Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Pikiran yang sederhana.


Waktu sudah tiba di penghujung senja. sisa cahaya sinar mentari dari ufuk barat membias permukaan air sungai kecil yang mengalir melewati celah bebatuan tinggi. selain airnya jernih dan lebarnya hanya dua tombak saja sungai itu juga tidak begitu dalam sehingga dapat terlihat dasarnya.


Air sungai yang mengalir sedikit beriak serta tidak begitu deras arusnya. sekelompok ikan- ikan kecil nampak berenang mencari makan di antara celah batu dan tumbuhan sungai sebelum akhirnya mereka semburat menjauh setelah muncul seekor ikan besar yang memangsa beberapa ekor diantaranya.


Ikan gabus seukuran lengan orang dewasa itu masih sempat mengibaskan ekornya dengan keras sebelum batok kepalanya yang sebesar kepalan tangan pecah tertembus sebutir batu. bangkai ikan itu hanya beberapa jengkal terbawa arus sungai sebelum muncul sebuah aliran tenaga sakti yang menghisapnya keluar dari dalam sungai.


Hanya butuh waktu sepeminum teh saja bagi pemuda berbaju gelap itu untuk menyiangi ikan gabus sekaligus membakarnya diatas perapian. meskipun tidak ada bumbu yang lengkap tapi anehnya aroma yang keluar dari ikan bakar ini cukup menggugah selera. terutama bagi orang yang perutnya hampir dua hari tidak makan apapun.


Saat itu pemuda bernama Pranacitra ini baru saja keluar dari wilayah hutan lebat tempat gubuk kayu yang dimiliki 'Sepasang Kutu dan Benalu'. dengan mengikuti petunjuk dari mereka untuk terus menerobos hutan hingga bertemu sebuah sungai, diapun dapat keluar dari sana dengan bergerak mengikuti aliran sungai itu. biarpun sudah dapat lolos dari kecurigaan pihak partai Gapura Iblis tapi si pincang ini justru lebih memilih untuk berhenti lebih dulu.


Ada tiga alasan yang membuatnya melakukan itu. pertama dia harus memastikan tidak ada seorangpun yang mengikutinya. untuk lebih amannya Pranacitra sudah membuat dua buah rintangan di tepian sungai dengan memakai batang- batang pohon besar yang tumbang tidak begitu jauh dari tempatnya membakar ikan. dengan demikian dia dapat lebih cepat mengetahui kalau ada orang yang menguntit dan bisa segera menghabisinya.


Alasan yang kedua adalah sekarang ini hari sudah beranjak gelap, sementara dia belum tahu sedang berada di daerah mana. biarpun dia punya ilmu yang sangat tinggi tapi akan lebih baik menghindari masalah. lagi pula., pemuda dari gunung Bisma itu butuh istirahat dan perutnya sangat lapar. itulah alasan yang terakhir.


Tidak berapa lama kemudian ikan gabus bakar itupun sudah tinggal tulangnya. dengan meminum air sungai yang jernih Pranacitra basahi tenggorokan. malam telah turun. tempatnya beristirahat ditepian sungai itu terdapat sebatang pohon besar. sekali dia melompat tubuhnya sudah berada di salah satu cabang lalu tidur bersandar batangnya.


Pagi hari sudah tiba meskipun sinar mentari masih separuh muncul di ujung timur. setelah sempat mandi di sungai untuk membersihkan tubuhnya, Pranacitra kembali meneruskan perjalanan dengan lebih dulu mengenakan sebuah caping daun pandan yang dia buat sendiri sekedarnya untuk menutupi wajahnya. pertama yang dicarinya adalah sebuah desa atau kampung karena dia mesti mencari tahu sedang berada didaerah mana.


Butuh waktu dua kali penanakan nasi untuk bisa bertemu dengan seorang pencari kayu bakar di tepian hutan yang menunjukkan arah ke sebuah perkampungan. walaupun kecil, terpencil dan miskin tapi penduduk kampung itu cukup banyak. di ujung desa itu juga terdapat warung yang menjual makanan.


''Kalau hendak menuju gunung Welirang, arah mana yang mesti aku ambil Ki.?'' tanya Pranacitra seraya melepas capingnya pada lelaki setengah tua pemilik warung sambil menikmati hidangan wedang jahe dan ketan sambal kacang sebagai sarapan. pada awalnya lelaki itu sempat mengira kalau si pemuda pincang yang sepagi ini datang ke warungnya adalah seorang gembel, tapi dia menjadi malu sendiri saat lebih dulu di sodori tiga kepingan uang tembaga sebagai pembayaran.


