Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Kabar rahasia.


Pemuda pincang itu sekejap melirik ke atas. tanpa terasa hari sudah beranjak siang, pandangannya beralih ke arah anggota terakhir gerombolan 'Tupai Terbang' yang masih gemetaran bersandar di batang pohon tumbang. dengan langkah kaki yang terseok pemuda bernama Pranacitra ini mendatangi orang itu.


Sepintas langkah kakinya terlihat berat dan lamban. jarak diantara keduanya juga terpaut belasan langkah. tapi hebatnya hanya dalam beberapa kejapan mata saja si pincang ini sudah sampai di depannya.


Anggota Tupai Terbang ini merasa bergidik ngeri saat sepasang mata yang dingin tanpa perasaan itu menatapnya. tanpa dia sadari kepalanya menunduk, mata itu seperti bukan mata manusia hidup, melainkan lebih mirip mata sesosok mayat.


Tongkat besi hitam di tangan kanan perlahan terangkat, ujung tongkat terasa dingin saat menyentuh dada kirinya. ingin dia mencoba untuk menghindar namun tidak ada tenaga untuk bergerak. orang ini melenguh keras karena merasakan ada hawa dingin yang tersalur melalui tongkat besi dan merambah sekujur tubuhnya.


Orang ini ingin berontak dan menjerit saking tidak tahan dengan gelombang hawa dingin yang merasuki tubuhnya. tapi bukan saja dia tidak mampu bergerak, tenggorokannya juga seperti tersumbat hingga tidak dapat bicara.


Rasa sakit itu semakin menjadi bersamaan dengan bunyi gemeletuk tulang dan otot- otot di dalam dirinya. pemuda pincang itu menyeringai sadis, sebaliknya dia malah mendelik dengan bibir gemetaran ingin mengucap kata ampun yang tidak sanggup di utarakan. tongkat besi bergerak naik, tubuh anggota Tupai Terbang itu juga turut terangkat.


Saat tiga buah totokan tongkat besi hitam menghantam, orang ini juga terjungkal dan muntah darah kental kehitaman. anehnya setelah itu rasa sesak yang menggumpal di dadanya seketika hilang. bahkan rasa sakit di tangan kakinya yang patah sudah jauh berkurang.


Perlahan orang ini mencoba berdiri. sekali dua kali dia gagal, bahkan keburu roboh saat tubuhnya masih membungkuk. si pincang tersenyum sinis mengejek, ujung tongkatnya bergerak memberikan satu isyarat. seakan paham dengan apa yang di maksudkan, dia merenggangkan kedua kakinya. kemudian baru perlahan bangkit berdiri.


Setelah pejamkan mata bersemedi mengatur pernafasan dan tenaga, sekarang dia sudah dapat menyangga tubuhnya meskipun masih terasa ngilu di kedua kaki. orang itupun sadar kalau si pincang telah mengobati lukanya dengan cara yang aneh dan sedikit kejam.


''Berusahalah untuk bisa terus berdiri setidaknya sampai satu kali peminum teh. lalu duduk beristirahat. ulangi terus hingga empat atau lima kali baru mulai mencoba berjalan..'' ujar si pincang Pranacitra sambil lemparkan sebutir obat berwarna kuning.


''Obat itu selain untuk memulihkan tenagamu juga dapat menyingkirkan racun dari dalam tubuh. setelah itu pergilah mencari tempat yang aman untuk memulihkan diri. jangan pernah menggunakan tenaga dalammu paling tidak selama seminggu kedepan, apalagi untuk bertarung..''


Orang di depan Pranacitra itu menjura hormat. ''Terima kasih karena saudara telah menyelamatkan hidupku, bahkan juga mengobati luka- luka di tubuhku. namaku Suro Dares., seumur hidup tidak akan pernah melupakan budi pertolonganmu..''


Sambil terus melakukan semua petunjuk yang di berikan si pincang, Suro Dares tanpa ragu mulai menceritakan siapa dirinya dan kenapa sampai bentrok dengan orang tua itu. pemuda pincang ini hanya mendengarkan sambil lalu saja, seakan dia tidak tertarik urusan orang lain.


