
Wanita berjubah hitam yang merupakan ketua nomor empat dari perkumpulan pembunuh bayaran 'Serikat Kalong Hitam' itu merutuk. pedang hitam yang tipis di tangan kanannya bergerak cepat seakan kekelawar yang terbang keluar dari sarangnya. suara mendecit dan sambaran cahaya hitam tajam melesat bagai liukan cambuk petir.
Pedang hitam menangkis pedang Walet Emas sekaligus balik menikam perut si gadis. serangan pedangnya sangat cepat juga kejam tanpa ampun. sekali serang dia sanggup membunuh dua lawan sekaligus. gadis cantik itu masih sempat bertahan tiga empat jurus sebelum kedua tangannya tersambar hawa pedang lawannya yang tajam hingga kedua senjatanya terlepas.
Beruntung gadis ini punya tingkat tenaga dalam dan kecepatan gerak lebih baik dari tunangannya, hingga meskipun sempat luka tersambar namun kedua tangannya tidak sampai putus. pedang hitam terus bergerak seperti kelelawar terbang mencari mangsa. Wiratama menjerit ngeri. darah tersembur dari luka besar di dada dan bahu kirinya. sebuah tendangan yang menghajar telak iganya membuatnya tumbang dengan tubuh bersimbah darah dan kepala terbentur batu nisan. tangan pemuda ini masih sempat menggapai ke arah gadis tunangannya. sekilas di bibir pemuda itu tersungging senyuman seakan mengucapkan selamat tinggal, sebelum akhirnya diam tidak bergerak.
Gadis cantik itu terpekur. diantara mereka berdua belum pernah terucapkan kata saling mencintai. tetapi sudah hampir setahun ini mereka bersama untuk berusaha saling memahami dan menghargai calon pasangan hidupnya. Wiratama berwajah cukup tampan, sopan dan luhur budi. di saat gadis ini mulai merasa nyaman bersama si pemuda, saat itu juga keduanya mesti berpisah.
Tikaman pedang hitam terus berkelebat. mengincar jantung si gadis yang sesaat hilang kesadaran akibat pukulan batin yang melanda jiwanya. bagi gadis itu dunianya sekarang terasa gelap.
''Mampuslah kau gadis sialan., susul saja kekasihmu ke akhirat.!'' bentak Nyai Kalong Mangiran bengis. dengan membekal pedang kembar Walet Emas saja gadis itu tidak sanggup bertahan, apalagi tanpa senjata dan kosong pikiran. gadis ini seakan sudah menyerah untuk bertahan hidup. mungkin mati terasa lebih baik untuknya.
Pedang tipis hitam menikam. darah segar deras tersembur bersama kutungan tangan kanan sebatas siku. tangan yang tergeletak di tanah itu masih menggenggam erat pedang hitam yang tipis dan panjang. wanita si pemilik tangan sudah lenyap dengan membawa luka parah dan sumpah serapah penuh dendam kesumat.
Gadis cantik itu bergidik dan menjerit. dia seakan baru tersadar dari sebuah mimpi buruk yang panjang. nafasnya tersengal dengan kedua matanya memerah dibasahi air kesedihan hati. dia bersimpuh memeluk erat tubuh tunangannya yang bermandi darah dan sudah mulai kaku. meskipun mati dengan luka parah, tapi Wiratama mampu tersenyum seakan ingin mengatakan padanya kalau dia bukanlah lelaki pengecut.
Gadis cantik itu menangis tersedu, pakaian putihnya yang sudah kotor menjadi merah karena darah luka mereka berdua. darah sepasang muda- mudi yang tercampur itu seperti lambang sebuah kesetiaan hati sampai mati.
Pranacitra berdiri termenung di depan sebuah kuburan baru yang berada di sana. gadis cantik yang dandanannya sudah tidak terurus ini bersikeras menggali tempat kuburan tunangannya sendiri. letak yang di pilih tepat di samping kiri makam ayahnya. saat dia hendak membantunya mata gadis itu membersit garang. tangannya yang berlepotan tanah berlumpur menepis keras.
