
Tiga orang tua muda itu masih tetap saling berhadapan di tengah ruangan gubuk kayu. suasana sesaat di selimuti keheningan, sampai akhirnya kakek bertubuh pendek dan ceking membuka suara. ''Kau bilang ingin meminta petunjuk pada kami berdua. apakah dirimu belum sadar sedang berhadapan dengan siapa.?''
''Kami adalah 'Sepasang Kutu dan Benalu' dua dari empat orang sesepuh utama 'Gapura Iblis'. partai silat aliran hitam yang terkuat di dunia persilatan. selama puluhan tahun kami malang- melintang, sudah tidak terhitung lagi berapa ratus perbuatan jahat dan keji yang pernah kami lakukan, hingga semua orang langsung kabur ketakutan jika bertemu dengan kita berdua.!'' kata si kakek bertubuh kecil.
''Apakah setelah mengetahui segala sepak terjang dan kejahatan si 'Kutu Bangkotan' dan 'Benalu Tua' di dunia persilatan, kau masih berkeinginan untuk meminta petunjuk pada kedua orang kakek nenek ini. juga apakah., dirimu tidak merasa curiga kenapa dua orang sesepuh Gapura Iblis sampai berani menipu ketuanya sendiri.?'' sambung si Benalu Tua.
Pemuda pincang bernama Pranacitra yang terus menunduk dan berlutut ini tanpa sadar sedikit dongakkan kepalanya setelah dia mendengar ucapan dari Sepasang Kutu dan Benalu. ''Sejak keluar dari 'Lembah Serbu Racun' diriku yang rendah ini sudah dianggap pembawa malapetaka bagi orang persilatan..''
''Karena lima orang tua yang menjadi guruku mempunyai banyak sekali musuh di masa lalu, membuatku harus terlibat pertarungan adu jiwa dengan berbagai pihak. padahal diriku sendiri kadang tidak mengerti dengan penyebab pertikaian itu. meskipun diriku coba untuk mundur dan mengalah tapi jika mereka terlalu mendesakku kejalan buntu, yah., apa boleh buat. semuanya aku habisi tanpa ampun.!'' tandas Pranacitra membuat kedua orang tua itu terkesiap kaget. ''Lhadalah., rupanya dalam jiwa bocah pincang ini juga tersimpan kekejaman hati..'' batin keduanya.
''Sejak saat itulah diriku yang rendah ini mendapat banyak sekali julukan seram dan nama buruk. padahal aku sendiri juga tidak tahu dari mana sebutan dan gelaran aneh itu berasal. jadi kupikir., kalau nantinya namaku bertambah semakin jelek karena menjalin hubungan erat dengan si Kutu dan Benalu, bagiku juga tidak masalah..''
''Lagipula apa yang terdengar di luaran belum tentu sama dengan kejadian sesungguhnya. orang kebanyakan cuma bisa mendengar, melihat juga berbicara omong kosong tanpa mau berpikir dan merasakan dengan hati nuraninya..'' ujar Pranacitra menatap tajam kedua orang tua aneh bertubuh besar kecil di hadapannya.
''Hehh., bocah pincang pucat. apa maksud ucapanmu barusan.!'' bentak si Benalu Tua. saat mulai lapar nenek tinggi gemuk ini selalu saja uring- uringan. dalam keadaan masih berlutut, pemuda yang ditanya itu lebih dulu menunduk lebih dalam sebagai tanda hormat sebelum menjawab.
''Dari cerita para guruku, nama 'Sepasang Kutu dan Benalu' sudah di anggap sebagai rajanya para dedengkot persilatan golongan hitam. bahkan si 'Setan Kuburan' yang sangat di takuti orang dan pernah terang- terangan menghina sang ketua Gapura Iblis juga merasa enggan jika harus berurusan dengan kalian berdua..''
''Sampai- sampai., dulu ada yang mengatakan kalau seseorang berani menyebutkan nama si Kutu Bangkotan dan Benalu Tua secara sembarangan, itu sudah dapat membuat orang tersebut di timpa kesialan untuk seumur hidupnya bahkan seringkali berakhir dengan kematian.!'' ujar si pincang.
''Banyak orang bilang kalau kalian berdua berani memakai segala macam cara untuk membunuh lawan. dari yang paling rendahan, memalukan, pengecut dan tidak masuk akal sampai yang dianggap terlampau kejam. bahkan tokoh- tokoh silat jahat sekalipun sampai tidak sudi melakukannya..''
''Ada kabar yang mengatakan kalau Sepasang Kutu dan Benalu tega membunuh puluhan bayi dan anak- anak kecil yang tidak berdosa. di lain cerita orang bilang kalian berdua sampai hati menghabisi nyawa para orang tua renta yang lemah dan tidak berdaya di sebuah perkampungan terpencil..''
