Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Rampok.


Dengan sekali pandangan mata saja dalam rumah besar itu dapat di lihat banyak sekali ruangan kamar. puluhan perempuan yang rata- rata cantik dan berdandan menor sedang berdiri di depan kamarnya masing- masing. meskipun bibir mereka tersenyum juga tertawa genit mengundang, tapi tetap tidak mampu menutupi pedihnya penderitaan jiwa raga mereka.


Beberapa lelaki baik tua maupun muda, mulai yang kasar dari kelas rendahan sampai para saudagar kaya hingga kaum bangsawan kalangan atas, hampir semua golongan lelaki hidung belang seakan berkumpul di sini. bau menyengat minuman keras juga asap candu tembakau yang memuakkan bercampur dengan aroma keringat semua orang yang berada di sekeliling meja judi.


Setiap lelaki yang ada di sana selalu di temani setidaknya seorang wanita penghibur. bahkan ada yang sampai mengambil dua atau tiga wanita sekaligus dalam pelukannya. gelak tawa disertai suara rayuan mesum berseling dengan teriakan gusar para penjudi yang kalah bertaruh.


Uang taruhan di pasang, tiga butir dadu di dalam gelas sang bandar dikocok. sekali lempar butiran dadu bergulir menunjukkan angkanya. yang menang tertawa sombong, orang yang kalah menggerutu lemas. tapi anehnya dalam perjudian samakin sering mereka kalah makin bernafsu pula untuk menebus kekalahannya.


Sebaliknya bagi si pemenang, makin banyak dia menang bertaruh, makin tamak juga untuk menghamburkan uangnya di meja judi. sampai akhirnya nasib berbalik dari pemenang jadi pecundang. uang panas yang mudah didapat, biasanya gampang pula menghilang.


Modal taruhan terus tersedot keluar tanpa dapat ditahan, butiran dadu di tangan si bandar judi juga tetap bergulir di atas meja. tuak, arak dan semua jenis minuman keras juga tidak berhenti mengalir. dari dalam kamar- kamar yang tertutup terdengar suara lenguhan keras lelaki kasar yang disertai rintihan wanita penjaja tubuh. selama dunia ini masih terkembang, kehidupan kelam seperti itu akan selalu ada di manapun juga.


Pemuda berbaju gelap itu melangkah melewati para wanita penghibur yang sempat mencoba merayunya. tapi saat melihat siapa yang datang mereka sama menyingkir. entah karena heran, takut ataukah sebal melihat seorang gelandangan bermuka dingin pucat yang entah bagaimana bisa masuk ke dalam.


Suara hiruk pikuk dan gelak tawa perlahan sirap. hawa panas dan pengap dalam ruangan perjudian entah bagaimana berubah menjadi dingin. suasana yang tadinya ramai berbalik sunyi mencekam seakan dalam pemakaman. tanpa sadar pandangan semua orang tertuju pada pemuda asing bertongkat besi hitam. dengan terseok pemuda itu berjalan menuju meja judi. gelak tawa penuh penghinaan seketika meledak saat semua orang melihat cara pemuda pincang itu melangkah.


''Pemuda pincang edan dari mana ini sampai bisa masuk kemari. apakah semua penjaga di luar sudah mabuk atau tertidur. cepat kalian periksa?'' geram seorang lelaki tinggi besar dan brewokan memberi perintah. sepasang parang berujung persegi terselip di kedua pinggangnya. sepertinya dia kepala keamanan di rumah hiburan ini. tiga orang anak buahnya cepat bergerak keluar, tapi tongkat besi hitam si pincang sudah melintang jalan.


''Kalian tidak perlu keluar., empat kawanmu yang berjaga di sana sudah mati aku bunuh. sekarang serahkan semua uang, perhiasan dan juga barang berharga yang kalian bawa padaku. setelah itu kalian boleh pergi dengan selamat dari rumah hiburan keparat ini..'' ujar si pincang bernama Pranacitra itu sambil meraih sebuah kendi tuak dari atas meja lalu meneguknya hingga habis.


Semua orang tercengang, hari ini masih pagi. si pincang yang baru datang juga hanya minum sekendi kecil tuak. apakah minuman tadi telah membuatnya mabuk hingga berkata ngawur seperti itu. dalam hatinya mereka beranggapan kalau sedang ditimpa kesialan, karena sepagi ini sudah bertemu dengan seorang gelandangan cacat, dungu dan gila.


