
Cukup lama juga Pranacitra merenung sambil mengamati untaian gelang rantai perak yang berbandul tengkorak kecil. meskipun dia yakin pernah melihat benda serupa ini sebelumnya, tapi dia tidak dapat mengingat kapan dan dimana menjumpai gelang seperti itu. tanpa terasa pagi hari sudah terang seluruhnya.
Setelah berpikir sebentar Pranacitra berniat untuk menitipkan kotak kayu jati hitam itu ditempat Nyi Rondo Kuning karena dia merasa tidak leluasa bergerak sambil membawa barang rahasia semacam itu. lagipula., meski sikap wanita ini genit dan sedikit mesum tapi dia orang yang setia dan dapat dipercaya.
Saat membayangkan kembali perjalanannya selama lebih setahun malang- melintang di dalam kerasnya rimba persilatan sejak dia keluar dari 'Lembah Seribu Racun, pemuda pincang itu menyadari meskipun sudah membekal ilmu kesaktian yang sangat hebat warisan dari para pesilat kawakan namun dia tetap saja sempat kewalahan dan beberapa kali hampir mati.
Terakhir kalinya saat kejadian di lereng utara gunung Merapi. meskipun Pranacitra mampu lolos dari kematian setelah dikeroyok belasan tokoh silat berkepandaian tinggi dari aliran hitam dan putih, tapi dia mampu bertahan hidup sampai garis terakhir karena andil pihak lain, seperti si 'Ular Sakti Berpedang Iblis' yang secara tidak langsung telah membantunya.
''Meskipun kau sudah mewarisi ilmu kesaktian hebat dari kami berlima, tapi tetap saja tubuh dan otakmu tidak bakal mampu menyerap dan mengolah seluruh kekuatan yang datang dari lima sumber aliran yang berbeda. selain bakat, waktu yang cukup dan ketenangan pikiran sangatlah diperlukan untuk dapat menguasai sesuatu..''
''Biarpun kupaham tidak ada yang benar- benar sempurna dan terhebat didunia ini namun aku juga percaya kalau ilmu silat dan kesaktian kami berlima yang sudah kau warisi hampir tidak ada seorangpun yang sanggup untuk menandinginya dalam rimba persilatan. asalkan kau terus berlatih semua kekurangan akan tertutupi..''
Itulah dua penggalan pesan yang disampaikan oleh 'Burung Hantu Bungkuk Pencabut Nyawa' dan si 'Pengemis Tapak Darah' beberapa saat setelah keduanya mewariskan ilmu kesaktian yang terakhir sebelum akhirnya mati akibat kehabisan tenaga dan racun ganas yang telah lama menggerogoti seisi tubuh mereka.
Prancitra menengadah pejamkan matanya. dia berdoa dalam hati untuk ketentraman arwah para gurunya. saat membuka matanya terlihat kilatan sorot pandangan yang dingin tajam. ''Sebelum kutitipkan kotak kayu jati hitam ini pada Nyi Rondo Kuning ada baiknya diriku mengambil barang yang kupendam itu. meski mungkin bukan sebangsa ilmu kesaktian yang sangat luar biasa tapi kukira cukup membantu untuk meningkatkan kekuatanku..'' putus si pemuda dalam hati. setelah memastikan semuanya aman diapun berkelebat tinggalkan tempat itu.
Waktu sudah mendekati senja hari saat muncul seorang pemuda berpakaian gelap yang hendak keluar dari tugu perbatasan pedukuhan Punggingan. dengan sebatang tongkat besi yang ujung gagangnya ditutupi kain hitam dia berjalan terseok perlahan. meskipun wajahnya tidak terlihat karena tertutup caping bambu tapi dapat diduga kalau dia Pranacitra.
Melihat tugu batu perbatasan itu si pincang jadi teringat mendiang Ki Ludiro si 'Jari Cepat' juga pertarungannya melawan gerombolan pengemis 'Kelabang Ireng' dimasa lalu. kalau saja saat itu anggota perkumpulan 'Maling Kilat' itu tidak menolongnya, pasti dia sudah mampus sejak dulu. suara keramaian banyak orang yang juga hendak keluar atau masuk Punggingan menyadarkan Pranacitra dari lamunannya. setelah membetulkan buntelan kain berisi kotak kayu jati yang tergembol dipunggungnya dia kembali melangkah.
Saat dipenghujung senja dia sudah jauh keluar dari Punggingan. kini daerah sekitarnya terdapat tebing batu dan pedataran yang ditumbuhi semak belukar dan pepohonan. dengan menghela nafas pemuda itu hentikan langkahnya sambil melirik kesatu arah. ''Disini sudah jauh dari keramaian, apakah kalian masih ingin bersembunyi dan menguntitku atau keluar untuk bicara.?'' tegur Pranacitra dingin.
