
Sebuah air terjun besar yang terus tercurah dari atas tebing tinggi itu terlihat berkilauan di timpa sinar mentari pagi hingga timbulkan selapis kabut tipis serta membiaskan cahaya warna- warni yang indah saat terhempas jatuh ke dalam permukaan sungai yang mengalir deras dibawahnya.
Mungkin air terjun besar ini adalah salah satu sumber mata air dari sungai itu yang letaknya sangat terpencil dan dikelilingi pepohonan hutan lebat di kedua sisinya. meskipun di sungai itu terdapat banyak sekali ikan besar namun sepertinya tidak ada orang luar yang berani mencari ikan ditempat ini, karena selain suasananya agak angker, bisa jadi di dalam sungai terdapat buaya, ular berbisa atau binatang buas lainnya disekitar hutan pinggiran sungai.
Namun saat matahari pagi baru saja naik ke permukaan, dari ujung kelokan sungai yang lebarnya mungkin sepuluh tombak itu muncul sebuah perahu kecil dengan penumpang dua orang. yang satu lelaki empat puluhan tahun dan seorang anak gadis muda berpakaian gelap lusuh tanpa lengan yang mungkin baru berumur empat atau lima belas tahunan. raut wajah gadis itu tidak terlihat karena sengaja ditutupi selembar kerudung hitam.
Dengan menggunakan sebuah dayung kayu lelaki berpakaian biru gelap ini mendayung perahunya hingga dapat melaju dengan cepat. padahal jelas kalau perahu kayu itu sedang bergerak melawan arus sungai yang cukup deras, tetapi seolah tidak mengalami kesulitan. ini menandakan kalau pendayung bukanlah manusia biasa melainkan punya kemampuan tenaga dalam cukup tinggi.
Walaupun ditengah aliran sungai yang cukup dalam ini terdapat banyak tonjolan batu- batu padas yang tidak terlihat karena terendam air sehingga dapat menghancurkan perahu kayu itu bila tanpa sengaja menabraknya namun si pendayung seperti sudah paham dimana saja letak dari tonjolan batu padas itu hingga dia dapat melewatinya dengan selamat.
Perahu kayu semakin dekat dengan air terjun. mungkin jaraknya hanya terpaut lima tombak. di sana kekuatan arus air yang mengalir juga terasa semakin keras. anehnya perahu itu terus saja melaju malah dengan dua kali dayungan kuat disisi kiri- kanan perahu, si pendayung mampu menembus gulungan pusaran air terjun yang bergolak hingga perahunya menembus ke dalam guyuran air terjun yang tercurah dari atas tebing tinggi.!
Rupanya dibalik air terjun itu tersembunyi sebuah goa batu yang sangat luas. didalam sana terlihat beberapa orang berbaju hitam sedang berjaga. sebagian ada juga yang sibuk memperbaiki beberapa perahu kayu rusak dengan berbagai macam ukurannya. mereka sempat berhenti sejenak dengan sikap waspada dan siap labrak saat melihat ada perahu yang menerobos masuk ke balik air terjun deras itu.
Tetapi semuanya hanya mengangguk hormat lalu kembali teruskan kembali tugasnya setelah mengetahui siapa pendatang ini. dua orang penjaga cepat datang menyambut mereka. ''Yang mulia ketua besar dan para pimpinan sudah menunggu kedatanganmu di ruangan dalam. sebaiknya Ki Suro Dares segera menemui mereka..''
Lelaki yang dipanggil sebagai Suro Dares ini hanya mengangguk. bersama dengan gadis muda yang datang bersamanya, merekapun berkelebat masuk kedalam lorong goa batu. kedua penjaga itu sebenarnya agak curiga dengan gadis berkerudung hitam yang masih belasan tahun itu. tapi saat melihat gerakan tubuhnya yang sangat ringan, seketika air muka mereka berubah hebat.
''Aah., rupanya dia bukanlah golongan gadis sembarangan..'' batin keduanya kaget. biarpun tidak dapat melihat bagaimana raut wajahnya tapi dari sebagian kulit lengan dan bahunya yang terbuka kedua penjaga ini masih sempat melihat adanya bekas luka bakar, juga sebuah gulungan mirip cambuk yang tergantung di pinggang kirinya.
Gadis berbaju hitam tanpa lengan yang wajahnya tertutup kerudung itu terus melesat maju mengikuti lelaki setengah umur yang berlari didepannya melewati beberapa lorong goa. dalam hati gadis ini sempat terperanjat karena tidak pernah menyangka kalau ada banyak ruang dan lorong dalam goa rahasia yang berada di belakang guyuran air terjun besar ini.
Sepanjang lorong mereka sempat bertemu dengan beberapa orang. ada yang bertugas jaga, sebagian pula sedang mengangkut beberapa peti barang. meskipun merasa curiga dengan kehadiran dirinya namun para penjaga itu hanya mengangguk hormat setelah melihat lelaki bernama Ki Suro Dares itu datang bersamanya.
