Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Kisah wanita yang dianggap rendahan.


Hujan gerimis yang turun bersamaan dengan tibanya waktu senja hari itu membuat seorang pemuda berpakaian gelap terpaksa menepikan dirinya ke pinggiran jalan yang di tumbuhi pepohonan. mulanya hanya gerimis kecil saja, tapi semakin lama hujan jadi bertambah lebat. dedaunan dan batang pohon tidak mampu lagi menahan curah hujan hingga mulai membuat basah si pemuda.


Dengan langkah terseret dibantu sebatang tongkat besi sepanjang hampir setengah tombak dan gagangnya terbungkus kain hitam, pemuda itu beralih tempat perlindungan ke bawah atap rumah salah satu penduduk kampung yang bagian depannya di jadikan semacam warung. dia mesti bergerak agak jauh untuk sampai kesana. meskipun sebenarnya pemuda ini mampu melesat secepat sambaran kilat, tapi dia tidak mau melakukannya.


Hampir setengah bagian tubuhnya sudah dibasahi hujan. pemuda itu berjongkok di pojok depan warung. meskipun tetesan air hujan lebat yang bercampur hembusan angin masih sedikit menerpanya, tapi di sini masih lebih nyaman dan kering. dari dalam warung makan itu tercium aroma jajanan gorengan gurih yang baru diangkat dari wajannya. perutnya terasa lapar.


Dengan agak malas pemuda ini bangkit lalu berdiri di depan pintu warung yang sepi. pemilik warung adalah seorang perempuan empat puluhan yang masih terlihat ayu. di bantu seorang anak gadisnya dia menyiapkan hIdangan untuk pengunjung. mulanya wanita itu mengira si pemuda seorang pengemis yang minta makanan hingga dia menyuruh anaknya untuk memberikan dua potong singkong goreng.


Tetapi ibu dan anak pemilik warung itu terkejut saat si pemuda menyerahkan tiga kepingan uang tembaga sebagai pembayarannya. suatu jumlah yang agak berlebihan untuk dua potong singkong goreng. karena sekeping tembaga saja sudah lebih dari cukup. pemuda itu tidak makan di dalam warung, tapi kembali duduk berjongkok ke pojok luar.


Tanpa diminta gadis manis empat belasan tahun itu memberikan dua potong ubi rebus dan segelas bambu wedang jahe penghangat tubuh pada si pemuda yang hanya menganguk dan tersenyum sekilas saja. sebuah senyuman tipis yang dingin dan sinis, seakan dia selalu memandang remeh pada apapun dan enggan bergaul dengan orang lain.


Meskipun demikian gadis muda anak pemilik warung itu diam- diam mengamati si pemuda berbaju hitam. entah kenapa wajah yang rada pucat dingin, senyuman tipis dan sinis, serta sorot mata tajam tapi seakan tanpa perasaan apapun itu malah membuatnya tertarik. sang Ibu yang melihat tingkah putrinya cuma geleng- geleng kepala. dia kini tahu kalau anaknya sudah beranjak remaja dan mulai tertarik dengan lawan jenis. hanya saja., kenapa mesti dengan seorang gelandangan.?


Pemuda itu telah menghabiskan makanan yang terhidang. gelas minuman juga sudah kosong. hari ini sudah lewat seminggu sejak dia merampas seluruh harta para pengunjung rumah hiburan milik juragan Sentot Bhirawa, sekalian juga membebaskan semua wanita penghibur yang mereka paksa bekerja melayani lelaki hidung belang.


Gelandangan pincang bernama Pranacitra itu termenung, dari keterangan wanita malang yang pertama kali dia tolong dari siksaan pelanggannya yang sedang mabuk didepan rumah hiburan besar waktu itu, si pemuda tahu kalau gadis bernama Parmita yang juga bibi dari si bocah bisu Aji Pradana itu telah mati bunuh diri saat hendak di bawa ke atas kapal saudagar kaya yang telah membelinya.


''Aku mengenalnya sejak pertama kali dia di bawa ketempat Ki Sentot Bhirawa. dia sering bercerita tentang keluarganya yang musnah oleh serbuan orang- orang jahat. meskipun Parmita kabarnya berasal dari lingkungan satu perguruan silat yang terkenal di tanah Sunda, tapi dia sendiri hanyalah seorang gadis lemah lembut yang berbudi halus. sama sekali tidak tahu ilmu bela diri yang keras..'' tutur bekas wanita penghibur itu sambil mendekap Aji Pradana. saat itu mereka berada diatas pedati yang ditarik dua ekor sapi.


