
Di pinggiran luar sebelah timur kadipaten Jepara terdapat sebuah rumah makan besar yang juga menyediakan tempat penginapan bagi para pengunjungnya. meskipun letaknya berada di luar wilayah Jepara dan agak terpencil, tapi anehnya tempat itu selalu ramai pengunjung. kabarnya di rumah makan yang merangkap tempat penginapan itu juga menyediakan tempat perjudian dan wanita penghibur.
Dalam keadaan seperti itu maka pantas saja jika tempat yang dinamai warung makan 'Lawang Wangi' itu selalu ramai, bahkan hingga larut malam rumah makan itu seakan malah makin banyak pengunjungnya. ada pepatah bilang dimana ada gula, disitu pula kawanan semut berkerumun. jika ada tempat yang menjanjikan kesenangan bagi manusia, selama masih bisa dijangkau mereka pasti datang kesana.
Rumah makan itu berukuran besar, letaknya seperti sengaja dibuat agak terlindung dibalik pepohonan. lebarnya kira- kira lebih dua belas tombak dengan panjang lima belas tombak dan terdiri dari dua lantai. bahan bangunannya terbuat dari perpaduan batu kali, bata merah serta kayu jati. ada juga anyaman bilah bambu pada sebagian dinding dan penutup atapnya.
Yang menjadi pengunjung dari rumah makan 'Lawang Wangi' ini bukan saja para pedagang, orang- orang dari keluarga kaya dan tokoh penting kerajaan, tapi juga kaum pengembara dunia persilatan baik dari aliran putih maupun hitam. bahkan dari golongan orang persilatan ini kadang lebih sering singgah ke tempat itu untuk sekedar beristirahat atau bertemu dengan rekannya sesama pendekar.
Meskipun sudah digariskan kalau pesilat dari golongan putih dan hitam selalu berseteru, tapi jika mereka datang ke tempat ini, segala perselisihan sebesar apapun diantara mereka seakan diwajibkan untuk disingkirkan terlebih dahulu. setidaknya untuk tiga hari ke depan. karena sesuai dengan peraturan rumah makan dan penginapan Lawang Wangi itu, para pengunjungnya hanya boleh menginap disana paling lama tiga hari saja.
Tentunya tidak mudah bagi si pemilik rumah makan untuk menjalankan usaha seperti itu jika tidak ada yang dapat diandalkan. paling tidak dia harus punya pelindung yang sangat kuat. kabarnya pada awal berdiri, lebih setahun silam rumah makan yang merangkap penginapan dan tempat hiburan itu sempat beberapa kali mendapat gangguan. apalagi pemiliknya adalah seorang janda cantik yang berumur tiga puluhan tahun, hingga membuat para pengunjungnya jadi berhasrat untuk melecehkannya. tapi diluar dugaan wanita itu rupanya bukanlah orang sembarangan.
Dengan sebilah pedang yang memancarkan cahaya kuning dia mampu membuat beberapa pengacau itu terjungkal roboh hanya dalam beberapa gebrakan saja. kejadian seperti itu berulang hingga tiga empat kali. bahkan pada peristiwa yang terakhir orang yang membuat kekacauan rupanya menyimpan dendam hingga saat malam tiba dia datang bersama dua orang pesilat kelas atas yang ilmu kesaktiannya jelas berada diatas perempuan itu.
Seorang wanita yang harus sendirian dalam menghadapi tiga orang pesilat hebat tentu saja hanya digariskan untuk mati. tapi disaat ajal hendak menjemput, muncul sembilan larik sinar hitam pekat berhawa panas melabrak yang disertai suara ledakan sekeras halilintar. tiga orang pesilat itu terkapar roboh dengan kepala berlubang hangus mata mendelik tanpa sempat tahu siapa pembunuhnya.
