Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Dendam dan ancaman.


Teriakan penuh bara dendam kesumat yang keluar dari mulut si 'Burung Hantu Bungkuk Pencabut Nyawa' terdengar keras hingga gaungnya menembus kabut pekat beracun yang berada di luar goa.


Kecuali 'Setan Kuburan' yang masih terdiam kaku seperti mayat hidup, ketiga rekannya sama tertegun. tanpa sadar hati mereka menjadi panas diselimuti kegusaran. raut wajah ketiganya berubah mengkelam penuh dendam.


Biarpun terperengkapnya mereka berlima di 'Lembah Seribu Racun' ini tidak bisa di lepaskan dari kebodohan dan sifat sombong mereka sendiri, tapi pihak yang membuat tipu muslihat dan hasutan pada orang persilatan itulah yang pantas mendapatkan pembalasan.


Sialnya., biarpun sekarang mereka sudah tahu siapa yang menjadi dalang di balik semua ini, tapi justru kelima tokoh silat kawakan aliran hitam itu sudah dibuat tidak berdaya. racun ganas di lembah ini perlahan terus menggerogoti tubuh mereka berlima. sementara jika nekat keluar kulit tubuh mereka yang lemah keracunan juga akan melepuh dan terbakar oleh sinar matahari karena sudah terlampau lama berada di dalam kegelapan goa.


Jika saja 'Nenek Tabib Selaksa Racun' tidak berada bersama mereka dan memberikan beberapa obat penahan hawa racun, mungkin sudah sejak lama mereka semua terkapar menjadi mayat.


Tapi berapa lama kekuatan sebuah obat penangkal racun ini bisa bertahan, bahkan tabib tua yang menjadi ahli pengobatan dan racun ternama itu juga sampai mengatakan kalau sisa umur mereka berlima mungkin tidak sampai tiga tahun lagi. bahkan tidak terkecuali si Setan Kuburan yang berilmu kesaktian paling tinggi.


''Burung Hantu tua., mendengar ucapanmu aku jadi semakin tidak sabar ingin mengajari segala yang kupunya pada bocah ini..''


''Huhm., aku bisa bayangkan apa yang bakal terjadi jika kelak anak ini sudah menguasai segala ilmu kepandaian kita berlima, lalu dia kita lepas ke dunia luar..'' ujar 'Iblis Naga Rembulan' dan 'Nenek Tabib Bertongkat Maut' penuh kegusaran.


''Seluruh dunia persilatan pasti akan di buatnya jungkir balik., semua lawan akan kabur ketakutan. setiap langkah bocah ini akan membawa undangan kematian dan mimpi buruk tanpa akhir bagi mereka., terutama para manusia licik dan munafik yang telah membuat kita semua sampai terperangkap di tempat terkutuk ini.!'' timpal 'Pengemis Tapak Darah' tidak kalah geram.


''Jangan membuang waktu lagi., secepatnya pulihkan tubuh bocah itu. tiga tahun kedepan adalah pertaruhan besar bagi kita., meskipun mungkin kita tidak akan sempat lagi melihat sepak terjang bocah ini kelak, tapi setidaknya bisa kita pastikan rimba persilatan bakal gempar dengan kemunculannya..''


''Bocah pincang sialan, peruntungan nasibmu bagus juga., karena dalam waktu tiga tahun ini akan kami buat dirimu menjadi manusia paling menakutkan yang sanggup mengobrak- abrik seluruh dunia persilatan., haa., ha., ha.!'' dengus si 'Setan Kuburan' lantas tertawa bergelak di ikuti keempat kawannya.


Malam itu udara terasa lebih dingin dari biasanya. di luar goa terhampar sebuah pedataran berbatu yang penuh dengan ratusan tulang tengkorak manusia. kabut pekat beracun berbau busuk menyengat masih terus mengambang menyelimuti tempat itu. jauh di seberang pedataran berkabut penuh racun samar terlihat menjulang tinggi sebuah tebing batu karang, itulah 'Tebing Kematian.!'


Sementara itu suara lolongan kawanan serigala malam yang terdengar dari kejauhan seakan ingin memberikan pesan akan adanya ancaman malapetaka baru yang bakal melanda dunia persilatan.


Sementara itu di dunia luar pergolakan rimba persilatan juga masih terjadi, persaingan antar kelompok untuk berebut pengaruh dan nama baik terus berlangsung. keadaan ini semakin di perburuk dengan pertikaian para pembesar dalam lingkungan kekuasan di dalam keraton Majapahit. selain itu juga ada beberapa kerajaan bawahan yang berani membangkang karena ingin terlepas dari wilayah kekuasan Majapahit.


Dengan menyewa para tokoh silat yang tergiur harta dan kuasa mereka mulai memberontak. kalau sudah demikian pada akhirnya rakyat juga yang menjadi korban dari semua kekacauan itu.


Waktu terus saja bergulir., semuanyapun terjadi juga. Majapahit yang pernah menjadi kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara itu akhirnya runtuh dan berganti kesultanan Demak.


Hari masih pagi dan matahari juga baru saja muncul saat terdengar suara bentakan nyaring dua orang muda- mudi dua pulahan tahun yang saling labrak baku hantam dengan sengitnya. dari deru sambaran angin pukulan yang di lepaskan mereka dapat di pastikan kalau kedua remaja ini mempunyai tingkat ilmu tenaga dalam yang tinggi.


Tempat keduanya beradu ilmu silat adalah satu pelataran berpasir yang berada di tepian sebuah sungai besar bernama 'kali Serayu.!'


Kali Serayu atau sungai serayu sendiri adalah salah satu sungai besar di pulau Jawa bagian tengah.


