Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Mata dingin di kegelapan.


Jika saat awal pertarungan delapan orang murid perguruan silat 'Naga Biru' terlihat berada di atas angin hingga mengurung rapat tubuh Puji Seruni, maka setelah lewat sepuluh jurus keadaan jadi berubah. sepasang cahaya pedang 'Walet Emas' di tangan gadis itu yang gantian menggulung delapan sinar pedang kebiruan dari para pengeroyoknya.


Dalam perjalanannya semenjak berpisah dari Pranacitra dan Ki Tanjung Semboro ke bukit tempat tinggal gurunya, Puji Seruni sempat menelan obat sakti pemberian Pendekar Golok Emas Berlengan Tunggal' alias Ki Tanjung Semboro dan bersemedi barang beberapa saat untuk melancarkan peredaran khasiat obat yang berguna untuk menambah tingkat kecepatan bergerak dan ilmu meringankan tubuhnya.


Ilmu silat Walet Emas yang dapat di gunakan dengan tangan kosong maupun senjata pedang pendek 'Sayap Walet Emas' itu selain membutuhkan tenaga dalam kuat, juga sangat bergantung dengan tingkat ketinggian ilmu meringankan tubuh penggunanya agar dapat menguasainya dengan sempurna.


Maka dapat dibayangkan kehebatan ilmu silat yang dikuasai murid Nyi Pariseta itu sekarang ini hingga dapat balik menggebrak lawannya. dari mengurung rapat penuh niat membunuh, kini delapan orang berbaju biru itu malah sibuk menghindari sambaran sepasang pedang Walet Emas di tangan Puji Seruni.


''Terus bertahan., bagaimanapun juga gadis itu cuma sendirian saja.!'' seru Gahar Waja sambil buat gerakan menangkis dan membabat pinggang lawan. ''Kurung lebih rapat lagi, kita tidak mungkin kalah.!'' pekik Suta Kaling pula. bersama dengan Bayu Siliran dia bermaksud membokong Puji Seruni dengan menyerang paha kanan dan daerah belakang selakangan.


Dengan gerakan jurus yang sebenarnya sangat rendahan dan menjijikkan karena menyasar bagian tubuh perempuan yang amat tabu, mereka berharap murid lainnya dapat menyusul untuk menyerang. tapi jangankan untuk menyusun serangan balik, bisa terhindar dari sabetan pedang emas lawan saja mereka mesti bersusah payah.


Sepasang pedang pendek kembali datang mengancam. kali ini gerakan jurusnya bukan saja membabat dan menikam perut dan dada tapi juga menggunting leher serta membacok kepala para pengeroyoknya. setelah lolos dari serangan keji dan rendah dari jurus pedang Suta Kaling dan Bayu Siliran, membuat Puji Seruni mengamuk. tiga orang murid Naga Biru seketika roboh mandi darah termakan pedang emasnya yang bergerak secepat burung walet yang sedang terbang menggunting di udara.


Orang gemuk hitam kepala plontos yang tubuh nya sangat pendek macam manusia kate itu menggeram buas. mata picaknya yang tinggal sebelah kanan melotot kemerahan. meskipun dia sudah menduga kalau murid- murid perguruan Naga Biru mungkin tidak akan sanggup menghadapi gadis cantik bernama Puji Seruni itu, tapi sungguh dia tidak mengira kalau mereka dapat terjungkal secepat ini.


''Bodoh kalian semuanya., pantas saja si 'Dewa Naga Langit' Ki Galing Brajapaksi meminta bantuan perlindungan dari partai kami. setan alas., buang- buang waktu saja menyuruh para anjing goblok seperti kalian. minggir semua., biar aku sendiri yang meringkusnya.!'' bentak orang cebol gundul hitam mirip tuyul itu.


