
Matahari sudah naik seperempat jalan saat hampir lima puluhan orang lelaki keluar dari celah bukit karang itu dipimpin oleh pemuda bernama Wetonan. keadaan mereka terlihat sangat mengenaskan. tubuhnya lemas, kurus kering, kotor dan bau dengan pakaian compang- camping tidak ubahnya para gembel. beberapa bagian tubuh mereka nampak dipenuhi bekas luka.
Saat baru keluar dari sana banyak yang menangis bersimpuh sambil menengadah. sungguh mereka tidak pernah mengira masih dapat merasakan segarnya hembusan angin laut dan kehangatan cahaya mentari pagi yang terasa membasuh tubuh. selama ini kebebasan adalah suatu kemustahilan bagi mereka.
Yang keluar paling akhir adalah Danur Jayapadri. pemuda ini terlihat bersama seorang murid perguruan 'Pasir Selatan' yang umurnya mungkin baru lima belas tahunan. meski ada beberapa goresan luka ditubuh pemuda itu tapi dari sikapnya malah terlihat gembira.
Danur Jayapadri mengantarkan anak muda itu kedepan Pranacitra. ''Tuan pendekar ., ini adalah murid baru diperguruan. usianya juga paling muda, dia bukan penduduk desa kami tapi dipungut Nyi Sekar Bekti dari kampung sebelah setengah tahun silam. namanya Linggo, dia seorang yatim piatu tanpa sanak saudara..''
''Meskipun berhutang budi pada Nyi Sekar Bekti tapi dalam hatinya tidak pernah suka dengan cara kerja para penambang yang sangat berat. sering kali Linggo memberi makanan dan bantuan pada mereka secara diam- diam. bahkan saat aku dan Wetonan bentrok dengan empat murid yang menjaga tambang emas, dia malah membantu kami untuk membebaskan para penambang..'' terang Danur Jayapadri. pemuda bernama Linggo itu berlutut didepan Pranacitra.
''Tuan pendekar., semua yang dikatakan kakang Danur Jayapadri adalah benar. aku sebenarnya sudah lama ingin keluar dari perguruan Pasir Selatan sekaligus juga melaporkan semua perbuatan dua ketua perguruan pada pihak kerajaan, tapi diriku juga takut kalau nanti Nyi Sekar Bekti dan suaminya akan menemukanku. untunglah kini semuanya telah berakhir..''
''Tadi kakang Danur dan kakang Wetonan sempat memberitahuku rencana tuan pendekar. dengan sedikit tenaga yang aku punya, ijinkan diriku untuk membantumu..'' kata pemuda bernama Linggo itu. sejak awal sebenarnya Pranacitra terus mengamati murid paling muda perguruan silat Pasir Selatan itu.
''Hhm., kulihat pemuda ini termasuk sangat tampan. pasti saat memungutnya Nyi Sekar Bekti berniat untuk menjadikan dia sebagai budaknya di masa depan saat bocah itu sudah dewasa. beruntung masalah ini cepat terbongkar. jika tidak., dia bisa kehilangan kehormatannya sebagai lelaki sampai akhirnya mampus kehabisan tenaga akibat disedot terus oleh Nyi Sekar Bekti..'' pikirnya dalam hati.
''Kalau begitu kau gantikan dulu kedua kakak seperguruanmu itu untuk mengurusi para penambang yang hendak pergi. beri mereka bekal beberapa butira emas dan berlian. sementara biarkan Weton dan Danur Jayapadri menjemput Sepasang Pualam Sakti untuk datang kemari.!''
''Baik tuan pendekar., akan kukerjakan semua perintahmu..''sahut cepat. sementara Linggo memberi bekal para penambang itu dan mengantarkan mereka pergi meninggalkan tempat itu, Danur Jayapadri dan Wetonan juga menyusul berkelebat menuruni bukit karang melalui arah lain setelah sebelumnya menjura hormat pada Pranacitra.
