Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Mengembara.


Meskipun waktu sudah beranjak tengah hari tapi suasana tarasa suram. di langit terlihat mendung gelap yang menggantung. angin berhembus meniup daun dan debu pasir hingga gugur dan berterbangan.


Tidak jauh dari belakang sebuah gubuk bambu yang sudah hampir roboh ada sebuah makam yang masih baru dan basah. kalau dilihat dari jauh makam itu tidak akan terlihat karena terlindung dibalik dua buah tonjolan batu besar dan rimbunan semak belukar yang tinggi.


Dua orang anak muda sedang berlutut di depan makam itu. seorang pemuda kurus pucat seperti penyakitan dan seorang gadis kecil yang beranjak mulai remaja tiga belas tahunan. gadis muda ini menangis lirih, kedua tangannya terluka berlepotan lumpur. meskipun pemuda di sampingnya sudah melarangnya tapi dia tetap bersikeras ikut menggali makam itu.


Sebuah nisan kayu terpancang sebagai penanda. tidak ada satu tulisanpun yang menerangkan siapa orang yang terkubur di dalamnya. bagi kedua orang ini asalkan mereka tahu kalau Ki Suta yang beristirahat disana itu sudah cukup.


Hujan lebat turun kebumi seiring suara angin dan guntur yang menderu. si pemuda pucat merutuk dalam hati, kepalanya menengadah ke langit. ''Kenapa hujan selalu datang di saat ada kematian di dekatku, apakah kalian memang sengaja menertawakan diriku.?'' batinnya geram. dalam sekejab saja tubuh keduanya sudah basah kuyup tersiram hujan. si pemuda pucat terbatuk- batuk, tubuhnya yang kurus mulai menggigil. dia benci hujan tapi lebih benci lagi dengan tubuhnya sendiri yang terlampau lemah.


''Pranacitra kau tidak apa- apa., kakang., kau., kau kenapa., kakang Pranacitra.?'' seru gadis muda disampingnya dengan penuh khawatir. cuma suara itu yang masih sempat dia dengar, selanjutnya pandangan matanya menjadi gelap.


Saat sadar dia sudah berada kembali dalam gubuk terbaring diatas balai bambu. bajunya yang basah sudah berganti pakaian kering. dia tahu kalau baju itu milik Ki Suta. seorang gadis muda sedang menjemur pakaiannya di dekat perapian batu yang ada di sudut gubuk bagian dapur. gubuk bambu itu terbagi menjadi tiga buah ruangan. ruang tengah untuk istirahat dan makan, bagian belakang sebagai tempat memasak dan meramu obat, sedangkan ruang depan digunakan untuk menerima tamu yang hendak berobat.


Ketiga ruangan itu dipisahkan oleh sebuah dinding dan pintu dari anyaman bambu. karena pintu ke ruang dapur terbuka Pranacitra dapat melihat Srianah yang sedang merebus obat sekalian menjemur baju mereka berdua di perapian dapur. dari belakang terlihat punggung putih gadis itu yang penuh luka bekas cambukan. anak ini cuma memakai selembar kain lusuh untuk menutupi bagian depan dan bawah tubuhnya.


Pranacitra tidak tahu apakah Srianah memang tIdak mempunyai baju yang lain ataukah dia belum sempat berganti pakaian. darah Pranacitra berdesir halus, tubuh gadis tiga belas tahunan yang putih berhias luka dan sudah mulai beranjak remaja itu menyiratkan daya tarik yang aneh. pemuda itu mengumpat memaki dirinya sendiri yang sempat berpikiran liar.


''Eeh kau sudah tersadar Pranacitra.?'' tanya Srianah gugup mengetahui si pemuda telah bangun. dengan cepat dia memakai kembali pakaiannya yang baru setengah kering, lalu mengambil rebusan obat dari atas tungku.


''Ini minumlah biar tubuhmu jadi hangat..'' kata Srianah sambil sodorkan gelas bambu berisi ramuan obat yang masih panas. dengan penuh rasa terima kasih Pranacitra meminum ramuan itu sedikit demi sedikit hingga habis. rasanya panas juga pahit tapi hatinya justru terasa hangat dan manis.


''Srianah., terima kasih atas semua pertolonganmu, tapi aku tidak bisa tinggal lebih lama disini, besok pagi aku mesti segera pergi karena ada banyak urusan yang harus kuselesaikan..''


''Memangnya kau mau pergi kemana., ingat tubuhmu begitu lemah, bagaimana jika terjadi sesuatu denganmu di luar sana.?'' ujar gadis itu khawatir. ''Sebenarnya ada urusan apa hingga engkau harus pergi dari sini.?''


Pranacitra mememeluk tubuh gadis muda itu yang mulai menangis di dadanya. pemuda ini tahu perasaan gadis yang baru ditinggal pergi oleh gurunya. dia pasti merasa kehilangan dan butuh teman untuk berbagi. tapi kini orang yang dia harapkan sebagai tempat sandaran malah berniat pergi.


Terpaksa Pranacitra menceritakan hampir semua yang dia alami selama ini kepada Srianah. mulai dari jadi bocah gembel hingga kehancuran perguruan silat gunung Bisma. gadis itu seakan terpana dengan semua kisah si pemuda. ''Aku tidak menyangka dia telah mengalami penderitaan yang begitu hebat. dan dia bilang., umurnya juga tidak lama lagi..'' batin Srianah semakin sedih.


''Selain itu jika terus berada disini, aku takut jika nanti nenek jahat bermata picak itu kembali kemari. dengan tubuhku yang lemah tentunya sulit bagiku untuk melindungimu..''


