
Dua orang tua muda terlihat sedang duduk bersantai di atas sebuah balai bambu yang ada di teras gubuk bambu. beberapa potong ubi dan pisang rebus serta sekendi air teh tawar yang masih hangat menemani mereka berdua. meskipun pagi hari ini terlihat cerah, tapi udara di lereng bukit tempat keduanya tinggal terasa dingin.
Yang satu adalah seorang kakek tua renta, berpakaian usang tambalan macam gembel dan bermata putih kelabu seperti buta. umur orang tua itu mungkin sudah sembilan puluh tahunan. biarpun terlihat kurus dan ringkih namun dia bukanlah manusia sembarangan. karena julukan 'Gembel Sakti Mata Putih' yang di sandangnya sanggup membuat meleleh nyali para pentolan silat aliran jahat.
Di hadapan si Gembel Sakti Mata Putih duduk bersila seorang gadis muda. umurnya mungkin lima atau enam belas tahunan. dia bukan lain Srianah, bekas pencopet cilik di pasar Sawon murid mendiang Ki Suta, yang juga pernah menjadi teman seperjalanan Pranacitra yang paling dekat saat awal mengembara, sebelum dia di angkat murid oleh Gembel Sakti Mata Putih.
Meskipun mereka berdua belum begitu lama mengembara bersama, tapi kedekatan yang terjalin sudah sangat erat tidak ubahnya kakak beradik. mungkin kesamaan nasib yang sebatang kara membuat keduanya bisa saling memahami.
Srianah sendiri baru saja selesai berlatih ilmu silat dan pukulan sakti 'Sepasang Sinar Lingkaran Dewa' yang di wariskan oleh sang guru. meskipun sudah berlatih cukup lama tapi udara dingin di atas bukit membuatnya cuma sedikit berkeringat.
''Kau masih berkeinginan untuk mencari pemuda pincang itu Srianah, bagaimana kalau ternyata dia., sudah tidak ada lagi di dunia ini.?'' bertanya sang guru kepada murid perempuannya. gadis itu terdiam sesaat, air teh tawar hangat yang sudah tertuang di gelas batok kelapa jadi urung di minumnya.
''Bagaimanapun juga aku harus mencarinya guru. jika memang kakang Pranacitra sudah meninggal karena penyakitnya yang parah, setidaknya aku mesti menemukan di mana makamnya..''
''Ooh begitukah., lalu bagaimana kalau ternyata pemuda bernama Pranacitra itu sudah menjadi orang hebat yang terkenal dan sudah memiliki kekasih atau keluarga.?'' gumam sang guru setengah menggoda Srianah. karuan saja gadis remaja itu merah merona raut mukanya. entah kenapa dia jadi bingung sendiri bagaimana mesti menjawab.
''Haa., ha., tidak kusangka anak yang dulu memberiku pisang rebus itu sekarang benar sudah tumbuh dewasa, sampai jadi gugup dan salah tingkah saat kutanya soal pemuda teman dekatnya..'' gelak tawa Gembel Sakti Mata Putih memecah kesunyian pagi di lereng bukit itu.
''Aa., apa maksudmu guru., aku., aku., tidak mengerti ucapanmu barusan. lagi pula siapa juga yang salah tingkah.!'' gerutu Srianah sewot bercampur malu.
''Hhm., biarpun mataku hanya dapat melihat remang- remang tapi hati dan perasaanku jauh lebih peka dari orang lain., kau tidak perlu merasa malu atau bingung..''
''Sekarang kau jawab saja dengan sejujurnya bagaimana jika Pranacitra sudah mempunyai keluarga atau kekasih hati., jawabanmu ini akan menentukan apakah kau bisa kuberikan ijin untuk turun ke dunia luar atau tidak.!'' tegas Gembel Sakti Mata Putih.
Srianah tercekat. tanpa sadar dia termangu diam. sejujurnya gadis ini juga tidak tahu bagaimana cara menjawab pertanyaan sang guru. hampir tiga tahun bersama kakek tua ini membuatnya paham betul sifatnya. meski sang guru sangat menyayanginya bagaikan dengan cucunya sendiri, tapi jangan pernah sekalipun berani mempertanyakan setiap kata dan keputusan dari orang tua ini.
''Ka., kalau Pranacitra sudah berkeluarga atau memiliki kekasih, kupikir itu lebih baik karena ada orang yang merawatnya. tentu saja aku sebagai adiknya akan turut merasa berbahagia untuknya..''
''Lagi pula soal kehidupan pribadinya, tidak ada hubungan apapun denganku. aku hanya ingin memastikan kalau dia baik- baik saja. cuma itu..'' akhirnya Srianah dapat juga menjawab pertanyaan gurunya.
Kedua orang ini selanjutnya cuma saling berdiam diri sambil menghabiskan hidangan yang ada. ''Hhm., pada akhirnya waktunya akan tiba juga. kau pergilah membersihkan diri, nanti kita sambung lagi pembicaraan ini..'' ucap Gembel Sakti Mata Putih sambil menghela nafas berat. meskipun Srianah merasa sang guru berlaku agak aneh, tapi dia tidak berani banyak tanya. setelah menjura hormat gadis itu segera menuju kebelakang gubuk untuk mandi.