Dalam keadaan setengah sadar janda cantik yang suka memakai pakaian jubah tipis ketat berwarna kuning itu masih sempat melihat kalau yang menolongnya adalah seorang pemuda gelandangan yang beberapa hari terakhir sering menumpang tidur di teras rumah makannya sewaktu hari mulai gelap.
Pemuda aneh itu berpakaian hitam dari kain tebal dengan cara berjalannya yang terseok pincang dan menggelikan. dia sungguh tidak menyangka jika pemuda pucat bertongkat besi yang selalu muncul disana saat menjelang malam itu mempunyai ilmu kepandaian silat sangat tinggi.
Setelah menyalurkan tenaga pengobatan yang memancarkan cahaya disertai kabut kebiruan yang menebarkan hawa sangat sejuk, dalam waktu singkat luka dalam dan luar wanita itupun sebagian dapat di pulihkan. disaat tersadar hari sudah berganti pagi. tiga mayat masih tergeletak disana tapi pemuda pincang penolongnya sudah menghilang. kejadian itupun membuat gempar daerah Jepara. sejak saat itu tidak ada lagi yang berani membuat kekacauan di warung makan si janda.
Saat itu rumah makan si janda baju kuning masih berukuran kecil. waktu bukanyapun cuma sampai sore saja. masakannya yang sangat enak dan menggugah selera orang dengan harga yang murah membuatnya cepat berkembang. apalagi si janda baju kuning itu pandai menjalin hubungan baik dengan berbagai kalangan termasuk pejabat kerajaan hingga warung makannya semakin besar dan terkenal.
Hanya dalam setengah tahun dia memiliki lima pengawal wanita hasil didikannya sendiri dan sepuluh perempuan yang bekerja sebagai pelayan para tamu. dari sebuah warung makan kecil kini sudah menjadi rumah penginapan besar dan tempat hiburan yang terkenal di wilayah Jepara. meskipun tempat itu juga menyediakan wanita penghibur, tapi tidak ada yang boleh atau berani berbuat kasar terhadap mereka.
Karena selain sang janda cantik pemilik rumah makan Lawang Wangi yang kemudian lebih dikenal dengan panggilan 'Nyi Rondo Kuning' itu memiliki ilmu pedang yang hebat, kelima gadis anak buahnya juga bukan orang lemah dan gampang dihadapi.
Kalau pengunjung masuk ke bagian belakang, terdapat kolam pemandian air panas yang terlindung dinding tembok batu bata setinggi lebih satu tombak. kolam air panas itu dibagi menjadi beberapa petak yang dipisahkan oleh susunan batu kali untuk kenyamanan para pengunjung yang hendak mandi di sana.
Pada petak kolam yang berada paling ujung sebelah kiri dekat tembok pemisah luar, terlihat seorang pemuda sedang berendam sambil memejamkan matanya menikmati hangatnya air kolam pemandian yang beruap tipis. jika dilihat nampak kulit tubuh kekar pemuda itu agak pucat dan penuh dengan goresan bekas luka. sebatang tongkat besi yang gagangnya terbungkus selembar kain hitam tertancap dicelah dinding batuan kolam.
Meskipun musim penghujan sudah berada di penghujungnya, tapi cuaca masih sering mendung. demikian pula senja hari ini, langit terlihat gelap tertutupi awan. suara kibasan lengan jubah terdengar lembut seiring dengan hadirnya sesosok tubuh wanita cantik. tanpa bicara apapun wanita bertubuh sintal itu lepaskan jubah kuningnya yang tipis dan ketat hingga dia telanjang bulat.
Dengan melenggang anggun sepasang kaki putih mulus itu sudah menuruni kolam yang berada di petak sebelah kolam si pemuda. kedua buah dadanya yang besar dan putih terlihat bergoyang seiring langkah kakinya. rambutnya yang hitam tebal seketika basah terkembang dipermukaan kolam berair panas saat wanita itu mulai berenang.
