
Saat melihat siapa adanya empat orang yang baru saja tiba itu bukan cuma 'Tiga Singa Buas Bersurai Biru' saja yang terkesiap kaget, tapi juga para tokoh persilatan golongan hitam lainnya yang lebih duluan tiba juga terkejut. karena dua orang di antara empat pendatang itu merupakan para pentolan persilatan aliran putih yang berkuasa di daerah timur dan seberang utara.
Dua orang tua tujuh puluh tahunan dengan rambut putih panjang menjela, berjubah biru muda berpadu selempangan kain putih di lehernya yang saat itu berdiri berdampingan adalah dua orang wakil ketua perguruan silat 'Pedang Samudra' yang juga termasuk dalam sepuluh aliran persilatan golongan putih.
Meskipun punya nama besar, namun dalam urutan sepuluh perguruan silat terkuat aliran putih, perguruan Pedang Samudra justru menempati peringkat terbawah. hal ini bukan disebabkan ilmu silat perguruan mereka yang terlemah, tapi karena para murid dan petinggi dari perguruan silat ini jarang muncul di dunia ramai hingga namanya tidak setenar yang lain dan kurang terdengar sepak terjangnya. karena perguruan itu terletak di sebuah pulau karang yang berada di tengah lautan utara tanah Jawa.
Walaupun begitu dalam setiap pertandingan persahabatan antara perguruan silat aliran putih yang diadakan dua tahun sekali, Pedang Samudra tidak pernah keluar dari sepuluh besar. bahkan dalam tiga pertemuan terakhir wakil mereka berhasil menempati urutan lima besar terbaik.
Kalau sekarang sang ketua perguruan silat yang sangat terkenal dengan kehebatan ilmu pedangnya itu sampai mengutus dua orang wakilnya sendiri untuk hadir di lereng gunung Merapi ini, bisa dipastikan mereka tidak berani memandang sebelah mata pada lawan yang bakal dihadapi.
Berdiri agak di belakang beberapa langkah di sebelah kiri dari tempat kedua wakil perguruan 'Pedang Samudra' itu, juga berdiri tegak dua orang pria dan wanita setengah umur yang masih terlihat gagah dan cantik. mereka sama mengenakan pakaian ringkas yang ketat berwarna kuning terang dengan bagian lengan pendek sebahu, sehingga otot lengan si pria yang kekar terlihat. demikian juga sepasang lengan putih mulus yang agak berlemak milik wanita disebelahnya juga terpampang jelas.
Meskipun sudah terlihat berumur, tapi wanita yang rambutnya hitam lebat itu masih terlihat cantik dengan bentuk tubuh yang sintal padat menarik hati, hingga si 'Harum Beracun' serta 'Setan Berjari Iblis' yang terkenal doyan tubuh perempuan cantik sampai melirik penuh hasrat dan membasahi bibir mereka.
Yang agak aneh wanita cantik berbaju kuning tanpa lengan itu bukannya marah, tapi malah tersenyum- senyum saja melihat tingkah keduanya yang tengik. begitupun lelaki gagah di sampingnya hanya tertawa kecil. bahkan mata bening wanita itu beberapa kali seperti sengaja mengerling pada mereka berdua.
Tidak ada satupun yang kenal siapa kedua orang setengah umur itu, untungnya mereka tidak perlu bertanya karena dua wakil ketua perguruan Pedang Samudra itu sudah angkat bicara, ''Kami berdua adalah wakil ketua dari perguruan silat Pedang Samudra yang berada di laut utara tanah Jawa. sengaja datang dari jauh ke lereng Merapi ini untuk menyelesaikan suatu perkara dengan seorang pendekar muda yang kabarnya menjadi pewaris lima tokoh sesat aliran hitam yang di masa lalu telah banyak melakukan pembunuhan.!'' ujar orang tua yang bertubuh lebih tinggi sambil menjura dengan sikap angkuh.
''Aku wakil ketua yang bernama Warmandaka dan juga saudara wakil ketua Muladewa, tanpa sengaja di tengah perjalanan kami bertemu dengan ''Sepasang Pendekar Berbaju Kuning' yang juga terkenal dengan kehebatan ilmu pedangnya. kebetulan mereka berdua turut tertarik untuk datang ke lereng Merapi ini. jadi., untuk pihak pengundang kami mohon maaf jika datang tanpa undangan..'' sambung wakil ketua Warmandaka.
