
Kelima orang tua yang merupakan pentolan kaum persilatan golongan hitam yang sudah lama menghilang itu masih berdiri berjajar, entah sudah berapa kali tangan mereka bergiliran melemparkan pisau dapur ke tubuh seorang pemuda kurus yang berada tujuh langkah di hadapan mereka.
Pemuda kurus yang pucat dan penyakitan itu umurnya baru tujuh belas tahunan. sekarang dia berdiri dengan tangan terentang terikat merapat di dinding ruang goa. tubuhnya yang tanpa penutup apapun terlihat kotor penuh berlepotan bubuk cairan obat yang bercampur dengan keringat dan darahnya yang mulai mengalir di hampir sekujur tubuhnya.
Awalnya dia masih bisa bertahan bahkan sanggup menghitung berapa kali pisau dapur miliknya melesat lalu menikam tembus ke dalam kulit tubuhnya. meskipun hanya sepertiga dari mata pisau yang menusuk masuk, tapi rasa sakitnya tidak terkatakan. apa lagi tubuhnya bukan cuma tidak dapat bergerak mulutnyapun juga tidak mampu bersuara.
Mungkin bagi lima orang tua yang sudah terbiasa mempermainkan nyawa manusia, pemandangan di depan mereka tidaklah berarti. namun berbeda jika ada orang lain yang menyaksikan permainan siksaan ini, mungkin mereka bakal pingsan saking ngerinya.
Tetapi pada lemparan pisau yang ke delapan puluh tujuh, pemuda yang cacat kaki kirinya itu sudah tidak sanggup lagi untuk bertahan. kepalanya tertunduk lemas kesadarannya hilang. entah karena pingsan atau malah sudah mati.
Setiap orang punya kegemarannya sendiri- sendiri. umumnya saat masih anak- anak suka dengan mainan. setelah dia dewasa biasanya mulai senang akan harta benda, kekayaan juga mulai timbul rasa ketertarikan pada lawan jenis. tapi bagi sebagian orang ada juga yang punya kesukaan yang sama sekali diluar nalar. seperti kegemaran untuk membunuh.!
Pisau dapur sepanjang satu jengkal lebih dua ruas jari itu kembali berpindah tangan. lima orang tua ini seakan tidak perduli dengan keadaan pemuda cacat yang menjadi sasaran mereka dan terus bermain lempar pisau hingga berlanjut beberapa kali putaran. kali ini giliran 'Iblis Naga Rembulan' yang akan melemparkan pisau. sedikit tenaganya dalam dialirkan ke dalam pisau, sasaran yang dia pilih adalah diantara pertengahan tulang iga sebelah kiri. dalam delapan lemparan pisau terakhirnya orang tinggi besar ini selalu memilih sasaran di sekitar iga kiri.
Dia beranggapan dengan melempar pisau di tempat itu terus menerus dan mengatur kedalaman mata pisau yang masuk ke tubuh sasaran dua tiga kali lemparan pisau lagi nyawa si pincang pasti tamat di tangannya. sekaligus dia juga yang jadi pemenang batu sakti Nirmala Biru.
Pisau melesat secepat sambaran kilat, tapi saat selangkah dari tubuh sasaran laju pisau jadi melambat, sedikit menukik lalu tepat menembus pertengahan ruas tulang iga kiri. tubuh itu tidak bergetar seperti sebelumnya.
Sesosok tubuh kurus yang bermandikan darah terlihat diam seperti patung dan pucat bagaikan mayat. lima orang tua yang jahat itu saling lirik. 'Pengemis Tapak Darah' yang berangasan mendengus gusar. seharusnya setelah ini giliran dia yang melempar pisau itu. tapi jika di lihat dari keadaan si pemuda pincang itu gilirannya tidak perlu lagi untuk di hitung.
''Haa., ha., kalian lihat., lemparan pisaukulah yang telah menghabisinya. jadi akulah pemenang permainan ini., dan tentunya batu sakti Nirmala Biru juga menjadi milikku..'' seru Iblis Naga Rembulan seraya tertawa bergelak seraya tangannya menyambar batu sakti yang berada di atas lempengan batu di mana sebelumnya si pincang Pranacitra terbaring. kecuali si 'Setan Kuburan' ketiga rekannya terlihat jengkel dan penasaran dengan hasil permainan ini. meskipun begitu tidak satupun yang berniat menahannya.