''Eehm., jika boleh tahu siapakah saudara ini dan bagaimana bisa berada di sini.?'' tanya orang yang mengaku bernama Suro Dares itu.


Pranacitra cuma kibaskan tangannya, ''Aku cuma kebetulan lewat saja. soal siapa aku., sebaiknya kau tidak perlu tahu. karena jika sampai ada orang persilatan yang tahu kalau kau mengenalku, bisa jadi umurmu menjadi lebih pendek dan kau bakalan cepat mati..'' Suro Dares seketika tercengang. ''Jawaban gila macam apa itu., kalau kau memang tidak mau mengatakannya tidak masalah bagiku. tapi kenapa juga mengataiku bakal berumur pendek jika mengenalmu..'' batin Suro Dares rada jengkel bercampur bingung. kalau saja dia tidak berhutang nyawa pada si pincang itu, pasti dia bakalan mengumpat.


Saat dia hendak mengatakan sesuatu, pemuda pincang itu sudah melangkah pergi. cara berjalannya yang terseok merayap seperti cacing itu selain terlihat menggelikan juga mengundang rasa iba. apalagi saat pemuda itu bersiul lagu yang berirama menyedihkan hati.


Lelaki tiga puluh lima tahunan bernama Suro Dares itu seketika menjadi tegang dengan wajah yang semakin memucat. bibirnya seakan mau berkata sesuatu tapi lidahnya mendadak kelu. beberapa bulan belakangan di rimba persilatan muncul sebuah kabar yang menggemparkan tentang kemunculan seorang pemuda pincang yang punya ilmu kesaktian sulit di ukur dan punya kegemaran bersiul lagu berirama menyedihkan hati.


Kabarnya pemuda yang punya julukan 'Siulan Kematian' atau si 'Setan Pincang Penyendiri' itu mempunyai banyak sekali musuh baik dari golongan putih maupun aliran hitam. konon tindakannya sangat kejam dalam membunuh para musuhnya. kini Suro Dares tahu dengan siapa dia berhadapan dan kenapa dia bisa berumur pendek jika mengenalnya.


Tiba- tiba saja dia teringat akan sesuatu hal penting yang berkaitan dengan pemuda ini. ''Saudara harap tunggu sebentar., beberapa hari lalu kami gerombolan 'Tupai Terbang' tanpa sengaja sempat mendapat suatu kabar rahasia tentang adanya pertemuan para tokoh silat aliran hitam dan putih untuk menyelesaikan beberapa masalah dan perselisihan. salah satu yang akan mereka bicarakan adalah tentangmu..''


Suro Dares urungkan niatnya untuk mendekat. diapun bercerita jika seminggu lalu saat dia dan semua temannya beristirahat di dalam sebuah goa batu yang tersembunyi, dari luar goa terdengar ada tiga orang yang sedang membicarakan tentang pertemuan rahasia bagi kaum persilatan.


''Kalau tidak salah dengar, pertemuan rahasia itu berlangsung di lereng gunung Semeru. di sana tempat perguruan silat 'Naga Biru'. mungkin salah satu dari sepuluh partai silat terbesar dari aliran putih inilah yang telah memprakarsai pertemuan rahasia itu..'' ujar Suro Dares ajukan pendapatnya.


Untuk pertama kalinya pemuda pincang ini menoleh, sekilas terlihat ada cahaya tajam yang menggidikkan terpancar di kedua matanya. 'Sangat menarik., apakah kau juga tahu kapan pertemuan rahasia itu akan di adakan dan siapa saja yang mungkin hadir di sana.?''


''Eehm maaf., soal itu kami tidak tahu jelas. tapi kurasa tidak akan melewati bulan depan. sebab kami juga sempat mendengar kalau undangan sudah mulai di sebarkan secara rahasia pada tokoh- tokoh silat tertentu..''


''Meskipun kami tidak melihat siapa mereka bertiga itu, tapi dari suaranya dapat di duga kalau mereka sangat muda dan masih satu saudara seperguruan karena salah satunya sempat menyebut kalau guru mereka yang baru saja menerima undangan itu. Aah., aku ingat sekarang. kalau tidak salah mereka juga sempat menyebut gurunya sebagai., Ki Gelung Sanca Amurkala..''