Terdengar seruan tertahan dan dengusan geram. dari balik batang pohon dan batuan cadas yang menonjol berkelebat empat sosok tubuh. meski jarak tempat persembunyiannya dengan Pranacitra terpaut sepuluh tombak, namun dalam sekali gerakan mereka sudah dapat jejakkan kakinya kesana dan langsung mengurung si pemuda. ini menandakan kalau tingkat kepandaian keempat orang ini tidak dapat dipandang remeh.
Sebelah alis Pranacitra sedikit terangkat melihat pedang dan seragam jubah biru muda yang dikenakan dua orang diantara mereka, karena mengingatkannya pada jubah yang dipakai para ketua dari perguruan silat 'Pedang Samudra' yang pernah menjadi lawannya saat pertarungan besar di lereng Merapi.
Jika dilihat dari usia keduanya yang masih sangat muda mungkin mereka adalah murid perguruan yang berada diseberang utara laut Jawa itu. meskipun hawa amarah terpancar dari diri sepasang muda- mudi ini, namun tidak dapat menghilangkan wajah keduanya yang gagah dan cantik. mungkin mereka kakak beradik.
Dua orang lainnya adalah lelaki lima puluhan tahun bertubuh kekar dan berparas gagah dengan sedikit brewok di dagunya. sebuah tombak pendek bermata golok dengan gagang kepala harimau terpanggul dibahu kanannya. pakaiannya terbuat dari kain tebal yang kasar warna putih dan tanpa lengan hingga terlihat otot- ototnya yang kekar.
Meskipun Pranacitra tahu siapa manusia ini, tapi yang menarik perhatiannya justru orang keempat. dia seorang gadis yang mungkin baru berumur lima belas tahunan. berbaju hitam yang sudah dekil, robek- robek dan agak kebesaran. wajahnya yang cukup cantik manis jadi sedikit menyeramkan dengan adanya bekas luka bakar dan sayatan dibagian mata kiri sampai kedekat dagunya hingga membuat gadis tanggung ini picak sebelah.
''Aku mendengar lima tahun silam ada suatu kejadian mengerikan. sebuah keluarga bekas senopati perang yang terkenal dimasa akhir Majapahit kedapatan musnah terbantai oleh segerombolan pembunuh. dari lima puluhan orang penghuninya, cuma seorang bocah anak kusir kuda dikeluarga itu yang berhasil lolos dari kematian meski harus menanggung luka bakar dan cacat mata kirinya..''
''Empat tahun kemudian muncul seorang bocah perempuan belasan tahun yang membawa kegegeran di rimba persilatan. dengan berbekal sebuah cambuk berduri baja dia membabat habis dua kelompok begal rampok sekaligus membakar musnah sarang mereka. belum genap sebulan, hanya seorang diri gadis itu membunuh tiga anggota keluarga pejabat kerajaan yang belakangan diketahui menjadi dalang dari pembunuhan keluarga bekas senopati perang dimasa lalu..''
Prancitra memandangi wajah si gadis bopeng bermata picak. ''Tidak seorangpun yang tahu namanya, karena setiap kali ditanya dia selalu menjawab kalau dirinya cuma anak kusir kuda. mungkin itulah sebabnya gadis itu diberi panggilan si 'Kusir Picak Muka Bopeng..'' tutur Pranacitra memungkasi ceritanya.
''Wooouuh., suatu cerita yang memukau.!'' seru gadis itu sambil bertepuk tangan. ''Diriku juga punya wajah cacat bekas luka bakar dan picak mata kiri. Eehm., apakah menurutmu gadis dalam ceritamu itu aku.?'' bibirnya bertanya tubuhnya begerak maju secepat kilat hingga tahu- tahu sudah berada selangkah didepan Pranacitra. semua orang seketika terperanjat.!
Meskipun diluarnya tetap tenang dan dingin namun dalam hati pemuda itu mengakui ketinggian ilmu ringan tubuh si gadis yang berrdiri sambil menunjuk hidungnya sendiri. ''Ayoh cepat kau jawab., apakah gadis itu aku, benarkah itu aku, akukah yang kau maksudkan dalam cerita itu. aku., aku., aku yah.?'' tanyanya bertubi- tubi. sikapnya mendadak berubah seperti orang sinting dan dungu.
''Kau., kau tahu apa soal penderitaan. kenapa dari lima puluh nyawa dalam rumah itu cuma diriku yang bertahan hidup. kenapa mesti kau buat aku mengingat lagi semua kepahitan yang ingin kulupakan.!'' bentak gadis picak itu kalap. tangan kirinya menghantam bersamaan juga cambuk berduri besi yang melilit pinggangnya sudah terlepas menyentak keudara.
Pranacitra bergerak mundur. dengan jurus 'Langkah Aneh Mayat Hidup' dia berhasil lolos dari serangan telapak dan sabetan cambuk yang menghentak seperti halilintar. tapi kedua orang remaja berjubah biru muda juga sudah mencegat dibelakang sambil babatkan pedang mereka yang bersinar kebiruan.
