Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Kujang Emas Nirwana. (bag 4)


Malam sudah semakin larut. udara juga terasa bertambah dingin, sunyi mencekam hati. di salah satu sudut teras gubuk meringkuk tubuh Ki Mada. dengan merangkak pelan dia dapat bersandar di dinding gubuknya. senjata 'Kujang Emas Nirwana' masih tergenggam erat di tangannya yang gemetaran.


Bukan cuma gemetar karena dingin, tapi lebih di sebabkan oleh pemandangan yang terjadi beberapa tombak di depannya. meskipun dia sudah lama tidak merambah dunia persilatan, tapi nama 'Sepuluh Cincin Pembunuh' sebagai seorang pesilat pembunuh bayaran kawakan juga pernah dia dengar kehebatannya.


Tapi sekarang, di hadapan seorang pemuda pincang yang tanpa sengaja dia temui di jalan dan sedang bermalam di gubuknya, manusia separuh perempuan yang terkenal berilmu silat tinggi itu terjungkal roboh. biarpun Ki Mada belum jelas awalnya bagaimana orang ini sampai terlibat pertarungan, namun dia sempat mendengar nama si 'Siulan Kematian' dan 'Gelandangan Hantu' di sebutkan.


Orang tua itu seketika bergidik karena teringat sesuatu. dalam beberapa bulan terakhir rimba persilatan dilanda kegemparan hebat karena kemunculan seorang pemuda pincang yang punya ilmu kesaktian sangat tinggi. kabarnya selain mewarisi berbagai ilmu hebat dari lima dedengkot aliran hitam, pemuda itu juga punya berbagai macam gelar yang menyeramkan. nama Siulan Maut, Setan Pincang Penyendiri, Gelandangan Hantu hingga Pendekar Tanpa Kawan membuatnya menjadi tokoh silat muda pendatang baru yang paling di takuti saat ini.!


Mimpipun Ki Mada itu tidak pernah mengira kalau pemuda pincang itulah orangnya. dari dalam gubuk keluar seorang bocah laki- laki bisu bernama Aji Pradana. cucu orang tua itu nampak ketakutan melihat banyak mayat dan darah berceceran di halaman gubuk. dengan berlari dia menghambur ke pelukan Ki Mada.


Pranacitra berdiri hanya selangkah dari tubuh Sepuluh Cincin Pembunuh yang tertekungkup bersimbah darah. meskipun terluka parah luar dalam, tapi orang banci jahat ini masih hidup. dengan ujung tongkatnya dia balikkan tubuh orang berkebaya merah itu hingga terlentang. ujung tongkat besi salurkan sedikit hawa sakti kebiruan di atas dadanya hingga si kebaya merah tersadar dan batuk darah.


''Katakan dimana ketiga kawanmu yang lainnya berada sekarang ini.!'' geram pemuda bengis. ''Ugh., hugh., kalau aku bilang di mana mereka, mem., memangnya kau., kau akan mel., melepaskanku.?'' orang separuh wanita itu terkekeh mengejek, terbatuk dan meludah. ''Chuiih., jang., jangan harap kau dap., dapat meng., mengancamku. lagi pula., kau tidak bak., bakalan berani., mela., kukan., nya.!''


Pranacitra hanya diam. sepasang matanya menatap tubuh si banci dengan pandangan sedingin es. tanpa bicara apapun ujung tongkatnya menotok empat buah urat di tubuh si banci lalu mundur dua langkah. jika lima tahun silam dia pernah di siksa oleh Setan Arit Rombeng dengan di peras darahnya keluar lewat kulit, apa yang dia lakukan pasa si banci sekarang ini adalah justru kebalikannya.


Empat totokan itu membuat seluruh aliran darah di tubuh orang itu menjadi terbalik. dari awalnya berpusat di jantung terus beredar mengelilingi tubuh, berubah dari seluruh jalan darah di dalam tubuh menuju ke arah jantung. maka dapat di bayangkan akibarnya, jantung korban akan terus menggelembung hingga pada akhirnya meledak pecah.!


Awalnya banci berkebaya merah itu tidak merasakan sesuatu yang aneh hingga dia tertawa menghina. tapi beberapa kejapan mata kemudian orang ini mulai merasakan sesuatu yang tidak nyaman. ujung jari tangan dan kakinya terasa kaku dan kering, sebaliknya dadanya berdenyut semakin cepat, sesak dan teramat sakit.


''Aaaakh., jah., jahanam pincang., apa yang kau., kau., laa., laku., kan pada., diriku., aaakh.!'' jeritan kesakitan mulai tersembur dari mulut Sepuluh Cincin Pembunuh. tubuhnya bergulingan menahan rasa penderitaan yang semakin menggila. bahkan kini dadanya seperti dipompa hingga merah menggembung bengkak. mata hidung dan mulutnya mulai mengalirkan darah. sakit yang teramat sangat.!


