Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Nyai Pocong Kabut.


Salah seorang dari 'Empat Petani Cangkul Maut' yang terlihat paling tua dan rambutnya sedikit beruban maju beberapa tindak ke depan lantas berjongkok. ujung jarinya kelingking tangan kirinya meraba tanah berumput yang ada di bawahnya. ''Ada bekas muntahan darah, sepertinya orang yang sedang terlibat pertarungan ada yang terluka parah. dari keadaannya aku menduga pertarungan itu belum terlalu lama berlalu..''


Ketiga rekannya saling pandang tanpa sadar kewaspadaan mereka meningkat. meskipun hari sudah berganti pagi tapi cuaca masih diselubungi kegelapan dan berkabut. suasana seperti inilah yang kadang bisa dimanfaatkan orang untuk membokong.


''Kakang Kartopati., aku merasa ada orang lain yang berada disekitar sini, kabut sialan ini semakin tebal hingga jarak pandang kita terbatas..'' bisik salah satu dari Empat Petani Cangkul Maut yang badannya paling pendek serta bermata agak jereng pada si petani tua berambut agak ubanan, mungkin dialah pimpinan dari Empat Petani Cangkul Maut.


''Kau benar sobat Julingan., aku malah merasa kalau kabut tebal ini agak aneh, karena saat pertama kali kita tiba, kabut ini jelas belum ada. tapi tiba- tiba saja muncul dan semakin menebal..'' ungkap petani bertubuh paling tinggi.


''Kakang Ronggo Jangkung., apakah menurutmu kabut ini sengaja dibuat oleh seseorang untuk menghadang kita.?'' bisik petani yang kulit perutnya ada bekas luka goresan senjata tajam bernama Lor Wasesa pada petani yang bertubuh paling tinggi.


Petani tua Kartopati sebagai pimpinan cepat mengambil tindakan, dia juga merasa ada keganjilan pada kabut ini. cangkul baja di tangannya diputar cepat lalu membabat.


Whuuk., Whuut.!'


'Beet., Blaaass.!'


Segulung angin keras disertai sambaran cahaya hitam redup membelah kabut tebal yang menutupi pandangan. meskipun kabut sempat tersapu buyar tapi sebentar saja sudah kembali bergumpal menutupi pandangan mata.


Dalam waktu yang cukup singkat saat kabut tersibak, Empat Petani Cangkul Maut sekilas sempat melihat ada bayangan sosok tubuh seseorang yang berdiri agak jauh dibalik gelapnya pepohonan. Ki Kartopati sebagai pimpinan sekaligus yang berilmu paling tinggi cepat berseru pada ketiga rekannya untuk bergerak menghindar saat merasa ada suara desiran halus namun tajam dari puluhan senjata rahasia yang menyambar dari balik kabut tebal.


''Awas., ada serangan gelap datang ke arah kita.!''


Bersamaan mulut berucap senjata cangkul baja tergenggam erat di tangannnya turut bergerak. kali ini cangkul baja berwarna hitam itu bukan saja berputar seperti sebuah baling- baling perisai, tapi juga diakhiri gerakan seperti mencangkul miring.


Ketiga kawannya juga berbuat serupa, setelah sebelumnya sempat berdiri sejajar dengan pimpinannya. gerakan mencangkul agak miring yang dilakukan keempat petani ini bukanlah gerakan main- main, karena itu adalah gerakan pembuka dari jurus 'Barisan Cangkul Sakti Membajak Bumi.!'


Empat cangkul baja bergerak serempak, empat gelombang angin tajam kehitaman menggebrak.!


'Whuuuk., Whuuk.!'


'Slaaash., Traaang., Triieng.!'


Gulungan kabut tebal kembali buyar tersibak. bersamaan terdengar puluhan kali benturan benda keras ditengah kabut. sebagian besar mental dan rontok berjatuhan di atas tanah, namun ada juga yang masih lolos melesat cepat menembus jurus 'Barisan Cangkul Sakti Membajak Bumi.'


Dua senjata rahasia berupa keris kecil berlekuk tiga yang panjangnya tidak sampai satu jengkal itu menyambar Ki Kartopati dan Ki Ronggo Jangkung. meskipun sangat terkejut dan gusar tapi kedua orang ini tidak menjadi gugup. sambil mencelat mundur dua tindak, mereka kembali bacokkan cangkul baja hitamnya untuk menahan sekalian mengemplang balik senjata gelap lawannya.!


Di daerah jawa senjata berupa keris berukuran kecil itu biasa disebut sebagai cundrik. umumnya di pakai para wanita sebagai bekal untuk melawan gangguan para lelaki hidung belang.


Dari balik kabut tebal terdengar makian seorang perempuan tua yang di iringi suara kibasan lengan baju. Empat Petani Cangkul Maut berkelebat menyerbu ke asal suara. cangkul baja hitam diayunkan menyibak kabut tebal sekalian mengirimkan serangan yang membawa sambaran angin tajam dan keras kearah lawan yang masih belum jelas wujudnya.


