Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Kompor.


Matahari sudah naik mendekati tengah hari. meskipun angin laut yang berhembus dari samudra luas dibawah sana cukup besar namun tetap saja udara dipuncak bukit karang itu terasa panas. mungkin gejolak amarah yang melanda jiwa membuat perasaan semua orang menjadi kacau.


Berpuluh- puluh mayat murid perguruan 'Pasir Selatan' yang bergelimpangan hanya sebagian saja yang dikuburkan dipuncak bukit itu, mungkin itu karena Wetonan, Danur Jayapadri dan Linggo masih mempunyai hubungan baik dengan beberapa diantara mayat bekas rekan mereka semasa hidup. sedangkan sisanya dibuang kelautan lepas.


Setelah mereka selesai dengan pekerjaannya, ketiganya sempat berdoa untuk rekan- rekan mereka yang telah tewas. bagaimanapun juga pernah terjalin suatu ikatan persaudaraan seperguruan diantara mereka. memang bukan perkara yang mudah dilewati jika kita kehilangan seseorang.


Ketiga bekas murid perguruan Pasir Selatan itu berdiri menghadap Pranacitra. pewaris ilmu lima pentolan aliran hitam itu seperti memerintahkan sesuatu pada mereka. dua orang diantaranya bergegas turun bukit sementara yang bernama Danur Jayapadri tetap berdiri dibelakang si pincang.


Datuk Janggut Biru yang masih merasa jengkel dengan semua perbuatan Ki Jembar Pambudi dan istrinya Nyi Sekar Bekti terlihat menggerutu. dilain saat dia mencoba bicara sesuatu pada pemuda pincang di depannya tapi selalu tertahan diujung lidahnya. banyak pertanyaan ingin dia ajukan tapi tidak satupun yang dapat terucap.


''Di lihat dari gelagatnya kau seperti punya sesuatu yang hendak disampaikan..'' tegur Pranacitra sembari berpaling. suaranya terdengar datar dan dingin. sebagaimana juga dengan sorot matanya yang terlihat tajam namun kosong tanpa ada suatu perasaan apapun.


''Darimana kau dapatkan gulungan kain ini. apakah kau sadar kalau kematian 'Sepasang Pualam Sakti' dapat membuat gempar rimba persilatan golongan putih. meskipun dirimu punya bukti juga tiga orang bekas murid perguruan Pasir Selatan sebagai saksi, tapi tidak mudah untuk membuat orang lain percaya padamu..'' akhirnya sang datuk membuka mulut.


''Selama hidup diriku selalu bisa memisahkan antara kebaikan dan kebatilan. terlepas dari latar belakangmu yang begitu mengerikan kau telah menyelamatkanku. untuk itu aku mengucapkan terima kasih. namun seumur hidupku juga pantang berhutang budi pada siapapun. sekarang katakan apa yang kau mau dariku.!'' ucap Datuk Janggut Biru.


''Bagi kebanyakan orang di jaman sekarang ini kata pepatah 'Ada ubi ada talas., Ada budi ada balas' hanyalah sebuah kalimat kosong yang tidak berarti. karena saat ini yang berlaku adalah berbuat sesuatu kebaikan dengan hati mengharap pamrih dan imbalan tertentu. tidak disangka masih ada orang sepertimu yang tetap tegas berpedoman..''


''Untuk menghargai pendirianmu., aku tidak akan menuntut apapun sebagai balasannya. soal gulungan kain itu, ada seorang kenalan yang memberikannya padaku. kau tidak perlu tahu siapa orangnya tapi kujamin dia manusia jujur serta tegas dari aliran putih sepertimu..''


''Huhm., meskipun aku telah menerima budi baikmu dan berniat untuk membalasnya, tapi bukan berarti diriku telah percaya padamu..'' Datuk Janggut Biru mendengus. ''Walau bagaimanapun juga., kau adalah orang yang menjadi buruan nomor satu rimba persilatan saat ini. terus terang saja, kurasa sangat gegabah jika terlalu cepat mempercayai dirimu.!''


Pranacitra menarik nafas panjang seolah melepas beban dihatinya. ''Kau tahu datuk., sejak awal muncul didunia kependekaran aku sudah membunuh ratusan orang. beberapa diantaranya dikenal sebagai pesilat aliran putih yang terkenal punya nama baik seperti si 'Dewa Naga Langit' dari gunung Semeru dan 'Sepasang Pualam Sakti' itu..'' tunjuknya sambil jarinya menuding kedua sosok mayat.


''Biarpun mungkin beberapa diantaranya terpaksa kuhabisi karena mereka terlalu mendesak diriku kedalam pilihan antara hidup dan mati, tapi hampir seluruhnya memang layak untuk mampus. meskipun aku tidak suka untuk melakukannya, tapi dalam hatiku juga tidak pernah menyesalinya..''


''Hidup ini adalah pilihan. selama diriku tidak menjadi manusia munafik dan pengecut, atau orang tolol yang gampang ditipu muka alim., persetan dengan pikiran orang lain.!'' ujar Pranacitra sinis. Datuk Janggut Biru merasa rada tersindir tapi dia tidak dapat berkata apapun kecuali mengumpat kebodohannya sendiri yang percaya dengan kedua ketua padepokan Pasir Selatan.