''Hen., henti., kan., aaakh., aakh., kumoh., hon hentikan., aku., bel., belum mau mati., ampun., ak., akan ku., kukata., kan sem., aakh., semua., nya..'' ratap orang ini menjerit- jerit minta ampun. setiap dia berteriak melolong, darah juga makin banyak termuntah dari mulutnya. sampai pada suatu titik dimana orangnya tidak mampu lagi berucap. dadanya menggembung bengkak memerah, kedua matanya mendelik dengan tangan menggapai- gapai.


Meskipun demikian bagi si banci berkerudung kebaya merah, setiap kata yang terdengar bagaikan suara palu seorang hakim yang baru menentukan hukuman mati bagi narapidana. tidak ada lagi ampunan., melainkan siksaan paling menyakitkan yang terus berulang- ulang sampai tibanya kematian.


Tangannya semakin lemah menggapai, kedua matanya yang berdarah menghiba lemah. dia seolah ingin berkata ''Bunuh saja aku., tolong kau bunuh diriku sekarang juga., aku sudah tidak tahan lagi dengan siksaan ini., akan aku katakan semuanya., tapi kumohon bunuh saja aku secepatnya.!''


Namun sayang., tidak ada sedikitpun suaranya yang terdengar. dan setiap dia berada di titik akhir menjelang kematiannya, ujung tongkat lawan kembali menotok enpat jalan darah di dadanya hingga aliran darah sesaat menjadi lancar, sebelum kemudian balik menyerbu jantung hingga gembung bengkak. siksaan itu mungkin terlalu kejam, tapi si pincang pernah merasakan yang jauh lebih mengerikan.


''Aku bukan orang yang suka menyiksa lawan, tapi bagaimanapun juga menindas tetap lebih baik dari pada di injak- injak kaki orang lain..'' dua buah totokan yang memancarkan hawa sejuk kebiruan terpancar dari ujung tongkat hitam kepala tengkorak. si banci terjingkat, rasa sakitnya sedikit berkurang, tenaga untuk bicara juga mulai timbul. ''Katakan secepatnya sekarang juga. !'' bentak Pranacitra bengis.


Si banci berjuluk Sepuluh Cincin Pembunuh itu terbatuk beberapa saat sebelum mengatakan semua yang dia ketahui. Pranacitra beberapa kali terlihat kaget mendengar semua yang dia dengar dari orang ini. ''Tadi di awal ucapanmu, kau sempat bilang kalau aku tidak akan berani membunuhmu, katakan kenapa dirimu begitu yakin.?''


''Aku dan yang lainnya boleh saja mati., tapi pihak yang sudah mengatur kami pasti akan membalasnya. merekalah yang terkuat dan pantang untuk di sentuh., Haa., ha., kau pasti mampus bocah pincang jahanam. kau tidak perlu mencabut nyawaku, karena akulah yang akan mengakhiri hidupku sendiri..''


''Tapi aku juga mau seseorang untuk menjadi teman seperjalananku ke akhirat Haa., ha.!'' gema tawa si banci kerudung merah belum lenyap saat dia membuat dua buah gerakan beruntun. bersamaan dengan tangan kanannya yang merogoh sesuatu dari balik baju, jari tekunjuk tangan kirinya menyentil kesamping. selarik cahaya merah berbentuk cincin api menyambar.


Biarpun daya hantam dan kecepatannya sudah berkurang, tetapi karena di lakukan secara mendadak serta sekuat sisa tenaga si banci kerudung merah, Pranacitra tidak sempat lagi menghadang saat cicin maut itu menembus perut kanan Ki Mada. orang tua itu mengeluh tertahan sambil terus memeluk cucunya, si bocah bisu bernama Aji Pradana.


Kemarahan Pranacitra memuncak melihat si banci sudah nekat mengakhiri hidup dengan mengepruk remuk kepalanya sendiri. tangan kanannya yang terkepal seperti menggenggam sesuatu., sebuah bendera kecil berwarna hitam pekat berbau anyir busuk dengan latar belakang dua buah gapura dan bulan purnama berlumuran darah. mata dan mulut si banci yang berdarah terlihat menyeringai licik, seakan dia hendak bicara ''Sampai matipun aku tidak mau rugi., karena selanjutnya kau pasti menyusul ke neraka.!''


*****


Asalamualaikum., mohon maaf bila telat up date, authornya sedang kurang sehat. dia bilang kalau untuk saat ini belum bisa bikin lanjutan novel PTK dan 13 Pbh. tapi tetap dia usahakan. (mungkin mau istirahat 1 minggu) 🤔😓, tapi kalau sudah sehat sebelum seminggu pasti sudah up lagi.🙏😊, Terima kasih. Wasalamalaikum.