
Suara siulan aneh yang bernada menyedihkan hati itu terus mengalun hingga membuat iba perasaan bagi siapapun yang mendengarnya. hampir semua orang yang berada disana sama menghentikan gerakannya lalu perlahan menoleh ke satu arah. dari balik rimbunnya pepohonan yang tumbuh di sepanjang tepian sungai Canggu itu keluar sesosok tubuh berbaju gelap.
Orang itu masih sangat muda, mungkin baru dua puluhan tahun. wajahnya tidak terlihat jelas karena sejak muncul selalu tundukan kepalanya. selembar kain batik lurik mengikat rambut hitamnya yang gondrong. seiring suara siulannya yang terus mengalun diapun mulai melangkah.
Caranya berjalan sangat aneh, merayap perlahan seperti seekor cacing. kaki kanan setapak didepan yang kiri terseok mengikuti. yang kanan setapak maju, sebelah kiri terseret dibelakang. dibantu sebatang tongkat besi hitam yang tergenggam ditangannya pemuda itu menapaki tanah basah berkerikil tajam menyusuri tepian sungai.
Rupanya kaki kiri pemuda itu cacat alias pincang. setelah saling pandang semua orang tertawa bergelak penuh penghinaan melihat keadaan pemuda pincang itu. namun sekejap kemudian tawa mereka lenyap berganti seruan kaget. entah bagaimana tahu- tahu si pincang sudah berada di depan tubuh Jingga Rani yang tergeletak diatas tanah.
Jarak antara tempat awal pemuda itu muncul ditepian sungai dengan pelataran warung yang menjadi gelanggang pertarungan itu terpaut lebih lima belasan tombak, tapi dengan langkah kakinya yang terseok menggelikan seperti siput itu, si pincang dapat melewatinya dalam sekejapan mata tanpa ada seorang murid padepokan 'Gading Emas' yang mampu menghalanginya.
Kejadian ini seketika membuat semua orang menjadi geger. mereka lebih terperanjat lagi saat Gading Arwana mengenali kalau kalau orang didepan mereka bukan lain adalah pemuda yang sebelumnya sempat ribut dengan Jingga Rani si pemimpin dari 'Lima Elang Api' didalam warung makan.
''Kaa., kau., cepat kat., katakan siapa kau sebenarnya.!'' bentak Gading Arwana gugup sambil acungkan senjata gading besinya. ''Tuan muda., untuk apalagi banyak bicara dengan pemuda gembel seperti dia. lebih baik kita habisi saja sekalian..'' usul salah satu murid perguruan silat Gading Emas. ''Benar tuan muda. kau tidak perlu sampai ikut mengotori tanganmu, biar kami saja yang kerjakan.!'' sambung murid lainnya.
Setelah berpikir sebentar dan sempat melihat kepada ibunya yang masih berdiri diam mengamati si pincang, Gading Arwanapun menyetujuinya. serentak sepuluh orang murid padepokan Gading Emas menyerbu pemuda pincang yang masih berdiri membelakangi. enam menyerbu dari belakang sementara empat orang lainnya melompat tinggi untuk menikam dari atas udara.!
Kalau saja mereka semua mau melihat lebih seksama, dapat dilihat kalau ujung tongkat besi hitam pemuda ini sedang menotok beberapa jalan darah si gadis. cahaya redup kebiruan yang terpancar dari ujung tongkat itu terus merasuk ke tubuh Jingga Rani. gadis itu seperti terjingkat dan menggeliat perlahan.
Meskipun terancam sepuluh senjata mirip tombak besi pendek yang berbentuk cula gading gajah, pemuda pincang ini masih terus mengobati si gadis. seakan tidak perduli kalau punggungnya bisa jebol. sepuluh penyerang semakin beringas karena merasa diremehkan.
''Pemuda pincang sombong, kau sendiri yang minta mati. pergilah ke neraka.!'' bentak para murid perguruan Gading Emas gusar. hanya terdengar dengusan kesal dari hidung pemuda itu. tanpa membalik badan, tongkat besinya diangkat keatas kepala, berputar setengah lingkaran lantas membabat ke belakang. pada akhir gerakannya tongkat besi hitam itu melabrak ke atas.
Selarik cahaya hitam pekat berhawa panas menyambar bagaikan kelebatan bayangan hantu penasaran. bunyi letusan serta jeritan ngeri bercampur dengan semburan darah dan patahan senjata yang berhamburan terdengar menyayat. sepuluh orang berseragam kuning jatuh bergelimpangan mandi darah. lima orang telah tewas sebelum tubuhnya menimpa bumi. lima lainnya walaupun masih hidup tapi jelas sudah tidak mampu bangun lagi.
Gading Arwana terperangah kaget, semua rekannya bergidik ketakutan. beberapa jatuh terduduk. satu lawan sepuluh, sekali gebrak sepuluh orang terjungkal. meski bagi mereka semua ini terlalu tidak masuk akal tapi kenyataan tetap tidak berubah. semua orang memandang si pincang yang kebetulan juga sedang membalikkan tubuhnya. hati semua sisa murid perguruan Gading Emas itu seketika menjadi bergidik. biarpun cuma selintas tapi sorot mata dingin pemuda itu sungguh membuat mereka merinding seram.
