Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Tabib Langit Racun Bumi.


Bagi orang persilatan, nama perkumpulan silat yang beranggotakan kaum pencoleng, copet dan sejenisnya itu sudah sangat lama terdengar. meskipun punya nama besar tapi perkumpulan 'Maling Kilat' tidak suka ikut campur dalam masalah perebutan kekuasaan dan pengaruh yang biasa terjadi di rimba persilatan.


Mereka hanya tertarik dengan harta benda bernilai tinggi atau pusaka langka yang jarang ada bandingannya, tidak perduli semua itu berada di tempat yang paling sulit dijangkau. walaupun sangat banyak pihak yang ingin menangkap anggotanya untuk di korek rahasianya namun selama ini tidak ada satupun pihak yang berhasil mengungkap keberadaan Maling Kilat.


Karena seandainya ada di antara anggota Maling Kilat yang tertangkap, kabarnya mereka selalu punya seribu cara untuk bisa kabur atau malah memilih mati ketimbang dia harus berkhianat dan mengungkapkan rahasia dari perkumpulannya. selain itu, ketua dan para pimpinan Maling Kilat pasti tidak akan tinggal diam jika ada anggota mereka yang tertangkap.


Maka sangat mengejutkan bagi Ki Payung Gendingan jika sekarang si 'Setan Gorengan' sampai bisa mengetahui tempat rahasia perkumpulan Maling Kilat bahkan seakan juga mengenal para pentolannya dengan baik. walaupun sempat timbul keraguan tetapi apa yang ditawarkan oleh tukang masak bungkuk itu merupakan jalan keluar yang terbaik.


Selain sudah merasa lelah dia juga berusia lanjut dan hanya mempunyai seorang cucu perempuan yang masih kecil sebagai satu- satunya keturunan dari keluarganya. ''Aku tidak tahu mesti berkata apa. kau sudah memberiku sebuah jalan keluar namun sebaliknya tanpa sengaja diriku telah membongkar rahasia persembunyianmu..''


''Eehm., kalau sudah begini kenapa tidak sekalian saja kau turut meminta bantuan perlindungan pada Maling Kilat.?'' tanya Ki Payung Gendingan. yang ditanya cuma diam menatapnya tajam seolah tidak suka. orang tua tukang cerita itu menghela nafas. dia tahu sudah waktunya untuk pergi. setelah sekali lagi mengangguk hormat, dengan lebih dulu mengendong cucunya yang masih tertidur diapun berkelebat tinggalkan tempat itu.


Kesunyian menyelimuti ruangan itu. dari sudut keremangan terlihat sesosok bayangan manusia. sekarang dalam ruangan itu telah bertambah seorang lagi. dengan langkah terseret pelan dia menghampiri kursi kayu lantas duduk santai selonjoran kaki. ''Apakah kau benar yakin dengan mengirim mereka ke tempat Maling Kilat tidak akan menimbulkan masalah bagi ketuanya si Malaikat Copet.?'' bertanya Setan Gorengan sembari melirik orang yang baru datang.


Dia adalah seorang pemuda berbaju gelap dengan wajah tampan namun sedikit pucat. dari balik helaian rambut hitamnya yang terikat secarik kain batik lirik terlihat sorot mata dingin seakan acuh pada apapun. meski begitu., anehnya ada hawa menyeramkan yang terpancar dari dalam diri pemuda itu.


Lelaki muda yang mungkin usianya dua puluh lima tahunan ini mengusap lembut gagang sebuah tongkat besi hitam berbentuk kepala tengkorak menyeramkan yang terbuat dari perak ditangannya sebelum menjawab, ''Jika dirimu ragu dengan keputusanku, kenapa juga tidak kau lenyapkan saja mereka dari awal. toh kedua kakek dan cucunya itu juga bukan sanak saudaramu..''


Jawaban yang terdengar asal ini seketika membuat Setan Gorengan tertegun. walau sudah sering mendengar kalau pemuda yang kaki kirinya pincang ini punya sifat telengas tapi dia sungguh tidak mengira bakal sekejam itu. seakan tahu yang sedang dipikirkannya, pemuda ini tersenyum sinis dan rentangkan kedua tangannya. ''Aku bukanlah orang baik- baik yang berhati welas asih..''


