Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Langkah Aneh Mayat Hidup.


Dalam jaman yang kacau seperti saat akhir masa pemerintahan kerajaan Majapahit., menjadi sebuah hal yang lumrah bila banyak terjadi kericuhan dimana- mana. kekacauan itu tidak hanya melanda rakyat jelata, tapi juga turut merembet ke kaum persilatan.


Banyak para pembesar kerajaan yang mulai berhubungan dengan perguruan dan partai- partai silat agar mendapatkan dukungan jika terjadi perebutan kekuasaan di keraton. atau bisa juga di saat para raja bawahan ingin memberontak dan berniat melepaskan diri dari wilayah kekuasaan Majapahit yang sudah sangat melemah.


Di daerah pedukuhan Pungingan yang merupakan wilayah perbatasan terluar dari kadipaten Wonokerto, ada beberapa perkumpulan silat yang mencoba untuk menanamkan pengaruhnya di sana. salah satu diantaranya adalah perkumpulan silat beranggotakan para kaum gembel yang bernama perkumpulan pengemis 'Kelabang Ireng.!'


Bicara soal perkumpulan ini, sebenarnya kelompok ini baru berdiri beberapa bulan silam dan merupakan pecahan dari perkumpulan pengemis 'Ular Merah' yang jauh lebih besar dan bermarkas di daerah pinggiran kota raja Majapahit.


Mereka sengaja memilih Punggingan, karena selain ingin menjauhi wilayah kekuasaan perkumpulan pengemis Ular Merah, juga di sebabkan daerah Punggingan meskipun cuma sebuah pedukuhan tapi sangat ramai namun kurang di perhatikan baik oleh para pejabat kerajaan maupun orang persilatan, sehingga mereka akan lebih bebas bergerak untuk melebarkan sayapnya.


Kalau kaum gembel punya perkumpulan, maka golongan pencuri, tukang copet dan penjambret jalanan juga punya perkumpulan sendiri. ada beberapa nama kelompok persekutuan bagi kaum pencoleng di dunia persilatan waktu itu. salah satu diantaranya yang sudah sangat lama terkenal adalah perkumpulan pencuri 'Maling Kilat.!'


Konon kabarnya perkumpulan yang jadi tempat bersekutunya para pencuri dan kaum tangan panjang ini dulunya didirikan oleh dua orang tokoh silat. salah satunya adalah seorang pencuri sakti mandraguna yang dua jarinya buntung dan pandai menyamar. dia biasa disebut sebagai si 'Maling Nyawa.'


Satunya lagi adalah seorang tua yang punya kegemaran menghisap pipa tembakau, suka berpakaian perlente, berblangkon dan punya julukan aneh si 'Malaikat Copet.!'


Entah kenapa si Maling Nyawa, salah satu pendiri perkumpulan ini mendadak mundur dan menghilang dari perkumpulan Maling Kilat itu. ada yang bilang terjadi perpecahan diantara kedua pimpinan perkumpulan, kabar lainnya mengatakan dia telah tertangkap dan dihukum penggal oleh pihak kerajaan dan berita lainnya yang tidak jelas kebenarannya.


Tetapi diluar itu ada satu desas- desus yang mengatakan kalau sebenarnya si Maling Nyawa telah lama masuk menjadi anggota suatu perkumpulan pembunuh bayaran terkuat saat itu yang bernama kelompok 13 Pembunuh.!


Tidak jelas di mana letak sesungguhnya markas dari perkumpulan 'Maling Kilat' ini. tapi para anggota mereka tersebar di mana- mana, tidak terkecuali daerah Punggingan. ini sesuai dengan semboyan perkumpulan mereka, 'Di mana ada uang dan barang berharga., di situ juga Maling Kilat berada.!'


Beberapa hari terakhir anggota perkumpulan pengemis Kelabang Ireng mengadakan hubungan kesepakatan dengan Maling Kilat. mereka mengincar sesuatu barang tapi tidak mampu untuk mengambilnya hingga terpaksa meminta bantuan perkumpulan pencuri itu, tentunya dengan bayaran yang sangat mahal.