''Jika saja waktu itu Ki Suta tidak berhasil memecah perhatian nenek picak itu dan mendorong kita berdua ke kolong tempat tidur, mungkin kita juga sudah jadi mayat..''


''Itu cuma tindakan untung- untungan saja, sekarang kau tahu alasanku mesti pergi dari sini..'' tutur Pranacitra sambil membelai rambut si gadis.


''Kalau itu sudah jadi keputusanmu maka kau harus membawa aku juga..'' ucap Srianah bangkit berdiri menghapus air matanya. dengan gerakan cepat dia menggulung rambut hitamnya yang panjang lalu mengikatnya dengan selembar kain batik lurik.


Kedua tangannya meraup segenggam debu dari lantai tanah gubuk lalu mengoleskannya di wajah, leher serta tangan kakinya. sekarang dia sudah kembali lagi seperti copet cilik yang dulu ditemui Pranacitra di pasar Sewon. ''Di sini namaku Srianah, tapi di luar sana aku adalah si Coreng gembel cilik tukang copet.!''


''Sebentar akan kubuatkan makanan untuk makan malam dan bekal kita berdua besok..'' ucap Srianah alias Coreng sambil tersenyum manis. Pranacitra hanya menghela nafas, dia tahu tekad gadis itu sudah bulat. pemuda ini cuma berharap agar kelak perjalanan mereka tidak menemui banyak rintangan.


Pagi itu sepasang gelandangan muda terlihat berjalan melewati sebuah pasar dipinggiran kadipaten Muntilan. karena hari itu bukan selasa kliwon maka suasana pasar tidak terlalu ramai. kedua muda- mudi yang memang Pranacitra dan Srianah alias si Coreng sengaja melewati pasar ini untuk sekedar mengenang pertemuan mereka berdua sekaligus perpisahan bagi Srianah pada pasar yang sempat menjadi tempat tinggalnya.


Sebentar saja keduanya sudah melewati pasar itu ''Setelah ini kita akan berjalan kemana.?'' bertanya si Coreng pada pemuda yang berjalan sampingnya. saat melangkah dia terlihat sedikit tertatih, meskipun mulut luka di betis kirinya sudah kering tertutup dan terbalut kain berisi bubuk ramuan obat tapi masih ada sedikit rasa nyeri.


''Aku juga tidak tahu., sebenarnya dulu aku ingin mencari seorang guru, tapi sekarang kurasa itu tidak akan mungkin kulakukan. semua orang yang dulu mengaku sebagai pendekar aliran putih pembela kebenaran, justru ketakutan dan menghindar saat tahu Ki Rangga guruku bermusuhan dengan partai Gapura Iblis..''


''Dasar orang- orang pengecut dan munafik., aku bersumpah jika berumur panjang bakal membuat mereka berlutut minta ampun di bawah telapak kakiku.!'' geram Pranacitra penuh kemarahan. saking sesaknya dendam yang mengumpal di dalam dadanya, batuk sesak si pemuda kembali kambuh. Coreng sampai tertegun ngeri sekaligus iba melihat air muka si pemuda yang semakin memucat.


Mereka berdua terus melangkah menyusuri jalanan, mengembara melewati sungai dan rimba sambil diam- diam mencari petunjuk tentang Lembah Seribu Racun. tapi sejauh ini tidak ada hasil yang di dapat. tidak sedikit orang pernah mendengar nama lembah itu. tetapi tidak ada satupun yang tahu jalan menuju kesana. peta yang dimiliki Pranacitra cuma menerangkan cara Untuk masuk ke dalam Lembah Seribu Racun. tapi dimana letak lembah itu sebenarnya, tidak seorangpun yang tahu.


Pranacitra kembali terbatuk sesak, tubuhnya yang lemah menggigil. Coreng gunakan sapu tangannya untuk mengusap darah yang menetes dari ujung bibir si pemuda. hampir dua minggu berkelana bersama membuat hubungan diantara keduanya semakin dekat. meskipun ajal dapat menjemputnya setiap saat, tapi kekerasan hati pemuda itu lebih kuat dari gunung karang. selama masih bernafas dia tidak akan menyerah. ''Orang- orang persilatan yang munafik, juga partai Gapura Iblis. kalian semua akan rasakan pembalasanku., lihat saja., lihat saja.!'' teriak Pranacitra meracau. matanya memerah, mukanya beringas. tangannya terkepal menghantam kiri kanan. Coreng yang mencoba menenangkannya sampai jatuh terdorong.


''Yang satu kurus penyakitan. terbatuk- batuk seperti mau mati esok pagi, tapi angkuhnya setengah mati seakan tidak takut langit dan bumi. satunya lagi bocah gembel perempuan yang coba menyamar jadi laki- laki. hhmm., dunia memang sudah gila. Hak., ha., ha.!''


Serentak keduanya menoleh ke asal suara.


Diatas sebatang pohon besar di tepi hutan itu, terlihat seorang tua bercaping daun pandan yang sudah butut dan berbaju compang- camping sedang duduk diatas sebuah cabang pohon yang ukurannya cuma sebesar jempol kaki. sebatang ranting pohon tergenggam ditangan kirinya yang kurus. saat ranting di putar terdengar suara mendengung keras bagai suara amukan seribu tawon.


Secara hebat daun- daun pohon yang berada di sekitarnya turut bergetar lalu jatuh berguguran ke tanah. meskipun tidak kenal siapa orang tua berdandan pengemis itu, tapi Pranacitra dan Srianah maklum kalau dia bukanlah manusia sembarangan.!


*****


Mohon tulis coment, kritik dan sarannya. atau like👍 jika suka.., 🙏Terima kasih.