Amarah dendam dan penyesalan terkadang membuat seseorang sanggup berbuat di luar batas kemampuannya. pemuda pincang itu mendongak, langit yang mendung kembali menurunkan hujan gerimis. hampir empat tahun silam dia pernah mengalami hal yang nyaris sama. memakamkan seseorang bersama dengan seorang gadis di bawah rintik hujan.
Gadis itu seorang bekas copet cilik, gadis yang lugu, setia dan murni. kadang sedikit nakal serta keras kepala. tapi hatinya sangat lembut perasa dan penuh kasih sayang. beberapa minggu lalu Pranacitra sempat melihatnya. dia sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang manis juga cantik alami. sayang keadaan belum memungkinkan bagi mereka untuk bertemu.
Suara erangan gadis di dalam liang kubur itu menyadarkan lamunan si pincang. mungkin karena kelelahan murid Nyi Pariseta itu pingsan. ''Pada akhirnya aku juga yang harus melakukannya..'' batin pemuda itu menghela nafas.
Jasad Wiratama sudah terkubur di dalam makamnya. sebuah nisan batu dengan guratan namanya terpancang sebagai pertanda. gadis cantik itu masih duduk bersimpuh dan termenung. matanya yang masih sembab merah dan basah terpejam. mungkin dia sedang berdoa atau terkenang masa- masa kebersamaannya dengan sang tunangan.
Pranacitra yang berdiri di belakangnya cuma diam tanpa berusaha menghibur. dalam kehidupannya dia sudah banyak melihat kematian. bahkan beberapa kali dia sendiri sempat nyaris bertemu dengan elmaut. mungkin karena yang di atas sana belum menghendakinya. maka sampai saat ini dia masih dapat bertahan hidup.
Lengan sebatas siku yang terpotong hancur dan bengkak membusuk semerah darah masih memggengam pedang hitam yang tipis. sekali lihat pemuda ini tahu kalau pedang itu bukanlah pedang sembarangan karena terasa ada hawa kesaktian yang terpancar dari sana. sebentuk guratan kelelawar sedang merentang dan kakinya mecengkeram pedang terlihat di hulu mata pedang. itulah lambang dari 'Serikat Kalong Hitam' sebuah perkumpulan pembunuh bayaran yang terkuat di dunia persilatan selain dari kelompok '13 Pembunuh.!'
Hanya sebuah tindakan untung- untungan di lakukan Pranacitra dengan melepaskan jurus pukulan 'Tapak Darah Meminta Sedekah' hingga mampu memotong hancur lengan ketua ke empat dari perkumpulan Serikat Kalong Hitam itu. sayang orangnya berhasil kabur.
Gadis itu bangkit berdiri, matanya menatap nyalang tubuh Hanggajaya yang masih tertotok serta gemetaran menahan rasa sakit dan ketakutan. tanpa bicara dia mengambil dua bilah pedang emasnya. kini gadis itu berdiri tegak di depan pemuda calon pewaris perguruan 'Naga Biru' itu.
''Kau bilang ingin aku menyerahkan kedua pedang pusaka Walet Emas ini kepadamu., baik ini aku berikan.!'' ucapannya terasa sangat dingin, tapi perbuatannya jauh lebih telengas. dua pedang di tangannya bergerak membabat pangkal lengan Hanggajaya hingga buntung. mata pemuda itu mendelik, tubuhnya gemetar keras menahan kesakitan yang teramat sangat. tapi teriakannya tetap cuma sampai di tenggorokan.
Saat ucapannya berakhir kedua pedang emas menusuk dan memutar. totokan penutup jalan suara Hanggajaya jebol akibat teriakan parau yang teramat sangat sakit, saat pedang gadis itu menghancurkan bagian tengah selakangannya. darah yang tinggal sisa merembes habis. dan saat dua pedang emas kembali berkelebat. kepala Hanggajaya sudah terlepas dari lehernya. kepala itu bergulir beberapa kali dan baru berhenti saat tertahan sebuah nisan kayu yang lapuk.