Mendengar siapa adanya kedua orang berbaju kuning terang itu sikap para pentolan aliran hitam sama agak berubah. mereka sudah pernah mendengar sepak terjang kedua orang suami istri itu yang diluarnya saja terlihat ramah dan pendiam, tapi sangat kejam tiada ampun dalam membantai semua lawan, utamanya para kaum durjana golongan hitam seperti mereka.
Kabarnya selama hampir sepuluh tahun malang- melintang di rimba persilatan mereka berdua belum pernah kalah. yang rada aneh, biarpun terkenal dengan ilmu pedangnya tapi ditubuh mereka tidak terlihat membawa senjata apapun. ini berbeda dengan dengan kedua wakil perguruan Pedang Samudra yang menggembol sebilah pedang pusaka dibalik punggungnya.
''Haa., ha., suatu kehormatan bagi kami bertiga dapat menerima para tokoh silat ternama dari aliran putih. harap dimaafkan apabila kami tidak dapat memberikan penyambutan yang layak. aliran hitam dan putih memang punya jalannya sendiri. tapi demi suatu tujuan yang sama, sejenak waktu mari kita singkirkan dulu segala perbedaan dan silang sengketa antara golongan putih dan hitam..'' sambut Ki Singo Barong. bersama kedua saudaranya mereka tertawa bergelak lantas menjura hormat.
''Kalian semua sudah berbicara sekian lama tapi si pincang keparat yang sama kita tunggu belum juga terlihat batang hidungnya. sungguh membuat hatiku terasa mendidih.!" terdengar suara membentak gusar disusul berkelebatnya dua sosok bayangan hitam yang dengan cepat sudah jejakkan kakinya dengan ringan di tengah pedataran itu.
Sekarang disana sudah bertambah dua orang pendatang yang sama memakai jubah hitam. seorang nenek tua yang buntung pergelangan tangan kanannya dengan muka bengis keriput penuh hawa kebencian. di sampingnya berdiri setengah terbungkuk seorang lelaki yang wajahnya sengaja dilumuri cairan kehitaman hingga sulit dikenali. yang cukup menjadi perhatian adalah orang ini mempunyai jemari tangan dan kaki terpapras rata seluruhnya dan digantikan sepuluh buah paku hitam yang menancap ditulang tangan kakinya.!
''Huhm., sobat 'Tiga Singa Buas Bersurai Biru'., apakah kalian bertiga masih belum percaya dengan kemampuan perguruan 'Bayangan Berdarah' yang aku pimpin ini, hingga harus mengundang orang 'Serikat Kalong Hitam.?'' tegur ketua perguruan Bayangan Berdarah merasa geram.
''Nyi Kalong Mangiran., si 'Kelelawar Betina Berpedang Hantu'., kau tidak perlu menyindir kami dari perguruan Bayangan Berdarah. lagi pula nama Serikat Kalong Hitam kurasa masih belum sehebat pesaingnya dari 'Kelompok 13 Pembunuh'. jadi kau simpan saja ejekan itu untuk perkumpulanmu sendiri.!'' wakil ketua perguruan Bayangan Berdarah balas mengejek Nyi Kalong Mangiran yang merupakan ketua keempat dari Serikat Kalong Hitam.
''Kurang ajar., Ketua keempat harap ijinkan aku si 'Kelelawar Paku' untuk merobek mulut para pecundang berjubah merah sialan ini. biar mereka rasakan keganasan jurus 'Jari Paku Kalong Maut' milikku.!'' gertak lelaki muka hitam setengah bungkuk yang sejak tadi diam. rupanya orang ini adalah Kelelawar Paku, salah satu anggota andalan yang sangat di percaya oleh ketua Serikat Kalong Hitam.
