Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Alasan., (yang sebenarnya).


Dari gulungan kabut merah kuning yang menebar keharuman memabukkan terdengar derai tawa mengikik bercampur dengan dengusan berat penuh nafsu kecabulan. ''Hik., hii., hi., Daeng Labisa si 'Hantu Jubah Hijau Bermata Satu' rupanya sudah begitu putus asa hingga cuma bisa pasrah pejamkan matanya menunggu kematian..''


''Haa., ha., sayangku yang cantik, mungkin lelaki tua itu sudah tidak tahan lagi ingin melepaskan hasratnya..'' sahut suara si lelaki pendek berambut gimbal dari balik kabut. ''Uugh., Aagh., manusia seperti dia apakah mungkin masih sanggup bercumbu dengan wanita seperti yang biasa kita lakukan.!'' si tinggi botak ikut pula menimpali di antara suara dengusan nafasnya yang memburu.


''Chuih., lagi pula jika dia masih mampu, aku pikir tidak akan ada perempuan yang sudi melayani lelaki tua jelek bermata picak sebelah itu. jadi biarkan saja dia mampus dalam penderitaan batin akibat darah yang mendidih.!'' cibir si wanita cabul. walaupun suara 'Tiga Iblis Bercinta Merah Kuning' dapat terdengar namun dimana keberadaan mereka tetap tidak bisa di pastikan.


Hampir sekujur tubuh Daeng Labisa telah basah kuyup oleh keringat dan darahnya sendiri. meskipun terlihat sangat lemah dan menderita tetapi anehnya dia justru nampak jauh lebih tenang. berikutnya mendadak Daeng Labisa membuka mata tunggalnya. dengan tangan kiri masih tetap menapak permukaan tanah, telapak tangan kanannya membabat beberapa kali ke belakang tubuh. tiga cahaya hijau setajam mata golok menyambar.!


'Whuuutt., wheett., slaaash.!'


'Braaaakk., blaaamm.!'


''Aaaakh., Uuaagh., tua bangka picak keparat.!'' terdengar jeritan kesakitan disertai makian dari mulut tiga orang. gumpalan kabut kuning merah sesaat sempat tersibak. jarak lima tombak dari tempatnya semak belukar juga sebatang pohon besar nampak terpapras rata. tiga orang terlihat berdiri sempoyongan sebelum kembali ambruk ketanah dengan tubuh bugil berlepotan darah.


Meskipun sedang terluka dalam cukup parah akibat pukulan sakti Daeng Labisa yang datang tanpa diduga namun ketiga orang itu sungguh sudah tidak dapat mengendalikan dirinya. dengan masih saling berpelukan mereka mencoba untuk lontarkan suatu aji kesaktian tetapi Daeng Labisa yang sudah terlalu geram dan jijik tidak mau membuang waktu. sambil berdiri membalikkan tubuhnya dia kembali menghantam lawan.


Sekelebat cahaya hijau menderu ganas. meski masih jenis ilmu kesaktian yang sama tetapi punya daya bunuh lebih kuat. tanpa dapat ditahan lagi Tiga Iblis Bercinta Merah Kuning terjungkal roboh berkelojotan dengan tubuh terkoyak menghijau. sebelum nyawa tercabut dari raganya mereka sempat tidak percaya dan bertanya bagaimana lawan dapat mengetahui keberadaan mereka bertiga.


Daeng Labisa berdiri diam mengatur nafas. orang ini merasa malu dan menyesal telah bertindak bodoh karena sedikit memandang remeh lawan. jika saja dia tidak memberi kesempatan pada ketiga orang itu untuk mengeluarkan ilmu sesatnya, mungkin dia juga tidak sampai mengalami kejadian yang sangat memalukan seperti ini.


Menutup mata lalu berganti menggunakan mata hati untuk melihat. memakai telapak tangan kiri agar dapat merasakan getaran dari tubuh lawan. itulah petunjuk yang dia peroleh melalui sebuah bisikan dari seseorang. sebab bagaimanapun juga ketiga orang cabul itu tetap akan melakukan perbuatan laknat mereka diatas tanah. tidak mungkin mereka berhubungan mesum sambil terbang diudara.


Dalam pertarungan ini Tiga Iblis Bercinta Merah Kuning telah menggunakan kekuatan api hasrat birahi mereka untuk menciptakan kabut beracun yang sanggup membakar darah musuh, sekaligus menghilangkan jejak raga mereka hingga lawan kesulitan untuk menyerang balik. konon kehebatan ilmu jahat ini juga mampu menghisap kekuatan lawan yang terangsang melalui jalan persetubuhan.


Pesilat dari tanah Bugis itu menghela nafas sebelum melangkah menghampiri mayat 'Pengemis Muka Hitam'. setelah mencari- cari disekujur tubuh mayat, akhirnya Daeng Labisa mendapatkan apa yang dia inginkan. cukup sulit menemukan barang itu karena selain cukup kecil ukurannya juga tersembunyi di bawah kulit paha kiri pengemis itu.