Iblis Naga Rembulan masih tergelak sambil menimang- nimang batu sakti Nirmala Biru yang ada di tangannya. orang ini seakan sengaja pamer di depan semua kawannya, hingga mereka semakin bertambah kesal.
''Chuih., biarpun kau memiliki batu sakti itu juga tidak akan banyak gunanya. paling banter cuma dapat menambah umurmu beberapa bulan saja..'' olok si 'Burung Hantu Bungkuk Pencabut Nyawa' sambil meludah.
''Kau hanya beruntung saja memenangkan sebuah batu, tapi lagakmu seperti sudah menjadi orang paling hebat saja di dunia., tingkahmu ini tidak ada bedanya dengan bocah kecil yang masih ingusan..'' si 'Pengemis Tapak Darah' turut mencibir sinis.
''Huh., bilang saja kalau kalian semua iri padaku. menang ya menang., kalah ya kalah saja. jangan banyak alasan. dasar pecundang., Ha., ha..'' sanggah Iblis Naga Rembulan balik tertawa mengejek.
''Hentikan tawa bodohmu dan kembalikan batu sakti itu di tempatnya., bocah pincang ini rupanya belum mati.!'' seru 'Nenek Tabib Bertongkat Maut'.
''Aa., apa kau bilang nenek tua.?''
''Bo., bocah itu masih hidup.?'' si Burung Hantu Bungkuk Pencabut Nyawa serta Pengemis Tapak Darah berseru hampir bebarengan dengan muka berubah hebat seakan tidak percaya.
''Itu., itu tidak mungkin., jangan kau mencoba menipuku nenek tua. kalau kau tidak rela batu sakti ini menjadi milikku bilang saja, akan kukembalikan padamu sekarang juga. tapi jangan bermain licik seperti ini.!'' bentak Iblis Naga Rembulan gusar seraya maju ke depan. bersamaan 'Nenek Tabib Bertongkat Maut juga putar tubuhnya balik mendamprat.
''Bangsat tua., beraninya kau mangatakan diriku berdusta dan menipu. kalau dirimu tidak percaya ucapanku kenapa tidak kau periksa sendiri saja bocah ini..''
Iblis Naga Rembulan mendengus geram maju ke muka. kedua rekannya juga turut menyusul sementara si Setan Kuburan tetap berdiri diam dengan sorot mata sedingin mayat. meskipun seperti tidak perduli dengan semuanya, tapi dari sikapnya orang tua ini seakan juga sedang memikirkan sesuatu masalah penting.
''Minggir., biarkan aku memeriksa tubuhnya..'' tangan Iblis Naga Rembulan yang besar meraba beberapa bagian tubuh Pranacitra. sesaat kemudian dia seperti terjingkat kaget.
''Ini., ini sungguh tidak mungkin., jika ada orang yang masih hidup setelah mendapat luka sebanyak ini., kurasa dia bukan lagi seorang manusia. mungkin bocah ini punya darah siluman..''
''Aku tidak percaya., kalian pasti salah periksa.!'' potong Pengemis Tapak Darah. bersama si Burung Hantu Bungkuk Pencabut Nyawa, keduanya bergantian meraba bagian tubuh si pincang yang sudah tidak berdaya. sesaat lamanya mereka berdua terpekur. ''Bocah pincang macam apa yang berada di depanku ini., walaupun dari luar raganya sudah tidak terlihat hawa kehidupan namun detak jantung dan aliran darahnya masih terus mengalir. meskipun sangat samar terasa tapi jelas pertanda kalau dia masih bernyawa..'' batin kedua tokoh silat jahat itu heran. saat melihat keadaan si pincang yang berlepotan lumpur obat dan penuh luka berdarah, tanpa sadar mereka menjadi ngeri. sungguh suatu keanehan jika orang- orang sekejam mereka bisa sampai merasa seram saat melihat darah dari korbannya sendiri.