''Di luar itu masih sangat banyak cerita seram tentang kelakuan kalian yang jika dikatakan tidak akan habis untuk di tuturkan sehari semalam. meskipun Sepasang Kutu Benalu sudah sangat lama mengasingkan diri hingga tidak diketahui hidup matinya tapi ketakutan yang pernah kalian bawa masih menjadi momok bagi kaum persilatan..'' Pranacitra sejenak hentikan bicaranya sambil sekilas melirik kedua orang tua itu.
''Mereka yang cuma bisa berkoar itu tidak tahu apapun yang sebenarnya telah terjadi. bayi dan anak- anak tersebut sebenarnya sudah menderita penyakit menular yang sudah terlambat untuk di obati sementara orang tua mereka sudah lebih dulu mati. dari pada mereka merasakan kesakitan sampai ajal menjemput. kalian berdua menotok jalan darah tidurnya hingga mereka mati rasa. setidaknya., sampai tiba saatnya mati bayi dan anak- anak itu dapat tertidur lelap..''
''Demikian juga soal orang- orang tua yang telah tewas ditangan kalian. kampung tempat mereka tinggal saat itu baru saja di satroni begal rampok. setelah menjarah segala yang ada di sana, membunuh semua lelaki dan menculik para wanitanya, kampung itupun di bakar. para orang tua yang tidak sempat menyelamatkan diri, terkena luka bakar di sekujur tubuhnya..''
''Begitu muncul di sana, kalian berdua sudah tahu kalau mereka tidak bisa di tolong lagi karena lukanya terlampau parah. dengan bubuk obat penghilang rasa sakit yang kalian berdua taburkan pada luka bakar mereka, para orang tua ini dapat mati tanpa harus merasakan penderitaan panjang..''
''Aku mengetahui semua cerita ini karena obat penghilang rasa sakit karena luka bakar itu kalian dapat dari salah satu guruku. si Nenek Tabib Bertongkat Maut'. pendek kata., kalian berdua adalah orang yang tidak perduli nama baik atau buruk. dibalik perbuatan kejam yang kalian lakukan kadang tersembunyi suatu kebaikan. bahkan mungkin tidak ada satu orangpun yang tahu kalau sehari setelahnya, gerombolan rampok yang telah menyerang desa itu semuanya mati dalam keadaan terpotong- potong tubuhnya tapi wajah mereka sama sunggingkan senyum tawa..''
Pranacitra perlahan bangkit berdiri. jemari tangan kanannya menunjuk dua orang tua yang berada di depannya. ''Kita bertiga sebenarnya jenis manusia yang sama. tidak pernah perduli dengan segala macam ocehan orang. selama mereka tidak merecoki, kita juga tidak bakal mengusik mereka. begitu juga sebaliknya, kalau ada pihak yang berani mengancam nyawa kita, yah., tinggal bunuh saja mereka. habis perkara.!''
''Selama kedua kaki masih mampu berdiri dan menyangga tubuh. selama kita yakin tidak melanggar aturan kehidupan atau menyalahi orang lain, selama itu pula aku tidak akan pernah berhenti melangkah dan mendobrak apapun yang menghalangi. karena bagi orang- orang seperti kita ini, antara kebaikan dan kejahatan kadang cuma terpisah oleh sebuah garis tipis saja. jadi., persetan dengan pendapat orang lain tentang diriku.!'' tandas si pincang dengan mata menatap setajam belati.
Suasana di dalam gubuk kayu itu menjadi hening dan mencekam. dua pasang mata tua yang penuh kebencian saling tatap dengan sorot mata dingin membeku tanpa perasaan apapun dari seorang pemuda pincang. hingga suara gelak tawa dari mulut besar si Benalu Tua memecah segalanya. ''Haa., ha., sejak awal aku sudah yakin dan suka pada bocah pincang ini. saking senangnya rasa laparku jadi berkurang separuh..''
''Hee., he., untuk kali ini kau benar Benalu Tua. Hehh., dengar bocah pincang. ada sebuah goa rahasia peninggalan dari partai Gapura Iblis, sekaligus tempat kami berdua pernah berlatih ilmu kesaktian selama bertahun- tahun. nama tempat itu adalah., 'Goa Keramat Cendawan Iblis'. asalkan kau tahu saja, tempat rahasia itu sangat di inginkan oleh ketua partai Gapura Iblis yang sekarang.!''
''Sudah berulang kali dan dengan segala cara dia berusaha untuk mencari tahu keberadaan goa rahasia peninggalan leluhurnya itu tapi selalu saja gagal menemukannya. orang yang kemungkinan besar adalah pamanmu sendiri itu juga mencoba membujuk kami secara halus ataupun mengancam dengan keras. namun semua itu tidak pernah kami gubris..'' ujar si Kutu Bangkotan.
''Meskipun dia adalah pewaris dari partai Gapura Iblis dan memang punya hak untuk memilikinya tetapi kami juga telah di sumpah oleh tuan penolong kami untuk tidak pernah mengatakan pada siapapun soal keberadaan dari goa itu, termasuk pada ketua Gapura Iblis yang sekarang.!'' timpal si Benalu Tua.
*****
Mungkin besok minggu ada Update lagi. Authornya bilang sedang libur kerja. Trims.