Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Ooalah Yem., Yem.,


Tanpa terasa waktu sudah lewat tengah hari. meski begitu Winuyem masih beberapa kali mengulang kembali jurus pedangnya. bahkan kini tanpa merasa malu- malu lagi dia berani bertanya tentang segala sesuatu tentang ilmu pedang pada Pranacitra. bukan hanya gadis itu saja tapi juga kedua pemuda saudara seperguruannya turut pula berlatih.


Mereka merasa penasaran dan tidak segan meminta petunjuk jika ada sesuatu yang sulit untuk dimengerti kepada pemuda berpakaian gelap itu. anehnya Winuyem seperti merasa sebal dan kurang senang saat keduanya ikut tertarik untuk berlatih memperdalam jurus pedang bersamanya.


Mayat- mayat anggota perkumpulan 'Panah Pemburu Jantung' sudah disingkirkan dari jalanan. dua orang murid perguruan 'Glagah Wangi' yang tewas terbunuh juga telah dikuburkan tidak begitu jauh dari tepi jalan setapak itu. letak makamnya terlindung di balik sebuah batu besar, tepat di bawah sebatang pohon randu.


Setelah mendoakan arwah keduanya, mereka berempat segera berjalan kembali ke tempat pemuda aneh yang belum diketahui nama dan darimana asalnya itu. hembusan angin membawa aroma sedap dari daging binatang yang dibakar. tanpa dapat ditahan lagi perut mereka sama menjadi sangat lapar. apalagi sejak kemarin malam para anggota perguruan silat Glagah Wangi ini juga belum makan.


Entah sejak kapan seekor musang telah yang sudah terkuliti berada diatas bara api. tanpa perduli dengan pandangan mata empat orang itu yang melihat dengan menahan tetesan air liur di ujung bibirnya, tangan Pranacitra terus sibuk mengatur perapian sambil sesekali membolak- balikkan dagingnya.


''Aa., aku bantu kau untuk memanggang dagingnya yah..'' ucap Winuyem bergerak cepat menghampiri. sembari sambil tersenyum manis dia tanpa malu duduk di samping Pranacitra. tapi saat hendak meraih kayu pegangan daging, sebuah tangan pucat berotot kehijauan menepisnya. dengan satu isyarat mata yang menyorot dingin, si pemuda seolah memintanya untuk menjauh.


Walaupun pandangan mata angker itu hanya selintas terlihat namun membuat gadis itu diam- diam merasa takut hingga tanpa sadar menyurut mundur. niatnya untuk mencoba mendekati si pemuda jadi hilang begitu saja. Jati Sembodo dan kedua pemuda lainnya juga merasa bergidik seram. keinginan untuk turut serta menikmati daging bakar itu juga ikut lenyap.


Biarpun tubuhnya agak kurus tapi Pranacitra suka sekali makan, apalagi hidangan yang enak. dari gurunya si 'Nenek Tabib Bertongkat Maut' dia jadi tahu setiap seluk beluk tubuh manusia termasuk jenis makanan apa saja yang dibutuhkan agar dapat memperkuatnya. otot tangan kaki, perut dada, leher kepala bahkan sampai mata telinga semuanya punya sumber tenaga dari makanan yang berbeda.


Demikian pula cara mengolah daging atau tumbuhan agar khasiatnya tidak menghilang akibat panas bara api saat memasaknya. dia tahu betul apa yang mesti dilakukan. baginya campur tangan orang lain hanya akan membuat masakannya menjadi berkurang rasa dan mutunya.


Jangankan cuma Winuyem yang baru saja kenal, beberapa orang gadis cantik yang terhitung sebagai pacar atau teman dekatnya seperti Srianah, Puji Seruni, Rinai bahkan Jingga Rani sekalipun juga pernah dia damprat habis hanya karena mereka berani mengaduk masakannya tanpa ijin darinya.


Bagi murid lima orang dedengkot persilatan dari aliran hitam ini, masalah kepuasan perut adalah sesuatu yang sangat penting. dia selalu beranggapan jika perut kenyang karena makanan yang enak dan memuaskan, maka perasan serta pikirannyapun juga menjadi tenang. jika hati dan otaknya tenang dia bisa dengan lebih mudah menyelesaikan segala persoalan. pendek kata., si pincang ini sangat Arogan kalau soal makanan.