Setelah melalui suatu belokan lorong goa yang menurun, sampailah mereka pada sebuah pintu yang dijaga oleh dua orang. setelah memberi hormat tanpa bicara mereka membuka pintu yang terdapat ukiran sepasang telapak tangan dan sebuah garis kilatan petir dibagian tengahnya.
Ki Suro Dares memberi isyarat agar gadis yang berdiri di belakangnya untuk ikut masuk ke dalam ruangan. disana langsung terlihat seorang lelaki tua berpakaian mewah warna hitam dengan blangkon penutup rambut yang juga berwarna hitam sedang duduk santai disebuah kursi goyang. di antara jemari orang tua itu yang berhias cincin emas permata nampak menjepit sebuah pipa cangklong.
Setiap kali mulut peotnya menghisap pipa cangklong besi berwarna hitam itu lantas dia hembuskan, segera tersebar bau asap kemenyan. dalam ruangan yang dindingnya berlapis papan- papan kayu jati dan diterangi beberapa pelita minyak di beberapa sudutnya itu juga hadir empat orang lainnya. seorang lelaki kekar berbaju putih bercaping bambu dan membawa sebuah dayung besi.
Satu lagi lelaki tampan empat puluh tahunan berkumis tipis dengan sikapnya yang santun tersenyum lemah lembut seperti seorang banci serta memakai jubah biru muda. saat diperhatikan jemari tangannya buntung tujuh sehingga tinggal tiga buah jari telunjuk, tengah dan jari manis berwarna hijau, merah juga biru.
Dua orang lainnya masih adalah pria gemuk pendek yang jika di lihat dari tampang serta kedua matanya seakan sedang mengantuk. di sampingnya berdiri seorang perempuan tua berjubah kelabu yang mata kanannya juling serta cara berdirinya seperti berjinjit karena tumitnya tidak menyentuh lantai. biarpun merasa heran dengan kehadiran gadis muda berkerudung hitam yang sejak datang selalu menunduk ini tapi empat orang itu tidak mau banyak bertanya.
''Ketua besar 'Malaikat Copet., aku Suro Dares memohon maaf karena datang menghadap dengan membawa orang luar. untuk itu saya bersedia terima hukuman..'' ujar orang yang bernama Suro Dares itu lalu berlutut. rupanya orang tua perlente berblangkon hitam itu bukan lain adalah si 'Malaikat Copet' sang ketua dari perkumpulan 'Maling Kilat' yang terkenal dalam rimba persilatan. dari sini dapat di pastikan kalau tempat ini juga merupakan markas rahasia dari perkumpulan kaum pencoleng itu.!
''Kau tahu hukuman berat termasuk juga kematian dapat terjatuh padamu karena telah berani lancang membawa orang luar kemari. lantas kenapa masih nekat melakukannya. apakah otakku sudah mulai tolol dan gila atau memang telah bosan dengan kehidupanmu.?'' tegur Malaikat Copet berang. ''Aaish., aku tahu semua itu bukanlah sifatmu. tentu ada suatu alasan untuk melakukan perkara bodoh seperti ini. sekarang katakan apa maksudmu Suro Dares.!''
''Apa katamu., kau bilang gadis yang kau bawa ini pernah berjumpa dengan si bocah pincang itu. memangnya siapa anak perempuan ini.?'' cecar Malaikat Copet karena jawaban Suro Dares tidak cuma mengejutkan ketua Maling Kilat itu tapi juga empat orang lainnya. gadis berkerudung hitam yang juga ikut berlutut dibelakang Suro Dares itu perlahan angkat kepalanya. dengan tangan kiri dia sibak kain kerudungnya hingga wajahnya terlihat jelas.
Kecuali si Malaikat Copet empat orang yang lainnya sama tertegun bahkan si gemuk pendek bertampang mengantuk sampai keluarkan suara tercekat. semua mata menatap gadis itu dengan pandangan iba juga simpati karena wajah gadis ini ternyata cacat bekas luka bakar dan picak mata kirinya.!
''Namaku yang rendah ini adalah Rinai. dalam dunia persilatan aku punya sedikit gelaran jelek si 'Kusir Picak Muka Bopeng'. meskipun tidak terlalu erat namun hubunganku dengan Pranacitra cukup dekat. seperti yang telah dikatakan paman Suro Dares, memang akulah orang yang terakhir bersama dengan si 'Setan Pincang Penyendiri' itu sebelum kabar berita tentang kematiannya tersebar dan membuat geger kalangan persilatan..'' ujar gadis yang rupanya Rinai, salah satu kenalan si pincang.
''Ooh., aku sudah pernah mendengar tentang dirimu juga latar belakangmu. meski diriku cukup bersimpati atas semua kejadian masa lalumu yang kelam tapi itu bukan berarti kau akan lolos dari hukumanku jika jawabanmu tidak membuatku puas. jadi sekarang., katakan semua yang kau ketahui tentang bocah itu dan bagaimana kalian bisa bertemu.!'' gertak Malaikat Copet dengan pandangan mata tajam menusuk.