''Dasar pengemis sinting yang bosan hidup. pagi ini aku sudah kalah judi labih dari dua ratus keping uang perak dan emas. mungkin hawa buruk darimulah yang membuat hidupku menjadi sial..'' umpat seorang tambun berbaju Mewah penuh perhiasan di tubuhnya. dari penampilannya mungkin dia adalah seorang pedagang. dengan satu isyarat orang ini menyuruh tiga orang pengawalnya untuk menghajar si pincang sebagai pelampiasan kegusarannya.


Tiga orang ini rupanya sudah lama menahan rasa geram dan jengkel, dengan kekalahan majikannya di meja judi, pupus juga bayangan mereka untuk ikut menikmati hasilnya. tanpa banyak bicara ketiganya serentak menjotos dan menendang. dalam sekali gebrak setiap orang lebih dari satu pukulan. sekalipun ilmu silat mereka rendah, tapi tiga serangan jurus sekaligus datang bersamaan membuat siapapun mengira akibat yang bakal di terima si pincang itu.


Suara meraung kesakitan terdengar bersama dengan bunyi tulang yang hancur remuk. tiga tubuh besar terkapar roboh berguling- guling. rahang pecah tersembur darah bersama gigi yang patah. sementara tangan dan kaki mereka semper melintir tertekuk ke belakang. terlihat tulang jemari dan sendi ketiga orang begundal itu berserabutan keluar dari kulit dagingnya.


Pemuda pucat itu masih berdiri di tempatnya. sorot matanya yang dingin membekukan jiwa juga tetap tidak berubah, terus memandangi tumpukan uang dan perhiasan yang berada di atas meja judi. semua orang terperanjat ngeri juga bingung. jelas ketiga orang itulah yang datang menggempur, tapi kenapa sekarang malah mereka yang jatuh tersungkur. suasana berubah begitu hening sampai orang dapat mendengar degup jantungnya sendiri.


Yang pertama tersadar adalah sang kepala keamanan rumah hiburan. dengan keluarkan makian kotor dia besama tiga orang kawannya serentak mencabut senjata. sepasang parang persegi bergerak membabat, membacok dan diakhiri dengan tiga tusukan penuh gerak tipu yang menyasar dada dan perut. dari angin serangannya yang tajam merobek udara disertai cahaya kekuningan, jelas ilmu silat orang ini cukup tinggi.


Yang diserang sedikit geser sebelah kakinya ke belakang. tubuhnya jadi sedikit terbungkuk. kedua tangan menggenggam erat gagang tongkat. ujung senjata itu bergerak dari bawah ke atas lantas menyapu ke empat penjuru. hanya terlihat sekelebatan cahaya hitam pekat menyambar. suara dentang senjata tajam yang beradu memekakkan telinga. kurungan parang golok jebol oleh jurus 'Tongkat Mencongkel Pintu Alam Gaib' ajaran si 'Malaikat Copet.!


Tiga orang pengurung terpaksa melepaskan goloknya setelah tangan mereka patah di hajar tongkat hitam yang bukan saja menusuk tapi juga menggerus hancur tulang siku hingga pergelangan tangan. jeritan mereka semakin tidak terkendali saat kepalan tangan lawan menjotos remuk tulang dada dan bahu hingga terlepas dari sendinya.


Diantara empat penyerang tinggal si pemimpin yang masih mampu bertahan. hanya sepasang parangnya berubah dari gerakan membabat dan menikam menjadi bacokan bersilangan untuk menangkis serangan tongkat si pincang. sebenarnya orang ini sudah turun semangat bertarungnya melihat ketiga kawannya roboh, tapi untuk melepaskan diri dari dari gebukan tongkat lawan bukanlah perkara gampang.


Sambil menggembor buas dia nekat beradu nyawa. dengan jurus 'Parang Mengiring Maut' dia mampu keluar dari kurungan tongkat hitam meskipun harus menerima dua buah tusukan dan gebukan yang membuat pinggang terluka serta kedua pahanya remuk hingga dia tidak sanggup lagi berdiri. terpaksa dia gunakan kedua parangnya untuk menahan tubuhnya agar tidak tersungkur di lantai.


Pemuda pincang yang menjadi lawannya melirik ke ujung pakaian hitamnya yang robek seruas jari. muka pucatnya semakin terlihat dingin menyeramkan. ''Kau., merobek bajuku. asalkan dirimu tahu saja, baju ini di buat oleh seorang gadis cantik selama hampir dua hari lamanya. aku tidak mau mengotori tanganku. jadi., kau buntungi sendiri sebelah tanganmu sebagai gantinya.!''


