
Mata kedua orang tua bertubuh besar dan kecil itu terus menatap pemuda pincang yang berdiri lima- enam langkah di depannya dengan pandangan tertarik. satu senyuman malah tersungging di bibir mereka yang peot. di pandangi terus seperti itu membuat jiwa Pranacitra merinding. dia merasa dirinya seolah sudah berubah menjadi makanan enak yang siap saji.
Angin tengah hari yang berhembus agak kencang dan merontokkan dedaunan kering itu tidak mampu menghapus butiran keringat yang mulai menetes di dahi dan punggung si pincang. walaupun dalam hidupnya sudah berpuluh kali Pranacitra berhadapan dengan maut tetapi baru kali inilah dia tidak berani mendahului bergerak. bahkan bernafaspun juga perlahan.
Kebanyakan selama ini biar sehebat apapun ilmu lawan yang pernah dihadapi, setidaknya Pranacitra sudah pernah mendengarnya atau dapat menduga cara bertarung dari lawannya. tapi kedua orang ini sangat berlainan karena tidak ada satu orangpun di dunia persilatan yang paham bagaimana cara si 'Kutu Bangkotan' dan si 'Benalu Tua' dalam menghabisi musuh- musuhnya.
Semua yang tidak terlihat, penuh rahasia atau tersembunyi di balik kegelapan biasanya akan membuat orang lain curiga dan ketakutan. demikian juga dengan kedua kakek nenek tua ini. segala kabar berita mengerikan tentang sepak terjang mereka seolah telah menjadi dongeng seram yang sangat 'Horor' di telinga orang persilatan, bahkan bagi tokoh silat yang sudah kawakan sekalipun.
Butiran keringat yang membasahi kepalanya mulai berguliran ke alis mata, hidung, mulut hingga menetes ke bawah dagunya. meski terasa mengganggu tapi Pranacitra tetap tidak bergerak. dengan kepala sedikit menunduk dia berusaha tidak menatap dua pasang mata tua yang sedang melihatnya.
Meskipun belum jelas kebenarannya namun kabarnya pasangan si Kutu dan si Benalu ini juga menguasai sejenis ilmu sihir yang bisa mempengaruhi jalan pikiran lawan. si pincang sengaja menghindari bentrok pandangan mata agar dia tidak sampai terpengaruh jika kabar itu ternyata benar.
Walaupun belum sepeminum teh berlalu tapi bagi Pranacitra waktu seolah sudah lewat sangat lama. ibarat kata dia seperti seorang yang sedang sangat haus dan kelaparan sementara di depannya sudah terhidang bermacam makan juga minuman enak, tapi dia tidak berani menikmatinya karena ada kemungkinan sudah di campuri racun.
Hendak berniat kabur dari lawan tapi berani melakukannya. selain itu melarikan diri dari ancaman maut juga bukanlah sifatnya. namun jika terus menunggu tanpa bisa berbuat apapun seperti ini sungguh sangat menyiksa. di saat dia hendak mengambil suatu keputusan, si Kutu sunggingkan satu seringai lalu bertanya, ''Hehh., kenapa kau tidak mencoba untuk kabur atau menyerang kami.?''
''Kudengar kau banyak mewarisi ilmu- ilmu kesakitan dari para gurumu. kenapa tidak digunakan untuk membunuh kita berdua.?'' sambung si Benalu sambil melahap tiga potong kue jagung dan singkong yang dia keluarkan dari saku bajunya. nenek bertubuh tinggi gemuk ini memang penggemar berat makanan apapun.
Yang ditanya terdiam sejenak baru menjawab. ''Eehm., mungkin karena aku masih ingin hidup lebih lama. meskipun diriku tidak tahu bagaimana cara kalian dalam membunuh sasaran tapi kumengerti kalau orang yang mencoba lari atau berani menggempur si Kutu Bangkotan dan Benalu Tua, justru akan lebih cepat mampus. biarpun harus diam menunggu seperti ini, setidaknya tubuhku masih tetap utuh, nyawaku juga masih ada..''
Sepasang Kutu dan Benalu saling pandang. ''Sebenarnya aku suka dengan bocah ini. meskipun takut pada kita tapi dia tidak menjadi panik..'' si Benalu melahap ketiga makanannya dalam sekali telan. tanpa harus mengunyah semuanya sudah lenyap kedalam perutnya. ''Aku juga tertarik. tapi., sayang sekali..'' keluhnya seperti menyesali sesuatu.
''Benar., memang sayang sekali. karena sesuai dengan perintah dari orang itu, dia harus tetap mati. tapi untuk menghargainya kita buat kematiannya lebih halus dan tidak terasa menyakitkan..'' gumam si Kutu. lelaki tua itu menghela nafas seolah prihatin. tubuh kedua orang tua ini tetap tidak bergerak. tapi Pranacitra justru merasakan suatu tekanan hawa kematian yang sangat pekat di sekitar tubuhnya.
''Ssii., siaa., sialan.!'' rutuknya gusar. dengan nekat tongkatnya bergerak menusuk dan berputar ke depan. sementara tangan kanannya turut menghantam lawan dengan tiga jenis gerakan yang berbeda. menyadari sedang berhadapan dengan dua orang tokoh silat yang dianggap 'Legendaris' dalam rimba persilatan, Pranacitra nekat melabrak lawan dengan lima macam ilmu kesaktian sekaligus.!
