
Hujan deras sudah mulai mereda tapi suasana masih terasa gelap dengan mendung tebal yang terus menggantung. sesekali gemuruh suara guntur juga terdengar mengiringi sisa air hujan yang masih tercurah. angin yang berhembus kencang menembusi pakaian dan jubah para tokoh silat yang sudah basah kuyup, hingga hawa dinginnya terasa berlipat menyusup kulit tubuh.
Meskipun di sana tersedia puluhan tenda untuk tempat berteduh, tapi tidak ada satu orangpun yang mau menggunakannya. semua peristiwa yang terjadi di depan mata mereka pagi ini seakan pantang untuk di lewatkan. jangankan cuma curahan hujan angin badai, seandainya mereka mesti berdiri di atas batu kerikil tajam atau di ancam pedang golok, mereka juga akan tetap memilih berdiri tegak menatap panggung.
Pranacitra menatap dua orang berbaju putih celana hitam yang berdiri agak terpisah di sisi kanan panggung. biarpun raut muka mereka tertutup selembar kain putih hingga hanya terlihat mata dan dahinya saja, tapi dari perawakan tubuhnya dapat di pastikan kalau keduanya masih cukup muda.
Sama seperti yang lainnya, sekujur tubuh dan pakaian mereka berdua juga basah kuyup. demikian juga senjata sabit bergagang putih yang tergenggam di tangan mereka juga basah., dua bilah sabit yang di basahi oleh darah merah. butiran air hujan bercampur darah kental nampak mengalir dari ujung mata sabit lalu menetes ke lantai panggung hingga menambah keseraman suasana.
Empat orang terkapar di lantai panggung dekat dengan kedua orang muda berdiri. satu orang tewas dengan isi perut terburai dan dada kiri terbacok. satu lagi terbabat punggung dan telinga kanannya. biarpun terluka parah tapi orangnya masih hidup. dua orang sisanya tergeletak pingsan dengan beberapa luka sayatan di tubuh. dua atau tiga buah bekas pukulan tangan kosong yang menghantam membuat mereka tergeletak tidak sadarkan diri.
Pranacitra tidak mengenal keempat orang itu, tapi saat awal naik ke atas panggung dapat di lihat kalau tingkat ilmu mereka termasuk rendah. mungkin mereka hanya berharap ikut menjadi tenar dan terkenal setelah turut serta dalam pengeroyokan terhadapnya. sayang si pincang bukan saja gagal di habisi, malah para pengeroyoknya yang balik terjungkal mampus.
Biarpun empat orang ini mungkin cuma pesilat kelas dua yang cuma ingin mendompleng ketenaran dengan berlagak jadi jagoan, tapi merobohkan mereka berempat dalam waktu singkat juga tidak dapat di lakukan pesilat sembarangan. hebatnya Pranacitra dan hampir semua orang di sana sampai tidak tahu kapan dan bagaimana kedua orang itu melakukannya.!
Dua pasang mata yang ada di atas penutup kain putih hanya sekilas saling lirik. satu orang yang bertubuh lebih besar dan tinggi maju selangkah sebelum bicara. ''Kami berdua turut hadir ke pertemuan besar ini tanpa di undang siapapun, karena penasaran dengan nama besar dan kehebatan ilmu si 'Siulan Kematian' alias 'Pendekar Pincang Tanpa Perasaan..''
''Hanya saja., kami tidak suka main keroyok. empat orang tolol ini hendak.mengincar saat kau lengah dan lemah baru akan bertindak. sebuah perbuatan pengecut tidak pantas di lakukan di atas panggung sebesar ini. maka kami putuskan untuk merobohkan mereka..'' sambung orang yang satunya sambil angkat sabit bergagang putihnya ke atas. rekannya juga turut berbuat yang sama.
Asap dan cahaya putih redup muncul dari pangkal gagang sabit terus mengalir ke atas sampai ujung mata sabit itu mengeluarkan cahaya putih berkilauan, hingga menyapu lenyap sisa darah merah yang masih melekat di sana.
''Rupanya mereka berdua dari perkumpulan 'Sabit Putih.!'' seru seseorang. ''Aah., aku juga pernah mendengar kalau perkumpulan itu sangat jarang muncul di dunia persilatan. bahkan hampir tidak ada orang yang tahu keberadaan perkumpulan itu..'' teriak seorang lainnya menimpali.
''Ini sungguh mengejutkan., tidak di sangka perkumpulan silat yang sangat jarang muncul sampai keluar dari sarangnya hanya karena masalah si pucat pincang itu.!'' terdengar suara yang lainnya lagi. dari nada suaranya orang ini mungkin sudah berusia cukup tua.