Tubuh pendek hitam itu melesat secepat kilat ke depan. kedua tangannya yang terkembang bergerak menghantam. dalam sekali serang dia lancarkan tujuh pukulan telapak tangan yang membawa desingan angin sekeras baja. tujuh cahaya hitam panas berbau sangat amis melabrak.!


'Whuuuut., bheeet., bheet.!'


'Shaaat., blaaang.!'


''Aakh.!'' Terdengar suara pekikan tertahan Puji Seruni saat pedangnya bertemu jurus pukulan lawannya. hampir saja kedua pedang itu terlepas dari gengamannya, masih untung dia dapat bertahan dari gempuran tujuh telapak tangan hitam berbau amis dengan andalkan ilmu meringankan tubuh dan kecepatan gerak yang dia miliki.


''Kurang ajar., rupanya ilmu meringankan tubuhmu hebat juga bocah ayu, tapi semua itu tidak akan ada gunanya jika berhadapan denganku Ki Tuyul Ireng, si 'Demit Kate Mata Picak.!'' sambil meraung gusar orang pendek yang mengaku bernama Ki Tuyul Ireng ini merobah permainan silatnya.


Tubuh pendeknya seakan mendadak lenyap dari pandangan Puji Seruni. yang tertinggal hanya tujuh buah telapak tangan hitam panas berbau amis menyengat yang mengurung rapat tubuh gadis berbaju putih itu. sekarang kemanapun dia berusaha menghindar, tujuh telapak hitam itu terus mengikutinya bagai bayangan setan. ''Haa., ha., Jangan harap kau bisa lolos dari jurus 'Tujuh Telapak Hitam Amis Gaib.!'' dengus Ki Tuyul Ireng bergelak tawa menghina.


Puji Seruni mengumpat dalam hati. meskipun dia sudah mengalami peningkatan ilmu ringan tubuh dan kecepatan bergerak, tapi seperti yang telah dikatakan Demit Kate Mata Picak, semuanya tidak banyak berguna menghadapi jurus pukulan telapak lawannya yang seakan bayangan tubuh yang selalu ada di dekatnya.


Belum lagi bau amis menyengat membuatnya sesak dan mual hendak muntah, karena tidak mungkin bagi dirinya untuk menutup seluruh jalan pernafasan terus menerus. saat terdesak seperti itu Puji Seruni sempat lepaskan jurus pedang 'Sayap Walet Emas Cahaya Surya' yang selama ini dia andalkan.


Namun sinar pedang emasnya yang mampu memotong sebongkah batu karang itu hanya sebentar saja dapat melibas jurus 'Tujuh Telapak Hitam Amis Gaib' Ki Tuyul Ireng. selanjutnya seperti nama jurusnya, bayangan tujuh telapak tangan itu kembali muncul menggempurnya seakan bayangan gaib yang tidak dapat di musnahkan.


Yang lebih terasa menakutkan, Puji Seruni tetap saja tidak mampu melihat dimana keberadaan Ki Tuyul Ireng. tubuh kate orang ini seakan lenyap begitu saja berganti tujuh bayangan telapak hitam berbau amis yang terus berkelebatan mendesaknya hingga dia berkali- kali nyaris termakan pukulan lawan.


Malam telah turun, lima orang murid utama perguruan Naga Biru yang masih tersisa sudah menyalakan obor dan mengurung dari jarak agak jauh dari lima penjuru arah. selain untuk menghindari sambaran angin pukulan sakti yang menderu tajam, mereka juga tidak tahan dengan sengatan hawa panas dan bau amis memuakkan yang berasal dari jurus ilmu kesaktian Ki Tuyul Ireng. hujan gerimis yang turun ke bumi membuat mereka harus terus menjaga nyala api obor agar tidak padam.


Lewat jurus ke dua puluh lima, Puji Seruni tidak mampu lagi bertahan dua buah telapak hitam panas berbau amis menyengat hidung, berturut- turut telak menghantam perut dan pinggangnya, gadis ini seketika muntah darah kehitaman. pedang Walet Emas terlepas mental dari tangannya.


