
-Pemuda pincang yang wajah tampannya rada pucat seperti orang penyakitan itu hanya diam seakan sedang merenungi sesuatu. jika dulu setiap kali dia melihat bendera hitam yang merupakan lambang dari partai silat aliran hitam terkuat itu pasti timbul hawa dendam amarah didalam hatinya, tapi kini semenjak dia tahu kalau dirinya punya keterkaitan dengan partai itu selain kemarahan dalam jiwanya juga terselip penyesalan dan rasa bersalah.
Dengan tongkatnya dia sisihkan kepingan uang emas, perak dan perhiasan dari dalam buntelan kain. tenaga dalamnya disalurkan dari kepala tengkorak di gagangnya ke ujung tongkat besi. bendera hitam didalam kotak kayu jati seketika musnah terbakar berikut buntelannya.
''Tidak kusangka 'Pendekar Pincang Tanpa Perasaan' alias si 'Muka Pucat Dingin' yang katanya selalu memandang remeh apapun ternyata juga tertarik dengan emas permata hingga mau- maunya mengambil harta benda sasarannya..'' terdengar suara berat bernada sindiran dari seseorang. bersamaan sesosok bayangan manusia tinggi besar sudah muncul ditengah pelataran goa batu.
Disana terlihat berdiri gagah seorang lelaki setengah umur tinggi besar dan brewokan memakai baju putih lengan pendek hingga terlihat otot bahunya yang kekar. orang ini tegak berkacak pinggang sebelah kiri, karena tangan kanannya memanggul sebuah tombak besar bermata golok dengan ukiran kepala harimau.
''Orang yang sudah mati tidak lagi butuh harta benda seperti ini. jadi sengaja kuambil agar dapat digunakan oleh orang- orang miskin yang membutuhkan..'' ujar si pemuda pincang bernama Pranacitra itu sambil tangannya meraup uang emas dan harta milik 'Tiga Iblis Kapak Raksasa' yang baru saja dia habisi.
''Ooh., rupanya kau ini mempunyai hati yang welas asih dan perduli dengan penderitaan sesama. tapi dari begitu banyak manusia melarat di dunia ini, orang miskin mana yang akan kau sedekahi.?'' tanya lelaki kekar itu sambil mengamati mayat- mayat yang terkapar ditanah. dalam hatinya orang ini merasa ngeri dengan cara membunuh pemuda pincang itu.
''Siapa yang bilang aku akan bersedekah. yang aku maksudkan sebagai orang melarat dan membutuhkan adalah diriku sendiri. apakah kau tidak melihat keadaanku yang nampak kere dan menyedihkan ini.?'' sangkalnya sambil menuding hidungnya sendiri.
Lelaki kekar yang bukan lain adalah 'Pendekar Harimau Putih' itu meludah kesal. ''Chuih., sialan. bilang saja kalau kau memang berniat merampas harta mereka semua sejak awal.!'' Pranacitra menoleh terkekeh sinis. ''Lantas kenapa., memangnya kau keberatan. aku ini bukanlah orang baik- baik atau kaum pahlawan yang suka berlagak dalam membela rakyat kecil..''
''Aash sudahlah., cukup kita berbasa- basi. sekarang aku ingin bertanya padamu ada urusan sepenting apa hingga kau sendiri yang datang kemari. sesuai kesepakatan semua berita akan kau sampaikan pada Nyi Rondo Kuning. baru setelah dia mengatur segalanya, baik kepastian tempat, waktu dan keadaan sasaran, dia akan memerintahkan anak buahnya untuk menghubungiku secara rahasia..''
''Justru itulah aku mesti datang sendiri untuk menemuimu. selain tempat Nyi Rondo Kuning terlalu jauh dari sini, sasaran yang bakal kita incar berikutnya juga berlawanan arah dari warung makan miliknya. sebaliknya., jika dihitung dari hutan ini tempat sasaran hanya terpaut setengah hari perjalanan saja ke arah selatan..'' potong Pendekar Harimau Putih memberi penjelasan.
''Alasan lainnya adalah., orang yang bakalan kita incar dikenal sebagai ketua perguruan silat aliran putih yang punya nama sangat baik di rimba persilatan. disepanjang pantai selatan Jawa bagian tengah dan barat orang ini dan perguruan silat yang dipimpinnya selalu diacungi jempol oleh semua orang..''
''Jika tadi kita bicara soal sedekah dan berbagi dengan kaum miskin, ketua perguruan silat ini bersama seluruh keluarga dan seratusan muridnya bisa dijadikan contoh yang baik sebagai para dermawan. kau pastinya sudah dapat menebak perguruan silat apa yang aku maksudkan, karena saat ini mereka sudah masuk dalam jajaran sepuluh padepokan silat terbesar aliran putih menggantikan 'Naga Biru' dari gunung Semeru yang telah runtuh karena ulahmu.!''