''Gunung Welirang masih sangat jauh ke arah utara. mungkin dua atau tiga hari perjalanan baru terlihat pandangan mata. mau apa kau jauh- jauh ke sana anak muda. kabarnya tempat itu selain berbahaya juga sangat angker..'' jawab pemilik warung. ''Budheku yang baru saja mati tinggal tidak jauh di kaki gunung itu. orangnya kaya dan terpandang. katanya aku disuruh datang kesana karena ikut kebagian harta warisannya meskipun cuma sedikit..'' jawab si pincang sekenanya.


''Waah., hanya demi harta warisan yang tidak seberapa kau sampai mau berjalan begitu jauh..'' ujar lelaki tua itu geleng- geleng kepala. ''Hee., he., apa yang mesti di herankan. selain melarat dan pincang, aku juga punya banyak hutang karena sering kalah berjudi. lagi pula semua orang pasti suka dengan uang..'' tukas si pemuda itu terkekeh membuat pemilik warung dan beberapa pengunjung di sana merasa agak sebal dengan jawaban pemuda pincang itu.


Pemilik warung makan bernama Ki Kinco masih ingin berbicara lagi tapi dari ujung jalan kampung terlihat lima orang lelaki kekar dengan membekal golok yang terselip di pinggang sedang berjalan cepat mendatangi warungnya. para pengunjung warung seperti sudah mengenali siapa yang datang segera menyingkir jauh setelah lebih dulu membayar makanannya.


''Heehh, Ki Kinco., berikan kami makanan, tuak juga sekalian uang pembayaran untuk keamanan warungmu. cepat lakukan karena masih banyak orang lain yang mesti kami tagih biaya keamanan di kampung ini.!'' gertak orang berbaju lengan pendek bermata besar yang berdiri paling depan seraya menggebrak meja.


''Aam., ampuun tuan., warungku ini baru saja buka. pelanggan yang datang juga baru beberapa orang saja. jadi aku rasa belum dapat membayar uang keamanan pada kalian semua..'' keluh Ki Kinco pelan sambil menunduk ketakutan. ''Kau pikir kami perduli semua itu. urusanku adalah meminta dan menerima upeti untuk keamanan. jadi jangan banyak alasan.!'' damprat orang tinggi yang membawa buntelan karung di punggungnya.


''Kau juga gembel hina, cepat enyahlah dari hadapanku. tampang pucatmu hanya membuat kami muak.!'' umpat orang yang berdiri sebelah kiri dan berperut buncit sambil mendorong jatuh tubuh si pincang dari kursinya. tapi dia sangat terperanjat karena bukan saja niatnya gagal, malah merasa telah mendorong sebongkah batu besar hingga tubuh si pemuda tidak dapat bergeming sedikitpun.


''Huhm., kalian tenang saja. aku juga tidak berniat untuk tinggal lama di warung ini apalagi dengan munculnya lima ekor monyet jelek yang mengganggu sarapan pagi orang. asal tahu saja., diriku paling benci jika waktu istirahat dan makanku terganggu..'' ujar Pranacitra setengah mendengus. tegukan terakhir menghabiskan air wedang di gelas bambunya.


Tanpa beranjak dari tempatnya duduk dia memutar tubuhnya. tangan kanannya terulur ke depan hendak meminta sesuatu. ''Mulai sekarang akulah keamanan di kampung ini juga semua desa disekitarnya. serahkan uang upeti yang sudah kalian ambil lalu cepat pergi dari sini dan jangan pernah muncul lagi.!''


Bukan saja lima orang itu yang berubah hebat air mukanya, malah Ki Kinco yang paling terkejut. ''Bocah pincang ini sudah gila sampai berani mencari perkara dengan anak buah gerombolan rampok 'Begal Landung'. apa yang mesti kulakukan.?'' batinnya khawatir. namun belum sempat dia berpikir lebih jauh. lima orang lelaki itu sudah membentak garang sembari tebaskan golok yang sudah terlolos dari pinggangnya.


'Whuuut., srhaaat., sheeett.!'


'Dhaaasss., dheeess., plaaangg.!'


'Kraass., craask., ''Aaakh., uuagh.!''


Tidak jelas terdengar mana teriakan kesakitan atau suara tubuh yang terhantam juga tulang patah. tapi yang pasti tubuh kelima orang tukang palak itu sudah terjungkal roboh dengan tangan bahu patah, wajah bengkak berdarah, gigi rompal dan goloknya mental entah kemana. biarpun menyadari sedang berhadapan dengan orang berilmu tinggi tapi kemarahan sudah keburu merasuki hati.


Dengan meraung gusar paksakan diri mereka serentak bangkit dan langsung menggebrak dengan pukulan tangan kosong serta tendangan. biarpun sebelah tangannya patah namun dengan andalkan jumlah, kelima orang ini berharap dapat melibas lawannya yang cuma seorang pincang.