Tubuh murid mendiang Nyi Pariseta itu terjungkal dan mencelat bergulingan hingga tiga tombak jauhnya hingga menabrak sebuah tumpukan kayu bakar yang ada di mulut goa. gadis itupun terkapar roboh tidak bergerak. para murid Naga Biru yang melihat kejadian itu sama terperangah, lalu tertawa bersorak dan berebut memuji kehebatan ilmu Ki Tuyul Ireng.


''Ketinggian ilmu Ki Tuyul Ireng memang luar biasa hebat, andaikan saja guru memintamu muncul sejak awal, pasti perguruan Naga Biru masih tetap berdiri tegak..'' ucap Suta Kaling maju menjura hormat di ikuti oleh Gahar Waja dan Bayu Siliran.


''Benar sekali., saya sungguh tidak habis pikir kenapa justru guru melarang orang lain tahu kalau dia meminta bantuan Ki Tuyul Ireng. padahal dengan keberadaan tokoh silat sehebat dirimu, pasti dapat menggetarkan nyali semua orang yang berniat membuat masalah dengan Naga Biru..'' Gahar Waja ikut memuji.


Ki Tuyul Ireng tertawa bergelak mendengar semua pujian itu. di ujung tawanya orang kate ini menggebutkan tangan kanannya ke udara. serangkum angin tajam menyapu padam tiga api obor yang di bawa Gahar Waja dan kedua kawannya. ''Jangan pernah membawa barang bercahaya jika berada di dekatku. aku tidak menyukainya.!'' damprat Ki Tuyul Ireng marah. meskipun tidak mengerti tapi tiga murid Naga Biru itu mengangguk.


Karena tiga obor telah padam dan obor yang dibawa dua orang murid lainnya berada agak jauh dari tempat Ki Tuyul Ireng, suasana di sana menjadi lebih gelap dan terasa dingin. apalagi gerimis masih saja tercurah dari atas langit yang gelap. membuat daerah pelataran goa terasa mencekam.


Ki Tuyul Ireng alias Demit Kate Mata Picak terkekeh mesum. kakinya yang gempal, hitam dan pendek melangkah ke depan mulut goa. ''Hek, he., meskipun mungkin sudah terluka parah atau malah keburu mampus, gadis itu tetap akan kunikmati. mumpung tubuhnya masih terasa hangat..''


Tiga orang murid Naga Biru menyeringai keji melihat kelakuan bejat Ki Tuyul Ireng. tapi dua orang pemuda lainnya malah maju menegur, ''Maaf Ki Tuyul Ireng., tapi kami merasa tindakanmu ini terlalu kejam..'' ujar pemuda yang di sebelah kiri. ''Kami perguruan silat Naga Biru berasal dari aliran putih, tidak sepatutnya membiarkan perbuatan serendah itu..'' sambung kawannya.


Karuan saja tiga rekannya menjadi kaget dan gusar. saat hendak menghardik mereka, Ki Tuyul Ireng sudah keburu hantamkan sebelah telapak tangannya. sekelebat bayangan hitam menebar bau amis menyambar ke muka. kedua pemuda murid Naga Biru itu berseru kaget karena tidak menyangka bakal langsung di serang sehebat ini.


Dengan secepat yang mereka bisa, keduanya mencelat mundur kebelakang sambil babatkan pedang dan lemparkan obor di tangannya. dua obor hancur padam, pedangpun terlepas dari tangan di sambar pukulan telapak hitam Ki Tuyul Ireng. meskipun nyawa mereka selamat, tapi tidak menjamin bakal terus lolos dari serangan berikutnya.


Sekelebat bayangan telapak tangan hitam yang menebar hawa panas dan bau amis kembali menyambar. kedua murid itu hanya bisa menjerit pasrah. tiga rekannya juga cuma mendengus sinis seakan tidak perduli lagi dengan nyawa saudara seperguruannya yang sedang terancam kematian.