Semua wanita penghibur yang sudah bebas di berikan sekedar bekal uang dan perhiasan hasil rampasan oleh Pranacitra sebelum mereka di antar ke tempat asalnya. perlu waktu dua hari untuk memesan suatu usaha jasa pengawalan barang yang sanggup untuk mengantar para wanita yang jumlahnya lebih dari dua puluh orang itu, tentu saja dengan pembayaran yang mahal hasil rampokan si pincang Pranacitra.


Kebetulan saja ada sebuah perkumpulan jasa pengawalan barang bernama 'Garuda Merah' yang baru beberapa bulan berdiri dan sedang singgah di desa itu setelah kembali dari mengantar pesanan pelanggan. sebagai jasa pengawalan yang masih baru tentu butuh banyak modal dan nama baik agar semakin berkembang dan di percaya orang. apalagi bayaran yang diberikan oleh si pelanggan cukup besar, maka jelas saja pimpinannya yang bernama Ki Wikalpa langsung menyanggupinya.


''Aku tidak punya siapapun lagi di dunia ini, setelah suamiku meninggal datang seorang wanita yang memberiku bantuan makanan. berikutnya dia menawariku pekerjaan untuk menjadi pelayan rumah di tempat majikannya. tapi rupanya perempuan itu adalah kaki tangan Ki Sentot Bhirawa sekaligus mucikari germo tempat hiburan jahanam itu. singkatnya aku jadi budak birahi para lelaki hidung belang..'' wanita cantik yang masih sangat muda itu terus berkisah.


Pranacitra sudah seringkali mendengar cerita suram seperti ini. tapi mendengar sendiri dari sang korban, tanpa terasa hatinya ikut teriris. ''Sudah beberapa minggu belakangan tubuhku terus melemah, tapi para bajingan itu tidak mau tahu dan terus memaksaku. jika aku menolak, siksaan pedih akan kudapat. pernah diriku sampai jatuh tidak sadarkan diri hampir dua hari setelah dalam sehari semalam aku terpaksa melayani lima belas orang lelaki., apa bisa kau bayangkan bagaimana penderitaan yang aku alami.?''


"Ini sekedar cerita pembuang kebosanan., selama tiga tahun aku dirumah setan itu, sudah dua kali diriku dipaksa mereka untuk menggugurkan kandunganku.." Pranacitra terdiam., segalanya terasa ironis. orang dengan gampangnya menuding semua wanita penjaja tubuh adalah perempuan kotor, hina, sampah masyarakat yang tidak boleh untuk mendapatkan kehidupan yang layak. mungkin itu ada benarnya, tapi apakah para lelaki yang menjadi pelanggan mereka juga orang suci.


Di dalam dunia ini rasanya tidak ada seorang perempuanpun yang punya niatan menjadi pelacur, tapi terkadang mereka dipaksa untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah mereka inginkan. jika kaum wanita ini di sebut hina dan pendosa, lalu bagaimana dengan orang yang telah menjerumuskan hidup mereka.?


''Beberapa hari terakhir aku nekat ingin pergi walau bagaimanapun caranya, meskipun aku harus mati akan tetap kulakukan. rupanya yang kuasa mendengar doaku, kau datang menolong kami semua., ucapan terima kasih saja tentu tidak cukup, bagaimana aku mesti membayar semua kebaikanmu.?'' ujar wanita itu menunduk setengah berbisik sambil mengelus rambut hitam Aji Pradana yang tidur di pangkuannya.


''Kau seorang pengembara dunia persilatan., mungkin banyak urusan yang mesti engkau selesaikan di luaran sana. kami berdua tidak mau menjadi bebanmu. semasa hidupnya Parmita selalu bersikap baik pada semua orang. akan aku rawat keponakan mendiang Parwita yang bernama Aji Pradana ini dengan sepenuh hati sebagai rasa hormat dan terima kasihku kepadanya..''


Itulah ucapan terakhir yang keluar dari bibir bekas wanita penghibur itu saat mereka memutuskan untuk berpisah. Aji Pradana sempat menangis namun tidak ada suara yang keluar, bocah itu lumayan tabah. dengan uang hasil rampasan Pranacitra membeli sebuah rumah kecil di pinggiran kampung dekat dengan sungai kecil. penduduk kampung itu tidak banyak dan hidup sangat sederhana. sisa uangnya sengaja dibagikan pada para penduduk desa ini agar mereka turut menjaga Aji Pradana serta wanita yang baru dia ketahui bernama Rahayuning itu.


