Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Duka seorang Ibu.


Sebuah gundukan makam baru telah terlihat. letaknya tidak jauh dari tepian sungai itu dan agak terlindung dibawah sebatang pohon Sukun. biarpun Pranacitra tidak sempat mengenal betul siapa pemuda tampan berumur delapan belas tahunan itu tapi dia dapat mengira kalau orang ini juga punya sengketa dengan partai 'Gapura Iblis' sama sepertinya.


Lagi pula dia telah berjanji untuk melakukan sebuah pesan darinya. memenuhi permintaan terakhir dari orang yang sudah mati adalah suatu kewajiban. maka biarpun belum begitu jelas permasalahannya tetap saja harus dia lakukan. setelah berdoa sekedarnya untuk ketenangan arwah si pemuda di alam kubur dan memastikan daerah sekitarnya aman, Pranacitra berlalu pergi tinggalkan itu.


Pemuda murid lima dedengkot persilatan dari aliran hitam itu berjalan terseok menyusuri aliran sungai. biarpun belum pernah melewati tempat ini sebelumnya tapi dia tahu kalau tidak lama lagi akan tiba di suatu pertemuan dengan aliran sungai lainnya yang lebih besar sebelum menuju ke muara. sepenanak nasi kemudian sungai suara derasnya arus sungai besar sudah terdengar di telinganya.


Itulah salah satu bagian dari aliran sungai Brantas. setelah menentukan arah, Pranacitra cepat berkelebat diatas tonjolan bebatuan sungai. pada jarak seratus langkah menjelang pertemuan antara dua arus sungai, tubuhnya berkelebat ke arah kiri. dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh 'Bayang- Bayang Hantu' dia dengan mudahnya menerobos kelebatan hutan.


Tidaklah mengherankan jika dalam waktu singkat jarak seribu langkah telah terlampaui olehnya. sekali melompati tonjolan batu padas sebesar gajah, sampailah dia disebuah gubuk yang terlindungi semak pepohonan. baru saja hendak melangkah, dari dalam gubuk sudah berkelebat keluar sesosok bayangan. ''Berhenti melangkah. sebutkan siapa dirimu.!''


Dari gerakannya yang cepat menandakan kalau orang itu punya ilmu kesaktian cukup tinggi. namun saat menjejakkan kakinya ke tanah, terlihat rada limbung dan gemetaran pertanda kalau dia sedang terluka dalam. tidak mau terjadi salah paham, Pranacitra memilih untuk menurut saja. berdiri diam terpaut jarak sepuluh langkah dari hadapan orang itu yang rupanya adalah seorang perempuan setengah umur. kalau dilihat dari pakaian putih celana hijau yang sama, dapat dipastikan kalau orang ini segolongan dengan mendiang si pemuda tampan.


''Katakan siapa dirimu dan ada keperluan apa. bagaimana pula kau dapat datang kemari.?'' gertak perempuan itu yang merasa curiga seraya mencabut sebilah pedang tipis dari balik punggungnya. ''Tempat ini berada di tengah hutan belantara, siapapun bisa kesasar kemari. kurasa kau tidak perlu tahu siapa diriku. terus terang saja., aku datang kemari atas permintaan dari seseorang..''


''Dia seorang pemuda tujuh atau delapan belas tahunan dan berparas tampan. meski tidak sempat aku ketahui siapa namanya tapi dari warna pakaian yang sama denganmu bisa dipastikan kalau kau segolongan dengan dirinya..'' jawab Pranacitra. telinganya yang tajam dapat mendengar suara tarikan nafas yang berat tersengal dari dalam gubuk itu.


''Sepertinya ada orang lain di dalam gubukmu. kalau aku tidak salah dia juga sedang terluka dalam sepertimu. bahkan mungkin., sudah semakin parah..'' sambungnya terus menatap gubuk. ''Kaa., kau cepat katakan siapa dirimu dan dimana pemuda yang kau maksudkan tadi.!'' bentak perempuan setengah tua yang rambutnya sudah sedikit memutih dibeberapa bagian. jelas sekali orang ini merasa sangat terperanjat juga penasaran.


Pranacitra diam termenung sekejap sebelum menjawab. ''Sayang sekali., apapun hubungan dirimu dengannya, aku turut prihatin karena pemuda itu sudah meninggal. aku sendiri yang telah menguburkan mayatnya..'' begitu mendengar ucapan orang didepannya, wanita itupun tersurut mundur. hampir saja dia jatuh pingsan jika saja tidak ditopang pedangnya. ''Tii., tidak., itu tidak mungkin. aa., an., anakku., pput., putraku Prameswara tidak mungkin mati. kau pasti berbohong. atau bisa jadi., dirimulah yang sudah mencelakainya.!'' teriaknya parau.


Dengan berurai air mata kesedihan, wanita yang rupanya adalah Ibu dari si pemuda bernama Prameswara itu meluruk kalap ke depan. pedang tipisnya berkelebat membabat dan menikam. sekali serang dia lepaskan lima tusukan ganas yang penuh hawa nafsu membunuh. bagi seorang Ibu, kehilangan anaknya adalah penderitaan luar biasa. maka tidak mengherankan jika serangan ini tidak ada bedanya dengan jurus adu jiwa tanpa perdulikan keselamatan dirinya.