Dan kini dua orang anggotanya bergerak mengepung seorang pemuda kurus yang pincang kaki kirinya. ''Aku bosan punya masalah, juga tidak suka mencari masalah. tapi jika masalah itu datang mengancam, aku juga tidak akan diam saja.!'' kata pemuda pincang itu sambil menggeser sebelah kakinya setengah langkah. kepala dan tubuhnya di buat agak membungkuk hingga membuatnya terlihat kaku.


Kedua orang itu tertawa menghina melihat sikapnya. ''Kalau kami memang sengaja membawa masalah untukmu, memangnya apa yang bisa kau lakukan., dasar pincang tolol.!'' ejek orang dari kelompok Maling Kilat.


''Seorang pincang dan lemah mau berlagak menjadi jagoan, kurasa kau sudah kepingin cepat mampus. Hak., ha.!'' timpal anggota pengemis Kelabang Ireng tertawa bergelak. di akhir tawanya pengemis berbaju hitam ini langsung hantamkan kepalannya ke depan, berikut kakinya menyapu ke bawah. jelas sasarannya adalah kepala dan kaki pincang si pemuda kurus yang memang Pranacitra. dari deru angin pukulannya menandakan kekuatan serangannya cukup hebat.


''Orang ini sungguh kejam., hanya karena ingin membekuk seorang pemuda pincang dan lemah saja sampai harus mengeluarkan tenaga sekuat itu. si pincang yang malang., kau cuma sial karena berada di waktu dan tempat yang salah..'' batin anggota Maling Kilat seakan bersimpati dengan si pincang yang bakal roboh terkapar.


Tapi semua bayangannya langsung buyar melihat apa yang terjadi. saat kepalan tinju menggasak kepala dan tendangan menyapu kakinya. Pranacitra buat gerakan aneh, sebelah kakinya menekuk lalu menjejak maju bersaman tubuhnya yang membungkuk kaku berputar setengah lingkaran. dalam pandangan orang gerakan langkah kaki dan tubuh yang aneh itu sungguh menggelikan dan tidak ada gunanya. tapi hebatnya dua serangan lawan mampu dia hindari dengan mudah.!


''Bocah pincang edan., mampuslah kau.!'' bentak si pengemis marah sekaligus malu karena serangannya gagal merobohkan pemuda pincang itu. kali ini dia sengaja melipat gandakan serangannya. dalam sekali gebrakan dia sudah lepaskan empat pukulan dan dua tendangan kaki yang mengincar kepala, perut dan pinggang si pincang.


Masih dengan sikap kaku, lutut menekuk, tubuh setengah membungkuk dan kepala merunduk. Pranacitra bergerak menghindar diantara deru serangan lawan yang datang mengancamnya. dengan langkah kakinya yang aneh itu, hujan serangan lawannya dapat di hindari. pada akhir gerakan langkahnya yang kaku tak beraturan itu, si pemuda balikkan tubuh lalu hantamkan kedua telapak tangannya menghajar punggung dan iga kiri si pengemis.


'Sheet., dhaas., dhees!'


'Aaakh.!'


Anggota pengemis Kelabang Ireng menjerit keras tulang punggung dan iganya terasa ada yang patah. tubuh orangnya terjungkal roboh seketika. dengan keluarkan suara mengerang kesakitan orang ini berusaha merangkak bangun. dari sudut bibirnya keluar tetesan darah. mimpipun dia tidak pernah mengira kalau pemuda pincang yang nampak lemah dan penyakitan itu memiliki ilmu silat yang aneh dan mengejutkan.!


Pranacitra terpekur pandangi kedua telapak tangannya. jangankan lawannya, dia sendiri juga tidak pernah menduga kalau jurus Langkah Aneh Mayat Hidup yang baru dia pelajari ternyata begitu hebat. padahal ilmu ini lebih mengutamakan gerakan bertahan dan menghindar. serta hanya sesekali saja balas menyerang lawan.