Pranacitra terdiam cukup lama, bukan karena teringat pertarungan besar diatas panggung kematian perguruan silat Naga Biru tempo hari, melainkan pada sebuah padepokan silat aliran putih yang namanya memang sedang kondang didaerah pesisir selatan Jawa tengah dan barat.
''Perguruan silat 'Pasir Selatan' memang punya nama yang sangat baik diluaran. apalagi pimpinannya Ki Jembar Pambudi dan istrinya Nyi Sekar Bekti yang digelari orang persilatan sebagai 'Sepasang Pualam Sakti' itu terkenal luhur budi dan welas asih. lalu kenapa kau mesti mengincarnya sebagai sasaran. memangnya ada hubungan apa mereka dengan partai 'Gapura Iblis.?''
Orang tinggi kekar ini mengangguk sambil usap- usap cambang brewoknya. ''Aku sudah menduga kalau dirimu tidak bakalan mau melakukannya, sebab pada awalnya akupun juga berpendapat yang sama. tapi segalanya mungkin akan berubah bila kau sudah mengetahui sesuatu mengenai kedua orang suami istri itu..''
Pendekar Harimau Putih kemudian merogoh kebalik bajunya. dari sana dia mengeluarkan gulungan kain putih kumal yang langsung dilemparkan kedepan Pranacitra. jarak antara keduanya terpaut hampir sepuluh langkah. bobot gulungan kain cukup ringan hingga sulit untuk dilempar jauh.
Namun sekarang gulungan kain itu mampu melesat cepat seolah lemparan sebatang tombak yang merobek udara hendak menusuk sasaran. perbuatan hebat seperti ini, hanya golongan pesilat bertenaga dalam sangat tinggi saja yang sanggup untuk melakukannya.
Dengan tenang Pranacitra mengangkat tangan kanannya. dengan telapak tangan terbuka dia sambut lemparan itu. mulanya gulungan kain masih melesat sangat cepat. tapi saat tinggal dua tiga jengkal saja dari tangan si pemuda benda itu secara aneh berkurang jauh daya luncurnya lalu melayang tertahan di udara sebelum tangan Pranacitra meraihnya dengan mudah.
Jika melemparkan segulung kain kecil yang ringan hingga membuatnya melesat bagai anak panah atau tusukan tombak sudah tentu mengejutkan. tapi membuat benda yang meluncur deras menjadi perlahan hingga tertahan melayang di udara juga tidak dapat dilakukan sembarangan orang persilatan. dalam hati Pendekar Harimau Putih cukup terkejut juga melihatnya.
Gulungan kain putih kumal itu sudah dibuka. wajah pucat dan dingin pemuda itu perlahan berubah membesi. raut mukanya yang selalu hambar tanpa perasaan itu terlihat terkejut, gusar dan tidak percaya setelah membaca apa yang tertulis dilembaran kain itu. ''Kau yakin kalau semua berita ini adalah benar.?''
Pendekar Harimau Putih tepuk dada kirinya dan mengangguk mantap. ''Meskipun sampai sekarang aku kadang merasa tidak percaya dengan semua perbuatan keji yang kedua ketua perguruan itu lakukan dibelakang nama baiknya, tapi itu semua adalah kenyataan yang tidak terbantahkan.!''
Pranacitra menunduk bergetaran tubuhnya menahan hawa amarah yang meluap. seumur hidup dia paling benci pengkhianat dan orang munafik. turut maunya kain kumal yang sepertinya ada sedikit noda darah itu ingin dia hancurkan saja tapi akhirnya dia urungkan dan disimpan dibalik baju hitamnya.
''Tanah yang luasnya hampir tiga ratus tombak keliling itu rupanya bisa membuat orang gelap mata. lebih lagi nyawa anak- anak yang dijadikan tumbal hanya untuk menguasai ilmu kesaktian. apa yang berada dalam hati manusia tidak ada seorangpun yang tahu kebenarannya.."
"Tidak akan pernah ada yang menyangka jika perguruan silat 'Pasir Selatan' yang muncul sejak lima tahun lalu berdiri diatas tumpahan darah dan nyawa orang- orang yang tidak bersalah.." gumam Pranacitra dingin menahan hawa kemarahannya.
"Sepasang Pualam Sakti., ketua perguruan Pasir Selatan. meskipun diriku memilih jalan gelap tapi aku tidak pernah tersesat di dalamnya. namun kalian., malah sudah jauh tenggelam dalam kegelapan itu dan jadi budak iblis. jadi sekalian saja kalian mati.!''
*****
Silahkan tulis komentar anda juga kritik saran dan like๐, vote๐ jika anda suka. Terima kasih.๐