Tongkat besi hitam berkepala tengkorak menyerang dengan jurus 'Tongkat Maut Sembilan Geledek Kematian' yang disusul serangan 'Tongkat Maut Pemecah Rembulan'. bersamaan itu tangan kanannya membuat gerakan meninju, mencabik dan diakhiri dengan pukulan telapak secara beruntun.!
Dengan kepalan tinjunya, Pranacitra lepaskan pukulan 'Naga Penghancur Rembulan'. saat mencabik dia gunakan jurus 'Cabikan Burung Hantu Menggila'. sebagai penutup si pincang hamburkan serangan 'Tapak Darah Meminta Sedekah'. dua jurus tongkat dipakai untuk menggempur si Benalu Tua, sedangkan tiga aji kesakitan dia gunakan menghantam si Kutu Bangkotan.
Dalam lima serangan beruntun ini Pranacitra telah kerahkan hampir seluruh kekuatan tenaga dalamnya termasuk yang terkumpul di 'Lubang Nadi Neraka Gelap' dan pemberian si 'Gembel Sakti Mata Putih' dari hasil menyerap kekuatan milik 'Iblis Picak Buntelan Kuning'. maka gelombang kekuatan sangat dahsyat yang menghantam sangatlah menggidikkan.
'Whuuuusss., whuuuusss.!
'Bblaaaaaammm., blaaaaaaarrr.!'
Udara sekeliling tempat itu berubah bagaikan di atas panggangan bara api raksasa. tanah berumput pecah dan rengkah berderak lantas naik terbongkar. puluhan pohon yang tumbuh berjajar di hutan itu meranggas kering hingga berderak tumbang berpatahan sebelum akhirnya hangus terbakar.
Suara ledakan yang menggoncang seantero tepian hutan itu seakan masih terasa meski semuanya telah lewat lebih dari tiga puluhan waktu tarikan nafas manusia. debu panas yang masih membumbung bergulungan menutupi pandangan. semburat kerikil tajam bagaikan ujung mata tombak panas yang merajam kulit tubuh.
Saat segalanya berlalu terlihatlah suatu pemandangan aneh sekaligus menyeramkan. Pranacitra masih berdiri agak terbungkuk. raut wajahnya yang rada pucat secara perlahan menyunggingkan senyuman riang meski sinar matanya yang biasanya dingin tanpa perasaan apapun malah memancarkan keheranan dan ngeri.
Di depan sana tidak nampak apapun kecuali tanah bebatuan rengkah terbongkar dan semak pepohonan yang hangus bertumbangan. Sepasang Kutu dan Benalu tidak terlihat lagi di tempat mereka berada sebelumnya. apakah tubuh mereka berdua sudah hancur binasa dihantam ilmu kesakitan si pincang.?
''Kee., ken., kena., paa bisa bee., begii., nii. Aah., aa., akuu tahuu. kaa., kali., an ber., duu. aa puu., nya., iil., ilmu ituu.!'' seru Pranacitra dengan bibir menyeringai namun jelas suara dan tubuhnya gemetaran seakan dilanda rasa heran juga takut sebelum tubuhnya perlahan merosot kebawah. meskipun tongkat besi hitamnya masih tergenggam erat namun dia sudah tidak punya kekuatan apapun, bahkan hanya untuk sekedar menyangga tubuhnya.
Cukup dua buah totokan dari si Kutu Benalu yang menghajar punggung serta belakang kepala Pranacitra untuk membuat tubuh pemuda itu terjatuh dalam senyuman aneh. entah sejak kapan dan dengan cara apa kedua orang tua yang menjadi momok paling menyeramkan di rimba persilatan selama puluhan tahun ini bisa berdiri di belakang tubuh si pincang.!
Hanya satu dua gebrakan saja semuanya dapat di akhiri. pemuda berjuluk 'Setan Pincang Penyendiri, 'Iblis Pincang Kesepian, si 'Siulan Kematian' atau 'Pendekar Pincang Tanpa Perasaan' itu kini terjatuh setengah berlutut. ''Beginikah perasaan pesilat yang telah di kalahkan. sangat menyedihkan..'' batin Pranacitra rada putus asa.
Meskipun di saat terakhir dia dapat sedikit mengira rahasia dibalik kekuatan lawannya namun semua itu sudah tidak ada gunanya. lagi pula., walaupun dia mengetahui sesuatu bukanlah jaminan baginya bakal sanggup lolos dari tangan maut Kutu dan Benalu.
Selama ini dialah yang selalu berada di atas dan menyapu habis siapapun lawan yang berani menantangnya hingga mereka semua mati dalam ketakutan dan penyesalan. tapi sekarang., segalanya seakan berbalik menimpanya. memang benar kata pepatah, bahwa di atas langit masih ada langit yang lebih tinggi.
Dua tubuh tua si tinggi besar gemuk dan pendek kecil rada bungkuk itu menatap punggung si pemuda yang jatuh terpuruk. jika dilihat lebih dekat barulah nampak ada sedikit lelehan darah di sertai asap panas yang keluar dari sela bibir mereka. keduanya saling pandang sesaat. dalam hatinya mereka membatin. ''Bocah ini memang luar biasa. jika sedikit saja terlambat bergerak, mungkin kita berdua yang bakal celaka..''
*****
๐ชฒ๐Mohon sertakan komentar Anda. Terima Kasih๐๐๐๐โโบ.