''Ku., kurasa kita mesti melanjutkan lagi permainan kita. se., seka., rang bukankah gi., giliran., mu Pengemis tua..'' ucap 'Iblis Naga Rembulan' agak tergagap. entah kenapa dia menjadi gelisah melihat pemandangan manusia berdarah yang ada di depannya.
'Pengemis Tapak Darah' sedikit ragu untuk mengambil pisaunya. bahkan saat mencabut pisau itu dia seakan memalingkan wajahnya. apakah masih ada perasaan tidak tega di dalam diri para tokoh silat tua yang berhati kejam ini.? entahlah.
Lima orang tua itu kembali berdiri berjajar, jarak diantara mereka dengan tubuh sasaran masih sama terpaut tujuh langkah. Pengemis Tapak Darah termenung cukup lama. pisau di tangannya masih tergenggam. setelah menghela nafas pisau itu di berikan kepada si Burung Hantu Bungkuk Pencabut Nyawa yang berada di samping kanannya. nenek bertubuh kecil dan bungkuk yang wajahnya mirip burung hantu ini seketika tercengang menatap si pengemis tua.
''Aku., aku mundur saja dari permainan ini., kurasa semuanya mulai membuatku bosan. lagi pula yang jadi rebutan cuma sebutir batu..''
''Eehm., aku., aku juga merasa begitu., mungkin batu sakti itu memang tidak berjodoh denganku. jadi., kalian bertiga saja yang meneruskan permainan ini..'' ujar 'Burung Hantu Bungkuk Pencabut Nyawa' sambil berikan pisau dapur di tangannya pada 'Nenek Tabib Bertongkat Maut'. seperti halnya kedua kawannya, tabib tua yang kabarnya mempunyai seorang saudara perempuan bergelar 'Nenek Tabib Selaksa Racun' itu tidak berminat lagi meneruskan permainan lempar pisaunya.
''Kurasa batu sakti Nirmala Biru itu memang menjadi milikmu..'' gumammnya pelan. 'Iblis Naga Rembulan' ganti terdiam. entah apa yang berada dalam benak orang tinggi besar berjubah hitam berlukisan seekor naga dan bulan emas itu.
Saat semua orang terdiam, justru si 'Setan Kuburan' yang mengambil pisau dapur yang berada di tangan 'Nenek Tabib Bertongkat Maut'. lalu dia lemparkan ke depan. gerakan orang tua ini terlalu cepat dan mendadak hingga semua orang tidak dapat melihat dengan jelas.
Pisau terbang menyambar seolah lebih cepat dari sambaran kilat. bedanya hanya sepanjang dua ruas jari saja mata pisau yang menghunjam tepat ditengah jantung Pranacitra. meskipun bagian luar jantung tertusuk tapi tidak sampai menembus ke dalam.!
''Nenek Tabib Bertongkat Maut., coba kau periksa tubuh bocah itu sekarang.!'' perintah Setan Kuburan dingin. biarpun masih kaget tapi si nenek tidak mau ayal. saat sampai di sana baru dia melihat satu keanehan di mulut lukanya. luka itu tepat di jantung. pisau telah menusuk ke dada tapi anehnya tidak ada darah yang keluar, melainkan gumpalan uap tipis yang sangat dingin.!
''Aa., apa yang terjadi pada bocah ini., Aah., jangan- jangan dia..'' nenek tua itu cepat memeriksa keadaan tubuh Pranacitra. kali ini dia melakukannya dengan jauh lebih teliti. beberapa saat kemudian tubuh nenek tua ini gemetaran menyurut mundur.
''Boo., bo., cah., bocah., ini., dia., dia., dia punya 'Lubang Nadi Neraka Gelap.!'' ucapnya terbata. suaranya tercekat antara takjub, kagum bercampur gembira atau malah juga menyesal.!
''Gila., bagaimana mungkin kau bisa begitu bodoh melewatkan semuanya, hingga tidak sadar dengan adanya 'Lubang Nadi Neraka Gelap' yang berada dalam tubuhnya.!'' maki Iblis Naga Rembulan marah. sementara Pengemis Tapak Darah dan si Burung Hantu diam mematung. jelas kejadian ini membuat mereka seakan baru saja kehilangan nyawa sendiri.