Sementara itu Pranacitra juga menerima dua buah gulungan kain hitam kecil yang lapat- lapat memancarkan aroma anyir busuk dari tangan Linggo. ''Apa kau ingin tahu kedua peti harta ini hendak diantarkan kemana, Datuk Janggut Biru.?'' tanya Pranacitra melirik tokoh silat tua dari tanah Palembang itu.


Tanpa menunggu jawaban sang datuk dia lemparkan salah satu dari gulungan kain hitam kecil itu. meski terkejut namun dengan tenang orang tua itu menyambutinya. samar terasa ada hawa aneh yang jahat terpancar dari gulungan kain hitam ditangan kanannya. sekali kibasan gulungan itupun terbentang.


''Gaa., Gapura Iblis.!'' seru Datuk Janggut Biru dengan suara tercekat saat melihat lukisan dua buah gapura besar dengan latar belakang langit hitam dan rembulan berselimut darah. jelas tersirat perasaan ngeri dan seram diraut wajah orang tua ini. sungguh dia tidak pernah mengira kalau kedua bekas rekannya sudah menjadi kaki tangan partai silat aliran hitam yang terkuat itu.


Tanpa terasa gulungan kain berupa bendera hitam itu terjatuh lepas dari tangannya. ''Baa., bagaimana muu., mung., mungkin Gapura Iblis berada dibalik see., semua ini.?'' gumam Datuk Janggut Biru terbata penuh rasa ngeri. ''Kini kau tahu kenapa kedua orang itu layak mati. jika benar dugaanku., bukit tambang emas ini adalah salah satu sumber dana bagi partai aliran hitam terkuat itu..''


''Dengan terbongkarnya rahasia ini maka terputus juga aliran dana besar bagi mereka. jadi kusarankan sebaiknya kau secepatnya menyembunyikan dirimu karena Gapura Iblis pasti akan memburu siapapun orang yang mengetahui masalah ini. atau bisa jadi., kau malah melaporkan perbuatanku pada mereka agar nyawamu bisa selamat. tapi semua itu terserah kau saja, aku tidak perduli..'' kata si pincang menyindir.


Dengan menggeram marah Datuk Janggut Biru hantamkan sebelah tangannya kedepan. serangkum angin keras kebiruan melabrak kemuka. yang diserang cuma diam tanpa bergeser sedikitpun karena dia tahu lawan tidak berniat mencelakainya. meski demikian ujung baju hitamnya sebelah belakang robek tersambar angin pukulan itu.


''Seumur hidup., Datuk Janggut Biru belum pernah sekalipun lari dari ancaman musuh. walaupun kuakui partai Gapura Iblis adalah perkumpulan silat paling menyeramkan saat ini dan siapapun yang berani menentangnya bisa dikatakan cuma mengantarkan nyawa belaka, tapi diriku bukanlah kaum pengecut hina.!'' damprat sang datuk tersinggung.


Pranacitra terperanjat juga melihat luapan kemarahan Datuk Janggut Biru. dengan membungkuk lebih dalam dia menghormat. ''Mohon maafmu Datuk Janggut Biru, bukan maksudku untuk merendahkan tokoh silat yang punya ketegasan dan harga diri tinggi sepertimu. diriku cuma bajingan rendahan yang tidak tahu tata krama, tapi dari lubuk hati terdalam sejujurnya aku sangat mengagumi kaum ksatria pemberani sepertimu..''


Orang tua itu hanya keluarkan dengusan dari hidungnya. masih dalam membungkuk hormat, ujung bibir Pranacitra sunggingkan seringai tipis karena dia tahu, meskipun diuarnya terlihat kesal dan gusar tapi Datuk Janggut Biru juga merasa senang dan bangga dengan pujiannya sebagai ksatria jujur dan pemberani yang dia lontarkan.


Sangat mudah baginya jika ingin membunuh tokoh silat sekelas Datuk Janggut Biru untuk menutup mulut sekaligus menghilangkan jejak dari kejaran Gapura Iblis. namun kalau dia dapat memanfaatkan orang tua ini untuk membantunya apabila kelak dibutuhkan, rasanya juga tidak ada ruginya.


Beberapa tahun mengembara dalam kerasnya dunia persilatan membuat pikiran si pincang semakin matang. belakangan ini dia belajar dari cara bermain otak seorang kenalannya yang juga menjadi salah seorang pesilat pendatang baru terkenal seperti dirinya.


Walaupun wanita yang kabarnya menjadi salah satu yang tercantik di dunia persilatan itu tidak memiliki ilmu kesaktian yang luar biasa namun seringkali perempuan jelita berjulukan Dewi Malam Beracun itu mampu menang meski berhadapan dengan lawan yang punya ilmu silat lebih tinggi darinya.


Dengan terlebih dulu menanamkan hutang budi lantas membuat panas hati juga mengusik harga diri Datuk Janggut Biru dan terakhir malah berbalik perlahan menyanjungnya. secara halus tanpa disadari sang datuk, dia sudah dapat dibuat takluk lahir batin oleh Pranacitra yang semakin pintar mengompori hati lawannya.