''Tapi yang membuatku bimbang adalah hati gadis ini yang begitu murni dan penuh kasih sayang. aku takut dia tidak dapat menerima sesuatu kenyataan buruk yang terjadi di luar harapannya..'' batin kakek buta itu. setelah berpikir cukup lama akhirnya dia mengambil sebuah keputusan.
Srianah kembali ke teras depan gubuk. kini dia terlihat lebih manis dan menarik hati. setelah mandi gadis itu sempat sebentar menata diri dalam gubuknya. bajunya tetap biru muda dengan celana longgar berwarna biru tua. disana sang guru sudah tidak berada lagi di tempatnya. malah sebuah buntalan kain dan surat dari lebaran daun lontar terlihat di atas balai bambu.
Selain itu ada sebatang suling pendek yang cuma berlubang empat terbuat dari batu pualam ungu di samping buntalan kain yang mungkin berisikan baju dan sejumlah uang. perasaan gadis itu seketika menjadi gelisah.
''Muridku Srianah., hari ini ku ijinkan dirimu untuk turun bukit agar kau dapat melakukan apa yang selama ini engkau inginkan..''
''Meskipun hubungan kita adalah guru dan murid, tapi di lubuk hati orang tua buta ini kau sudah seperti cucuku sendiri. pesanku jagalah dirimu sebaik mungkin karena orang jahat, licik dan munafik di luar sana tidak terhitung jumlahnya..''
''Mengenai Pranacitra., kau harus tabah dan bisa menerima jika terjadi sesuatu yang buruk padanya. aku tidak tahu perasaan apa yang sebenarnya ada dalam hatimu tentang pemuda itu. apapun kelak yang terjadi kau harus tetap tegar melanjutkan hidupmu..''
Tulisan di atas daun lontar itu jelek dan kasar. tapi bagi Srianah setiap kata yang ada di sana bagaikan ukiran yang menggurat isi hatinya. daun yang tadinya kering kini basah oleh air matanya.
Srianah jatuh bersimpuh, meskipun dia ingin pergi dari tempat ini tapi dia tidak bakal tega meninggalkan sang guru. kesedihan hatinya membuatnya berpikir untuk mengurungkan niat turun ke dunia luar. hidupannya selama ini berdua dengan sang guru di bukit ini juga cukup menyenangkan. tapi sekarang semua sudah terjadi. Srianah tahu tidak mungkin untuk mencari gurunya lagi. setelah menghapus air matanya dia bersujud tiga kali di depan pintu gubuk. saat berbalik terlihat ketagaran di mata gadis itu. dengan langkah mantap dia pergi meningalkan tempat itu.
Dari atas sebatang pohon besar yang rimbun terlihat seorang pengemis tua sedang duduk bersandar di dahan pohon itu. meskipun kedua matanya buta tapi setiap gerakan si murid tidak terlepas dari benaknya. Gembel Sakti Mata Putih tahu betul sifat sang murid. jika di suruhnya turun bukit belum tentu dia akan langsung menurut meskipun jelas ada keinginan itu di dalam hatinya. perasaan hormat dan sayang Srianah pada gurunya mungkin membuat gadis itu bakal memilih untuk tetap tinggal di sini.
''Jika waktunya sudah tiba., yang pergi harus tetap pergi. lagi pula kurasa anak itu sudah menjadi seorang gadis remaja yang butuh pengalaman hidup. hmm., apakah anak muda jaman sekarang memang lebih cepat tumbuh dewasa.?'' gumam kakek tua itu tertawa nyengir.
Hari sudah menjelang senja saat terlihat seorang gadis berbaju biru muda yang membawa buntelan kain memasuki pintu masuk sebuah desa. wajah gadis ini tidak jelas terlihat karena tertutup sebuah caping bambu. sebatang suling pendek berwarna ungu terselip di belakang pinggangnya yang ramping.
Baru saja gadis muda yang memang Srianah itu hendak memasuki pintu sebuah warung makan, dari ujung jalan mendadak muncul segerombolan penunggang kuda dengan dua buah kereta gerobak barang yang semuanya memakai seragam kuning dengan sulaman kepala seekor burung elang serta membekal sebatang pedang di pinggangnya.
Dengan sikap kasar orang- orang yang dari ciri dan lagaknya berasal dari rombongan kelompok pengawalan barang itu turun dari punggung kuda dan bergegas masuk ke dalam warung. sekejap saja seluruh meja yang cuma ada tiga itu telah terisi. beberapa orang anggota terpaksa berdiri di luar sambil menjaga barang kawalan.
Meskipun merasa lapar tapi Srianah lebih memilih melanjutkan perjalanannya. saat melewati kereta kuda sempat terlihat olehnya dua buah bendera yang tertancap di depan kereta kuda. sebuah bendera besar warna kuning bersulaman kepala seekor burung elang dengan tulisan kelompok pengawalan barang 'Elang Perkasa'.
Sementara bendera yang berada di sisi kiri dan agak terlindung berukuran lebih kecil, berwarna hitam legam dengan gambar pintu sebuah gapura dengan latar belakang bulan purnama yang berlumuran darah.!