Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Pejamkan saja matamu., mungkin kau tidak akan tahan melihatnya.


Srianah edarkan pandangan matanya sekali lagi ke sekeliling. barulah dia menyadari kalau ada tiga ekor anjing berwarna kelabu kehitaman yang lebih mirip dengan serigala berada bersama rombongan perkumpulan silat 'Musang Kelabu' itu. ketiga anjing ini terlihat menggeram buas memperlihatkan gigi taringnya yang tajam. jika tidak di tahan dengan rantai besi yang mengikat lehernya mungkin binatang ini sudah menerkamnya.


Binatang sejenis anjing, serigala, musang dan sejenisnya mempunyai penciuman yang sangat tajam. jika mereka memakai bantuan binatang ini, tidak mengherankan kalau perkumpulan silat Musang Kelabu dapat menemukan jejaknya.


''Kurasa yang hebat bukanlah perkumpulan Musang Kelabu, melainkan anjing- anjing pemburu yang jadi peliharaan kalian itu..''


''Manusia mendompleng kehebatan manusia lainnya kurasa sudah sering terdengar. tapi jika ada sekelompok orang yang senang menumpang nama pada beberapa ekor anjing, chuih., kurasa baru pertama kali ini terjadi..'' ejek Srianah sambil meludah. sikap gadis itu terlihat santai tanpa ada sedikitpun rasa takut. karuan saja terdengar dengusan dan makian marah dari para anggota Musang Kelabu. bahkan lelaki setengah baya yang kiranya menjadi pimpinan sampai gemetaran menahan hawa amarahnya.


''Gadis keparat., berani benar kau menghina kami dari perkumpulan Musang Kelabu.!''


''Sebelumnya kita masih memandang dirimu yang lumayan menarik hati. tapi rupanya kau sudah benar- benar bosan hidup..''


''Haalah., tidak perlu banyak omong lagi. kita tangkap saja dia sekarang baru kita kerjai. jika gadis tengik itu melawan., habisi saja.!'' umpat para anggota Musang Kelabu geram.


Setelah sekejap saling pandang lima orang anggotanya cepat menyerbu ke muka. tiga diantaranya kirimkan masing- masing dua jotosan keras kebagian atas tubuh. sedang dua orang lainnya menendang pinggang Srianah di kiri kanan. meskipun cuma serangan jurus tangan kosong tapi cukup berisi karena di lambari tenaga dalam.


Gadis yang di serang sesaat masih berdiri tenang di tempatnya. baru di saat serangan kelima lawannya tinggal sejengkal dari tubuhnya, dia bergerak mundur selangkah. kedua telapak tangan membuat beberapa gerakan memutar mirip lingkaran di barengi kaki kanannya menjejak dan menyapu.


Sepintas gerakan jurus ini terlihat sederhana, bahkan setiap orang yang pernah belajar ilmu silat pasti bisa mekakukannya. tapi hebatnya angin tajam bersemu cahaya redup keperakan yang keluar dari kedua telapak tangan dan kakinya itu bukan saja mampu mengakibatkan serangan lima lawannya terbendung, tapi juga membuat lengan kaki mereka memar bahkan patah.!


Di saat meraung kesakitan dan belum sadar sepenuhnya dengan apa yang terjadi, gadis manis berbaju biru muda itu sudah kembali menggebrak. tidak tanggung- tanggung dalam sekali gebrak Srianah lepaskan empat pukulan dan tiga tendangan melingkar yang langsung membuat para penyerangnya terkapar pingsan dan termuntah isi perutnya.


Semua orang terperangah kaget, beberapa sampai melongo leletkan lidahnya tidak percaya. meskipun sudah mendengar dari mulut empat rekannya yang sudah lebih dulu roboh terhajar, tapi mereka sungguh tidak pernah menyangka kalau gadis itu punya tingkat ilmu silat sehebat ini.


''Bocah perempuan bangsat., kau benar tidak dapat di ampuni. kita serang gadis sialan ini, lepaskan tiga anjing piaraan kita biar mereka dapat memuaskan rasa laparnya dengan daging gadis muda itu.!'' seru si pemimpin perkumpulan silat 'Musang Kelabu' murka.