Dengan terlebih dulu menarik nafas berat Rinai mulai bertutur hampir segala yang dia ketahui dan alami bersama Pranacitra sejak mereka bertemu untuk pertama kalinya bersama dua orang murid perguruan 'Pedang Samudera' juga si 'Pendekar Harimau Putih' bahkan sempat pula bertarung. bahkan juga saat mereka tinggal bersama Srianah di dalam gubuk jamunya juga dia katakan.
''Apakah ketua besar Malaikat Copet pernah mendengar tentang Pendekar Harimau Putih itu atau juga rahasia riwayat hidupnya.?'' tiba- tiba Rinai bertanya. meskipun kurang senang tapi Malaikat Copet mau menjawab juga. ''Aku sudah pernah mendengar tentang orang ini tapi sayangnya tidak begitu jelas..''
''Selentingan kabar yang pernah didapat oleh mata- mata kami pernah mengatakan kalau orang brewok tinggi besar itu menyimpan beberapa rahasia besar dalam dirinya. tapi apa hubungan semua ini dengan pertanyaan yang kuajukan padamu. Huhm., bocah picak sialan., kau jangan pernah berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.!'' hardik Malaikat Copet menatap geram.
Yang diancam malah balas menatap. ''Aku akan bicara langsung saja ketua. terus terang saja sebenarnya aku sudah kenal cukup lama dengan Pendekar Harimau Putih bahkan sebelum Pranacitra mengenal orang ini. yang akan kukatakan padamu ini adalah sebuah rahasia besar berkaitan dengan Pranacitra dan rahasia dari Pendekar Harimau Putih..''
''Kalian pasti tidak akan pernah menyangka kalau Pendekar Harimau Putih yang selama ini dikenal sebagai pesilat aliran lurus bersih sebenarnya adalah mata- mata rahasia dari partai aliran hitam terkuat 'Gapura Iblis'. kau juga tidak bakal mengira kalau lelaki brewok ini sesungguhnya adalah pewaris tunggal dari partai silat 'Kipas Sangkala' yang pernah berkuasa di daerah timur.!''
Segala penuturan yang keluar dari mulut Rinai selain terasa begitu cepat dan mengejutkan juga membuat semua orang yang mendengar seolah menjadi sesak nafas. belum lagi mampu tenangkan diri masing- masing, Rinai sudah memberikan berita yang semakin membuat mereka bingung, cemas sekaligus gembira, terlebih lagi bagi Malaikat Copet.
''Aku tahu perkumpulan Maling Kilat sedang sibuk mencari tahu kebenaran berita tentang kematian si pincang. harap ketua besar tidak khawatir, karena pemuda yang pernah kau selamatkan jiwanya itu sebenarnya masih segar bugar. atau lebih tepatnya., sekarang ini dia hidup dalam kematiannya.!''
Rinai tidak meneruskan penjelasannya. dia mengamati raut wajah semua orang yang berada dalam ruangan itu termasuk Malaikat Copet dan Ki Suro Dares yang terlihat seperti orang yang sedang sakit perut dan punya banyak hutang. dengan sedikit tertawa gadis itu mengambil sesuatu dari balik baju hitamnya yang lusuh berupa buntelan kulit dan dia berikan pada Malaikat Copet.
''Ini adalah barang titipan dari Pendekar Harimau Putih yang sudah lama dia simpan rapat. dikarenakan saat ini orang itu tidak dapat lagi keluar dari tempatnya. lagi pula., dia merasa barang itu tidak sesuai dengan dirinya. di dalam bungkusan itu ada sebuah surat rahasia mengenai siapa dirinya dan hubungan antara dia dengan Pranacitra juga diriku..'' pungkas Rinai seakan malas untuk bicara terlalu banyak.
Malaikat Copet biarpun merasa sangsi dan curiga namun tetap menerima buntelan kulit itu. saat dibuka memang ada sebuah surat dari lembaran kain yang terjatuh ke atas meja di depannya. saat hendak mengambil surat itu dan membacanya, matanya melihat pendaran cahaya merah hitam redup dari balik buntelan kulit itu.
Baru sekarang dia sadar ada hawa aneh dan menyeramkan terbersit dari sana. karena penasaran diapun membuka isi buntelan kulit binatang itu. rupanya sumber dari kekuatan hebat yang dirasakannya itu berasal dari sebuah kipas berwarna merah darah. saat kipas di bentangkan, terlihat sebuah lukisan rembulan dan matahari berwarna emas perak.
''Bocah perempuan picak., dari mana kau dapatkan senjata pusaka 'Kipas Darah Bulan Mentari' ini.?'' seru Malaikat Copet terperanjat. jika Suro Dares dan Rinai malah melongo karena tidak tahu apapun mengenai kipas aneh itu, tidak demikian dengan empat orang lainnya yang berada di sana. keterkejutan mereka bahkan jelas lebih terlihat di banding pimpinannya.
------------
Silahkan menuliskan komentar Anda. Terima kasih, βΊπ.