
Suara langkah kaki terseok dan benda berat yang terseret menyaruk tanah keras seketika menyadarkan Datuk Janggut Biru. dalam keadaan tubuh masih setengah terkapar bersandar sebongkah baru besar dia dapat melihat sosok pemuda pincang bertongkat besi hitam yang sudah berdiri di depannya.
Helaian rambut hitam yang gondrong berikat kepala kain batik lurik itu terurai menutupi sebagian wajahnya. meskipun begitu Datuk Janggut Biru dapat merasakan sorot mata dingin tanpa perasaan yang berada dibalik rambut itu. sepasang tangan kekar pucat berotot kehijauan terlihat menggenggam erat ukiran berbentuk kepala tengkorak yang terbuat dari perak.
Selama ini entah sudah berapa banyak Datuk Janggut Biru bertemu pesilat tangguh yang kadang ilmunya lebih tinggi darinya. tapi baru kali inilah dia menjumpai lawan yang sanggup membuatnya merasa bergidik ngeri. padahal pemuda pincang itu hanya berdiri diam beberapa langkah di depannya sambil menatapnya tanpa bicara apapun.
Tanpa sadar Datuk Janggut Biru beringsut mundur. tapi dia lupa kalau punggungmu sudah tertahan batu hingga tidak dapat lagi menjauh. ''Aa., apapun yang akan kaa., kau laku., kan padaku. jaa., jangan harap dapat menakutiku.!'' geram Datuk Janggut Biru tergagap menutupi rasa takutnya.
Pemuda pincang itu tetap diam membisu. dari mulutnya terdengar suara mendesis seperti ular. seiring dengan angin laut yang berhembus menyebabkan rambutnya, kini terlihat juga raut mukanya yang tampan namun pucat dan sorot mata dinginnya yang seperti mata orang mati. walau keadaan ini tidak berlangsung lama namun terasa seperti mencekik jiwa Datuk Janggut Biru.
Tingkat besi hitam ditangannya terangkat dan menuding tepat ditengah dadanya. meski gerakan itu terasa lambat dan sederhana tapi terpancar hawa aneh yang menyeramkan. dari tubuh si pincang muncul gulungan kabut dan cahaya kebiruan yang terus tersalur ke ujung tongkat. udara sekitar terasa lebih dingin.
Tanpa bicara apapun Pranacitra getarkan tongkatnya. cahaya kabut kebiruan melesat masuk ketubuh orang tua itu hingga dia terjingkat dan mengerang keras kesakitan sebelum akhirnya dalam waktu sepuluh tarikan nafas kembali terhempas lemas diatas tanah keras.
Sepasang mata tua si Datuk Janggut Biru perlahan terbuka. sekujur tubuhnya yang tadi terasa sakit dan sesak berangsur membaik. sebutir obat berwarna kekuningan bergulir jatuh dipangkuan jubah birunya. dengan ujung tongkat si pincang memberi isyarat untuk menelan obat itu. meskipun sesaat merasa ragu tapi akhirnya Datuk Janggut Biru menuruti lantas bersemedi.
Sepeminum teh kemudian Datuk Janggut Biru sudah selesai memulihkan dirinya. dalam hati dia mengakui keampuhan obat pemberian si pincang. seluruh luka dalamnya telah dapat disembuhkan. saat bangun dia tidak melihat pemuda itu berada di depannya lagi tapi berdiri cukup jauh menghadap ke lautan. dibelakangnya berdiri tiga orang pemuda berbaju putih celana hitam dan membekal pedang di pinggangnya.
''Kenapa sekarang malah ada tiga orang murid perguruan Pasir Selatan. bukankah sebelumnya cuma ada dua orang saja.?'' gumam Datuk Janggut Biru heran. baru saja dia hendak menegur, sebelah tangan pemuda pincang itu sudah menggebut kesamping. segulung angin menyertai gulungan kain putih kumal yang meluncur kearahnya.
Gulungan kain itu ringan sementara jarak diantara mereka terpaut hampir sepuluh langkah. namun lemparan gulungan kain putih itu tidak ubahnya sambaran sebatang tombak. semua itu cuma dapat dilakukan oleh orang yang punya tingkatan tenaga dalam tinggi.
Walaupun sempat tersentak kaget namun Datuk Janggut Biru tidak menjadi gugup. dengan tangkas dia menyambut lemparan itu dengan tangan kanannya. sesaat pesilat dari tanah Palembang itu mesti kerahkan tenaga dalamnya untuk dapat menahan tenaga luncuran dari gulungan kain itu yang sempat membuat telapak tangannya gemetaran dan panas.
''Tidak kusangka ilmu kesaktian pemuda pincang ini begitu tinggi. tapi apa maksudnya memberikan gulungan kain ini padaku.?'' batin Datuk janggut Biru. dengan rada sangsi diapun membuka gulungan kain putih kumal yang sepertinya bernoda darah kering itu.
Meskipun tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk membaca seluruh isi gulungan kain itu, tapi perlu banyak waktu buat Datuk Janggut Biru agar dapat memahami dan menerima semua yang tertulis disana sebagai suatu kenyataan. berkali- kali orang tua itu berharap dia hanya salah baca tapi sayangnya segala yang ada dikain itu tetap tidak berubah.
