
Tanpa sadar semua orang tertegun dan saling pandang. entah karena mereka masih diliputi perasaan ngeri ataukah memang tidak paham dengan yang diucapkan lawannya. 'Dua Dedemit Merah Kuning' saling lirik sebelum mereka melangkah maju diikuti oleh kelima rekannya yang sudah menggengam senjata tajam di tangannya.
Saat pertama kali datang kemari jumlah mereka hampir ada dua puluh orang. tapi hanya dalam waktu singkat lebih dari separuh sudah terbantai menjadi onggokan bangkai gosong dan hancur. bahkan mungkin hampir semuanya tidak pernah mengerti benar bagaimana mereka bisa menemui kematian.
Walaupun dengan hati masih bergidik tapi kabur dari sana juga tidak mungkin karena si pincang juga belum tentu mau melepaskan mereka. terpaksa lima orang itu keraskan hati mengikuti Dua Dedemit Merah Kuning. lagi pula kedua tokoh silat itu bilang kalau punya barang pusaka yang dapat diandalkan.
Dua orang lelaki tua berbaju merah dan kuning itu mulai ayunkan pentungan bola besi berduri ditangannya. si 'Dedemit Kuning' merasa terhina saat melihat pemuda pincang hanya diam menunduk sambil putar- putar ukiran kepala tengkorak digagang tongkat besinya. gerakan itu baru berhenti saat dua mata tengkorak menghadap ke depan. dua kilatan cahaya merah menyeramkan terpancar dari sana.
''Sebenarnya ada persengketaan apa antara kalian dengan 'Lima Elang Api.?'' bertanya si pemuda pincang. kalau menurut kebiasaannya dia sangat enggan untuk turut campur urusan orang lain. bahkan dimasa lalu dia bakal bersikap masa bodoh jika ada orang yang sedang beradu jiwa didepan hidungnya. pengalaman pahit dimana Pranacitra mesti berjuang sendirian untuk tetap bisa bertahan hidup mungkin membuatnya sinis terhadap kejadian disekitarnya dan enggan bergaul dengan orang lain.
Namun seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit dia mulai bisa membuka diri. paling tidak saat ini Jingga Rani sedang bersamanya. meskipun dia tahu gadis itu berilmu tinggi tapi masalahnya sekarang dia sedang sendirian. dua anggota Lima Elang Api sudah tewas. dua saudaranya yang lain juga sedang menyepi untuk merawat luka dalamnya.
''Huhm., itu bukalah urusanmu. tapi jika kau memang ingin tahu tidak ada salahnya kalau kukatakan, hampir tiga bulan lalu gadis sundal pimpinan Lima Elang Api sudah membunuh seorang pemuda bernama Ranca Kundara. dia adalah keponakan sekaligus murid dari kami berdua.!'' dengus Dedemit Kuning.
''Saat itu keponakan kami yang gagah, tampan dan berilmu tinggi sudah berniat baik untuk mengambilnya sebagai istri, tapi gadis itu bukan cuma menolaknya, tapi bersama saudara- saudaranya malah turun tangan kejam menghabisi Ranca Kundara dan beberapa orang anak buahnya. maka dari itu kuminta kau cepat menyingkir dari hadapan kami.!'' timpal si Dedemit Merah geram.
Pranacitra termenung menatap langit yang mulai gelap. sisa cahaya mentari senja diufuk barat sebentar lagi akan menghilang. sikapnya yang acuh membuat kedua lawannya naik pitam karena merasa dianggap remeh. setelah menggembor beringas mereka berdua berniat menggebrak si pincang.
Namun sebelum Dua Dedemit Merah Kuning bergerak, lima orang rekannya yang juga turut menjadi gusar sudah mendahului menyerbu dengan bacokkan goloknya dari dua penjuru arah. tongkat besi hitam kepala tengkorak diangkat sebatas dada lalu membabat cepat dari kiri kekanan dan diakhiri dengan tiga buah tusukan tongkatnya ke depan. sekelebat sinar hitam pekat berhawa panas mengiringinya.
'Whhuuuukk., whuuuut.!'
'Sheeeett., sheeeet., plaaang.!'
'Claaang., traaaang.!'
Gerakan jurus tongkat yang sepintas terlihat sederhana itu justru membawa akibat yang mengerikan. suara beradunya senjata keras terdengar seiring dengan pedang golok yang patah bermentalan didara. pemiliknya roboh terjungkal dengan tulang dada jebol dan kepala rengkah.!
Kesunyian yang mencekam kembali melanda bersama hadirnya angin malam. meskipun tidak terdapat cahaya obor penerangan, tapi mata tajam dua tokoh silat golongan hitam dari tanah Pasundan itu tetap mampu melihat hamparan mayat rekannya yang terkapar di pelataran gubuk reot. hati mereka bergidik seram, lutut keduanyapun goyah gemetaran.
