Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Prahara di Ciremai.


Diserang dua ilmu kesaktian sekaligus oleh sepasang suami istri ketua padepokan 'Lutung Ciremai' tidak membuat 'Nyai Dupa Tumbal' gentar. dengan keluarkan suara tertawa mengikik macam kuntilanak dia kembali getarkan kuali pedupaan ditangannya lantas meniup keras. sinar- sinar merah serupa jarum panjang sebesar batangan lidi melesat kedepan. ilmu 'Jalur Bara Dupa Pengejar Tumbal' kembali mencari korban.


Hanya berselisih sekejapan mata saja, si 'Tampan Suling Emas Pencabut Sukma' juga turut menyerang. saat ujung senjata suling emas yang panjangnya hampir empat jengkal sehingga menyerupai sebuah tongkat pendek itu menyentuh bibirnya, terdengar suara alunan suling yang sekejap sangat tinggi tapi selanjutnya berganti rendah tidak menentu hingga membuat kacau aliran darah serta pecah gendang telinga orang- orang yang mendengarnya.


Beberapa orang murid perguruan Lutung Ciremai yang berilmu rendah sama berteriak kesakitan sebelum akhirnya terjungkal roboh bergulingan. dari dua lubang telinga mereka mengucurkan darah. suasana menjadi kacau. tetapi yang paling berbahaya justru datang belakangan.


Masih mengalunkan suara suling yang tidak beraturan, dari ujung lubang pipa suling menyambar selarik cahaya kuning yang meliuk- liuk seolah gerakan seekor ular. kabarnya selama pemuda bejat ini malang melintang belum pernah ada yang sanggup lolos dari jurus 'Tiupan Suling Penghantar Maut' ini.!


Tidak dapat ditahan lagi empat ilmu kesaktian bertemu saling hantam diudara gelap. suara ledakan keras disertai pijaran bunga api yang semburat ke segala penjuru arah seakan menjadi pertanda dimulainya pembantaian besar di pelataran perguruan Lutung Ciremai.


'Raja Ratu Lutung Sakti' sama terperanjat dan keluarkan suara dengusan berat, demikian juga dengan kedua lawannya. dalam hatinya keempat orang ini sungguh tidak mengira kalau lawan mampu menahan ilmu kesaktian yang mereka lepaskan. setelah sesaat saling tatap Ratu Lutung Sakti kembali melabrak Nyai Dupa Tumbal sementara suaminya sudah lebih dulu saling hantam dengan si Tampan Suling Emas Pencabut Sukma.


Pertarungan antara empat tokoh silat ini berlangsung dengan sengitnya. cahaya ilmu kesaktian yang beriringan dengan lontaran tenaga dalam tinggi membuat pelataran perguruan Lutung Ciremai porak poranda. beberapa pohon disekitarnya berderak patah tumbang bahkan terbakar. bahkan deretan pagar pembatas yang berada cukup jauh turut hancur terlibas angin pukulan sakti yang nyasar.


Para murid perguruan itu yang tinggal empat puluhan orang mesti menghadapi 'Sepasang Pengemis Bangkai' serta si 'Gadis Berwajah Tengkorak' yang sedari awal datang belum pernah bicara apapun. tiga murid utama bertindak sebagai pimpinan murid- murid lainnya. dengan menggunakan sebilah golok tipis yang bentuknya sedikit melengkung mereka serentak menyerbu lawan.


Hanya bedanya jika Sepasang Pengemis Bangkai langsung bergerak membunuhi para murid padepokan Lutung Ciremai dengan gunakan senjata periuk besinya yang berisikan kepingan uang perak dan tembaga, tidak demikian dengan perempuan berbaju hitam dan menggembol butelan kulit itu.


Dia terlihat masih berdiri diam ditempatnya semula. namun jika ada murid Lutung Ciremai yang datang mengancamnya, buntelan kulit hitam ditangannya yang tidak diketahui apa isinya dan nampak sangat berat itu langsung bergerak menghantam dan mengepruk lawannya. tidak jelas bagaimana cara perempuan ini membunuh, namun sudah tiga orang yang mati dengan tulang tubuh hancur.


Sebaliknya Sepasang Pengemis Bangkai membunuh dengan sangat cepat. setiap kedua tangan dan kaki mereka berkelebat, turut terpancar hawa hitam berbau seperti bangkai busuk yang tidak saja menyesakkan pernafasan tapi juga membuat muntah. mata keduanya yang cekung terlihat memancarkan cahaya merah menggidikkan hati seakan kehausan darah. setiap tangan mereka menggebut ada saja nyawa murid yang melayang dengan kulit tubuh kehitaman.


Sesekali periuk besi ditangan mereka bergoyang, belasan kepingan uang tembaga dan perak didalamnya turut melesat terbang menyambar tubuh dan kepala para murid Lutung Ciremai. hanya dalam dua gebrakan saja sudah lima orang murid terjungkal mandi darah meregang nyawa. kejadian ini membuat Palastra dan kedua murid utama lainnya terperanjat kaget.