Banyak orang yang saling pandang keheranan karena belum pernah mendengar tentang perkumpulan silat Sabit Putih itu. bahkan tokoh silat tua seperti Ki Tanjung Semboro juga merasa tidak pernah mengetahuinya. yang mengherankan dari seribuan orang yang hadir di sana sama tidak dapat mengetahui siapa orang- orang yang tadi berteriak tentang perkumpulan Sabit Putih itu.
''Beliau cuma penasaran sehebat apa ilmu silat yang saudara miliki hingga mampu menarik ribuan orang persilatan untuk datang ke lereng gunung Semeru ini..'' sambung kawannya sambil bergerak ke sisi kanan, sementara si tinggi besar mendatangi Pranacitra dari sebelah kiri.
''Kami ingin menjajalmu barang beberapa jurus, jika kalah atau tewas anggap saja kami berdua memang berilmu rendah dan bernasib sial. tapi kalau dirimu yang terkapar mampus., itu artinya nama besarmu cuma isapan jempol belaka.!'' gertak si tinggi besar. bersamaan itu tubuh kedua orang ini berkelebat ke depan, mengancam Pranacitra dari dua jurusan.
Anggota perkumpulan silat Sabit Putih yang berbadan sedikit kecil dan berambut lebih gondrong lurus sabetkan senjatanya dari bawah pinggang naik ke dada sekaligus hendak mencabik tulang iga kanan lawannya. sementara tangan kirinya lepaskan dua buah tinju bertenaga dalam tinggi. sekali gebrak orang ini lancarkan tiga buah jurus ganas yang berlainan.
Rekannya si tinggi besar tidak kalah hebatnya dalam membuat serangan. bedanya orang ini membabat dari samping kiri ke kanan hendak merobek pinggang sekalian membetot putus tulang punggung Pranacitra. dua buah sapuan kaki kanan dan tiga pukulan telapak tangan yang menimbulkan gelombang angin keras membuat jalan mundur si pincang menjadi tertutup.
Pranacitra terperanjat juga, dia tidak pernah mengira kedua lawannya mempunyai jurus serangan gabungan sehebat itu. ''Mereka ternyata punya ilmu silat yang tinggi. benar kata orang., di dunia persilatan yang tidak bernama kadang justru lebih berbahaya..'' batin Pranacitra sambil kembali mainkan ilmu silat 'Langkah Aneh Mayat Hidup.!'
Dengan menggunakan ilmu silat yang lebih mengutamakan pertahanan diri dan cara menghindar, Pranacitra untuk beberapa jurus ke depan mampu lolos dari kurungan senjata sabit lawannya. tapi tetap saja cahaya tajam yang di sertai asap putih dari sabit sakti itu mampu merobek- robek baju hitamnya hingga compang- camping.
Tongkat besi hitam kepala tengkorak di angkat sedikit melebihi pundak lalu berputar dan membabat ke depan belakang. cahaya hitam pekat berkelebatan seakan membungkus dirinya. dentang beradunya senjata terdengar nyaring. dua tubuh berbaju putih terpental ke dua jurusan. tapi hebatnya mereka kembali menggebrak ganas.
Si tinggi besar berguling ke lantai panggung, cahaya putih menyambar seiring sabit putih yang berkelebatan menyasar pinggang, paha dan kaki lawan. kawannya tidak tinggal diam, tubuhnya berjumpalitan dua kali ke udara lalu membacok kepala, leher sekalian punggung si pincang. hawa membunuh menebar cepat di sekeliling panggung itu.
Semua orang terkesiap kaget saat melihat kehebatan jurus serangan dari dua orang pesilat yang berasal perkumpulan Sabit Putih yang namanya hampir tidak pernah mereka dengar sebelumnya. tanpa sadar para tokoh silat yang hadir mulai saling mencari tahu tentang perkumpulan itu.
Tanpa semua orang menyadari, agak terpisah dari ribuan kaum persilatan yang berada di sana berdiri seorang lelaki bercaping anyaman daun pandan. seulas senyuman mengejek dan puas tersungging di bibirnya saat melihat para tokoh itu mulai kasak- kusuk meributkan keberadaan perkumpulan silat 'Sabit Putih' di dunia persilatan.
*****
Asalamualaikum., salam sehat sejahtera selalu. silahkan tulis komentar, kritik saran. like👍 atau vote👌jika anda suka. Terima kasih pada para reader yang telah mengikuti dan share novel dan PTK dan 13 Pbh selama ini, maaf kami belum bisa up date rutin. Wasalamualaikum.🙏