Hari sudah beranjak menuju senja, mendung sudah berangsur menghilang. sinar mentari berwarna jingga menghiasi langit barat. gadis cantik itu perlahan melepaskan diri dari dekapan dada pemuda pincang. entah kenapa dia bisa menangis di pelukan seorang pemuda asing yang namanya saja dia tidak tahu. dalam hati gadis itu merasa sangat malu dan tidak tahu diri. makam Wiratama tunangannya masih basah, tapi dia sudah berdekapan dengan pemuda lain.
''Apa yang akan kau lakukan setelah ini.?'' tanya pemuda itu memecah kecanggungan. rupanya dia mengerti apa yang sedang di rasakan gadis itu.
''Hhm., aku tidak tahu, mungkin diam- diam aku akan kembali ke bukit tempat tinggal guruku melalui jalan rahasia, lalu berlatih keras di goa untuk menguasai semua ilmu warisan mendiang guruku. utamanya ilmu pedang 'Walet Emas'. setidaknya butuh dua hingga tiga bulan untuk dapat menguasai seluruhnya dengan sempurna..''
''Apakah tidak terlalu berbahaya bagimu untuk kembali ke sana. kau bilang goa rahasia tempat gurumu tinggal berada di atas bukit kecil yang tidak jauh dari gunung Semeru. tempat perguruan 'Naga Biru' berada..'' potong Pranacitra rada khawatir. gadis itu tersenyum manis, ''Orang bilang tempat yang paling aman adalah tempat yang paling berbahaya. mereka pasti berpikir aku akan lari sejauh mungkin. tapi tidak ada yang bakal mengira diriku kembali ke sana..''
Pemuda pincang itu hanya angkat bahunya, ''Terserah kau saja., hanya harap kau selalu berhati- hati. sebenarnya aku punya urusan dengan perguruan Naga Biru dan ingin secepatnya kuselesaikan, tapi mengingat kau ada dendam dengan mereka terpaksa kutunda. baiklah., kita tetapkan begini saja, sembilan puluh hari sejak sekarang kita bertemu di gunung Semeru. lalu kita hancur leburkan mereka.!''
Mulut gadis itu ternganga, entah kenapa dia merasa takut dengan pemuda ini. dalam hati dia membatin ''Mata orang ini penuh hawa membunuh. sebenarnya ada dendam apa dia dengan Naga Biru..''
''Sobat pincang., Eeh., maaf aku tidak tahu harus menyebutmu apa. kalau boleh tahu siapakah namamu, juga berasal dari mana.?'' tanya gadis itu ragu. sekilas cahaya tajam yang menakutkan berkilat di kedua mata si pincang. darah gadis itu terasa dingin, bulu kuduknya berdiri merasakan keseraman.
''Eehm., kalau kau keberatan anggap saja aku tidak pernah bertanya. mung., mungkin kelak kau., kau bisa mengatakannya jika memang ingin..'' ucapnya tergagap. dia merasa rikuh sendiri. si pincang menyeringai tipis.
''Kurasa sudah saatnya berpisah, kau jaga dirimu baik- baik..''
Gadis itu mengangguk. tubuhnya yang agak tinggi langsing berkelebat keluar pekuburan. di ujung jalan masuk mendadak dia berhenti dan membalik. ''Sobat pincang., kau berhak menyimpan siapa namamu, tapi aku juga punya hak untuk mengatakan namaku..''
''Namaku Puji., Puji Seruni.!'' serunya sambil tersenyum manis. kini dia benar- benar menghilang.
Pranacitra termangu, ''Puji Seruni., entah kenapa aku merasa kelak bakal sering bertemu dan punya masalah dengan gadis ini..'' gumamnya. perlahan kakinya mulai melangkah terseok tinggalkan pekuburan tua itu.
*****
Pengumuman.,
Asalamualaikum., Salam sehat sejahtera selalu.
Mohon maaf., dengan ini kami sampaikan bahwa novel Pendekar Tanpa Kawan tidak dapat up date dalam waktu seminggu karena kami mempunyai kesibukan kerja yang sangat menyita waktu.
Terima kasih atas semua kritik saran dan like 👍 vote dukungan yang di berikan para reader pembaca kepada novel ini juga novel 13 Pembunuh. Wasalamualaikum.,🙏🙏🙏