Kulit tubuhnya yang putih terlihat berkilauan ditimpa cahaya api obor yang menerangi sekeliling kolam. setelah beberapa saat wanita itupun berhenti lalu menyandarkan tubuhnya di dinding batu hingga dia dan si pemuda pucat seolah saling bersandar punggung.
''Meskipun aku paham dengan alasanmu yang tidak menginginkan sesuatu yang buruk menimpa kami, tapi aku tetap saja merasakan hanya menjadi tempat pelarianmu di saat kau perlu bantuan..'' gumam wanita itu setengah mengeluh. ''Tapi sekarang., tiba- tiba saja kau muncul lagi. pasti kau mau menagih hasil pencarian kabar rahasia yang menjadi tugas kami.!''
''Kau tahu bukan kalau mencari berita tentang 'Gapura Iblis' tidak saja teramat sulit tapi juga penuh ancaman maut. sedikit saja mata- mata mereka curiga, kami pasti habis disapunya. meskipun berhutang nyawa padamu, tapi aku tidak mau anak buahku sampai celaka..'' terang wanita cantik bertubuh sintal itu.
''Kau lakukan saja secara perlahan. tidak perlu bertindak yang diluar kewajaran. aku juga tidak mau terjadi hal yang buruk pada kalian..'' ujar pemuda yang berendam dikolam sebelah. wanita itu tersenyum genit. ''Aah., aku suka saat mendengar kalau kau khawatir denganku. siapa sangka kalau si 'Muka Pucat Dingin' alias 'Pendekar Tanpa Kawan' bisa perhatian dengan kaum wanita sepertiku. Hik., hi.!''
Pemuda yang bukan lain Pranacitra itu sewot. ''Kau jangan salah sangka Nyi Rondo Kuning., yang aku khawatirkan adalah kalian berenam dan sepuluh wanita penghibur milikmu. jadi bukan kau seorang saja. lagi pula dengan ilmu pedang 'Rondo Kuning' yang kau miliki, jarang orang persilatan yang berani membuat kacau tempatmu ini. jadi., jangan mencoba berlagak menjadi wanita lemah yang membutuhkan perlindungan.!'' ucap si pincang sinis.
Wanita yang rupanya adalah pemilik rumah makan sekaligus penginapan Lawang Wangi itu cemberut. ''Huhm., dasar pemuda dingin. sama sekali tidak dapat berlaku romantis. meskipun seorang janda yang lama ditinggal mati suaminya tapi aku percaya kalau tubuhku masih menarik dan tidak kalah dengan gadis perawan. menyebalkan.!'' gerutunya kesal. tapi kemudian wajah cantiknya berubah penuh kesungguhan.
''Ada sedikit kabar yang berhasil kami dapat, tanpa sengaja seorang tamu yang sedang mabuk dikamarnya dan hendak tidur dengan wanita pilihannya menjatuhkan sebuah bendera bulan berdarah lambang partai aliran hitam itu. kau tahu., sepuluh wanita penghibur itu meski tidak memiliki ilmu silat tinggi dan hanya bertugas melayani para tamu, tapi mereka sangat pandai mengambil hati, paham dan setia pada tugasnya dalam mencari berita penting apapun agar dapat kami jual pada pihak yang membutuhkan dengan harga yang mahal..''
''Dari banyak potongan berita yang kami dapat selama ini dan sudah kami rangkum, ada kemungkinan kalau letak markas rahasia partai Gapura Iblis itu berada disuatu tempat terpencil yang berada diantara perbatasan wilayah pulau Jawa bagian tengah dan barat. tapi dimana letak sebenarnya kami masih tidak dapat memastikan..'' wanita itu sesaat hentikan ucapannya karena mendengar suara dengusan berat penuh hawa amarah dari kolam sebelahnya.
Wanita itu terkesiap merasakan suhu air kolam menjadi berubah jauh lebih panas, pertanda pemuda di sebelahnya sedang berusaha mengekang hawa membunuh yang keluar dari dalam dirinya. ''Gila panas sekali., kulitku bisa melepuh jika dia tidak segera menghentikan gelombang kesaktiannya. seharusnya aku ingat kalau dia punya dendam kesumat pada partai hitam terkuat itu..'' keluhnya ngeri. untungnya kejadian ini tidak berlangsung lama dan suhu air kolam kembali seperti semula.