''Rupanya gembel tua ini tahu betul nilai dari benda ini hingga sampai nekat merobek kulit pahanya untuk tempat penyimpanan..'' batin Daeng Labisa. mata tunggalnya mengamati sebuah lempengan batu berwarna hitam kemerahan. jika diamati sebagian sisinya berbentuk bundar rata sedang sisi lainnya tidak beraturan. dia paham kalau masih ada beberapa lagi benda sejenis yang kalau di satukan dapat menjadi sebentuk lempengan.


Tidak berapa lama kemudian dari kegelapan hutan muncul sebuah kereta kuda. jika dinalar sangat tidak masuk akal sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda hitam ini dapat melewati hutan yang rapat dengan jalan yang gelap dan sempit. tapi kenyataannya kereta kuda yang terlihat cukup mewah dengan warna emas hitam yang mencolok sudah berada beberapa langkah didepan Daeng Labisa.


Lelaki setengah tua itu melirik sekejap ke arah kusir kereta kuda itu. dia adalah seorang pria bertubuh kekar tambun dengan pakaian kelabu kehitaman. meskipun wajahnya tidak begitu jelas terlihat karena sebagian tertutupi caping bambu namun masih nampak sebuah bekas goresan luka bakar dan sayatan senjata di bawah mata kanan hingga dagu terus ke samping leher sampai atas dada sebelah kanan.


Daeng Labisa tahu siapa orang ini karena dia bukan lain adalah bekas seorang kepala rampok terkenal dari alas Roban yang disebut sebagai 'Garong Rawit Bolot'. selain itu mereka berdua juga sudah pernah bekerja bersama- sama sebelumnya. ''Tidak biasanya keadaan sobat tuaku ini sampai tidak karuan begini. minumlah dulu agar hilang kekesalan di hatimu..'' sindir Garong Rawit Bolot sambil lemparkan sekendi minuman yang langsung diterima rekannya. saat bicara suara orang ini terdengar rada berat, sesak dan parau.


Setelah meneguk minumannya Daeng Labisa menjura hormat di depan pintu kereta kuda. ''Salam hormat tuan muda., seperti yang kau perkirakan barang itu memang berada di tangan Pengemis Muka Hitam. aku sudah mendapatkannya sesuai perintahmu. juga kuucapkan terima kasih karena dirimu telah memberi petunjuk disaat nyawaku terancam..''


''Aaish., sudahlah jangan membicarakan lagi urusan yang sudah berlalu. terpenting kau selamat dan benda itupun sudah kita dapat..'' satu suara seorang lelaki memotong ucapan Daeng Labisa. dari cara bicaranya dia pasti masih sangat muda yang terkesan sedang bersantai atau malah mengantuk. dari dalam kereta itu keluarlah seseorang.


''Berikan benda itu padaku paman Daeng, biar aku yang menyampaikannya pada tuan muda. Eeh., tunggu. dia juga memberikan ini untukmu. harap jangan dibuka dulu yah..'' ujar gadis itu. sambil memberikan sebuah kotak kayu kecil pada Daeng Labisa yang juga ganti memberinya lempengan batu merah hitam.


Gadis itu cepat kembali masuk ke dalam kereta kuda. terdengar ada pembicaraan yang samar dari dalam sana. ''Daeng Labisa, si Hantu Jubah Hijau Bermata Satu. aku ucapkan terima kasih atas semua jerih payahmu selama mengikutiku. karena itulah mulai hari ini aku ijinkan dirimu untuk kembali ke tempat kelahiranmu di tanah Bugis dan jangan pernah datang lagi kemari.!''


Ucapan yang terdengar santai itu justru sangat mengejutkan Daeng Labisa. bahkan Garong Rawit Bolot juga merasa diluar dugaan. seakan tahu kalau orang tua itu hendak membantah pemuda didalam kereta sudah menukas. ''Semakin lama umurmu juga bertambah makin lanjut. sampai kapan kau kelayapan di tanah Jawa ini. apakah kau tidak rindu pada keluargamu.?''


''Buka saja kotak kayu pemberianku itu. meski isinya tidak sehebat batu sakti 'Nirmala Biru' yang kabarnya sanggup memusnahkan segala macam racun, tapi kuyakin tiga benda dalam kotak itu juga mampu menyembuhkan penyakit istri dan anak perempuanmu..'' Daeng Labisa tercengang sebentar baru kemudian membuka kotak kayu kecil dengan tangan gemetaran. ''Aah., iin., ini., bukankah ini adalah 'Mutiara Bintang Langit' yang sangat langka.!'' serunya terperanjat.


''Tuan muda., ini terlalu berharga untukku. aku tidak bisa menerimanya..'' ujar Daeng Labisa berusaha menolak karena tahu benar betapa tinggi nilai sebutir mutiara bersinar keperakan itu. dalam kotak itu tidak cuma satu tetapi tiga mutiara sekaligus. ''Itu memang sangat berharga, tapi tidak sebanding dengan nilai dari suatu keluarga. dalam kotak itu juga terdapat petunjuk bagaimana cara meramu Mutiara Bintang Langit untuk dijadikan obat..''


