Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Gembel Sakti Mata Putih.


Seorang tua berpakaian macam pengemis, duduk diatas sebuah cabang pohon yang batangnya cuma sebesar jempol kaki orang tanpa membuatnya patah. pertanda dia punya ilmu meringankan tubuh yang tinggi.


Menggunakan sebatang ranting yang besarnya cuma satu jari kelingking untuk membuat sebuah pusaran angin keras yang mampu menggugurkan daun- daun di batang pohon pertanda tingkat tenaga dalam orang tua ini sulit untuk diukur.


Dengan hanya memandang dari atas pohon, dia mampu melihat penyamaran yang sedang dilakukan Srianah. pandangan mata setajam ini cuma bisa dimiliki oleh orang yang punya ilmu kesaktian luar biasa.


Baik Pranacitra juga Srianah alias Coreng langsung terkesiap melihat kemunculan orang tua aneh itu. ''Kau kenal dengan kakek tua di atas pohon itu.?'' tanya Srianah berbisik. yang ditanya cuma menggeleng, sementara di luarnya pemuda ini menjura hormat.


''Kami berdua cuma gelandangan miskin yang tidak punya mata hingga tidak mengetahui ada orang hebat berdiam di sini, harap maafkan kami jika tanpa sengaja mengganggu ketenanganmu..''


Srianah malah bersorak seakan takjub ''Wah hebat., kakek tua bagaimana kau bisa tahu kalau aku seorang perempuan., padahal selama ini tidak ada seorangpun yang mengenaliku saat aku menyamar jadi bocah laki- laki.?''


Orang tua di atas pohon mendongak lalu tertawa bergelak. ''Hak., ha., kau tahu aturan juga rupanya pemuda pucat penyakitan. dan bocah perempuan temanmu itu tingkahnya lucu juga. hmm., aku jadi tertarik dengan kalian berdua..''


Begitu selesai bicara, orang tua ini langsung melompat turun kebawah dengan ringan tanpa menimbulkan suara sedikitpun. caping butut yang menutupi kepalanya di angkat sedikit keatas, kini terlihatlah jelas sosoknya.


Seorang tua renta berbaju putih kumal compang camping bertambalan. rambutnya putih riap- riap panjang menjela bahu. tubuhnya yang kurus setengah terbungkuk. dilihat dari wajahnya yang penuh keriput bisa dipastikan kakek ini mungkin sudah berumur lebih dari delapan puluh tahunan. yang paling mengejutkan hati kedua anak muda ini adalah sepasang mata kakek ini seakan cuma memiliki warna putih. karena bagian yang hitam di tengah seperti tertutupi selaput keabuan.


''Mungkinkah mata kakek tua ini buta, lalu bagaimana caranya dia bisa melihat kami berdua.?'' batin Pranacitra dan Srianah saling pandang keheranan. rupanya orang tua berdandan pengemis ini mengerti dengan apa yang sedang di pikirkan kedua anak muda yang berada di depannya itu.


''Hek., he., dulu kedua mataku juga sama dengan kalian, bulat putih dan hitam pada tengahnya. ada seorang bangsat yang telah membuatnya seperti ini. tapi itu terjadi sudah lama sekali. meskipun aku kehilangan hampir seluruh indera penglihatanku, tapi dengan berlatih sangat keras indera pendengaran, penciuman serta perasaanku menjadi jauh lebih tajam dari siapapun.!''


''Kakek tua kau sungguh luar biasa. tapi aku tetap merasa kasihan denganmu, karena bagaimanapun juga memiliki sepasang mata yang bisa melihat keindahan dunia tetap lebih baik daripada menjadi buta., orang yang telah membuat kedua matamu seperti itu sungguh berhati kejam.!'' ucap Srianah bersimpati. tanpa rasa takut dia melangkah menghampiri si kakek tua, dari buntelan yang di sandangnya Srianah mengeluarkan tiga buah pisang rebus dan langsung diselipkan ke tangan orang tua itu, hingga membuat kakek bermata putih ini tertegun.


''Kakek tua., kurasa kau belum makan, ini kuberikan tiga buah pisang rebus untukmu. kami tidak punya nasi dan lauk, tapi kurasa itu cukup untuk sekedar pengganjal perutmu yang kosong..''


''Kami berdua sedang dalam perjalanan, jadi mohon maaf jika tidak dapat menemanimu lebih lama lagi, kami berdua mohon diri..'' sambung Pranacitra sambil menggandeng Srianah pergi. tapi baru beberapa langkah mereka berlalu dari satu arah terdengar suara gelak tawa mengikik yang disambung makian kotor.


Srianah langsung pucat raut mukanya, sementara Pranacitra bergerak ke depan melindungi gadis itu. biarpun tahu bakal berhadapan dengan pembunuh Ki Suta dan punya kesaktian sangat tinggi, pemuda ini tidak merasa takut sedikitpun. mungkin dia sudah mulai terbiasa dengan ancaman maut. malah bisa jadi dia lebih takut akan kehidupan dari pada kematian.


