Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Panggung pertarungan (bag1)


Semakin hari beranjak terang suasana di gunung Semeru juga semakin bertambah ramai. para pendekar yang datang dari berbagai kalangan terus berdatangan. karana tidak ada batasan yang jelas antara tempat kaum persilatan aliran putih dan golongan hitam di sana, maka tidak dapat di hindari adanya sedikit perselisihan yang timbul di antara mereka.


Jika hanya masalah kecil, tentu para murid perguruan 'Naga Biru' masih dapat mengatasi. tapi lain hainya jika pertikaian itu menyangkut soal dendam pribadi di antara pendekar aliran putih dan pesilat golongan hitam. murid- murid perguruan Naga Biru juga tidak mau lagi mencampurinya.


Seperti yang terjadi saat ini, ada dua orang pesilat dari aliran putih yang hendak bermaksud membunuh seorang pesilat dari golongan hitam dengan alasan pendekar aliran hitam itu telah banyak berbuat kejahatan dan membunuh seorang kerabat mereka.


Biarpun pertarungan tidak dapat di hindarkan lagi, namun mereka di berikan suatu tempat yang agak jauh dari sana untuk menyelesaikan semua hutang nyawa diantara kedua belah pihak agar tidak sampai menggangu acara utama yang terjadi di atas panggung besar.


Bagi para kaum persilatan yang hadir di sana, kejadian sepert itu hanyalah sesuatu yang biasa saja. karena pertikaian diantara para pendekar di dunia persilatan memang kerap terjadi. bahkan bukan sesuatu yang aneh jika masalah sepele bisa berujung dengan bunuh membunuh.


Malahan dengan adanya pertarungan di antara kaum persilatan yang hadir di gunung Semeru itu dapat memberikan semacam hiburan bagi yang lain seraya mereka menunggu acara puncak yang sebenarnya. mereka tidak peduli jika hiburan itu mesti mempertaruhkan nyawa.


Setelah lewat dua puluhan jurus kalah menang sudah dapat di tentukan. bersamaan dengan suara teriakan parau dari dua orang pesilat yang mengaku berasal dari golongan putih itu. tubuh merekapun tumbang dengan dada berlubang tertembus tombak pendek lawan.


Sebaliknya si pesilat yang di sebutkan berasal dari aliran hitam jatuh terduduk dengan tangan kiri putus dan pinggang kanan luka tersambar pedang. dua orang murid perguruan Naga Biru mendadak muncul di depan orang ini. dengan empat kali tikaman pedangnya, mereka cepat menghabisi nyawa orang aliran hitam yang sudah tidak berdaya itu.


''Huhm., orang ini adalah Ki Gorda Blabak. seorang pesilat jahat yang sudah sering kali membuat keonaran. kami dari perguruan silat Naga Biru merasa punya kewajiban untuk menyingkirkan kaum durjana di rimba persilatan..''


''Sebagai salah satu dari sepuluh perguruan silat terbesar aliran putih, maka kami para murid Ki Galing Brajapaksi si 'Dewa Naga Langit'. guru besar perguruan silat Naga Biru harus turut serta membasmi kejahatan dan menegakkan kebenaran.!'' seru kedua orang murid perguruan Naga Biru itu sambil kembali ke barisannya dengan membusungkan dada.


Banyak para kaum pesilat yang sama bertepuk tangan dan mengeluarkan pujian pada kedua murid Naga Biru itu. meskipun banyak juga yang hanya diam bahkan mencibir karena merasa kalau tindakan itu seperti kaum pengecut karana menyerang lawan yang sudah tidak berdaya. meskipun hal ini di lakukan untuk melenyapkan seorang perusuh.


Tapi siapa yang berani bicara di depan partai Naga Biru. semuanya itu cuma dapat mereka pendam dalam hati. apalagi saat melihat sang pemimpin perguruan besar itu sudah naik ke atas panggung di iringi suara gemuruh tepuk tangan dan sorak sorai para hadirin.


Dari caranya naik ke atas panggung besar setinggi satu tombak itu tanpa sedikitpun menimbulkan suara dan getaran, dapat di pastikan kalau ilmu kesaktian ketua perguruan silat Naga Biru ini memang sangat tinggi.