Bagi si pincang walaupun jurus pedang itu sangat ganas tapi bukan masalah sulit untuk mematahkannya. biarpun begitu Pranacitra lebih memilih menghindar terus menerus. dengan menggunakan ilmu 'Langkah Aneh Mayat Hidup' semua serangan pedang lawan dapat dia hindari dengan mudah. caci maki kebencian bercampur tangisan kesedihan terus tersembur dari mulut wanita itu. hingga pada akhirnya dia mengeluh keras. setelah batuk berdarah, tubuh perempuan inipun jatuh tersungkur. sebelum pingsan dia masih sempat melihat langkah kaki pincang dari lawannya mendekat lantas membopong tubuhnya.


Saat terbangun wanita itu menyadari kalau sudah berada di dalam gubuk dan terbaring diatas pembaringannya sendiri. entah sejak kapan di tangannya tergenggam sebuah periuk kecil dari tanah liat. tutupnya disumpal potongan kayu yang terbungkus kain putih. dengan tubuh gemetaran dia berusaha untuk bangun tapi gagal. akhirnya dia hanya dapat duduk bersandar sambil membuka penutup periuk itu. aroma wangi dan rempah obat tercium seketika.


Wanita setengah umur itu tidak dapat lagi menahan tangis kesedihan yang bercampur kegembiraan saat melihat sepuluh butir obat berwarna putih kebiruan berada didalamnya. meskipun belum jelas seluruhnya tapi dia dapat mengira kalau periuk obat ini adalah hasil usaha dari Prameswara anaknya dengan taruhan nyawa. walau enggan mengakui tapi jauh di lubuk hatinya, sang Ibu sudah sadar kalau putranya sangat mungkin telah tewas.


Tiba- tiba saja dia merasa terkejut juga bingung. sudah lebih sebulan lamanya dirinya terluka dalam dan membutuhkan obat langka untuk penyembuhan. karenanya sang putra bertekad untuk mencari ramuan obat itu meskipun mungkin harus berhadapan dengan partai aliran hitam terkuat Gapura Iblis yang memburu mereka. meski obat sudah di dapat tapi jelas belum sempat diminumnya.


Anehnya saat ini biarpun tubuhnya masih sangat lemah namun jelas luka dalamnya sebagian besar telah sembuh, pernafasan juga aliran darahnyapun lancar. ''Berarti hanya ada satu kemungkinan, seseorang telah menolongku. Aah., jangan- jangan pemuda itu..'' batin wanita setengah tua tersentak. cepat dia berpaling ke sampingnya. tepat di seberang sana, hanya terpisah lima langkah di sudut gubuk terdapat lagi sebuah pembaringan kayu.


Biarpun cuma bisa melihat punggungnya tapi perempuan itu dapat memastikan kalau orang yang berdiri membelakangi dirinya didepan pembaringan itu pastilah pemuda aneh yang sempat bertarung dengannya. sementara itu., pandangan mata Pranacitra seolah terpukau oleh sosok tubuh serta wajah seorang gadis belia kurus dan pucat yang berbaring di sana.


Gadis itu umurnya mungkin baru empat belas atau lima belasan tahun saja. lebih muda dibandingkan Srianah ataupun Rinai, dua orang gadis yang paling muda usia diantara para wanita teman dekatnya. jika bicara soal kecantikan wajah, tidak ada yang mampu mengungguli Cahya Intan Maharani, sang 'Gadis Berwajah Tengkorak'.


Kalau masalah perlindungan, tidak ada gadis yang lebih ingin dia lindungi selain Srianah. karena siapapun yang sedikit saja berani mengusik gadis manis yang kini menjadi juragan jamu itu, pasti dia bantai tanpa ampun. begitupun juga yang paling sering bersilang pendapat lalu bertengkar dengan dirinya sekaligus menarik hati, tentulah si Puji Seruni.


Biarpun Rinai, Jingga Rani, Nyi Rondo Kuning ataupun Retno Item juga punya daya tarik tersendiri namun mereka semuanya akan terlewat jika dibandingkan dengan gadis kurus pucat yang sedang terbaring sakit diatas ranjang reot ini. gadis itu meskipun tidak secantik Cahya Intan Maharani juga kalah menarik di bandingkan Puji Seruni atau tidak semurni Srianah tapi tetap sangat memukau hati.


Tubuh gadis pucat penyakitan itu hanya tertutupi selembar selimut kain dari dada hingga sebatas lutut hingga bahu dan betisnya yang putih terlihat. tanpa sadar tangan si pincang mengusap rambut hitam lebat dan dahi si gadis yang agak berkeringat. satu senyuman tipis tersungging dibibir Pranacitra. dalam hatinya dia membatin, ''Aish., apakah mungkin saat ini diriku sedang., jatuh cinta.?''


...........


Maaf yah🙏., cuma dapat kiriman cerita sedikit saja. Trims👏.