
Suasana masih gelap meski waktu sudah berganti hari. agak jauh diluar kadipaten Muntilan terdapat sebuah hutan kecil. untuk melewati hutan itu bisa melalui jalan setapak yang membelah tengah hutan. kalau berjalan terus sampai tembus ke luar hutan ini orang akan dapat memotong jalan menuju ke daerah Punggingan.
Namun jika dipertengahan jalan setapak itu orang memilih berbelok ke arah kiri hingga melewati sebuah sungai kecil yang berada seratusan langkah jauhnya dari tepi jalan setapak dan tertutup rimbunan bambu lebat orang akan menjumpai sebuah gubuk berdinding papan kayu dan anyaman bambu.
Walaupun udara terasa dingin dan langit masih gelap tapi jika kita amati di bagian dapur dalam gubuk bambu itu sudah terjadi suatu kesibukan. tiga buah tungku perapian berukuran besar dan kecil terlihat menyala. hanya dalam waktu sepeminum teh saja sudah mampu mendidihkan kuali tanah yang diletakkan diatasnya.
Seketika bau rempah, biji, akar dan dedaunan yang dijadikan bermacam jamu serta ramuan obat tercium dan menyebar hingga keluar gubuk. dalam gubuk yang terdiri dari tiga ruangan dan terpisah oleh dinding anyaman bambu itu diterangi oleh nyala api obor dan pelita minyak biji buah jarak.
Seorang gadis muda yang cuma memakai pakaian dalam kutang putih dan lilitan kain jarik hitam penutup pinggang dan lututnya terlihat sibuk mengatur perapian di ruangan dapur yang terasa panas. kulit tubuhnya yang putih terlihat basah dan kotor oleh keringat juga abu tungku. bagian punggung dan bahunya nampak dihiasi jalur- jalur bekas luka sabetan cambuk.
''Gendol., tolong kau belah kayu bakar diluar gubuk. pilih yang dari kayu jati karena panas apinya lebih tahan lama, baik untuk memasak ramuan jamu. hari ini kita dapat pesanan cukup banyak dari para pedagang di pasar Sewon..'' perintah gadis itu pada seorang pemuda bertubuh besar gemuk dan tembem yang baru saja mengangkat kuali besar dari atas perapian. tenaga pemuda ini cukup besar meskipun dari gerak- geriknya terkesan lamban dan rada bodoh.
''Ooh., iiy., iya mbak Srianah. Aa., aku segera lakukan..'' sahut pemuda yang dipanggil dengan nama Gendol itu tergagap menyahuti perintah gadis yang rupanya adalah Srianah, murid dari 'Gembel Sakti Mata Putih' dan mendiang Ki Suta sekaligus sahabat karib si pincang Pranacitra yang paling dekat.
''Jangan lupa., sekalian juga beri tahu pada mbah Tumi untuk membawa hasil parutan jahe, kencur dan kunyit yang dia kerjakan kemari. Duuhh., hari ini aku benar- benar sibuk..'' keluh Srianah menghapus keringat yang mengalir di dahinya. meski demikian gadis itu justru tambah semangat dalam bekerja.
Seorang nenek yang mungkin berumur tujuh puluhan bertubuh kecil dan agak bungkuk membuka pintu ruang dapur. ditangannya dia membawa tiga buah kuali yang ditumpuk. melihat itu Srianah cepat mengambil alih tumpukan kuali itu dari tangan si nenek. ''Terima kasih mbah Tumi, sekarang mbah boleh istirahat. karena sejak tadi malam sudah bangun dan menyiapkan bahan jamu, tentunya si mbah merasa lelah bukan.?'' ucap Srianah penuh perhatian.
Orang yang dipanggil sebagai mbah Tumi itu menggeleng keras. dengan isyarat tangan dia berusaha untuk mengatakan kalau dia masih sanggup dan ingin membantu Srianah. gadis itu paham kalau orang tua yang punya kesulitan dalam berbicara ini cukup keras kepala. sejak dua bulan lalu mbah Tumi dan pemuda gemuk besar bernama Gendol itu ikut membantunya meracik bahan jamu pesanan pelanggan.
Gendol yang berbadan besar dan punya tenaga kuat bertugas mencari kayu bakar di hutan sekaligus juga memotongnya menjadi ukuran yang lebih kecil. meskipun bodoh juga agak lamban tapi dia sangat penurut dan rajin bekerja. sampai- sampai pernah Srianah lupa menyuruhnya istirahat makan siang. sampai menjelang malam pemuda itu tetap saja bekerja memotong kayu bakar.
Srianah tidak tahu mesti sedih atau tertawa melihatnya. karena itu esok harinya Gendol dia ijinkan untuk tidak bekerja. seharian dari pagi sampai malam tiba pemuda itu hanya tidur pulas. jika saja Srianah tidak bergegas membangunkannya mungkin dia akan tetap ngorok sampai pagi. pendek kata kelakuan pemuda ini mirip kerbau yang hanya bisa menurut kemana saja.
Antara mbah Tumi dan Gendol masih ada hubungan keluarga. mereka berdua masih terhitung nenek dan cucunya. ibu dari Gendol adalah keponakan mbah Tumi. sejak setahun silam kedua orang tua pemuda itu sudah meninggal karena suatu penyakit. Gendol dan mbah Tumi juga terkena penyakit itu tapi tidak sampai parah.
Keluarga mendiang ayah Gendol mengambil alih rumah mereka dengan alasan sebagai pengganti biaya pengobatan selama sakit dan kebutuhan pemakaman kedua orang tuanya. setelah di berikan sekedar uang bekal, nenek dan cucu inipun diusir keluar desa karena takut mereka sudah tertular penyakit bawaan orang tuanya.