'Whuuus., Bheeet.!'


'Sheeet., Blaaaam.!'


Sekejap lagi nyawa kedua murid perguruan silat Naga Biru itu amblas, mendadak entah dari mana muncul sekelebatan cahaya hitam berbentuk cakar yang lebih hitam pekat menghadang jurus pukulan Ki Tuyul Ireng. anehnya suasana yang sudah gelap sesaat menjadi jauh lebih kelam lagi hingga tangan sendiripun tidak dapat terlihat mata.


''Kurang ajar., setan alas dari mana yang berani mencari perkara denganku.?'' maki Ki Tuyul Ireng beringas. matanya yang besar melotot kemerahan dan tinggal sebelah kanan itu jelalatan kesekeliling tempat menembusi pekatnya kegelapan malam. mata orang kate itu berhenti di tempat tergeletaknya tubuh Puji Seruni.


Baju putih gadis itu mestinya akan terlihat lebih jelas meskipun berada di kegelapan. tapi yang nampak sekarang hanya sosok bayangan hitam yang menutupinya. karena sosok tubuh itu mendekam duduk membelakangi, Ki Tuyul Ireng tidak dapat mengenali siapa orang ini. tapi samar terlihat ada cahaya kebiruan yang terpancar dari dirinya terus mengalir ke tubuh orang yang terbaring di depannya.


''Siapa kau keparat., beraninya mencampuri urusan Ki Tuyul Ireng, si Demit Kate Mata Picak. apakah dirimu sudah bosan hidup.?'' gertak Garang Waja. ''Kurasa cukup kita bertiga saja yang menghabisinya. biar Ki Tuyul Ireng dapat menjalankan keinginannya. sekalian juga sebagai balas jasa karena telah membantu kita.!'' timpal Suta Kaling bengis.


Kedua orang murid Naga Biru yang sering bertikai itu menjadi akur. bersama Bayu Siliran mereka bertiga menyerbu kedepan sambil babatkan pedangnya. yang di serang sesaat masih duduk membelakangi. tidak terlihat gerakan pukulan tangan. yang ada cuma tiga larikan cahaya hitam bersemu merah di iringi suara ledakan keras.


Tiga pedang mental berpatahan, pemiliknya roboh terjungkal tanpa sempat menjerit. mata mereka mendelik menyiratkan kengerian yang teramat sangat. tepat di kening ketiganya sudah bertambah sebuah lubang hangus tembus ke belakang kepala.


Ki Tuyul Ireng terperangah kaget. matanya yang besar melotot merah menatap ke depan. sosok itu perlahan bangkit lalu membalikkan tubuhnya. udara bertambah semakin terasa membekukan tulang seiring hembusan angin dingin yang entah datang dari mana. Ki Tuyul Ireng tanpa sadar bergidik ngeri. kakinya yang hitam gempal juga pendek tersurut mundur.


Suasana gelap mencekam jiwa, sepasang mata dingin menyorot tajam dari balik helaian rambut panjang yang menutupi sebagian wajah orang ini. sorot mata itu sangat aneh, karena tidak ada satu perasaan apapun yang terpancar dari sana. mata yang dingin seakan mata sesosok mayat. selama ini orang sering takut jika melihat mata Ki Tuyul Ireng yang selalu merah melotot. tapi sekarang., justru dia yang merasakan kengerian saat melihat sorot mata yang dingin dan sadis itu.


*****


Asalamualaikum., salam sejahtera dan sehat selalu. silahkan tulis komentar, kritik saran juga like👍vote atau favorit👌 jika anda suka. terimakasih pada para reader pembaca yang sudah sudi mengikuti novel Pendekar Tanpa Kawan dan 13 Pembunuh.🙏 juga bantu Share dua novel kami yang masih banyak kekurangan ini. Terimakasih. Wasalamualaikum.