Dalam dunia hitam rimba persilatan orang setengah baya ini di beri panggilan sebagai Ki Musang Laga. dulunya dia bekas seorang wakil kepala pasukan pada masa akhir Majapahit yang punya keahlian mencari jejak dan melatih binatang untuk perburuan. di saat pemberontakan terjadi orang ini malah menghilang dengan lebih dulu mencuri banyak barang berharga dari gudang harta keraton.


Setelah Majapahit runtuh dan berganti kesultanan Demak, dia baru berani muncul kembali dari tempat persembunyiannya. dengan bekal harta curian itulah Ki Musang Laga membentuk perkumpulan silat Musang Kelabu yang sering menerima jasa mencari jejak buronan atau sejenisnya dari kalangan kerajaan maupun orang persilatan.


Tanpa menunggu apapun lagi serentak dua puluhan orang anak buahnya menyerbu setelah lebih dulu mencabut sebilah pisau belati sepanjang hampir dua jengkal. yang berbeda dengan pisau umumnya selain lebih panjang hingga mirip golok pendek, ujung mata pisau itu bergerigi. kabarnya pisau- pisau ini di namai 'Belati Asu Licik'. senjata andalan anggota Musang Kelabu yang mengandung racun cukup ganas.


Dalam mengembara di rimba persilatan selain ilmu silat dan kesaktian yang di dapat dari girunya si 'Gembel Sakti Mata Putih', Srianah tidak mempunyai satupun senjata pusaka sebagai tambahan bekal melindungi dirinya. karenanya dengan tangan kosong gadis itu berusaha melayani gempuran puluhan anggota Musang Kalabu yang sedang kalap.


Biarpun dia punya ilmu silat dan kecepatan bergerak yang mengagumkan, tapi kalau menghadapi keroyokan puluhan orang yang juga punya ilmu silat lumayan seperti itu tentu membuat Srianah agak kerepotan juga. belum lagi terjangan tiga ekor anjing besar yang sepertinya sudah terlatih untuk ikut bertarung dan sedang kelaparan, membuat gadis itu nyaris tergigit taring- taringnya yang tajam.


Tetapi sebagai murid seorang tokoh silat nomor wahid dari aliran putih, Srianah tentu tidak gampang terdesak apalagi sampai di lumpuhkan. dengan kembangkan ilmu 'Sembilan Daun Melayang' tubuhnya mampu dengan lincah dan ringan menyusup diantara tikaman juga bacokan senjata lawan. empat lima kali telapak tangannya bergerak cepat membuat lingkaran seperti sebelumnya lantas menampar, menghentak dan meninju.


Selapis cahaya redup keperakan menyambar. hasilnya tiga orang pengeroyok tersungkur dengan tulang tangan kaki remuk dan rahang gigi patah tersembur bersama darah yang keluar dari mulutnya. dalam waktu cukup cepat lebih dua puluh jurus terlewati.


Kejadian ini tentu membuat para pengeroyok gadis itu memaki kalang kabut. si pemimpin meraung gusar melihatnya. kalau di teruskan mungkin anak buahnya yang lainnya akan ganti menyusul. dengan beringas dia mencabut sebilah pisau yang bentuknya dengan milik anak buahnya. hanya terlihat memancarkan cahaya dan asap ke abu- abuan pertanda punya daya kesaktian.


Di dahului bentakan garang lelaki ketua perkumpulan Musang Kelabu itu menerjang ke depan. pisaunya menusuk dan membabat lambung serta jantung Srianah. bebarengan tangan kirinya yang berkuku tajam bersinar keabuan bergerak mencabik tiga sasaran sekaligus. jurus ini di namai 'Terjangan Lima Musang Liar Kelaparan.!'


Terperanjat juga Srianah menghadapi jurus serangan lawannya. dari angin serangannya yang sanggup mengacaukan jalan darahnya saja dapat di duga kalau lawan mempunyai ilmu kesaktian yang tinggi. setelah dia merobohkan seorang lagi pengeroyoknya sekaligus menendang pecah kepala salah satu anjing yang hendak mengigit kakinya, Srianah baru bisa berhadapan langsung dengan jurus serangan lawannya.