''Heshh., orang- orang goblok memang suka cari celaka sendiri..'' desah Pranacitra yang terlalu malas untuk melayani mereka lebih jauh. lima jotosan beruntun mengarah kepala dia hindari hanya dengan merunduk dan berpaling seraya liukkan pinggangnya tanpa mengeser tubuh dari atas bangku kayu.


Tongkat besi hitam di tangan kiri bergerak menyungkit, menotok lalu menyapu. suara meraung parau terdengar bersamaan dengan bunyi tulang- tulang kaki patah hingga menyembul keluar dari kulit dagingnya. darah mengucur disusul lima sosok tubuh yang bertumbangan di hajar tongkat. berikutnya sebuah pukulan sakti bertenaga dalam tinggi yang dilontarkan si pincang memastikan tubuh kelima orang itu remuk tanpa sempat berkelojotan.


Tanpa bicara pemuda ini berjalan terseok. buntelan karung di punggung lelaki tinggi disambarnya lantas di buka. ''Hehm., banyak juga hasil mereka memeras orang. pekerjaan berkedok menagih pajak begini sepertinya enak juga. tidak perlu berpangkat tinggi yang penting bebas ngembat harta dan cepat jadi kaya..'' gumamnya sinis sambil lemparkan buntelan karung itu ke meja warung Ki Kinco.


''Aku cuma mengambil sebagian saja. sisanya bisa kau bagikan pada para penduduk desa..'' kata si pincang lalu berjalan dengan kaki kiri terseret seperti cacing. ''Ttuu., tuung., tunggu dulu anak muda. kaa., kauu., kau sudah cari masalah dengan gerombolan Begal Landung. bukan saja dirimu dalam bahaya, kamipun bisa terkena imbasnya karena mungkin saja anggotanya akan datang kemari..'' seru Ki Kinco ketakutan. demikian juga dengan para penduduk yang melihat pertarungan itu dari kejauhan.


Karena semua yang baru saja terjadi seolah berlangsung begitu cepat. mereka sungguh tidak pernah mengira kalau pemuda pincang bermuka rada pucat dan terlihat sangat lemah itu mampu merobohkan lima anggota gerombolan Begal Landung yang selama ini membuat takut penduduk desa terpencil itu.


''Benar anak muda., apalagi bukit Landung tempat gerombolan itu berdiam tidak begitu jauh dari sini. tidak sampai seperempat hari berjalan kaki ke arah utara..'' terdengar seruan penduduk lainnya. ''Ooh arah utara., kebetulan gunung Welirang yang menjadi tujuanku juga mengarah kesana. jadi aku bisa sekali jalan..''


''Kalian semua tidak perlu khawatir atau takut. singkirkan saja kelima orang bodoh itu dari jalan lalu lupakan semuanya. anggap tidak terjadi peristiwa apapun. ingatlah., jangan pernah lagi membicarakannya.!'' tegas si pemuda dengan suara dan tatapan mata dingin hingga tanpa sadar membuat semua orang merinding ngeri. saat mereka tersadar pemuda itu sudah lenyap dari sana.


Tidak ada lagi yang dapat mereka perbuat. Ki Kinco juga hanya bisa membagikan uang dan harta benda hasil rampasan anggota Begal Landung itu pada para penduduk. meskipun takut untuk menerima tapi lebih berat hati juga bila menolak. kemiskinan seringkali memaksa seorang penakut jadi lebih berani bertindak.


''Aahs biarlah., pasrah saja. dari pada kita mampus akibat melarat dan kelaparan, lebih baik celaka dalam keadaan kenyang. setidak- tidaknya sekali dalam hidup, kami masih sempat merasakan punya harta benda..'' mungkin begitulah yang ada dalam pikiran mereka.


Tetapi kekhawatiran akan pembalasan dari gerombolan Begal Landung yang ada dalam hati para penduduk desa tidak pernah terjadi. malah dalam dua hari berikutnya terdengar kabar yang sangat mengejutkan, semua anggota gerombolan begal rampok di bukit Landung telah tewas terbunuh. sarang mereka musnah terbakar rata dengan tanah.


Para prajurit kadipaten yang coba menyelidiki masalah itu tidak mendapat petunjuk apapun. semua penduduk desa juga memilih diam meskipun mereka dapat mengira apa yang mungkin terjadi di sana. sebenarnya alasan mereka berbuat demikian sangat sederhana. karena kadang kala dengan berpura- pura bodoh dan tidak tahu apapun, selain malah membuat hidup mereka jadi lebih aman juga bisa berumur panjang.


*****


Silahkan tuliskan Komentar Anda, juga Like dan Vote👌jika suka. Terima kasih 🙏☺.