Penderitaan lahir batin yang sudah akrab dengannya semenjak masih jadi bocah gembel tanpa sadar telah membuat dirinya merasa hambar menjalani kehidupan. beberapa kali sempat terlintas dalam pikiran Pranacitra kalau hidup itu lebih menakutkan dari pada mati. mungkin ini pandangan yang gila, tapi jika seseorang harus mengalami penderitaan dan kekejaman berulangkali dalam hidupnya bisa jadi akan timbul pikiran yang sama dengan si pemuda. hanya kesabaran dan tekat pantang menyerah agar dapat menuntut balaslah yang membuatnya terus bertahan hidup. jika saja Pranacitra tidak mempunyai jiwa yang sekuat gunung karang, mungkin sejak dari awal dia sudah memilih untuk bunuh diri.


Di hadapannya telah muncul seorang nenek tua bermuka belang menakutkan, matanya yang tinggal sebelah melotot menyeramkan. sebuah tongkat kayu pendek yang terikat buntelan kain kuning bernoda darah kering dan memancarkan bau busuk memuakkan tersampir di bahu kanannya. siapa lagi orang tua ini kalau bukan si 'Iblis Picak Buntelan Kuning.!'


Rupanya setelah berlari mengejar lebih dari seharian nenek tua jahat ini tiba di sebuah tepian sungai kecil. tidak terlihat jejak apapun disana. akhirnya si nenek tersadar kalau sudah tertipu. ''Bocah perempuan itu sudah terluka karena siksaan gurunya. si pemuda kaki kirinya juga cedera, mereka tidak mungkin bisa pergi jauh. bocah- bocah keparat itu telah berani mempermainkan diriku. Bangsat.!'' rutuknya mengamuk. senjata tongkat buntelan kuningnya dihantamkan ke muka. serangkum angin keras yang dibarengi hawa kuning busuk menggebrak tumpukan batuan kali yang ada di tepian sungai hingga semburat dan hancur berantakan.!


Mulanya Iblis Picak Buntelan Kuning masih merasa ragu untuk kembali ke gubuk Ki Suta, karena dia yakin kalau gubuk itu sudah kosong. apalagi hujan deras juga mendadak turun. terpaksa nenek tua picak itu mencari tempat berteduh dan bermalam terlebih dahulu sebelum kembali memutar arah. jika saja dia langsung kembali ke gubuk Ki Suta saat itu juga, mungkin Pranacitra dan Srianah tidak akan selamat dari tangannya.


Setelah berhari- hari mengejar akhirnya Iblis Picak Buntelan Kuning dapat menemukan jejak mereka berdua. sekarang si nenek sedang membayangkan siksaan seperti apa yang bakal dia gunakan kepada kedua anak muda dihadapannya agar dapat memberinya kepuasan hati. manusia jahat sering kali suka menggunakan kekejaman dan siksaan sebagai sebuah hiburan yang menyenangkan.!


''Aku mencium bau busuk., apa disini ada nenek tua jelek yang sedang kentut atau berak di dalam celananya.? sialan betul.!'' umpat si kakek bermata putih sambil tutupi hidungnya, lalu mundur menjauh. karuan si nenek bermata picak menggerendeng murka. selain itu dia juga baru teringat kalau ada orang lain di tempat itu.


''Setan alas., berani betul kau mengumbar bacotmu, setelah kukerjai kedua bocah sialan ini, akan kukirim juga dirimu ke neraka.!'' ancam si nenek bengis. meskipun dalam hati dia merasa penasaran dengan orang tua bercaping daun pandan itu.


''Nenek tua jelek dan bau busuk berjuluk Iblis Picak Buntelan Kuning., kalau kau masih ingin hidup lebih lama segeralah pergi dari tempat ini. aku suka dengan kedua bocah itu. tidak kuijinkan siapapun menyentuh mereka.!'' ucap si kakek tua dengan suara dingin menyeramkan. segulung angin berhembus menyapu rumput dan daun- daun kering, suasana mendadak berubah jadi hening, di sana seakan telah muncul hawa membunuh yang sangat menggidikkan hati.


Tanpa sadar nenek picak tersurut mundur, tongkat buntelan kuningnya digenggam erat. ''Orang tua keparat., cepat katakan siapa kau sebenarnya.!'' bentak si nenek picak geram. orang tua berbaju putih kumal compang- camping mendengus, dengan ujung jari dia mengangkat bagian depan capingnya.


''Gembel Sakti Mata Putih.!'' seru Iblis Picak Buntelan Kuning dengan suara kelu tercekat, saat dia mengenali siapa adanya orang tua berbaju putih tambalan itu. seketika sikap garangannya lenyap berganti dengan rasa gentar bercampur ngeri. dalam hatinya dia mengumpat semua kesialan yang bakal dialaminya karena harus berhadapan dengan salah satu dedengkot persilatan aliran putih yang sangat ditakuti dan terkenal telengas tanpa ampun saat menghabisi semua lawannya, terutama para pesilat golongan hitam seperti dirinya.


****


Mohon tulis coment, kritik dan sarannya, juga like👍 jika anda suka. Terimaksih.🙏