''Dari mana kau mendapatkan gulungan kain ini. atau jangan- jangan., semua ini hanyalah omong kosong yang kau buat untuk menutupi perbuatan busukmu. bagaimana mungkin dua sahabatku 'Sepasang Pualam Sakti' yang terkenal berbudi pekerti luhur mampu berbuat kebiadaban.?'' geram Datuk Janggut Biru.
''Maafkan kelancanganku berbicara Datuk Janggut Biru. tapi saat kau bertarung dengan pendekar muda ini, kedua sahabat yang kau anggap baik hati dan setia itu bukannya membantumu melainkan lari menyelamatkan diri. apakah perbuatan pengecut ini layak disebut sebagai orang aliran putih.? kurasa kau tahu sendiri jawabannya..'' ujar Wetonan.
''Sebaliknya., disaat dirimu terluka dalam dan sudah tidak berdaya, orang ini malah datang menolongmu. padahal kuyakin sangat mudah baginya untuk menghabisi nyawamu. sebagai pesilat kawakan yang terkenal jujur dan tegas mestinya kau paham dengan semua yang terjadi disini berawal dari perbuatan para manusia serakah dan munafik. serigala berbulu domba seperti dua ketua perguruan Pasir Selatan itu.!'' timpal Danur Jayapadri menunjuk kedua mayat bekas gurunya.
Rekannya yang paling muda bernama Linggo menghampiri Datuk janggut Biru. ''Kalau mau., mari ikut aku kedalam goa rahasia. disana bisa engkau ketahui apakah yang kami katakan benar atau salah..'' tanpa menunggu jawaban dia mendahului berjalan. setelah ragu sejenak akhirnya orang tua itupun turut mengikuti Linggo.
Sepeminum teh kemudian Linggo sudah keluar dari balik celah goa sambil memanggul sesosok mayat. ''Orang tua itu terlihat murka didalam sana. kurasa lebih baik kutinggalkan dia dulu untuk menguburkan mayat ini. setidaknya., raganya tidak lagi terkurung didalam tambang celaka itu..'' terang Linggo. dibantu Wetonan mereka mulai menggali tanah untuk lubang kuburan.
Datuk Janggut Biru keluar dari goa tambang rahasia dengan raut muka bengis penuh hawa amarah. saat melewati mayat Sepasang Pualam Sakti dia menggeram dan meludah jijik. tidak ketinggalan pula kakinya menginjak kepala mereka hingga remuk. perasaan tertipu muka alim membuatnya seperti orang dungu.
''Hehm., benar kata pepatah lama, tingginya gunung dan dalamnya samudra masih bisa dikira. tapi isi hati manusia tidak akan ada seorangpun yang tahu..'' gumamnya sambil mendongak kelangit seakan hendak bertanya pada yang diatas. ''Tapi bagaimana ceritanya kedua bedebah keji ini bisa tahu kalau ada bongkahan emas dan batu mulia didalam perut bukit ini.?''
Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Datuk Janggut Biru sudah berada juga dalam benak Pranacitra. bedanya., jika sang Datuk masih bingung tidak demikian dengan Pranacitra. karena melalui keterangan dari Wetonan dan Danur Jayapadri dia sudah dapat mengira jawabannya.
Setiap bulan sekali perguruan silat Pasir Selatan selalu kedatangan seorang tamu. anehnya dua ketua mereka sangat hormat bahkan terlihat takut dengannya. banyak hasil tambang baik emas maupun intan yang dimasukkan kedalam beberapa peti selalu di berikan pada tamu itu.
Meskipun mereka tidak tahu siapa adanya dia, tetapi setiap peti berisi emas intan itu selalu ditancapi sebuah bendera hitam kecil yang lapat- lapat menyebarkan aroma anyir darah busuk dengan gambar dua buah gapura besar dengan latar belakang rembulan malam yang berlelehan darah.
Jika yang Pranacitra perkirakan adalah benar, maka saat ini dia tanpa sengaja telah berhasil melenyapkan salah satu sumber kekayaan dari partai Gapura Iblis. meskipun ini suatu hasil yang sangat besar tapi dalam hatinya juga timbul kekhawatiran karena partai hitam terkuat itu pasti tidak akan tinggal diam. sangat mungkin., banyak pesilat hebat yang mereka miliki diperintahkan untuk keluar sarang demi merebut kembali sumber upeti sekaligus menghabisi siapapun yang berani mencari perkara dengan Gapura Iblis.
*****
Asalamualaikum., salam sejahtera dan sehat selalu bagi kita semua. mohon maaf novel silat Pendekar Tanpa Kawan dan novel 13 Pembunuh mungkin tidak bisa Update untuk seminggu kedepan karena kesibukan kerja authornya. (saya juga pingin libur😅☺🙏).
Tapi untuk 13 Pembunuh mungkin masih ada satu bab lagi. (baru mungkin lho) Terima kasih pada para reader pembaca yang masih sudi dan sabar mengikuti dua novel kami yang tidak jelas updatenya ini. Wasalamualakum. 🙏