Seorang pria lima puluhan tahun tinggi besar bertampang gagah meski rambutnya sebagian sudah beruban. mengenakan jubah dan ikat kepala biru dengan sulaman lambang naga melingkari gunung di bagian dadanya. dengan sebatang pedang berikiran kepala naga yang tergantung di pinggangnya membuat Ki Galing Brajapaksi si Dewa Naga Langit terlihat lebih berwibawa.


''Saudara- saudara para pendekar hebat dunia persilatan., pagi hari ini ijinkan aku Ki Galing Brajapaksi sebagai ketua perguruan silat Naga Biru untuk menyampaikan ucapan selamat datang di gunung Semeru, sekaligus ungkapan terima kasih karena para kaum pendekar sudah bersedia untuk menghadiri undangan di pertemuan besar ini..''


''Kami juga memohon maaf bila penyambutan yang kami berikan di rasakan kurang berkenan bagi saudara semuanya..'' ucap Ki Galing Brajapaksi sambil menjura hormat di depan ribuan orang yang hadir di sana.


Saat berbicara suaranya terdengar menggema sampai jauh serta mampu menggetarkan dada dan aliran darah. sepertinya dia sengaja ingin menunjukkan kekuatan tenaga saktinya pada semua orang. beberapa pesilat berilmu rendah sampai jatuh terduduk bahkan muntah darah saking tidak mampu menahan getaran suara yang di lambari tenaga dalam tinggi itu.


''Ki Galing Brajapaksi., untuk apa kau pamer kekuatan seperti ini. apa kau anggap kami semua ini manusia tolol yang bisa kau jadikan barang mainan dan sasaran empuk untuk menunjukkan ilmu kedigjayaanmu.!'' terdengar seruan seseorang di antara para hadirin.


''Huh., kami semuanya jauh- jauh datang ke puncak gunung Semeru ini bukan cuma ingin kau pameri ilmu kesaktian. melainkan karena ada pertemuan penting yang katanya untuk membicarakan permasalahan yang terjadi di rimba persilatan.!''


''Benar sekali., tadinya kami merasa senang dengan undangan pertemuan besar ini yang di prakarsai oleh salah satu perguruan silat ternama aliran putih. tapi melihat kelakuan pengecut murid perguruan Naga Biru yang hanya berani membunuh orang yang sudah tidak berdaya seperti Ki Gorda Blabak, membuat hati seperti ingin muntah.!'' terdengar beberapa suara yang bersautan dari tengah ribuan orang pesilat yang hadir di sana.


Ki Galing Brajapaksi dan para muridnya sama merutuk dalam hati mendengar ucapan hinaan itu. apalagi mulai banyak juga kaum persilatan yang punya pendapat sama dan sekarang mulai berkasak- kusuk dan mencibir sinis.


''Kurang ajar., siapa orangnya yang berani menghina perguruan silat Naga Biru.?''


''Dasar manusia- manusia keparat, rupanya ada yang sengaja mencari masalah dalam pertemuan besar ini.!'' bentak para murid perguruan silat Naga Biru sambil berusaha mencari si pemilik suara di tengah banyaknya orang di bawah panggung.


''Sialan., kalau memang tidak puas dengan kami dari perguruan silat Naga Biru, kenapa tidak berani tunjukkan diri. jangan cuma bisa bersembunyi seperti seorang pengecut.!'' teriak salah satu murid utama perguruan itu. meskipun sudah sedari awal mencari, tapi mereka tidak dapat menemukan si pemilik suara itu.


Suaranya seperti berpindah- pindah asalnya, dari nadanya yang berbeda mereka menduga yang mengucapkannya lebih dari dua orang. Ki Galing Brajapaksi dan para tamu undangannya yang duduk di depan panggung sama tahu, kalau orang yang berbicara ini memiliki ilmu 'Pemecah Gelombang Suara' yang tinggi.


''Haa., ha., alangkah lucunya para murid Naga Biru ini. mereka yang berbuat memalukan tapi sekarang malah menuduh orang lain sebagai pengecut. Ki Galing Brajapaksi memang luar biasa dalam mendidik para muridnya hingga pandai bersilat lidah.!" sindir suara itu sambil tertawa bergelak. tanpa sadar beberapa orang ikut tersenyum dan tertawa geli.