''Tidak kusangka kau hebat juga pemuda pincang., sekarang biar aku yang menjajal kemampuanmu. lihat serangan.!'' seru lelaki anggota perkumpulan Maling Kilat. dari seruan peringatannya sebelum menyerang, Pranacitra bisa merasakan kalau orang ini punya jiwa ksatria.


Tanpa merubah kuda- kuda tubuhnya yang tertekuk kaku seperti sesosok mayat itu, Pranacitra kembali mainkan ilmu silat Langkah Aneh Mayat Hidup.!


Kalau dilihat sepintas langkah- langkah kaki Pranacitra saat memainkan jurus ilmu silat ini terasa kaku dan banyak kelemahannya, tapi sebenarnya justru sangat luwes dan rapat membentengi dirinya. jika serangan anggota perkumpulan pengemis Kelabang Ireng lebih mengandalkan kepalan dan tendangan yang bersifat keras, maka jurus serangan anggota Maling Kilat lebih mengutamakan sambaran cakar dan cengkeraman yang sangat cepat. gerakan jurus ini dinamai 'Cengkeraman Jari Cakar Pencoleng.!'


Rupanya ilmu silat orang ini setingkat lebih tinggi dibandingkan si pengemis. meskipun hingga jurus ke tujuh dia belum sanggup merobohkan si pincang, tapi sebaliknya Pranacitra juga bisa merasakan angin tajam serangan lawan yang sampai beberapa kali merobek bajunya hingga compang- camping.


Kalangan pertarungan semakin ramai oleh penonton yang datang berkerumun. para prajurit kadipaten juga telah berdatangan. tapi mereka hanya berjaga agar rakyat tidak terkena salah sasara serangan. mereka sadar ini adalah urusan orang persilatan. ada batasan tak tertulis diantara mereka.


Pada akhir jurus ke dua puluh, Pranacitra mendadak tegakkan tubuhnya yang kaku membungkuk. matanya menatap nyalang serangan sepasang cakar lawannya. kaki kirinya yang pincang menyapu ke depan disusul kedua telapaknya membabat bersilangan. ini adalah gerakan menangkis sekaligus memotong jalur jurus cakar lawannya.!


'Wheet., bheeet., bheet.!'


'Dhaas., dhees., braaak.!'


Anggota dari perkumpulan Maling Kilat jatuh terjengkang, meskipun dua pukulan telapak tangan si pincang mampu menghantam dadanya, tapi kekuatan pukulan itu tidak sampai membuatnya terluka dalam.


Lebih dua puluh jurus dia terus menghujani pemuda penyakitan ini dengan sepasang cakarnya. tapi hanya dengan gerak langkah kaku yang aneh seperti sesosok mayat itu semua serangannya dapat dia hindari.


Lebih mengejutkannya, si pincang ini hanya dua tiga kali saja balas menyerang, tapi sudah mampu membuatnya jatuh terjungkal.!


''Siapa pemuda pincang yang nampak pucat dan penyakitan ini sebenarnya, aku merasa kalau dia sengaja mengurangi tenaga pukulannya saat menghantamku..'' pikir lelaki itu sambil bangkit berdiri. dia terkesiap saat melihat ada belasan anggota pengemis Kelabang Ireng termasuk baju hitam yang terluka bergerak mengepung. dari sikapnya mereka seakan turut mencegat jalan mundurnya. seketika orang ini mencium bahaya yang mengancamnya.


Sebaliknya Pranacitra masih termenung. ''Kalau seranganku yang pertama kepada pengemis itu, sepertinya tenaga dalam yang keluar tidak dapat terkendali. tapi pada serangan jurus yang terakhir saat kugunakan untuk menghantam orang bertudung bambu, aliran tenaga dalamku dapat kutahan sebagian..''


''Apa., apakah., ini berarti aku sudah mulai mampu mengendalikan pusaran tenaga sakti yang berada di dalam tubuhku.?'' batin Pranacitra sambil pandangi kedua telapak tangannya.