Sekali berkelebat Pranacitra sudah berada tiga langkah didepan Dua Dedemit Merah Kuning yang terperanjat kaget. dengan mengutuk buru- buru mereka sapukan senjata pentungan berujung bola besi berduri untuk menangkis sekalian hendak balas menggebuk hancur kepala serta leher lawan. tanpa dapat dicegah pertarungan dua lawan satu terjadi disana.
Kegelapan malam tidak mampu menghalangi ketiga orang yang sedang bertarung didepan gubuk bambu reot itu. meakipun dikeroyok tapi pemuda pincang itu justru yang berada diatas angin. dengan gabungan ilmu silat 'Langkah Aneh Mayat Hidup' dan jurus 'Tongkat Mencongkel Pintu Alam Gaib' membuatnya bukan saja selalu lolos dari hantaman pentung besi berduri kedua lawannya tapi malah balik menyerang dengan kekuatan yang lebih hebat.
''Keparat., kita mesti ganti jurus yang terhebat sekarang juga..'' geram Dedemit Merah sambil berusaha mengepruk kepala lawan. kawannya cuma mengangguk. kejap berikutnya kedua orang ini sudah mencelat tinggi ke atas. setelah sempat saling mengadu senjata pentung bola besi berduri diudara hingga menimbulkan pijaran api, keduanya meluruk ganas.
''Pincang sialan., jangan kau kira kami bakal kalah, rasakan ini.!'' teriak si Dedemit Kuning. bersama dengan kawannya keprukkan senjata pentungan besi berdurinya. hebatnya dibagian bola besi berdirinya seolah menjadi dua kali lipat lebih besar dan memancarkan kepulan asap merah dan kuning pekat sesuai warna pakaian mereka
''Terimalah ilmu ''Dua Gada Dedemit Memukul Gong' ini.!'' gertak Dedemit Merah. serangan pentung besi berduri itu laksana tindihan dua buah batu karang panas sebesar gajah. belum sampai senjatanya turun angin jurusnya sudah membuat tanah dibawah kaki si pincang rengkah terbongkar.!
Pranacitra menatap dingin. meskipun tubuh dan kepalanya serasa tertindih remuk tapi dia tidak menjadi gusar apalagi panik. tongkat besi menancap amblas hingga sejengkal ke dalam tanah. dua buah kepalannya yang pucat berotot kehijauan menghantam ke atas. kelebatan cahaya hitam dan kuning emas yang membentuk kepala seekor naga buas sedang meraung menyambar. pukulan sakti 'Raungan Naga Kehancuran.!'
Suara raungan dua ekor naga mengamuk itu sudah memecah kesunyian malam, tapi lebih menggoncangkan lagi bunyi ledakan yang terdengar saat dua cahaya naga hitam emas melebur musanah senjata bola besi berduri dari Dua Dedemit Merah Kuning. bahkan tangan kedua pemilik senjata itu turut pula hancur remuk dan gosong hingga sebatas siku.
Jeritan ngeri bercampur dendam amarah dan kesakitan tersembur dari mulut kedua tokoh silat dari daerah kulon itu. tubuh mereka terpental lantas jatuh terkapar hingga empat tombak jauhnya. setelah sempat bergulingan dan menjerit setinggi langit mereka berusaha untuk bangkit berdiri.
''Aaakh., bocah pincang jahanam, bajingan keparat. kau tidak bakalan sanggup untuk membunuh kami.!'' rutuk Dedemit Merah berteriak tertahan menahan kesakitan. setelah menotok bahu dan meminum beberapa butir obat tangan kirinya merogoh sesuatu dari balik baju merahnya.
Rekannya juga berbuat yang sama. ''Uuggh., hugh., aakh., bahkan kau., kaulah yang akan kami paksa untuk bunuh diri. dasar pincang terkutuk, buka matamu lebar- lebar. meskipun malam gelap tapi kau pasti masih mampu melihat barang apa yang berada ditangan kami ini.!''
Sepasang mata dingin Pranacitra perlahan berubah memerah seperti darah. meskipun masih diam kaku seperti mayat, tapi hawa kematian yang terpancar dari tubuhnya seakan berlipat ganda lebih mengerikan. mata iblis itu itu terus saja menatap dua buah bendera hitam bergambar gapura besar dengan latar belakang rembulan purnama bermandi darah. rupanya inilah benda pusaka yang mereka andalkan.
*****
Mohon maaf🙏 jika tulisan bahasa Sundanya ada kesalahan. author mendapatkannya setelah minta petunjuk dari mbah gogle translate. 😅🙏, Hatur nuhun. Terima kasih.