Sayangnya meskipun rasa dendam amarah semakin menggelegak dihati mereka sendiri juga merasa kesulitan menghadapi serangan Sepasang Pengemis Bangkai itu. jeritan menyayat bersautan, mayat- mayat yang bergelimpangan serta hembusan angin malam yang membawa bau anyir darah membuat suasana bertambah mengerikan.


Diantara kelima orang yang datang menyerbu padepokan Lutung Ciremai, hanya si Gadis Berwajah Tengkorak yang masih tegak berdiri ditempatnya seakan tidak pernah mengeser kakinya setapakpun juga. sikapnya tanpa sadar membuat orang keheranan dan merasa lebih mudah untuk membunuhnya. beberapa murid Lutung Ciremai berkelebat membacok dari tiga penjuru, tinggal sejangkauan tangan saja kepala gadis itu akan terpenggal dengan sekujur tubuh rencah terajam senjata.


Tiga orang murid padepokan Lutung Ciremai itu tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi, karena nyawa mereka sudah keburu lepas dari raga sebelum tubuh ketiganya tersungkur dengan batok kepala remuk dan darah seisi otak berserakan diatas tanah.


Kejadian yang berlangsung begitu cepatnya membuat semua orang terperangah hingga sesaat suasana menjadi sunyi. belum hilang rasa terkesiapnya, buntelan kulit hitam yang terlihat berat itu sudah kembali terpanggul dipunggung Gadis Berwajah Tengkorak seakan dia cuma sesosok patung kayu hitam yang tidak pernah bergerak sedikitpun.!


Angin malam menjelang fajar berhembus lebih dingin. biarpun korban yang tewas di tangan wanita itu tidak sebanyak Sepasang Pengemis Bangkai namun cara membunuh perempuan muka setan yang aneh itu justru jauh lebih mengerikan. tanpa sadar tengkuk para murid padepokan Lutung Cirenai sama merinding seram dibuatnya.


Hilang perhatian adalah suatu pantangan besar bagi para pesilat. meskipun hanya sekejapan saja itu sudah cukup bagi seorang pesilat untuk menghabisi nyawa lawan dalam sebuah pertarungan. demikian juga saat para murid itu terpecah perhatiannya melihat cara membunuh si Gadis Berwajah Tengkorak. lima jeritan parau sudah kembali terdengar karena periuk besi dari Sepasang Pengemis Bangkai kembali meminta nyawa.


Raja dan Ratu Lutung Sakti meraung murka melihat keadaan murid- muridnya. namun mereka juga belum sanggup merobohkan lawannya meskipun mereka sudah lebih dua puluhan jurus beradu kesaktian. setelah keluarkan suara meracau mirip kawanan monyet gila sedang mengamuk, bersamaan mereka menghantam lawan dengan pukulan sakti terhebatnya yang dinamai 'Kepalan Palu Lutung Menggenggam Palu Guntur.!'


Empat tangan terkepal berbulu putih itu terlihat membesar hampir tiga kali lipat dan memanjang. suara letusan dan kilatan cahaya petir terlihat disana. saat tangan keduanya bergerak menghantam dari atas kebawah, gemuruh angin keras yang berat menindas disertai ledakan menyambar ke depan.


Diserang ilmu pukulan sakti yang memiliki kekuatan besar seakan empat gajah besar yang menindih membuat tubuh Nyai Dupa Tumbal dan si pemuda sombong rekannya serasa remuk tertindas. hampir serempak mereka berteriak gusar bercampur panik. sambil balas hantamkan ilmu kesaktian masing- masing secepatnya mereka berkelebat jauh menghindar.


'Whuuut., wheeet., wheeess.!'


'Blaaaaarr., blaaaarr., blaaaaamm.!'


Ledakan beruntung terjadi hingga membuat tanah pelataran luas perguruan Lutung Ciremai bergetar dan pecah terbongkar. dari sini dapat dikira seberapa tinggi tingkatan tenaga dalam para pesilat yang terlibat pertarungan itu. sang Raja Ratu Lutung Sakti menggeram bengis dengan tarikan nafas berat dan memburu. perlahan kedua tangan mereka yang tadinya membesar sama menyusut seperti semula.


Di penjuru lainnya Nyai Dupa Tumbal serta si Tampan Suling Emas Pencabut Sukma berdiri sempoyongan. biarpun mereka masih dapat lolos dari pukulan maut lawan namun bagian dalam tubuh keduanya tetap terasa sesak bahkan aliran darah mereka bergolak liar. dari sudut bibir mereka sempat meneteskan darah.


*****


Maaf telat Update. sebenarnya sudah dapat kiriman hari Kamis malam. tapi baru sekarang sempat up date๐Ÿ™๐Ÿ‘ mungkin besok ada lagi. Trims.