Sebuah ucapan datar yang tanpa perasaan apapun terucap dari mulut pemuda itu. cuma sebuah kalimat perintah tanpa ancaman, tapi terdengar jauh lebih menakutkan dari suara iblis. ''Itu cuma selembar baju hitam dari kain tebal dan murah., apa empat orang yang sudah hampir mampus itu masih belum cukup, sekarang malah kau meminta sebuah lengan untuk secuil robekan kecil di bajumu. sebenarnya., kau ini manusia ataukah jelmaan setan.?'' batin semua orang bertanya dengan ketakutan.


''Waktuku tidak banyak, serahkan semua uang, perhiasan dan semua barang berharga milik kalian di atas meja. setelah itu kalian semua baru boleh pergi. ingat aku kenal wajah kamu semuanya. tapi sebaiknya., jangan pernah mengatakan pada siapapun termasuk kepada diri kalian sendiri kalau pernah bertemu dengan diriku. jika sampai semua ini terdengar di luaran sana., kalian pasti mampus..'' ancam si pincang Pranacitra kibaskan telapaknya ke lengan kanan si pemimpin. seberkas cahaya merah darah menyambar.!


Darah tersembur dari pangkal lengan yang putus beriring suara raungan kesakitan. beberapa perempuan penghibur yang tidak kuat melihat darah gemetaran lalu pingsan. ''Mulutmu sangat berisik., dasar manja..'' maki pemuda itu sembari tendang orang buntung itu hingga mencelat tidak berkutik menabrak dinding bangunan. dia masih hidup atau mati tidak ada yang berani mencari tahu. semua orang sibuk memikirkan keselamatan nyawa sendiri.


Diatas meja judi sudah bertumpuk uang dan barang berharga. dengan ketakutan semua lelaki hidung belang itupun ingin secepatnya pergi dari tempat itu, karena harta benda bisa dicari tapi nyawa tidak akan terganti.


Sepasang mata dingin menyorot menembus jiwa. semua orang menunduk gemetaran. para begundal yang terkapar luka parah juga tidak berani bersuara meski untuk sekedar merintih. ''Aku bertanya kalian menjawab. hidup matimu tergantung jawaban kalian memuaskanku atau tidak. apakah ada diantara kalian semua pelanggan dan penghuni rumah hiburan milik Sentot Bhirawa ini pernah mengenal atau mendengar nama seorang wanita muda yang bernama Parmita.?''


Semua orang saling pandang seakan berharap ada yang tahu gadis yang di maksud pemuda ini agar mereka selamat. seorang wanita muda yang cuma memakai baju kutang dan kain jarik melilit pinggang memberanikan diri menjawab. ''Maaf., aku pernah mendengar beberapa kali nama itu di sebut Ki Sentot Bhirawa, bahkan saya sempat sekali bertemu. kabarnya gadis ini berasal dari daerah kulon., tanah pasundan. itu kejadian setahun silam sebelum dia dijual pada seorang saudagar kaya dari tanah seberang..''


''Siapa yang membawanya dan ada dimana dia sekarang.?'' bentak Pranacitra gebrakkan tongkatnya kelantai batu hingga hancur. tapi wanita itu menggeleng tidak tahu. ''Sialan., aku mesti mencari kemana lagi gadis bernama Parmita yang juga bibi Aji Pradana ini..'' batin Pranacitra gusar juga kebingungan.


Semua wanita malang di sana sudah kembali mendapatkan kebebasan. setelah bersuka cita dam menangis haru, selanjutnya mereka berkumpul di luar. masih terdapat sebuntalan kain berisi kepingan uang juga perhiasan emas permata hasil rampasan diatas meja judi.


''Jika kalian pikir aku seorang pengemis, jelas kalian salah. kalau kau kira diriku pencuri, juga tidak benar. aku bukan maling, copet apalagi penipu. karena sebenarnya hari ini aku adalah., seorang perampok.!'' gertak si pincang sinis sambil meraih buntalan kain berisi harta itu.


''Pergilah kalian sejauh mungkin, harap saja kita tidak pernah bertemu muka lagi. karena bisa jadi., penyakit jiwaku mendadak kumat lalu menghabisi kalian semua.!'' ancamnya sambil melangkah terseok keluar ruangan. kali ini tidak satupun yang berani tertawa melihat langkah kakinya yang aneh.