Dengan tetap andalkan ilmu Sembilan Daun Melayang dan gerakan tangan melingkar yang aneh bersinar keperakan, gadis itu yakin masih bisa terus bertahan. saat kedua telapak tangannya di hantamkan ke depan terlihat dua buah lingkaran sinar keperakan berhawa panas langsung menyambar.!


Namun tidak percuma dia menjadi ketua dari suatu aliran silat yang punya nama di daerah kadipaten Muntilan terutama di sekitar pasar Sewon, dia bukannya berusaha melawan sedotan tenaga kesaktian Srianah, tapi malah mengikutinya. di saat cakar dan senjatanya yang tersedot sudah mendekati telapak gadis itu, pisau 'Belati Asu Licik' itupun dilemparkan dengan menambah tenaga dalam berkali lipat, hingga daya luncurnya menjadi jauh lebih cepat.!


''Haa., ha., ilmu kesaktianmu memang hebat, tapi tipuanku lebih mematikan. modar kowe bocah wadon edan.!'' umpat Ki Musang Laga sambil terus hantamkan cakar mautnya. sasarannya tetap tidak berubah mengancam tiga bagian terlemah dari tubuh gadis itu.


Srianah menjerit keras. pisau yang terbang menghunjam, cakar beracun keabuan yang mencabik, belasan orang anggota Musang Kelabu yang terus menerjang dari empat penjuru dan masih di tambah dengan dua ekor anjing pemburu yang kelaparan seperti membuat gadis itu sudah di tetapkan untuk mati.


Dengan penuh kenekatan gadis itu terus hantamkan pukulan sakti Sepasang Sinar Lingkaran Dewa. sebenarnya jika tidak dalam keadaan di keroyok belasan orang begini, Srianah yakin masih mampu merobohkan ketua perkumpulan Musang Kelabu. dari pada mati sendirian lebih baik hilang nyawa bersama dengan lawannya.


Srianah tidak takut pada kematian. yang dia sesalkan cuma satu, keinginannya untuk bertemu Pranacitra harus terputus. dengan pejamkan matanya dia berdoa supaya pemuda itu selalu dalam keadaan baik dan selamat di manapun dia berada saat ini. mungkin terdengar aneh., dimana saat orang terancam jiwanya tapi malah memikirkan keselamatan orang lain. tapi demikianlah yang ada dalam pikiran gadis polos ini.


Terasa ada beberapa ujung pisau yang dingin menyayat kulit pungungnya. kaki kiri terasa perih tergigit taring binatang. baju birunya robek tercabik cakar hingga kulit perutnya tergores perih berdarah. meskipun terluka tapi Srianah tidak menjerit kesakitan. luka yang dialaminya tidak ada artinya, karena dia tahu tubuh seseorang yang kini sedang memeluknyalah yang sedang mengalami puluhan luka dan rasa sakit.


Wajah Srianah mendongak menatap pemuda berparas dingin pucat yang terus mendekap erat tubuhnya. wajah pemuda yang ingin ditemuinya itu sekarang berada di depannya. menggunakan tubuhnya sebagai perisai. anehnya meskipun di tikam bacok belasan senjata tapi orang ini masih tersenyum kepadanya, seakan selain dia semua hal di dunia ini tidak berarti lagi baginya.


Semua orang terdiam bahkan perlahan tersurut mundur. dari tengah kalangan itu seakan terpancar hawa dingin yang mampu membekukan jiwa. Ki Musang Laga tertegun, tubuhnya gemetaran melihat semua yang terjadi di depannya.


Seorang pemuda berparas tampan namun pucat dan dingin itu entah muncul dari mana. belasan mata pisau itu jelas menikam dan membabat tubuhnya. pukulan cakar beracun miliknya juga telah menghantam pemuda itu. meskipun sebagian pisau Belati Asu Licik anak buahnya dan angin pukulan cakarnya sempat menggores kulit tubuh si gadis, tapi inti pukulan saktinya sendiri entah bagaimana malah menyasar diri pemuda itu.


Pemuda aneh berbaju gelap itu terus berdiri seakan benteng kokoh yang melindungi seorang putri raja. darah mengalir dari mulut belasan luka di tubuhnya sehingga baju gelapnya yang tebal dan gombrong terlihat berubah basah kemerahan.


