Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Jingga Rani., bingung.


Meskipun jengkel setengah mati pada para anggota padepokan silat 'Gading Emas' karena kepentingannya terhalang mereka. tapi Jingga Rani masih dapat menggunakan nalarnya. dia tidak mau keributan ini merugikan pemilik warung. setelah melepaskan pukulan dan tendangan beruntun, tubuhnya yang langsing berkelebat keluar.


''Aku tidak mau bertanggung jawab jika terjadi kerusakan di warung makan ini. cepat keluar dasar pemuda ganjen.!'' bentak Jingga Rani menantang bertolak pinggang. Gading Arwana dan seorang kawannya mengumpat geram melihat ketiga rekan mereka cedera dihajar serangan lawan. meskipun sangat terkejut dengan kehebatan lawan, tapi api kemarahan sudah mulai naik dikepalanya.


''Tuan muda Gading Arwana., gadis kurang ajar ini rupanya tidak dapat ditangani dengan cara lembut. kita mesti menaklukkannya dengan kekerasan.!'' ujar bawahan pemuda bernama Gading Arwana itu. sementara dua orang lainnya sudah mulai bangkit pegangi perut dan dadanya yang kesakitan.


Meski sesaat ragu calon pewaris perguruan silat Gading Emas itupun menyusul lawan keluar juga bersama rekannya, setelah sempat memberi isyarat pada dua bawahannya yang lain. kini mereka bertiga sudah berdiri saling berhadapan di pinggiran sungai Canggu.


''Gadis keparat., cepat katakan siapa dirimu dan berasal darimana, sebelum kau kuseret ke perguruan Gading Emas untuk menerima hukuman.!'' Jingga Rani hanya mendengus hina. ''Rupanya kau belum bangun dari mimpi hingga masih bicara pongah. tapi jika kalian memaksa, tidak ada salahnya aku beritahukan siapa diriku..''


''Dengarkan kalian para begundal jelek yang mengaku dari perguruan silat Gading Emas, namaku Jingga Rani., dalam rimba persilatan diriku bersama dengan empat saudara seguruku dikenali sebagai 'Lima Elang Api.!'' jawab Jingga Rani kereng dengan kedua mata menatap tajam.


''Lii., Lima Elang Api.!'' seru Gading Arwana dan rekannya hampir bersamaan dengan suara tercekat. sungguh mereka tidak menyangka kalau gadis cantik didepan mereka adalah pimpinan dari Lima Elang Api yang terkenal tanpa ampun dalam melibas lawannya. tanpa sadar mereka memandang sekeliling.


''Huhm., dimana keberanian yang telah kalian tunjukkan padaku tadi. ataukah., mendadak kalian takut empat saudaraku ikut campur.? Hii., hi., dasar pengecut. meskipun mereka tidak berada disini tapi sepasang tanganku sudah lebih dari cukup untuk memberi kalian pelajaran yang setimpal.!''


Gading Arwana merutuk dalam hati. tapi dia tetap menahan diri karena sadar betul siapa lawannya. ''Ooh., kiranya nona adalah Jingga Rani, sang pimpinan dari Lima Elang Api yang merupakan para pesilat hebat dari golongan putih. kami dari perguruan Gading Emas juga beraliran putih. sungguh senang bisa bertemu dengan kaum persilatan segolongan..'' ucap pemuda itu sambil menjura hormat diikuti kawannya.


Pemuda ini cukup pandai membawa diri dan melihat keadaan. dengan menonjolkan kata sesama golongan putih dia berharap dapat menghindarkan mereka dari bentrokan dengan Jingga Rani. melihat gadis cantik itu tertegun diam, Gading Arwana mengira kalau siasatnya untuk menarik hati lawan telah berhasil.


Tapi belum sempat dia mengucapkan sesuatu gadis cantik berbaju jingga itu sudah menyela dengan suara dingin. ''Huhm., rupanya kau bukan saja pemuda hidung belang yang pengecut tapi juga cukup licik, membuatku semakin muak saja dengan muka kalian.!'' damprat Jingga Rani bengis.


Sekali kedua kakinya menutul tanah, tubuh langsingnya berkelebat kedepan. sepuluh jari tangannya menekuk membentuk cakar elang bergerak menyambar ganas. angin tajam sekeras batangan besi panas turut mengiringi jurus serangannya. yang jadi sasaran leher, dada, tengkuk juga perut lawan.!


'Whuuuutt., shaaaattt., bheeet.!'


'Bhrreeeeet., shreeeet.!'


''Aaaakh., gadis setan alas.!'' Gading Arwana menjerit dan memaki gusar. meskipun sudah bersiap tapi gerakan lawannya terlalu cepat dan telengas. beruntung dia masih sempat silangkan kedua kepalan tangannya untuk menangkis sekalian balas kirimkan tiga jotosan kearah perut dan kepala. meskipun begitu baju kuningnya sempat robek, pangkal lehernya juga memerah panas tergurat cakar lawan.


Nasib kurang mujur harus diterima rekannya. baju bagian dadanya koyak tercabik dengan kulit terkelupas melepuh. sebuah pukulan di tengkuk membuatnya roboh tersungkur. dalam sekali gebrakan tidak sampai tiga jurus Jingga Rani sudah membuat Gading Arwana ngeri sekaligus dilanda kegusaran.


Namun bagaimanapun juga dia adalah yang tertua dari dua orang anak Nyai Gading Wikuni sang ketua padepokan Gading Emas yang dalam dunia persilatan digelari si 'Gading Gajah Sakti'. tentu saja calon pewaris ketua perguruan itu punya ilmu silat yang lumayan dapat diandalkan.