''Maafkan sikapku Nyai., tapi sesaat aku benar- benar tidak dapat mengendalikan diriku. terima kasih atas semua usahamu karena pasti sulit sekali mendapatkan berita itu meski hanya sepotong saja. aku sangat menghargai semua usaha kalian..'' kata Pranacitra tulus membuat wanita itu tanpa sadar tersenyum.
''Kita cuma berhubungan karena timbal balik. semua usaha rumah makan dan penginapan besar 'Lawang Wangi' ini juga berasal dari modal yang kau berikan padaku. hanya usaha wanita penghibur saja yang berasal dari diriku. maaf kalau saat itu aku memutuskannya tanpa berunding dulu denganmu. karena kupikir., dengan tubuh dan rayuan wanita cantik akan lebih mudah membuka mulut kaum lelaki..''
Terdengar helaan nafas dari kolam sebelah. ''Semua sudah terjadi, asalkan mereka bukan bekerja padamu atas dasar paksaan, aku juga tidak mau ikut campur. semua yang ada disini adalah tanggung jawabmu. semua untung rugi kau sendiri juga yang menanggungnya..''
Rupanya sejak setengah tahun belakangan Pranacitra menggunakan uang rampasannya dari perkumpulan 'Merak Api' pimpinan Nyi Merak Sinden alias 'Dewi Merak Merah' untuk dijadikan modal usaha rumah makan dan penginapan. selama berkelana pemuda ini seakan menjadi incaran balas dendam hampir seluruh aliran di dunia persilatan. sehebat apapun ilmunya tetap saja kadang dia merasa terdesak dan butuh tempat berlindung atau memulihkan diri dari luka akibat pertarungan.
Secara kebetulan dia pernah menolong seorang wanita pemilik warung makan kecil yang bernama Nyi Rondo Kuning. disebut demikian karena kabarnya dia memang seorang janda yang ditinggal mati suaminya. singkatnya terjadi kesepakatan diantara kedua orang ini dan jadilah rumah makan 'Lawang Wangi' karena setiap pintu warung dan penginapan disana selalu berbau harum.
Tempat itu kemudian berkembang pesat dan menyediakan perjudian dan wanita penghibur. meskipun dua usaha terakhir ini tidak ada sangkut pautnya dengan Pranacitra, tapi berita rahasia yang didapat dari usaha itu sangat berguna. contoh terakhir, sebelum pertarungan di lereng utara Merapi sebenarnya Pranacitra sempat mampir kemari untuk mencari tahu siapa saja calon lawannya, berikut tingkatan ilmu juga kelemahannya.
Beberapa bulan belakangan semua itu sangat membantu si pincang untuk bertahan hidup. dia bukan kaum pendekar tolol dan merasa paling jagoan yang gampang membuang tenaganya dalam suatu pertarungan. jika sudah tahu kebiasaan, kelemahan juga keunggulan musuhmu, kenapa juga mesti bersusah payah. karena sepahit apapun kehidupan di dunia ini, tetap saja lebih baik daripada mampus. mampu bertahan hidup adalah yang utama.
''Satu berita lagi., apa kau pernah mendengar tentang 'Lima Elang Api.?'' tanya Nyi Rondo Kuning. tidak terdengar jawaban apapun dari kolam belakangnya. ''Kami mendengar kalau mereka berlima yang baru dua bulan masuk dalam sepuluh pesilat muda pendatang baru terkuat menggantikan si 'Anggrek Geni' yang sudah kau habisi di gunung Semeru itu berencana untuk menantangmu.!''
*****
Maaf., jika ceritanya jadi kalem dan sedikit erotis. Terimakasih 🙏😊.