''Hari sudah mulai gelap, jika di perbolehkan nanti malam aku mau menumpang tidur di teras warungmu ini Nyi..'' ujar Pranacitra kepada wanita pemilik warung makan yang hendak menutup warungnya. hari itu hujan cukup deras dan lama. pelanggan yang datang hanya tiga orang saja. wanita itu hanya mengangguk. anak gadisnya keluar membawa sebuah tikar yang sudah usang. ''Sebaiknya kau pakai tikar lama ini sebagai alas tidurmu..''


Pranacitra menerima pemberian gadis manis itu. sang Ibu hanya melirik sekejap, tanpa bicara dia masuk ke dalam di susul anaknya. namun sebelumnya si pemuda sempat menanyakan arah menuju gunung Merapi. Ibu dan anak itu menunjuk ke satu arah, ''Gunung Merapi meski masih sangat jauh tapi bisa dilihat dari sini. hanya saja awan mendung dan kegelapan menghalangi pandangan mata..''


Warung sudah ditutup, pemiliknya juga telah masuk ke dalam rumah untuk beristirahat. hujan masih mengguyur bumi meskipun cuma berupa gerimis. udara dingin yang menusuk tulang berhembus seiring dengan tibanya kegelapan malam hari. pemuda pincang itu duduk diatas tikar butut pemberian gadis anak pemilik warung sambil bersandar punggung di dinding papan kayu warung itu.


Sepasang mata setajam pisau belati menyorot tajam ke arah yang di tunjuk wanita pemilik warung, seakan dia mampu menembusi pekatnya malam. gunung Merapi tidak terlihat, tapi dia tahu saat ini matanya sedang menatap ke sana. meskipun kelak diatas sana sudah menunggu ancaman kematian, tapi si pincang pucat ini tetap akan datang. ''Semoga saja ada permainan menarik yang menunggu di atas gunung itu. kuharap juga kali ini tidak ada orang lain yang suka ikut campur urusan..'' gumamnya menyungingkan seringai sinis.


Pagi itu gadis manis anak pemilik warung bangun sedikit agak lambat. dalam rumahnya dia hanya tinggal bertiga dengan sang Ibu dan neneknya. ayah gadis itu dulu seorang prajurit kadipaten. dia sudah meninggal dua tahun lalu saat ikut membasmi gerombolan perampok. dari neneknya yang memasak di dapur, gadis itu mendapat kabar kalau Ibunya sudah sejak tadi membuka warungnya.


Dia teringat pemuda aneh yang numpang tidur di teras warungnya. dengan tersenyum riang gadis itupun berlari kedepan. di dalam warung itu terlihat sepi meski hidangan sudah tertata. saat keluar terlihat Ibunya sedang berdiri mematung menatap selembar tikar butut yang menjadi alas tidur pemuda gelandangan itu semalam.


Gadis itu ikut tertegun melihat belasan keping uang tembaga dan perak berada diatas tikar itu, di sana juga terdapat sebaris tulisan hitam dengan menggunakan arang kayu bakar. ''Sekedar ucapan terima kasih untuk tikar alas tidur yang hangat. semoga warung ini semakin banyak pelanggannya. juga anak gadisnya yang cantik ramah kelak mendapat jodoh yang baik dan bertanggung jawab..''


''Kita memang tidak boleh menilai seseorang hanya dari luarnya..'' gumam wanita pemilik warung itu. anaknya cuma diam, pagi hari ini mereka mendapat rejeki lumayan banyak dari si pemuda tidak dikenal itu, tapi entah kenapa si gadis juga merasa kehilangan sesuatu dari dalam hatinya.


*****


Asalamualaikum., Salam sehat sejahtera selalu buat kita semuanya.๐Ÿ™, bab ini agak ringan, isinya cuma cerita bekas wanita penghibur dan si pincang angkuh yang numpang berteduh. mungkin karena awal puasa, authornya males bikin yang sadis" ๐Ÿ˜….


Silahkan tulis komentar, kritik saran, like๐Ÿ‘ vote atau favorit๐Ÿ‘Œjika anda suka.๐Ÿ‘


Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan, semoga bulan suci ini membawa berkah kebaikan buat kita semua. Amin.


Wasalamualaikum.๐Ÿ™