''Bagaimana dengan dirimu sendiri orang tua. kenapa setelah bersusah payah meloloskan dari kejaran orang- orang kerajaan dan para musuhmu kau tidak juga kembali pada keluarga besarmu di gunung Dieng. walau bagaimanapun juga engkau masih terhitung sebagai paman guruku, karena kau adalah adik lelaki yang paling kecil dari mendiang 'Nenek Tabib Bertongkat Maut.!''


Ucapan pemuda pincang yang bukan lain adalah Pranacitra ini seakan mengorek luka lama dalam hati si Setan Gorengan. dengan mendengus gusar dia babatkan wajan hitam ditangannya kemuka. serangkum hawa sinar hitam melabrak si pemuda. yang diserang tidak beranjak dari tempatnya duduk. sebagai gantinya dia menggeser tongkat besinya ke depan tubuhnya untuk menghadang serangan lawan.


Seakan terbendung sebuah kekuatan yang tidak terlihat, sambaran hawa hitam dari senjata wajan itu berhenti hanya sejengkal di depan tongkat besi hitam yang tertancap di lantai. beberapa kali terjadi ledakan yang mengguncang ruangan. meja dan balai bambu pembaringan terangkat naik sebelum hancur remuk disapu dua kekuatan yang saling beradu. sekali tongkat menghentak ke lantai, sebuah ledakan sangat kuat menyapu semuanya hingga keheningan kembali menyelimuti.


Setan Gorengan tetap berdiri terbungkuk menatap Pranacitra yang juga masih duduk diatas kursinya. seakan tidak pernah terjadi apapun dia bertanya. ''Apakah nenek tua itu yang menceritakan tentang diriku.? sungguh tidak kusangka, ternyata dia masih ingat kalau memiliki seorang adik lelaki bungsu sepertiku..''


''Bagaimanapun juga sepuluh bersaudara dari keluarga 'Tabib Langit Racun Bumi' yang ada di gunung Dieng tidak akan dapat terputus oleh apapun. meski diantara kalian tidak ada yang akur tapi darah persaudaraan akan tetap mengalir dalam jiwa. kuharap., kakek Setan Gorengan dapat menikmati hari tua dengan tenang. pulanglah ke tempat asalmu. apalagi diantara sepuluh saudaramu, mungkin hanya tersisa satu atau dua orang saja yang masih hidup..'' ucap Pranacitra.


Jika ada orang persilatan utamanya dari kalangan tua mendengar nama keluarga 'Tabib Langit Racun Bumi, mereka akan mengatakan dua buah pendapat yang bertentangan. pertama berbunyi 'Segala penyakit akan sembuh oleh Tabib Langit.!' sedangkan yang kedua 'Semua yang kuat pasti mati ditelan Racun Bumi.!'


Konon kabarnya pada tiga ratus tahun silam pernah muncul dua orang lelaki tampan dan wanita cantik. mereka berdua disebut sebagai si 'Tabib Langit' yang sangat ahli dalam ilmu pengobatan dan si 'Racun Bumi' yang luar biasa hebat dalam penggunaan racun. suatu ketika mereka sepakat bertemu di puncak gunung Dieng untuk menentukan siapa yang lebih unggul.


Setelah bertarung hampir sehari semalam pada akhirnya si Tabib Langit sedikit lebih baik dibandingkan lawannya yang terkapar tidak berdaya. melihat hal itu para musuh si Racun Bumi bermaksud menggunakan kesempatan itu untuk membunuhnya. tapi si Tabib Langit bukan saja menghalangi malah dia berniat untuk menyelamatkan wanita itu, meskipun dirinya harus bertaruh nyawa dan berhadapan dengan mereka.


Karena terharu si Racun Bumi menggunakan sisa kesaktiannya untuk meracuni musuh- musuhnya. walaupun mesti terluka parah tapi keduanya berhasil selamat dari kepungan para pendekar yang berjiwa pengecut itu sekaligus menghabisi semua lawannya. pada akhirnya karena saling mengagumi keduanya menikah dan menyepikan diri di puncak gunung Dieng. dari sinilah muncul keturunan- keturunan dari mereka.


Biarpun sudah puluhan bahkan ratusan tahun berlalu tapi nama besar keluarga ini tidak pernah dilupakan, karena para keturunan dan juga murid didikan mereka biarpun cuma segelintir jumlahnya sudah mampu membuat goncang dunia persilatan. salah seorang diantaranya adalah 'Nenek Tabib Bertongkat Maut' yang menjadi salah satu dari lima orang guru Pranacitra.