Suasana seketika menjadi tegang, meskipun masih satu tujuan yang sama tapi diantara mereka para pesilat aliran hitam juga tetap terjadi persaingan dan hasrat saling bunuh. menyadari kemungkinan masalah perpecahan yang bakal timbul, Ki Singo Barong cepat menengahi. ''Harap tahan kemarahan kalian. sekarang ini kita sedang menantikan bedebah itu datang, jangan sampai karena masalah sepele urusan besar menjadi berantakan.!''
''Justru karena bangsat pincang itu belum muncul, anak buahku si Kelelawar Paku bisa mencari pemanasan sebelum kita memburu korban yang sebenarnya..'' dengus Nyi Kalong Mangiran kebutkan jubah hitamnya. segulung angin keras kehitaman menyambar kedepan. selain suatu serangan, ini juga isyarat bagi Kelelawar Paku untuk bertindak.
Anggota perguruan silat Bayangan Berdarah sama mendengus gusar hendak menyambuti serangan, tapi sang wakil ketua cepat angkat sebelah tangannya lalu menghantam. selapis hawa kemerahan menahan pukulan sakti Nyi Kalong Mangiran hingga musnah di tengah jalan. diantara debu yang membumbung akibat bentrok pukulan itu tedengar suara raungan melengking di susul berkelebatnya sosok bayangan hitam pendek dengan cabikan dua pasang tangan kaki berjari paku.
Gerakan jurus si Kalong Paku bukan saja cepat tapi sasarannya juga tidak dapat diduga. awalnya dia mengincar sang wakil ketua perguruan Bayangan Berdarah, tapi di tengah jalan malah berusaha menggasak ketiga orang murid perguruan itu yang berdiri dibelakang.
Jarak diantara dua kelompok ini awalnya terpaut lebih lima tombak, tapi Kelelawar Paku mampu melesat cepat melewatinya hanya dalam sekejapan mata. dua puluh jari paku beracun kehitaman menyambar. senyumam keji tersungging di wajahnya yang hitam, ''Hak., ha., mampus kalian.!''
Kedua ketua Bayangan Berdarah merutuk hendak mencegat dengan lepaskan satu ajian kesaktian, namun saat itu terjadi perubahan yang diluar dugaan. suara ledakan sekeras guntur menggoncang suasana pagi. sembilan kilatan cahaya hitam pekat berhawa panas menyengat tersembur seiring suara ledakan itu. debu pasir dan tanah berumput terbongkar membumbung tinggi menutupi pandangan mata semua orang.
Suara jeritan ngeri bersautan dengan makian sumpah serapah. tubuh si Kelelawar Paku masih sempat melayang dua tombak jauhnya sebelum terjungkal seperti seonggok sampah dengan punggung berlubang tanpa dia sempat tahu siapa pembunuhnya.
Dua orang murid perguruan Bayangan Berdarah yang hendak dia jadikan sasaran juga turut terkapar mandi darah dengan perut hangus berlubang. satu orang rekannya lagi masih mampu selamat meskipun harus kehilangan lengan kirinya yang remuk dan hitam terbakar.
''Jahanam pengecut., siapa orang beraninya membokong seperti ini.!'' damprat ketua perguruan Bayangan Berdarah naik pitam. serentak semua orang terperanjat kaget dan alihkan pandangannya ke satu arah. namun dari balik debu angin pukulan yang menutupi pandangan malah melesat sambaran belasan bayangan telapak tangan merah berbau anyir darah yang di susul segelombang sinar hitam kuning keemasan berbentuk kepala seekor naga.
''Awas., jurus 'Tapak Darah Meminta Sedekah.!'' seru Setan Berjari Iblis dan Harum Beracun. hampir bersamaan mereka mencelat mundur dan balas memukul. ''Cepat menyingkir., Pukulan 'Naga Penghancur Rembulan.!'' teriak Tiga Singa Buas Bersurai Biru kaget. ''Edan., ilmu 'Cakar Burung Hantu Pemuja Kegelapan.!'' umpat yang lainnya. ledakan dahsyat beruntun dari bentrokan ilmu kesaktian yang terlontar seakan pertanda dimulainya pertarungan puncak di lereng gunung Merapi.!
*****
Asalamualaikum.,
Mohon sertakan komentar, kritik saran, like👍 vote, atau favorit👌jika anda suka. Terimakasih🙏, Wasalamualaikum.