Pandangan mata dingin tanpa menyiratkan suatu perasaan apapun itu berhenti pada diri Nyai Gading Wikuni. ketua perguruan silat Gading Emas yang berjuluk si Gading Gajah Sakti' itu tanpa sadar tersurut mundur. dengan gemetaran tangannya yang besar menunjuk si pincang. ''Kaa., katakan padaku sia., siapa kau adanya.!''
Sorot mata itu tetap dingin tanpa perasaan meskipun ujung bibirnya menyeringai sinis. ''Sebelumnya anakmu juga bertanya hal yang sama. baiklah jika kalian ingin tahu., saat pertama kali muncul dibarat lebih setahun silam orang menyebutku 'Setan Pincang Penyendiri' serta si Pincang Bertongkat Maut'. lalu aku bergerak ke daerah utara untuk membuat sedikit kekacauan..''
''Asal kau tahu Nyai Gading Wikuni., di sana aku mendapat julukan 'Pendekar Pincang Tanpa Perasaan' juga si 'Siulan Kematian'. setelah mencabut nyawa beberapa ekor lalat dan nyamuk yang menyebalkan di wilayah timur sebutanku bertambah banyak. gelar 'Iblis Pincang Kesepian' dan si 'Muka Pucat Dingin' juga aku sandang. dan yang terakhir setelah mengobrak- abrik sarang tikus dan serangga kecil di selatan orang memberiku hadiah nama yang cukup sangar 'Gelandangan Hantu' juga 'Pendekar Tanpa Kawan'. Hee., he., dengan julukan menyeramkan sebanyak itu ditambah wajahku yang lumayan tampan, wajar saja jika sekarang aku menjadi sangat terkenal didunia persilatan ini.!''
Pemuda pincang bermuka agak pucat itu terus terkekeh sambil melangkah perlahan ke depan, jalannya tetap terseok tapi sekarang tidak ada seorangpun yang berani menertawakannya. jika selangkah dia maju, selangkah juga Nyai Gading Wikuni mundur. saking ngeri dan takut nafasnya sampai tersengal muntah darah. perempuan itu jatuh terduduk saat sebelah kakinya yang gempal tersandung sebongkah batu.
''Kau., kau., sudah kuduga sejak awal kalau orang itu memang kau. tapi., meskipun nama besarmu ditakuti delapan penjuru, jangan harap kau bisa menindasku juga anggota perguruanku. walaupun diriku bakal mati ditanganmu tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. hanya kuharap., kau dapat ampuni nyawa kedua anakku dan semua muridku.!'' ucap Nyai Gading Wikuni sambil menjura hormat.
''Ibu., jangan lakukan itu, mari kita hadapi orang pincang ini bersama..'' teriak Gading Arwana dan dan adiknya si Gading Mawarimut hampir bersamaan. ''Benar guru., kita harus buktikan kalau perguruan Gading Emas bukanlah sekumpulan pengecut yang takut mati.!'' timpal para murid lainnya.
''Diam kalian., ini pertarunganku dengan tokoh silat pendatang baru terhebat saat ini. jika menang tentu sangat membanggakan, tapi kalau diriku mati juga tidak masalah. siapapun dilarang ikut campur atau balas dendam. kalian dengar semua.!'' bentak Nyai Gading Wikuni kereng. semuanya terdiam sedih dan berlutut tanda hormat. kedua anaknya menangis sesengukan. ''Dasar anak bodoh., kalian ini sudah dewasa, jangan gampang keluar air mata. lagipula., aku juga belum tentu mati..''
Si pincang Pranacitra tertegun. ''Eehm., Nyai Gading Wikuni. kupikir kau sedikit salah paham. aku cuma ingin menolong gadis sombong itu. tapi karena beberapa muridmu agak keterlaluan, terpaksa kuhabisi juga. meskipun aku ini terkenal suka membunuh, tapi aku tidak berminat bertarung dengan wanita terbuang yang menderita sepertimu..''
''Kurang ajar., pincang keparat. kau boleh cabut nyawaku tapi jangan sekali- kali menghina diriku. cepat katakan apa maksud ucapanmu yang terakhir tadi.!'' bentak Nyai Gading Wikuni dengan raut muka berubah hebat sambil gebrakkan tongkatnya ke tanah.
''Aah., maaf kalau aku bicara lancang dan mengungkit luka lama di hatimu. awalnya aku sangsi saat melihat wajah putramu yang mirip seseorang. tapi setelah tahu kalau ibunya bernama Gading Wikuni, aku jadi yakin kalau kau bukan lain adalah istri yang tersisih dari 'Dewa Naga Langit' bekas ketua perguruan silat 'Naga Biru' di gunung Semeru. asal kau tahu saja., bekas suami yang pernah mengusirmu itu sudah mati ditanganku.!''