Kejadian itu seketika membuat suasana jadi semakin tegang. Ki Galing Brajapaksi alias Dewa Naga Langit sekilas menatap gusar pada para muridnya. akibat kelakuan mereka justru membuat ketua perguruan silat itu jadi dipermalukan.


"Kawan dari mana yang ingin bermain- main dengan perguruan silat Naga Biru, jika sobat memang seorang ksatria sejati kenapa tidak berani hadir di atas panggung. biarpun diriku hanyalah seorang tamu undangan tapi akan kucoba untuk menani sobat bermain barang beberapa jurus.!" ucapan ini dibarengi dengan berkelebatnya sesosok bayangan ungu keatas panggung. gerakannya sangat ringan dan juga mantap hingga banyak orang yang berdecak kagum melihatnya.


"Sepasang Cakra Malaikat.!" seru beberapa orang melihat kehadiran seorang pemuda gagah namun dengan lagak sedikit angkuh berjubah ungu di atas panggung. mereka menjadi geger karena yang tidak menyangka kalau pemuda ini langsung mau turun tangan.


"Seharusnya masalah seperti ini tidak perlu sampai merepotkan saudara.." ujar Ki Galing Brajapaksi sedikit berbasa- basi kepada salah satu pendekar muda pendatang baru yang sudah punya nama di rimba persilatan itu.


"Ketua Dewa Naga Langit adalah tokoh silat aliran putih yang punya kehormatan tinggi. kurasa orang itu cuma ingin memgacaukan acara besar yang di gagas oleh Ki Galing Brajapaksi.." jawab pemuda itu goyangkan tangannya tanpa menoleh.


Saat itulah kembali terdengar suara menyahuti ''Sayang sekali tokoh silat muda berbakat dari aliran putih yang berjuluk Sepasang Cakra Malaikat sampai mau di peralat Ki Galing Brajapaksi. padahal orang ini sudah bergaul dengan golongan hitam seperti si 'Pengemis Gelap' dan nenek Saringgit alias 'Nenek Siluman Berjubah Merah.!''


''Bangsat dari mana yang hanya berani berkoar di balik kerumunan. panggung sudah terbuka, cepat tunjukkan dirimu sekarang.!'' teriakan itu di barengi dengan berkebatnya dua bayangan merah hitam ke atas panggung. dalam sekejap saja si Pengemis Gelap dan Nenek Siluman Berjubah Merah sudah hadir di sana dengan bertolak pinggang.


''Haa., ha., kebetulan sekali kalian berdua naik ke atas panggung. asal tahu saja ada orang di luar sana yang sudah membayarku mahal untuk menghabisi nyawa kalian berdua.!''


Sekelebat bayangan putih yang bergerak meliuk- liuk cepat bagaikan ular berbisa terlihat menerobos kerumunan ribuan orang di bawah panggung. saat tiba di depan panggung sosok bercaping bambu itu sempat dihadang tiga orang murid Naga Biru yang bermaksud mencegatnya dengan serangan pedang yang cepat. tapi hanya dengan sekali jalan dia bukan saja berhasil lolos malah sanggup membuat ketiga murid Naga Biru terjungkal roboh.


Bayangan putih itu melesat tinggi sambil membuat gerakan dua kali jungkir di udara. berikutnya tangan kanannya yang memegang sebatang pedang pendek bersinar hitam pekat dan menyebarkan hawa busuk menyengat menikam langsung kedua tubuh sasarannya.


Gerakan jurus pedangnya sangat cepat, aneh serta kejam tanpa ada sedikitpun kembangan yang indah dipandang mata. seolah dalam jurus itu cuma terasa hawa membunuh yang sangat mengerikan. keji tanpa ampun.


''Ular Sakti Berpedang Iblis.!'' semua orang berseru kaget saat melihat munculnya bayangan ular kobra hitam yang samar terpancar dari tubuh si baju putih bercaping bambu ini.


*****


Asalamualaikum., salam sehat sejahtera selalu buat kita semua.🙏


Mohon tulis komentar, kritik saran juga Like👍Vote bila anda suka. Terima kasih juga bagi para reader pembaca yang sudah bantu share novel PTK ini dan menjadikannya Favorit👌. Terima kasih. Wasalamualaikum.