Jadilah kedua nenek dan cucu ini luntang- lantung di pasar Sewon. Gendol yang punya bertenaga besar bekerja sebagai kuli angkut barang para pedagang. karena dia tolol sering kali para pedagang mengakalinya dengan membayar murah. bahkan kadang cuma diberikan beberapa potong ubi singkong rebus sebagai ganti uang pembayaran.
Srianah yang kebetulan sedang mengirim pesanan jamu pada pelanggannya melihat kejadian itu. diam- diam gadis itu mengikuti Gendol saat pulang dari bekerja dipasar. seketika Srianah merasa trenyuh melihat seorang nenek yang sedang sakit dan cucu lelakinya itu hanya tidur dibawah sebatang pohon dan atasnya cuma ditutupi daun- daun kelapa sebagai peneduh.
Kedua orang ini tidak tinggal di pondok yang sama dengan Srianah melainkan sebuah gubuk kecil yang berada di belakangnya dan baru saja di bangun oleh mereka bertiga. meski kecil dan sangat sederhana tapi cukup nyaman di tinggali. lagi pula jika dibandingkan dengan tempat mereka sebelumnya tentu gubuk ini jauh lebih baik. nenek dan cucu itu merasa sangat berhutang budi pada Srianah.
Tidak butuh waktu lama bagi gadis itu untuk mengajari si nenek yang kemudian dia panggil sebagai mbah Tumi tentang cara menyiapkan bahan ramuan jamu dan obat karena ternyata nenek tua yang punya sedikit kesulitan dalam berbicara itu juga punya pengetahuan dalam dasar pembuatan jamu.
Tapi tidak demikian dengan Gendol. pemuda berbadan kuat tapi lamban dalam berpikir itu sangat sulit diajari. pada akhirnya Srianah memberinya tugas mencari dan menyiapkan kayu bakar serta segala macam pekerjaan berat lainnya. justru jenis pekerjaan seperti itu yang disukai oleh Gendol karena dia tidak perlu lagi repot- repot berpikir.
Dengan bantuan kedua orang itu, pekerjaan Srianah menjadi lebih ringan. jamu dan obat pesanan pelanggan dari luar kadipaten Muntilan yang sering kali dia tolak karena tidak sanggup mengerjakannya sebagian kini bisa Srianah layani. penjual jamu gendong keliling juga semakin banyak yang mengambil jamu dan ramuan obat darinya karena cukup terkenal manjur.
Demikian pula kalau ada orang sakit yang datang berobat langsung ke pondoknya, dia juga punya waktu untuk melayaninya. pendek kata sekarang ini Srianah yang dulunya adalah seorang tukang copet cilik sudah berubah menjadi juragan. mungkin dalam bahasa jaman sekarang dia sudah bisa disebut sebagai seorang Bos.!
Beberapa minggu kemudian sempat terjadi peristiwa di pondok Srianah. beberapa orang pedagang yang biasanya dapat mengeruk keuntungan dari kebodohan Gendol sebagai kuli angkut pasar mendatangi untuk meminta pemuda itu kembali bekerja di pasar. pada awalnya gadis manis itu hanya diam tanpa mau ikut campur.
Tapi saat mereka mulai main paksa pada pemuda itu juga mengancam hendak menyakiti mbah Tumi jika Gendol tidak mau menurut, akhirnya Srianah turun tangan juga. jumlah para pedagang yang datang ada tiga orang belum termasuk lima centengnya. melihat Srianah yang berwajah manis dan terlihat lugu timbul pikiran kotor di otak mereka.
Di luar dugaan, Gendol yang tadinya merasa takut dan kebingungan mengkhawatirkan neneknya mendadak marah besar melihat Srianah yang jadi dewi penolongnya hendak dianiaya orang. meskipun tidak mengerti ilmu silat dan bodoh tapi dengan tubuhnya yang besar juga kuat dia mampu melemparkan salah seorang pedagang juga pengawalnya hingga tulang bahu keduanya patah setelah menabrak sebatang pohon besar.
Walaupun cukup terkejut tapi semua orang tidak menjadi panik. malah dengan andalkan senjata golok dan ilmu silat yang dimiliki mereka mengeroyok Gendol. pemuda itu pasti mati jika saja Srianah tidak turun tangan. hanya butuh sepuluh jurus saja bagi gadis itu untuk merobohkan semuanya. bahkan empat orang di antaranya dia buat terkapar pingsan hingga tiga malam lamanya.
Kedua nenek dan cucu itu sama sekali tidak pernah mengira kalau ternyata gadis muda majikan mereka mempunyai ilmu kanuragan yang hebat. kekaguman dan rasa terima kasih Gendol dan mbah Tumi semakin berlipat pada Srianah. dalam hati mereka bersumpah untuk selalu setia dan bekerja dengan tekun mengikuti segala perintahnya.
Namun halangan selalu saja ada, Gendol tiba- tiba saja berlari masuk ke dalam gubuk dengan raut muka panik. ''Cee., celaka mbak Srianah. oor., orang- orang pasar itu, meer., meree., mereka kembali lagi kemari. jumlah mereka aa., ada duu., dua belas., eh buu., buk., bukan. mereka ada dua puluh orang.!'' serunya tergagap.
*****
Mohon maaf., novel Pendekar Tanpa Kawan tidak bisa update selama seminggu ke depan karena si Author sibuk kerja. Terima kasih 🙏.
Jangan lupa., untuk menuliskan komentar Anda yah😊👌.