏. Terima kasih.