''Eehm ., sepertinya daging panggangku sudah matang. meskipun tidak sesuai benar dengan keinginanku tapi dari aromanya kurasa lumayan enak..'' gumam Pranacitra sembari memotong daging musang bakar itu dengan menggunakan sebilah pisau dapur yang panjangnya sejengkal lebih dua ruas jari.


Meskipun api sudah mengecil tapi daging itu jelas sangat panas karena masih berada diatas perapian. hebatnya si pincang ini seakan tidak merasakan apapun. diam- diam Jati Sembodo terkesiap juga melihatnya. empat orang itu hanya bisa menatap pemuda itu menyantap sendirian daging bakarnya tanpa berani meminta.


Hampir separuh daging musang bakar sudah berpindah ke perut Pranacitra. suara sendawa kenyang terdengar dari mulutnya setelah tiga tegukan air kendi membasahi tenggorokan. ''Jika kalian tidak suka daging bakar ini, akan kubuat sebagai bekal perjalananku..'' ujarnya melirik empat orang yang berdiri didepannya.


Hanya sekejap saja mereka saling pandang karena berikutnya sisa anggota padepokan Glagah Wangi itu sudah duduk mengitari perapian sambil sibuk mengganyang daging musang bakar. dalam waktu sebentar saja daging bakar itu sudah habis tinggal tulang begitupun air minum didalam kendi.


Pranacitra sudah terbiasa melihat semua itu karena selama ini belum pernah ada orang yang kecewa dengan masakannya. melihat perut orang lain puas dan kenyang membuat hatinya turut merasa senang. empat orang ini memandangnya dengan tatapan mata kagum dan terima kasih, utamanya Winuyem. entah kenapa wajah pemuda yang sedikit pucat dan dingin itu semakin terlihat tampan dimatanya.


Dengan pandangan malu- malu dia melirik si pemuda sambil tersenyum sendiri membuat paman dan kedua kawannya saling pandang, nyengir dan gelengkan kepala. merekapun tahu kalau gadis remaja anak dari keluarga kaya raya yang biasanya manja ini sudah mulai tertarik dengan lawan jenis.


''Kurasa cukup sampai di sini saja pertemuan kita. walaupun balas dendam atas apa yang menimpa perguruan Glagah Putih memang harus dilakukan, namun apapun yang kelak kalian perbuat harap berpikirlah lebih dulu dengan matang sebelum bertindak..'' kata Pranacitra sambil berdiri. di atas langit sana matahari juga mulai agak condong ke barat.


''Kaa., kau., kau hendak kemana. bisakah aku., eeh, maksudku kami tahu tujuan juga tempat tinggalmu agar aak., aku, ehm., kami dapat berkunjung suatu saat nanti jika ada waktu.?'' dengan terkejut dan gugup gadis manis bernama Winuyem itu turut bangkit berdiri dan bertanya. tapi dia seketika sadar kalau sudah terlalu sembrono bertanya hingga mukanya merah padam. ''Duuhh., apa yang sudah kuucapkan tadi. bodohnya diriku.!'' makinya dalam hati.


Sebuah tangan pucat dan kasar mengelus rambut dan kepalanya. ''Tidak ada baiknya mengenal siapa diriku. kau masih muda dan masa depanmu juga sangat panjang. biarpun bukan gadis tercantik yang pernah kujumpai tapi kurasa dirimu cukup menarik hati kaum lelaki..'' ucap si pemilik tangan. Winuyem cuma diam menunduk.


''Ini ada sedikit pemberian dariku untuk kalian. mungkin akan ada gunanya sebagai bekal jika kelak menuntut balas pada perguruan 'Tapak Emas Beracun..'' sambil bicara Pranacitra mengeluarkan sebuah gulungan kulit binatang berwarna kekuningan pada Jati Sembodo. dengan penasaran lelaki setengah umur bersama dua pemuda lainnya membuka gulungan kulit itu.