Dengan sepasang tangan terkepal, tubuh agak membungkuk dan kaki menjejak keras ke tanah sehingga otot kakinya terdengar berkerotokan dia meninju kedepan. angin sekeras baja melabrak. inilah gerakan awal dari jurus yang dinamai 'Gajah Menggusur Bukit.!'


'Whuuukk., whuuuss., blaaaass.!'


'Craaaakk., breeett., blaaang.!'


Mungkin enam atau tujuh kali terdengar suara empat tangan beradu pukul dengan kekuatan dan kecepatan tinggi. diakhir gebrakan Jingga Rani tersurut mundur berjumpalitan dua kali kebelakang. ditangannya yang terasa sangat ngilu masih tergenggam serpihan kain kuning bernoda darah.


Di jurusan lain Gading Arwana berteriak tertahan. kedua lengan bajunya koyak tercabik dengan sepuluh guratan bekas cakaran dan cengkeraman berlumuran darah. jika saja dia tidak mampu menghantam lawan dengan ilmu Gajah Menggusur Bukit, mungkin kedua tangannya bukan saja terluka malah bisa jadi remuk tulangnya.


Jingga Rani kerahkan tenaga saktinya untuk menghilangkan rasa ngilu dan lemas di kedua tangannya. dalam hatinya dia cukup terkejut dengan kemampuan lawannya. walaupun jurus 'Cakar Elang Merah Sungsang' yang dia lancarkan dapat melukai Gading Arwana tapi dia juga sempat terhantam balik jurus lawan.


''Aakh., dasar perempuan rendah sialan., hari ini aku akan membuatmu menyesal karena telah berani melukai tanganku, Gading Arwana pewaris utama perguruan silat Gading Emas.!'' teriak pemuda itu kalap acungkan tangannya yang berdarah dengan muka bengis penuh dendam amarah.


Hati Jingga Rani terkesiap juga melihat keberingasan lawannya. dengan sepuluh jari tetap membentuk cakar elang diapun bersiap menyambut serangan Gading Arwana yang sudah berkelebat menerjang. tapi ditengah jalan pemuda itu membuat gerakan yang diluar dugaan. setelah melontarkan sebuah pukulan sakti tangan kosong, tubuhnya mendadak berputar arah ke jurusan lain.


''Bangsat pengecut., jangan lari dariku.!'' bentak Jingga Rani geram. kedua cakarnya membabat diudara untuk melibas musnah pukulan sakti yang dilepaskan Gading Arwana. gadis cantik yang sudah diamuk amarah itu berniat mengejar pemuda itu. tapi kejadian sepuluh tombak di depannya membuat matanya melotot tertegun.


''Ibunda., lihatlah tangan anakmu ini. bajingan perempuan itu sudah melukaiku. rasanya sangat sakit Buu., Ooh adikku., kau juga harus membalaskan sakit hati kakakmu ini. wanita liar itu sudah menghina diriku.!'' ratap Gading Arwana sambil berlutut memeluk kaki seorang perempuan setengah umur berjubah kuning emas dengan tubuh gemuk tembem. pemuda itu menangis menggerung seperti anak kecil.


Wanita gemuk itu memiliki kepala agak plontos dan membawa sebatang tongkat dari gading gajah purba sepanjang bahu. dengan penuh kasih sayang perempuan itu mengelus punggung Gading Arwana. ''Kau tenanglah anakku sayang., selama ibu berada disini. tidak akan ada yang bisa menggangumu..''


''Huhm., bangsat. siapa orang yang begitu bosan hidup hingga berani menyakiti anakku yang gagah rupawan ini.!'' damprat perempuan gemuk yang rupanya adalah Nyai Gading Wikuni, ketua perguruan silat Gading Emas, sekaligus juga ibu dari Gading Arwana sambil gebrakkan tongkatnya ke tanah berbatu hingga berderak rengkah.


''Wanita buruk rupa keparat., berani benar kau melukai kakakku yang tampan ini. sekarang biar aku adiknya yang cantik jelita ini yang akan meremukkan tubuhmu.!'' gemboran sekeras guntur terdengar dari bibir tebal hitam seseorang bertubuh gemuk berlemak dengan dua buah kuncir rambut di kepalanya. jika tidak melihat tusuk kundai bunga mawar yang menancap di rambutnya yang jabrik dan kasar, mungkin Jingga Rani akan mengira kalau dia seorang lelaki gemuk yang bekerja sebagai kuli angkut di pasar.


''Aaiihh., kalau diriku kau sebut sebagai wanita buruk rupa, lalu kau ini masuk dalam golongan mana., sang kakak pengecut dan pengadu. adiknya berwajah jelek tapi mengaku cantik jelita. sedang ibunya hanya tahu membela anaknya tanpa perduli benar atau salah..'' gumam Jingga Rani mengeluh, seumur hidup baru kali ini dia merasa kebingungan karena tidak tahu apakah mesti marah ataukah malah tertawa geli melihat semua itu.


*****


Asalamualaikum, Salam sehat sejahtera selalu bagi kita semuanya. Amin.


Mohon maaf jika alur ceritanya jadi agak aneh😅😓🙏,, harap tulis komentar, kritik saran, like👍, vote atau favorit👌 jika anda suka👏. silahkan juga share novel ini ke teman" anda yang lain. Terima kasih. Wasalamualaikum.