Kini diatas bukit karang itu tinggal dirinya bersama puluhan mayat murid perguruan Pasir Selatan yang telah dibantainya. karena tidak suka menunggu tanpa berbuat apapun, Pranacitra merampas semua kantung kulit dan buntelan karung berisi batu mulia dan emas mentah itu dari tubuh para mayat. Pranacitra menyeringai puas saat melihat begitu banyak emas berlian yang didapatnya. dalam hati dia merasa menjadi sangat kaya.
Selintas pikiran mendadak muncul dikepala pemuda ini. ''Harta karun sebanyak ini yang terpendan di bukit karang, dari mana kedua bedebah tua itu mengetahuinya. lalu apakah semuanya cuma dipakai oleh mereka sendiri untuk memperkuat pengaruh perguruan Pasir Selatan di dunia persilatan ataukah ada rahasia lain dibaliknya.?''
Pranacitra tidak sempat lagi berpikir panjang karena kedua telinganya yang tajam sudah mendengar ada gerakan beberapa orang pesilat berkepandaian tinggi sedang menaiki bukit karang dengan kecepatan luar biasa. dari sini dapat dipastikan mereka memiliki tingkat ilmu kesaktian yang sangat tinggi.
Tanpa menunggu lama diatas bukit itu sudah muncul tiga orang setengah tua yang disusul oleh Wetonan dan Danur Jayapadri. mereka berdua nampak kepayahan mengikuti tiga orang tua didepannya. dua orang diantaranya adalah sepasang lelaki perempuan yang memakai setelan jubah putih dan terlihat agung berwibawa dengan tampang bersih, meskipun sempat terlihat juga sinar mata kejam penuh amarah saat mendapati puluhan mayat murid mereka.
Satu keistimewaan terlihat di kedua tangan mereka mulai pergelangan tangan sampai ujung jari nampak putih mengkilap seperti batu pualam. dari penampilannya jelas merekalah yang disebut sebagai 'Sepasang Pualam Sakti'. ketua perguruan silat Pasir Selatan.
Orang tua satu lagi yang berdiri di sebelah kanan adalah seorang kakek enam puluh tahunan bertubuh tinggi kepala lonjong dan rada botak. kakek tua ini bertampang keras dengan kedua alis mata tebal berwarna biru sama dengan warna jubah yang dipakainya.
Pranacitra agak tercengang melihatnya. dalam hati pemuda itu membatin. ''Hhem., dengan kehadiran orang tua ini sepertinya urusan ini akan sedikit memakan waktu. tapi ada urusan apa tokoh silat sakti dari tanah Palembang itu sampai berada disini.?''
''Benar guru., kami sadar telah bertindak pengecut. karenanya kita akan menebusnya dengan nyawa kami.!'' sambung Danur Jayapadri. setelah saling lirik kedua murid itu benar- benar memukul dada mereka sendiri hingga mutah darah lalu tumbang ketanah.
''Wetonan., Danur jayapadri.!'' teriak Nyi Sekar Bekti sementara suaminya bersama orang beralis biru bergerak cepat berusaha untuk mencegah. sayang semua telah terlambat. kedua muridnya sudah keburu tewas dengan mata mendelik setelah sempat berkelojotan meregang nyawa.
Tidak seorangpun disana yang menyangka kalau kedua murid perguruan Pasir Selatan itu akan berbuat bodoh. meskipun Ki Jembar Pambudi dan Nyi Sekar Bekti sangat marah dengan sikap mereka yang melarikan diri meninggalkan semua saudara seperguruan dan berniat menghukum berat mereka tapi melihat kematian keduanya didepan mata, membuat ketua perguruan silat itu tidak bisa lagi membendung kemarahannya.!
''Setan jahanam., cepat katakan siapa dirimu dan apa alasanmu membuat kekejaman terhadap murid perguruan 'Pasir Selatan.!'' bentak Nyi Sekar Bekti dengan gemetaran dan mata sembab seolah menahan tangisan. biarpun wanita ini sudah berumur lebih lima puluhan tahun tapi tubuhnya masih terlihat menarik. tidak kalah dengan para gadis muda.