''Satu hal lagi, dari keterangan kalian tentang ciri perempuan sundal yang telah merusak hubungan antara ayah dan anak itu, aku dapat memperkirakan siapa wanita setan itu. sangat mungkin dia adalah tokoh silat jahat yang disebut sebagai 'Siluman Cantik Pesolek Pemikat Sukma..''


''Kudengar sudah banyak orang yang menjadi korban perempuan ini meskipun dia baru beberapa bulan muncul di dunia persilatan. memang yang kutahu dia lebih suka membuat masalah dengan kaum pria gagah yang sudah berkeluarga. mungkin ini karena dulunya dia pernah di buat kecewa oleh kaum lelaki atau gagal berumah tangga..'' terang si pemuda.


Meskipun sangat gusar setelah mengetahui siapa wanita jahat itu tapi Jati Sembodo tidak dapat berbuat apapun karena sadar ilmunya berada jauh di bawah musuhnya. setelah menenangkan diri, bersama kedua muridnya lelaki itu kembali curahkan perhatian pada lembaran kulit kuning ditangannya.


Ketiganya sama terperanjat saat melihat apa yang terdapat di sana. ''Rahasia jurus barisan 'Jaring Tiga Penjuru Bumi.!'' desis Jati Sembodo dengan suara bergetar. walaupun belum pernah mendengarnya tapi dari selintas pandang saja dia tahu kehebatan ilmu silat yang sepertinya harus dimainkan oleh tiga orang itu.


Kecuali Winuyem yang tenggelam dalam pikirannya sendiri, tiga lelaki itu tanpa dapat menahan diri terus saja mempelajari ilmu silat hebat yang di ambil Pranacitra dari salah satu mayat 'Tiga Dewa Gelap' setelah ketiga pesilat tangguh anggota partai 'Gapura Iblis' bagian dalam itu dengan susah- payah berhasil dihabisinya.


Suara siulan aneh yang membawa perasaan sedih terdengar mengalun hingga membuat hati siapapun teriris. tanpa mereka sadari si pemuda pucat telah belasan langkah jauhnya dari tempat mereka berada. Winuyem seperti hendak memanggil tapi tidak ada suara yang keluar dari bibirnya yang merah mungil. sebaliknya Jati Sembodo tersurut mundur beberapa langkah bahkan nyaris terjatuh.


Walaupun jarak semakin jauh tapi matanya masih dapat melihat langkah kaki pemuda itu yang terseok merayap seperti cacing. ''Kaki kirinya pincang serta suka bersiul lagu aneh berirama menyedihkan hati. berwajah tampan namun rada pucat seperti orang penyakitan. berbaju dan membekal tongkat besi gelap. biarpun gagangnya terbuntal kain hitam tapi kuyakin ada ukiran tengkorak didalamnya..''


Melihat semua itu Jati Sembodo jelas sudah dapat mengira dengan siapa mereka telah berutang jiwa, karena segala ciri dari si pincang itu telah menunjukkan siapa dia adanya. bukannya sombong kalau pemuda enggan untuk berkenalan tapi justru itu demi keselamatan mereka sendiri. karena murid lima dedengkot aliran hitam dunia persilatan itu memang terlarang untuk diusik, bahkan sekedar di pandang dari kejauhanpun juga pantang.


Wakil ketua padepokan Glagah Wangi itu perlahan menoleh melihat kedua mata gadis bernama Winuyem yang masih terhitung keponakannya sendiri ini sembab memerah. kedua pemuda saudara seperguruannya juga tidak tahu dengan cara apa untuk dapat menghibur hati gadis itu.


''Paman tahu apa yang kau rasakan Winuyem, tapi jarak diantara kalian berdua terlalu jauh Nduk. seperti yang dia bilang tadi, kau masih muda dan masa depanmu juga sangat panjang..'' hibur Jati Sembodo lembut. tapi gadis itu terus menunduk. setitik air mata juga mulai meleleh di pipinya. lelaki setengah umur itu hanya tersenyum. sambil menghela nafas dia berucap pelan, ''Ooalah Yem., Yem..''


 


Pagi'' dapat kiriman cerita. yo wis langsung edit terus update saja. silahkan tuliskan komentar Anda yah😊, Matur Suwun🙏.