Suro Dares tertegun melihat satu keanehan di wajah pucat si pemuda pincang. sesaat dia seperti tidak dapat melanjutkan ucapannya, karena untuk pertama kalinya sorot mata dan raut muka dingin pemuda itu menunjukkan kegembiraan. tapi di sisi lain juga seperti memancarkan kobaran api dendam kesumat.


''Di sana masih ada kuda milik orang tua yang sudah mati itu. biarpun kurang terasa nyaman di tubuhmu yang masih sakit, tapi menunggang kuda tetap lebih cepat dan aman dari pada harus berjalan kaki..'' ucap pemuda pincang itu sambil tongkatnya menunjuk ke arah seekor kuda yang masih merumput dan tertambat di sebuah pohon. entah sejak kapan si pincang mengikat kuda itu di sana.


''Untuk semua berita yang kau sampaikan, aku ucapkan terima kasih. kalau mau bisa kutunjukkan satu tempat aman untukmu. apakah kau pernah mendengar nama perkumpulan 'Maling Kilat.?'' tanya pemuda itu. Suro Dares agak terkejut mendengar nama perkumpulan kaum pencuri itu di sebutkan. tapi dia cuma mengangguk saja.


''Turut ceritamu sekarang ini dirimu cuma sendirian dan jadi incaran beberapa pihak. kalau kau suka bisa bersembunyi di sana barang beberapa waktu untuk pulihkan diri..''


''Maaf saudara pincang., meskipun sering mendengar, namun aku tidak tahu menahu tentang perkumpulan Maling Kilat itu..''


''Kau tidak tahu, tapi aku paham soal mereka. diriku juga kenal dengan ketua besarnya si 'Malaikat Copet'. jika kau memang bersedia akan aku berikan sebuah petunjuk agar dapat menemukannya..'' tawar si pincang. setelah berpikir sesaat Suro Dares setuju.


Pemuda itu tersenyum sekilas, lalu dengan ujung tongkatnya dia menggambar beberapa garis diatas tanah sambil membisikkan sesuatu. Suro Dares beberapa kali terkejut mendengar penjelasan pemuda itu. ''Sepertinya orang ini tahu betul seluk- beluk perkumpulan Maling Kilat. jangan- jangan., dia salah satu anggotanya. tapi kurasa itu tidak mungkin..'' batin Suro Dares penasaran.


''Kalau kau berhasil menemuinya, sampaikan rasa terima kasih dan pesanku pada sang ketua besar., katakan padanya kalau bocah pincang yang jadi barang taruhannya sudah berhasil keluar dari lembah terkutuk.!''


''Satu hal lagi., jangan pernah mengatakan semua ini kepada orang lain jika kau masih ingin hidup.!'' sebuah pesan yang terselip satu ancaman terucap dari mulut si pincang. setelah menjura berpamitan dengan sikap sinis dan kaku, pemuda itupun balikkan tubuhnya dan mulai berjalan terseok tinggalkan tempat itu di iringi suara siulan lagu berirama menyedihkan hati.


Di balik wajah pucatnya yang menunduk dan sedikit tertutupi rambut hitam panjang itu, tersungging satu seringai tipis. ''Di saat aku menemui jalan buntu dalam mencari para bedebah itu, justru ada satu nama yang muncul tanpa sengaja. bagus sekali., kurasa perjanjian dengan gadis dari gunung Semeru yang bernama Puji Seruni itu terpaksa di percepat..'' batinnya sambil terus melangkah.


Suro Dares terkesima, dia sungguh tidak pernah percaya kalau pemuda pincang yang pucat seperti orang penyakitan itu adalah seorang pesilat muda yang belakangan membuat kegegeran besar di rimba persilatan. hebatnya selain ilmu silat yang sangat tinggi, dia juga menguasai ilmu pengobatan.


Bahkan sewaktu mengobati lukanya pemuda itu seperti tidak terlihat kelelahan, padahal untuk mengobati luka dalam di perlukan tenaga dalam cukup banyak. akhirnya seiring waktu yang telah melewati tengah hari, dengan menaiki kuda milik Ki Alu Gempur Bumi orang terakhir dari Tupai Terbang inipun pergi dari sana.