Lawan dari si pemuda tampan berbaju putih itu adalah seorang gadis muda yang sangat cantik. tubuhnya yang langsing dan padat berisi di balut sebuah pakaian berwarna hijau tanpa lengan hingga terlihat kulit bahu dan lengannya yang putih mulus. selembar kain yang juga berwarna hijau melilit dahi serta rambutnya yang panjang hitam lebat dan ikal sebahu.


Sudah lebih tiga puluh jurus mereka beradu ilmu silat. jika diperhatikan si pemuda lebih sering menggunakan kedua kepalannya untuk menghantam. sebaliknya yang gadis hampir selalu memakai sepasang telapak tangannya untuk membacok dan menusuk tubuh lawannya.


Bagi orang persilatan yang sudah punya pengalaman pasti dapat melihat kalau tingkat tenaga dalam si pemuda lebih tinggi di bandingkan gadis berbaju hijau. tapi soal kecepatan dan kelincahan bergerak si gadis sedikit lebih unggul dari pemuda berbaju putih.


Kejap berikutnya mendadak kedua tubuh mereka terpisah tiga hingga empat tombak. sepasang mata mereka saling memandang dengan tajam. meskipun keduanya telah saling mengenal sejak masih jadi gembel cilik. tapi saat bertarung seperti ini, mereka tidak ubahnya dua orang musuh bebuyutan.


Sepasang telapak tangan si gadis terentang ke samping tubuhnya lalu ditarik lurus di depan dada sementara keduanya lutut agak di tekuk ke dalam dengan kuda- kuda rendah. terjadi sebuah keanehan saat tenaga dalam gadis cantik itu tersalurkan. jika di bagian telapak tangan kiri mengeluarkan cahaya kekuningan, maka telapak tangan kanannya justru membias sinar hitam pekat berhawa panas.!


Di lain pihak si pemuda tampan berambut kelimis kepalkan kedua tangannya hingga terdengar suara berkerotokan. tidak berbeda dengan gadis di depannya, sinar kuning dan hitam yang sama mengandung hawa panas dan keras menyelimuti kedua kepalan hingga lengan si pemuda.


''Arga Pangestu dan kau Ajeng Larasati., ini adalah latihan terakhir bagi kalian berdua sebelum kami melepas kalian keluar untuk menunaikan tugas dan kewajiban yang telah lama menunggu..''


''Jadi lakukan semuanya dengan sungguh- sungguh., sekarang.!'' perintah dua orang setengah tua yang berdiri agak jauh dari pertarungan kedua remaja itu.


Yang satu adalah seorang laki- laki berjubah, berkulit dan berambut hitam. dia adalah seorang tokoh silat tangguh yang bergelar 'Malaikat Serba Hitam'. satu lagi seorang wanita yang juga lebih setengah umur berbaju ungu dan membekal sebilah pedang bergagang bintang segi empat berwarna keperakan. dia bukan lain adalah Nyi Lintang Wungu atau si 'Dewi Pedang Bintang Kali Serayu'. kedua tokoh silat sakti inilah yang telah menolong Arga Pangestu dan Ajeng Larasati, dua orang murid Ki Rangga Wesi Bledek yang tersisa dari gunung Bisma, sekaligus juga mengangkat mereka menjadi murid.


''Baik guru.!'' jawab keduanya tegas hampir bersamaan. dua telapak tangan saling labrak dengan dua kepalan. empat cahaya hitam dan kuning berhawa panas disertai gulungan angin sekeras baja bertemu. ledakan keras bergemuruh terjadi batuan pasir dan air sungai semburat menutupi pandangan mata.


Sementara itu di lain tempat yang sangat jauh dari keramaian. di lereng sebuah bukit kecil yang berada di sebelah timur pegunungan 'Pojok Tiga' yang berada di perbatasan Jawa bagian tengah dan barat. di tengah pelataran yang ada di depan sebuah gubuk bambu kecil beratap jerami kering. terlihat seorang gadis manis enam belas tahunan berpakaian biru muda sedang duduk bersila pejamkan mata. sepasang telapak tangannya terbuka merapat di depan dadanya. dua lingkaran sinar keperakan muncul di tangannya.


Bersamaan dengan kedua bola matanya yang terbuka, sepasang telapak tangan si gadis turut menghantam. sasarannya adalah dua buah bongkahan batu besar yang berada tiga tombak di hadapannya.


'Whuuuss., whuuus.!'


'Blaaam., blaaar.!'


Dua bongakahan batu gunung yang lebih besar dari kepala kerbau itu sempat terangkat dua jengkal dari atas tanah, berputar beberapa kali seperti gasing sebelum akhirnya terjatuh kembali dalam keadaan rengkah hancur menjadi batu- batu sekepalan tangan.!


''Semestinya kedua batu karang gunung itu hancur luluh menjadi debu pasir jika dihantam ilmu pukulan 'Sepasang Sinar Lingkaran Dewa'. meskipun masih jauh dari sempurna tapi hasil latihanmu hari ini lumayan juga Srianah..''


Gadis muda bertubuh agak kecil yang di panggil sebagai Srianah itu menoleh lalu cepat bangkit menghampiri seorang pengemis tua yang duduk santai bersandar didinding gubuk bambu, lalu membungkuk hormat. ''Guru., mohon maafmu jika tingkat ilmuku belum bisa memuaskannmu. saya berjanji akan lebih giat lagi berlatih..''


Pengemis tua yang di panggil sebagai guru oleh gadis bernama Srianah itu tertawa mengekeh. saat tangannya yang kurus kering menyibak rambut putihnya, terlihatlah satu keanehan. sepasang mata pengemis tua itu tidak memiliki bagian hitam di tengah, melainkan putih berselaput kelabu pertanda kalau mata pengemis tua itu buta.!