Orang tua bungkuk itu seperti merenung mengingat masa lalunya. di antara sepuluh bersaudara dialah yang paling tidak memiliki minat dan bakat soal pengobatan juga racun. tapi sebaliknya dirinya sangat suka dengan memasak. akibatnya si bungsu ini sering kali mendapatkan ejekan dan cemoohan dari para saudaranya. karena itulah empat puluh tahun lalu dia keluar dari lingkungan keluarganya untuk mencari jalan hidupnya sendiri.


''Sejauh- jauhnya burung terbang, dia pada akhirnya akan kembali ke sarangnya. Aaihs., sepertinya ungkapan itu ada benarnya juga. sayangnya sekarang ini., aku belum bisa kembali ke puncak Dieng..'' gumam Setan Gorengan. ''Apa yang membuat dirimu enggan untuk kembali kesana.?'' selidik Pranacitra.


Orang tua bungkuk itu terdiam sesaat sebelum menjawab. ''Beberapa tahun lalu aku hampir menemui ajal disebabkan keroyokan para pemburuku. tetapi untungnya., muncul seseorang yang datang menyelamatkan nyawaku dari kematian sekaligus menghabisi semua lawanku. karena diriku bukan orang yang suka berhutang jiwa, maka diantara aku dan dia terikat suatu perjanjian. singkatnya., aku sudah menjadi orangnya dan hanya bisa bebas jika sudah berhasil melaksanakan suatu perintah darinya..''


Pranacitra sempat bertanya siapa adanya orang yang sanggup menjadikan tokoh silat sekelas Setan Gorengan sebagai bawahan. tapi adik bungsu gurunya itu seperti enggan menjawab. ''Lantas kau sendiri bagaimana.?'' dia balik bertanya alihkan pembicaraan. ''Aku mesti menemui tuan besar ketua Malaikat Copet. melalui pesan rahasia, dia dan kawan lamanya si Maling Nyawa telah meminta bantuanku..'' jawab si pincang seraya bangkit berdiri.


''Tentunya belakangan ini paman guru Setan Gorengan telah mendengar kabar tentang kegemparan yang diakibatkan oleh peta rahasia 'Istana Angsa Emas'. ada kabar angin yang mengatakan kalau pihak 'Kelompok 13 Pembunuh' bakalan muncul di dunia ramai untuk bertarung dengan orang Istana Angsa Emas di suatu lembah terpencil..''


''Selain masalah itu, aku juga perlu datang untuk bisa memastikan tentang jati diri seorang pesilat kawakan berlengan buntung yang menjadi salah satu anggota dari Kelompok 13 Pembunuh..'' terangnya. tukang masak tua itu agak terkesiap. ''Hanya satu orang bertangan buntung yang ada dalam perkumpulan pembunuh bayaran terkuat itu. si 'Lengan Tunggal Pengejar Roh'. ada urusan apa kau dengannya.?''


Pranacitra diam tidak menjawab. si bungkuk tahu kalau masalah itu tidak dapat dijelaskan secara mudah. ''Hehm., apapun urusanmu dengan orang itu harap dirimu berhati- hati, karena dari yang kudengar, di antara anggota 13 Pembunuh dialah yang paling berbahaya.!'' ujarnya mengalihkan pembicaraan.


''Kupikir terlalu rawan jika terus membiarkan Ki Buntel Tembem dan kedua anaknya tetap membuka warung makan di sini. orang- orang dari partai Gapura Iblis dan para pemburumu sangat mungkin bakal datang kemari untuk menyelidik. apakah kau bisa mengatur dan mengatasi semua masalah ini.?''


''Semua sudah kusiapkan jauh hari sebagai persiapan jika ada yang mengenali diriku di warung Mampir Daharan ini. diriku punya kenalan baik di daerah pinggiran kota raja yang dapat membantu mereka untuk bisa membuka warung makan baru di sana. bakat memasak kedua anak Ki Buntel Tembem sangat bagus. aku juga sudah ajarkan segala yang kutahu tentang masak- memasak pada mereka berdua..'' pungkas si tua bungkuk.


..........


Silahkan untuk menuliskan komentar Anda. Trims🙏.