Suasana pagi yang masih cukup gelap dan mendung ditambah gulungan kabut yang terasa kian menebal, membuat pandangan mata orang jadi terbatas. biarpun 'Empat Petani Cangkul Maut' berilmu cukup tinggi tetap saja mata mereka tidak sanggup menembus kegelapan. keempat orang dari perkumpulan kaum petani 'Bumi Hijau' itu hanya bisa berusaha menyerang dengan menerobos kepekatan kabut.


''Bangsat licik., hanya kaum pengecut yang berani menyerang dari balik kegelapan.!''


''Jangan dipikir permainan kanak- kanak seperti ini dapat melukai kami.!'' bentak Lor Wasesa dan Julingan gusar. bersama kedua kawannya mereka terus menyerbu sambil menangkis serangan gelap lawan dengan cangkul bajanya.


Dengan lipat gandakan tenaga dalamnya empat orang pentolan perkumpulan silat Bumi Hijau itu bukan saja berhasil menerobos kepekatan kabut tebal dan menangkis hujan serangan cundrik terbang, tapi juga mampu balas menggempur lawan yang berada di balik kegelapan.


Kembali terdengar belasan kali dentingan benturan senjata di selingi dengusan nafas berat bercampur suara tercekat kaget dari seorang wanita tua. sesosok bayangan putih berselimut gumpalan kabut tipis terlihat berkelebat menghindari gempuran empat cangkul maut yang mengancam tubuhnya.


Sosok kurus berjubah dan berkerudung kain putih itu tidak sekedar menghindar mundur, tapi juga berkali- kali kibaskan kedua lengan jubahnya. kini berpuluh jarum beracun ganti menyambar bagaikan hujan.!


Jika cundrik terbang masih bisa terlihat, maka jarum beracun terbang dengan bentuk dan ukurannya yang kecil jauh lebih sulit untuk dihadapi. biarpun terkesiap namun Empat Petani Cangkul Maut bukan saja tidak menjadi bingung, malah dengan mengumbar gelak tawa mereka terus memutar cangkul bajanya sambil terus mendesak lawan.


Hebatnya puluhan jarum beracun itu tidak menjadi terpental seperti saat menghalau cundrik terbang, melainkan menempel di mata cangkul baja keempat petani itu.!


Rupanya mata cangkul baja hitam itu mengandung besi semberani yang dapat menarik benda logam. apalagi jika dialiri tenaga dalam, daya hisapnya jadi berlipat ganda lebih kuat. jurus kesaktian ini tidak mungkin dapat di gunakan saat menghadapi serangan cundrik terbang beracun karena senjata itu meskipun kecil tapi tetap jauh lebih berat jika di bandingkan dengan sebatang jarum. karena benda yang berat akan lebih sulit dihisap dengan besi semberani sekalipun.


"Haa., ha., ha., kami kembalikan jarum- jarum tidak berguna ini kepadamu., terimalah.!'' bentak Ki Ronggo Jangkung. bersamaan tiga kawannya pergelangan tangan mereka berputar lalu menyentak ke depan. puluhan jarum beracun yang menempel di mata cangkul baja berbalik melesat kearah sosok kurus berjubah dan berkerudung putih yang seakan selalu diselimuti gumpalan kabut tipis.!


''Anjing keparat.!'' rutuk sosok seorang nenek tua sambil kibaskan kedua lengan jubahnya berulang kali untuk menyapu mental jarum beracunnya yang menyerang balik. dengan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi, nenek kurus ini berjumpalitan di udara lalu menghentakkan kedua telapak tangannya.


'Whuuos., whuust.!'


'Sheet., Slaaash.!'


Gulungan kabut tipis yang keluar dari kedua telapak tangan nenek tua berjubah dan berkerudung tutup kepala putih itu berhasil membuat jarum terbang rontok. malah sebagian dapat kembali dalam gengaman tangan si nenek. bersamaan itu orangnya mencelat mundur lantas jejakkan kakinya ke tanah. kini terlihatlah jelas sosoknya.


Seorang nenek tua bertubuh tinggi namun kurus dan bungkuk. berjubah panjang kain putih yang menutupi sekujur tubuhnya hingga menyentuh tanah. raut muka nenek tua ini tidak sepenuhnya terlihat karena di tutupi kerudung serta tutup kepala yang juga berwarna putih. sepintas nenek ini mirip dengan pocong hidup.


Gulungan kabut putih tipis berhawa dingin yang menyelimuti sosok tubuh nenek tua ini membuatnya semakin terlihat angker. Empat Petani Cangkul Maut menggeram saat mengenali siapa lawannya.


''Rupanya 'Nyai Pocong Kabut' yang punya kerjaan..'' dengus Ki Julingan lalu meludah.


''Nenek tua., diantara kita tidak pernah ada silang sengketa, kenapa di daerah hutan dan gelap begini rupa kau membokong kami berempat. apakah kau pikir kami bakalan gentar dengan nama busukmu..'' rutuk Ki Lor Wasesa. diantara Empat Petani Cangkul Maut orang inilah yang paling tidak sabaran. maka tidak heran jika amarahnya langsung meluap, biarpun dia juga menyadari tingkat kehebatan ilmu lawannya.


****


Mohon sertakan Komentar, Kritik Saran dan Like👍 bila anda suka. Terimakasih juga buat para Reader yang sudah Vote🙏 novel ini. Wasalam.