Saat tersadar keempat orang ini buru- buru berusaha menolong si pincang. entah apa yang sebenarnya terjadi hingga mereka seperti berbalik sangat mengkhawatirkan keselamatan nyawa Pranacitra. secara bergiliran empat orang itu menyalurkan tenaga saktinya ke tubuh si pemuda pincang. berpuluh ramuan obat di jejalkan ke mulut juga di balurkan ke seluruh tubuhnya yang terluka. diantara mereka hanya 'Setan Kuburan' yang masih berdiri diam, meskipun kini di bibirnya tersungging seringai buas.
'Nenek Tabib Bertongkat Maut' menghampiri rekannya. ''Bagaimana kau menyadarinya.?''
''Hhmm., saat terakhir 'Iblis Naga Rembulan' melempar pisau ke iga bocah itu, menurut hitungan sudah lebih dari seratus kali. tapi karena tidak menyadarinya kita semua lupa kalau ada batasan seratus tikaman pisau..''
''Anehnya biarpun batasan yang kau katakan itu terlewati tapi anak ini tetap hidup. tepat berhenti pada tusukan ke seratus enam. lalu aku berpikir apa yang membuat bocah ini tetap memiliki daya hidup., akhirnya kucoba menikam jantung anak itu. tikaman yang ke seratus tujuh. ini tindakan yang untung- untungan tapi semuanya terbukti..''
''Saat jantung tertusuk, darah tidak mengucur karena selain sudah banyak yang terbuang akibat terluka juga sebagian telah membeku oleh 'Racun Pembeku Darah dan Jantung' yang mengeram di dalam tubuhnya. sebagai buktinya kabut dingin keluar dari luka itu..''
''Bagi orang persilatan 'Lubang Nadi Neraka Gelap' adalah nadi pembawa sial yang tidak ada obatnya. itu memang benar karena apapun obat yang di minum akan terhisap habis tidak berguna..''
''Tapi mereka lupa jika nadi itu juga sanggup memuntahkan kembali semua yang di hisapnya jika tubuh si pemilik 'Lubang Nadi Neraka Gelap' itu berada di antara garis hidup dan mati. pendek kata., Lubang Nadi Neraka Gelap ini bagaikan sebuah lumbung besar yang menyimpan obat apapun yang masukan ke dalam tubuh si pemilik nadi. dan akan keluar saat dia membutuhkannya..''
''Hanya sepertinya., bocah penyakitan ini belum mengerti cara mengolah nadi sialan yang sangat langka itu..'' terang si Setan Kuburan pada si Nenek Tabib Bertongkat Maut yang cuma bisa menghela nafas.
''Turun temurun keluargaku adalah tabib dan ahli racun ternama di rimba persilatan. tapi., di hadapanmu aku merasa ilmuku masih dangkal.!'' desahnya muram sambil menjura hormat. pada saat itulah 'Pengemis Tapak Darah' berseru ''Bocah ini mulai membaik., dia punya kesempatan untuk terus hidup.!''
''Kita cuma punya sisa umur tiga tahunan saja., dalam waktu tiga tahun itu kita harus berikan semua yang kita punya pada bocah penyakitan ini.!'' teriak 'Iblis Naga Rembulan' lantas tertawa bergelak.
Si 'Burung Hantu Bungkuk Pencabut Nyawa' berkelebat ke mulut goa, sepasang matanya yang besar dan lebar menatap nyalang ke luar pintu goa batu. kedua cakar mautnya yang berbulu terentang keatas. dengan suara penuh hawa dendam kesumat nenek tua itu berteriak lantang. ''Wahai para pendekar rimba persilatan., yang sedang bertapa di atas gunung atau mendekam dalam samudera. yang bersembunyi di balik topeng kesucian atau pengecut yang berlagak jadi kesatria. tunggulah datangnya hari pembalasan dan malapetaka dari kami berlima Haa., ha., ha.!''
*****
Maaf lambat update., ini kami buat chapter yang agak panjang lagi., mohon kritik saran dan komentnya. (khususnya bagi yg belum pernah koment disini😅, menghujat juga gak pa") juga like👍 atau vote jika anda suka. 🙏 Terimakasih juga bagi reader yang telah sudi memberi tip pada kami 🤗. selalu jaga kesehatan anda sekeluarga. Wasalam.