Ucapan itu masih terdengar santai kemalasan tapi ada kekuatan di sebaliknya yang tidak dapat di bantah. akhirnya Daeng Labisa cuma dapat menarik nafas dan menghormat lebih dalam. ''Tuan muda., dulu kau pernah menyelamatkan diriku dari kematian, meski itu dengan persyaratan kalau aku mesti menjadi kaki tanganmu. terus terang saja walaupun pada awalnya diriku merasa gusar dan terpaksa tapi lambat laun aku justru sangat senang bekerja dibawah perintahmu..''


''Harap maafkan jika diriku bicara lancang. tapi aku mempunyai suatu permintaan. mohon kau tetap membiarkanku si Hantu Jubah Hijau Bermata Satu untuk menjadi kaki dan tanganmu yang ke 49, dan jangan pernah mengganti kedudukanku kecuali diriku mati..'' ujar Daeng Labisa menjura penuh harap. hingga beberapa lama tidak terdengar jawaban apapun sampai akhirnya pemuda dalam kereta berkata singkat. ''Pergilah. jaga keluargamu..''


Daeng Labisa menghela nafas sedih, tapi wajah dinginnya berubah lebih cerah karena mendengar si kusir kuda bicara, ''Tuan muda memang tidak menyetujui permintaanmu, tetapi dia juga tidak bilang akan menolaknya. yang terpenting kau urusi dulu penyakit yang telah lama di derita anak dan istrimu. inilah alasan tuan muda yang sebenarnya..''


Orang tua ini tersenyum dingin pada si kusir kuda dengan pandangan berterima kasih. ''Harap kau jaga tuan muda kita dan kedua nona pendampingnya. setelah kembali ke Bugis, entah kapan kita dapat bertemu lagi. sobat Garong Rawit Bolot..'' gumamnya pada rekannya yang tepuk dadanya sendiri. ''Kau tidak perlu khawatir. lagi pula memangnya di dunia persilatan ini, siapa orang gila yang berani mencari perkara dengan tuan muda pemalas dari 'Kota Hantu Pagi.?''


Daeng Labisa tertawa bergelak mendengar ucapan kawannya. setelah sekali lagi mengucap salam hormat diapun berkelebat tinggalkan hutan itu. kalau saja ada orang persilatan yang mendengar kalau orang yang berada dalam kereta kuda itu bukan lain adalah penguasa wilayah terlarang, Kota Hantu Pagi, pasti mereka bakal kabur sejauh mungkin atau malah sudah pingsan ditempat.


Dalam kereta kuda itu terbaring seorang pemuda berjubah putih yang dengan sikap santai dan kemalasan duduk diatas sebuah kursi malas selonjoran kaki. agak sulit untuk menggambarkan raut wajahnya kecuali cukup tampan dan menarik hati. namun juga seperti sedang menyimpan suatu rahasia yang menyeramkan. pemuda ini melirik gadis yang punya wajah sangat cantik dan sedang duduk di sebelah kanannya sambil membaca sebuah buku catatan dengan sikap anggun.


Sementara gadis satunya yang punya lesung pipit juga duduk di sebelah kiri pemuda itu sambil sesekali memberikan butiran kacang goreng beraroma bawang pada si pemuda pemalas. ''Dari kepingan batu pusaka yang kita cari, tiga diantaranya sudah didapat. menurut perhitungan tinggal dua keping lagi yang dibutuhkan untuk bisa membuka rahasia dari 'Orang Itu..''


''Apakah nona 'Camar Anggun' dan 'Pipit Lincah' tahu dimana kira- kira tempat yang mesti kita kunjungi atau siapa orang yang mungkin memilikinya.?'' tanya si pemuda pemalas yang rupanya adalah majikan dari Kota Hantu Pagi itu pada kedua orang gadis disamping kiri- kanannya. ''Eehm., sulit aku memastikannya tuan muda. tapi dari semua kemungkinan dan berita yang pernah kita dapat, salah satu dari dua kepingan batu pusaka itu berada di tangan ketua dari 'Kelompok 13 Pembunuh.!''


Jawaban gadis bernama nona Camar Anggun itu membuat sang tuan muda terdiam. ''Kalau begitu kau cari tahu lebih dulu kepingan yang satu lagi berada dimana. saat ini terlalu berbahaya jika menyatroni markas rahasia 13 Pembunuh dipulau 'Seribu Bisa.!'' dengan suatu ketukan isyarat gadis bernama nona Pipit Lincah memerintahkan kusir kuda agar menjalankan keretanya untuk meninggalkan tempat itu. tidak berapa lama kemudian sinar mentari telah muncul di ufuk timur sebagai pertanda pagi hari telah tiba.


...............


Asalamualaikum., Salam sehat dan sejahtera selalu buat kita semuanya. Mohon maaf novel Pendekar Tanpa Kawan tidak dapat Update untuk seminggu ke depan dikarenakan kesibukan kerja Authornya. (tapi untuk novel 13 Pembunuh mungkin masih ada Update satu kali lagi.)


Silahkan tuliskan komentar Anda, like👍, Vote👌, kritik dan sarannya, juga Share novel ini ke teman- teman Anda yang lainnya. Terima kasih🙏, Wassalamualaikum.