''Sebenarnya kita berdua tidak pernah suka bertindak kasar apalagi pada kaum muda. sebagai tokoh persilatan aliran putih yang menjunjung tata krama dan kebersihan hati, kami yang digelari Sepasang Pualam Putih lebih suka menyelesaikan masalah tanpa kekerasan. tapi sayangnya., perbuatanmu sudah kelewat biadab..''
''Jadi., bagaimanapun juga hari ini kau mesti membayar kematian semua muridku dengan nyawamu. namun sebelumnya lekas kau katakan siapa kau dan kenapa melakukan semua kekejian ini.!'' hardik Ki Jembar Pambudi sambil mengelus dada dan pasang muka penuh kesedihan.
''Haa., ha., kalian bertanya siapa diriku dan kenapa melakukan semua ini. dengarkan., lebih baik kalian tidak perlu tahu siapa aku, karena selain kalian tidak layak mengenalku juga aku merasa khawatir kalian bakal lari ketakutan jika tahu sedang berhadapan dengan siapa. karena aku tidak suka membuang waktu hanya untuk mengejar mangsa yang kabur dari hadapanku..''
''Sedang alasanku membunuh semua murid perguruan Pasir Selatan., mungkin karena mereka punya banyak sekali emas, berlian dan batuan berharga lainnya yang mereka dapat dari memeras darah dan nyawa para penambang yang kalian sekap di perut bukit karang ini. pendek kata., aku hanya meniru perbuatan busuk kalian berdua.!''
Berubah hebat air muka Sepasang Pualam Putih mendengar ucapan pemuda berbaju gelap dihadapannya. ''Rupanya bukan saja perbuatanmu yang terlampau kejam, mulut dan hatimu juga sangat sesat sampai berani bicara penuh fitnah keji. siapapun dirimu hari ini kau pasti mampus.!''
Merasa harus secepatnya membungkam mulut lawannya, 'Sepasang Pualam Sakti' segera bersiap hendak menghantam. namun lelaki tua botak berjubah biru sudah keburu bertindak. ''Sobatku Ki Jembar Pambudi dan Nyi Sekar Bekti, untuk apa mengotori tangan kalian dengan darah pemuda berhati iblis seperti dia. biar aku saja yang menghabisi nyawanya.!''
Sambil menggembor buas tubuh orang tua itu sudah melesat cepat kedepan dengan sepuluh jari terpentang. terlihat sambaran angin tajam disertai cahaya panas kebiruan menyambar dari ujung jemarinya. ''Matilah kau budak iblis keparat.!'' rutuk orang tua itu.
Yang diserang sempat menengadah sambil menghela nafas seakan menyesali sesuatu dan merasa prihatin. ''Datuk Alis Biru., sebenarnya aku menghormatimu sebagai pesilat aliran putih yang terkenal jujur serta tegas. tapi sayang sekali sekarang ini kau sudah salah melihat dan silau dengan nama besar orang- orang berjiwa laknat.!''
Bersama dengan berakhirnya ucapan itu, telapak tangan kiri si pemuda membuat gerakan setengah lingkaran sebelum diangkat keatas kepala. tubuhnya setengah membungkuk. dari ujung jarinya keluar cakar burung buas bersinar merah kehitaman. udara sekitar yang terang mendadak menjadi surup seakan waktu sudah diujung senja.
Saat tangan kiri yang ditumbuhi bulu hitam lebat itu membabat dari atas kebawah lalu mencabik kesamping kiri- kanan, melesat belasan cahaya merah hitam menggidikkan hati. udara seolah terbelah hawa panas yang melibas. jurus 'Cakar Burung Hantu Pemuja Kegelapan' menyambar ganas memburu korbannya.!
*****
Mohon tulis komentar anda.😊 Terima kasih.