Dua ekor anjing buas itu masih mengigit kaki pemuda itu hingga berdarah, orang yang melihat sampai bisa membayangkan rasa sakitnya. tapi anehnya pemuda itu masih diam mendekap erat tubuh si gadis sambil berbisik perlahan, ''Kau diam dulu di sini., pejamkan saja matamu karena aku takut kau mungkin tidak tahan melihat dengan apa yang bakal kulakukan pada orang- orang itu..''


Srianah tidak tahu apa yang seterusnya terjadi. dia cuma terus pejamkan kedua matanya. meskipun tidak dapat melihat apapun tapi dari telinga, hati dan seluruh inderanya yang tajam dia masih dapat membayangkan semua yang sedang terjadi saat itu.


Dia dapat mendengar suara dua kepala anjing besar buas yang pecah terinjak. juga jeritan parau penuh rasa sakit dan ketakutan dari belasan anggota perkumpulan silat Musang Kelabu yang terpotong- potong anggota tubuhnya. bau anyir darah segar yang menyembur hingga terpercik di wajahnya berseling aroma daging busuk yang terbakar hangus. Srianah bersyukur pemuda bernama Pranacitra itu memintanya untuk tidak melihat. karena dalam keadaan seperti itupun dia sudah gemetaran ngeri.


Ki Musang Laga tersurut mundur ketakutan. pemuda macam apa yang sanggup membantai seluruh anak buahnya hanya dalam waktu sekejap mata saja. pemuda itu sedikit mendongak hingga sorot matanya yang dingin tanpa suatu perasaan itu terlihat. kedua mata itu selain aneh juga sangat menyeramkan. tidak terlihat perasaan marah, duka, senang atau apapun. itu seperti mata orang yang sudah mati.


Sebuah tongkat besi hitam yang tergenggam di tangan membantu si pemuda berjalan. buntalan kain hitam yang menutupi gagang tongkat berkepala tengkorak telah terbuka. kakinya pincang sebelah kiri, menyeret pelan mengikuti langkah yang kanan. dari bibirnya mengalun suara siulan lagu yang berirama menyedihkan hati. Ki Musang Laga makin gemetaran. dalam hatinya dia menyumpah serapah mengutuki nasibnya yang sial. dia sudah teringat pada seseorang.


''Kenapa Iblis pincang itu bisa muncul di sini., kesalahan apa yang telah aku perbuat hingga menyinggungnya.?'' dia sungguh tidak pernah mengerti semua yang terjadi padanya hari ini. lagi pula dia juga sudah tidak dapat berpikir saat ujung tongkat besi pemuda itu entah sejak kapan sudah mulai menembus batok kepalanya.


Kedua matanya melotot, seakan dia dapat melihat darah dan cairan otaknya sendiri yang mengucur keluar dari lubang kepalanya seiring ujung tongkat yang terus menggerus ke dalam lapisan otak bagaikan sepucuk mata bor yang menembusi dinding karang.


Saat terakhir sebelum nyawanya melayang, Ki Musang Laga masih dapat merasakan tubuhnya di angkat ke atas oleh tongkat besi lawan lalu terlempar jauh hingga remuk menghantam gundukan batu, seakan dia hanyalah sekantung gumpalan sampah busuk yang tidak berharga.


Pemuda pincang itu tersenyum tipis. sebuah senyuman dingin yang menyerupai seringai keji. matanya memandang hamparan mayat terpotong yang sebagian terbakar hangus. baginya mayat dan darah yang menggenang di tanah itu seakan hamparan taman bunga yang tersiram segarnya air hujan.


*****


Asalamualaikum., maaf author aslinya belum dapat hp baru, tunggu gajian akhir bulan๐Ÿ˜…. ini dia pinjam temannya untuk chat kirim inti sambungan cerita PTK dan 13 Pbh. terus aku di Kongkon Gawe Dewe dibantu orang rumah๐Ÿ˜“๐Ÿ˜’.


Jadi maaf yah kalau gak bagus ๐Ÿ™๐Ÿ™dan berantakan., sampai jumpa lagi awal bulan depan. Terimakasih. Wasalamualaikum.