''Huhm., kami dari perguruan 'Pedang Samudra juga ingin menuntut balas kematian dua orang wakil ketua kami yang kau bunuh dilereng Merapi.!'' bentak pemuda berjubah biru. sekali serang pedangnya seolah berubah menjadi gulungan ombak pedang. ''Kami inginkan nyawamu sebagai gantinya.!'' damprat gadis jubah biru tidak mau kalah gertak.
Jika rekannya bergerak membabat, pedang gadis ini malah menusuk langsung ke jantung lawan. selarik cahaya petir kebiruan lebih dulu menyambar. jurus 'Kilat Di Samudra Biru' menimpali gerakan 'Gelombang pedang Biru Pengacau Lautan' yang dilepaskan kawannya. meski masih muda tapi ilmu pedang mereka sangat mengejutkan.
Tetap memakai ilmu 'Langkah Aneh Mayat Hidip' yang dipadu jurus 'Tongkat Mencongkel Pintu Alam Gaib' membuat Pranacitra bukan saja mampu lolos dari serangan maut ketiga lawannya, bahkan dapat menangkis pula hujan pedang biru yang menderu seganas ombak lautan. saat gerakan tongkatnya yang berputar bagai perisai hitam berubah menjadi dua buah tusukan, bentrokan suara senjata yang beradu memecah kesunyian senja hari.
'Whuuuuuk., whuuuut., sraaaaatt.!'
'Traaaaang., traaaaang., plaaaaang.!'
Kedua murid perguruan Pedang Samudra memaki geram. jurus serangan mereka bukan saja gagal, pedang ditangan juga nyaris terlepas. bahkan kini nyawa mereka terancam dua cahaya hitam panas dari ujung tongkat besi yang datang menggerus bagaikan hendak menjebol bukit karang. terpaksa mereka berjumpalitan mundur sambil menangkis sebisanya sebelum akhirnya keduanya terjungkal roboh.
''Kurang ajar., siapa yang meminta kalian berdua ikut campur urusanku.!'' damprat gadis picak itu gusar. cambuk berduri besinya berkelebat menyambar. cahaya merah disertai suara ledakan dan bunga api yang bertaburan menghujani tubuh Pranacitra. ''Jurus 'Cambuk Hujan Lidah Api Berantai'. jadi benar kau sudah berguru pada 'Ratu Siluman Gagak' sang penguasa pulau 'Gagak Hantu.!'' seru Pranacitra kaget.
''Hik., hi., pengetahuanmu memang luas. tapi dia bukan guruku, aku cuma sempat mencuri sedikit ilmu cambuknya sebelum diriku kabur dari pulau tempatku disekap. meskipun orang itu pernah menolongku tapi aku tidak sudi terus tinggal disana dan menjadi budaknya..'' mulut gadis picak bicara terkikik tapi cambuk ditangannya juga tidak berhenti bergerak.
''Coba terima yang satu ini. barangkali kau juga tahu apa nama jurusnya.!'' cambuk berduri besi yang memancarkan cahaya merah panas menyentak lurus keudara. diatas sana muncul selarik sinar dan kobaran api meluruk ke bumi. ledakan sekeras guntur pecah menggelegar.
''Ledakan Cambuk Guntur Tunggal.!' teriak lelaki kekar brewok yang sedari tadi diam menonton pertarungan. belum hilang kejutnya tongkat besi hitam si pincang juga sudah menderu keatas. selarik sinar merah hitam menyambar diudara. ''Jurus 'Tongkat Maut Pemecah Rembulan.!'' dia berseru tegang mengenali jurus si pincang.
Ledakan beruntun disertai kobaran bara api yang berserabutan membuat suasana kacau. asap panas dan debu pekat menutupi udara. saat semuanya sirnah terlihat si gadis picak jatuh terduduk. diujung bibirnya meneteskan darah. setelah terbatuk dia kembali muntah dan tubuhnya gemetaran.
Disudut lainnya Pranacitra berdiri tenang pejamkan mata mengatur pernafasannya. caping bambunya yang terlepas membuat wajah pucatnya terlihat. meskipun diakui ilmu cambuk lawan sangat hebat tapi belum sampai mengancam jiwanya. dengan langkah terseret dia menghampiri gadis bopeng bermata picak itu. ujung tongkat terjulur didepannya. sepasang mata gadis itu yang tadinya menatap bengis perlahan melembut. tangan kirinya meraih tongkat yang terangkat lantas berdiri di depan si pincang.
*****
Asalamualaikum., Salam sejahtera dan sehat selalu.
Mohon tulis komentar, kritik sarannya. Like๐, Vote dan Favorit๐ jika Anda suka. tolong juga Share ๐ novel ini pada teman" yang lainnya.
Maaf jika ceritanya jadi agak melenceng, saya cuma bantu update saja๐ . kata authornya sih ada maksud tersendiri. Terima kasih.
Kalau sempat mungkin nanti malam atau besok PTK ada update lagi. kebetulan hari ini adik saya libur kerja.๐ค, baru mungkin lho yah.
Wasalamualaukum.๐