
Serangan cambuk yang datang mendadak itu sungguh tidak disangka oleh para pengepung si gadis bermata kiri picak. bunyi ledakan keras serupa petir turut menyertai sambaran cambuk berduri besi yang ditengah jalan cahaya kesakitannya memecah ke berbagai penjuru arah.
Tidak ampun lagi tiga orang anak buah dari 'Nyi Sawer Petak' sudah terjungkal roboh dengan bagian dada serta leher robek hangus tercabik. jeritan menyayat di timpali makian kotor tersembur dari mulut para pengeroyok si gadis. belum sempat mereka bersiap gadis bopeng itu sudah sentakkan cambuk besinya ke udara lantas menyabet ke muka. ''Haa., ha., kalian makan dulu jurus 'Ledakan Cambuk Guntur Tunggal' dariku.!'' gertak si gadis bopeng.
'Whuuuk., whuuuk.!'
'Jdaaarr., jdaaar., dhuaar.!'
Kelebatan cahaya merah yang menderu dari atas udara menghantam dahsyat para pengepungnya hingga sama berserabutan menghindar. tanah bekas tempat mereka berada terlihat rengkah terbongkar dihantam cahaya cambuk. gadis itu terus berkelebat menyerbu. cambuk berduri besi dua kali diputar keatas kepalanya sebelum menghentak. menyusul serangan itu sebelah tangan dan kakinya juga kirimkan tendangan yang membawa sambaran angin tajam.
''Gadis bopeng keparat.!'' umpat Nyi Sawer Pethak gusar. sambil berkelebat menghindar dia cepat babatkan pedang ularnya untuk menangkis cahaya merah yang menyambar dari atas udara. sinar putih redup yang disertai kabut beracun meyembur ke muka. dua anak buahnya yang tersisa turut menyerang dengan tikaman pedangnya dari kiri kanan rusuk si bopeng.
Rekannya si 'Empat Begal Bogem Gunung' juga tidak tinggal diam. dengan kerahkan tenaga dalam empat pasang kepalan tangan mereka menghantam. gelombang angin keras bagaikan hantaman palu raksasa melabrak. inilah ilmu pukulan 'Bogem Gunung' yang sanggup menghancurkan bongkahan batu padas sebesar kerbau.
Dengan demikian gadis picak yang dipanggil sebagai si 'Kusir Picak Muka Bopeng' itu harus menghadapi serangan ganas dari para lawannya secara bersamaan. biarpun bahaya maut mengancam tapi gadis bopeng itu tidak menjadi jeri. dengan menutup jalan nafasnya dia berusaha mencegah semburan kabut putih beracun dari pedang ular Nyi Sawer Pethak alias si 'Ular Putih Licin'.
Tubuhnya yang kecil turut merunduk lantas jejakkan kedua kakinya untuk dapat menyurut mundur. telapak tangan bergerak mengibas serata pinggang hingga dua pedang lawan turut terpental oleh sambaran tenaga telapak lawan. gerakan selincah belut ini juga sekaligus menghindari tiga tikaman pedang ular Nyi Sawer Pethak yang nyaris saja memotong lehernya.
Yang jadi masalah jurus cambuknya menjadi berkurang kekuatannya jika dipakai untuk pertarungan jarak dekat. baru saja si bopeng selamat, empat pukulan sakti lawan sudah datang menderu. ''Haa., ha., menyerahlah saja kau bocah bopeng jelek. dirimu lebih punya nilai jika masih hidup.!'' hardik salah seorang lawannya yang berhidung pesek.
Gadis itu merutuk kesal. dengan terpaksa dia kerahkan seluruh tenaga dalamnya ke telapak tangan kiri untuk menyambut dengan cara keras lawan keras sekalian sabetkan cambuk besinya. meskipun semua gerakan itu tidak dapat menahan pukulan lawan namun mungkin bisa sedikit mengurangi tenaga dari aji kesaktian yang datang mengancamnya.
'Wheeess., whuuuk., plaaak.!'
'Ctaaar., ctaaar., blaaaam.!'
''Aakh.!'' jeritan tertahan keluar dari mulut si gadis picak bersama dengan muntahan darah. tubuhnya terlempar lima langkah ke belakang. biarpun jelas terluka dalam tapi daya tahan tubuh serta kenekatannya sungguh diluar nalar. tiga kali tubuhnya bergulingan ketanah, mendadak dia sudah melesat balik. cambuk berduri besi ditangannya kembali melabrak hingga Nyi Sawer Pethak dan dua anak buahnya yang turut memburu ke depan terperanjat karena mesti menghadapi jurus cambuk yang datang mengancam balik.
''Dasar bocah bopeng keras kepala. jika saja kami tidak menginginkanmu hidup- hidup, kau pikir nyawamu masih dapat dipertahankan.?'' damprat Nyi Sawer Pethak kalap. pedangnya bergerak bagai liukan ular berbisa sedang mematuk mangsa. kabut dan sinar putih beracun yang membuat sesak pernafasan turut mengiringi serangannya.
Kedua anak buahnya berguling ke samping lantas menikam pinggang serta iga si gadis bopeng. bentrokan antara tiga pedang dan cambuk besi terjadi berulang kali. debu pasir berterbangan dihempas tenaga sakti yang saling beradu. dengan menahan rasa sakit akibat terluka dalam si gadis bopeng lipat gandakan sabetan cambuknya.
Belasan jurus terlewati dengan cepat. dua bilah pedang mental bersama kedua anak buah Nyi Sawer Pethak yang lehernya bersimbah darah tersambar cambuk besi berduri sampai nyaris putus. tetapi pedang si Ular Putih Licin juga berhasil merobek punggung gadis itu. masih ditambah dengan empat pukulan sakti yang turut datang menghantam, dia jelas tidak bakal mampu lagi bertahan.
''Setan alas betul gadis bopeng picak ini. tidak kusangka dia cukup merepotkan. kalau saja dia tidak diperlukan dalam keadaan hidup, tenaga pukulan 'Bogem Gunung' yang kami lepaskan pasti berisi tenaga dalam penuh, sayangnya kita harus menahan diri hingga terpaksa mengurangi tenaga kesaktiannya..'' gerutu salah satu dari Empat Begal Bogem Gunung yang berkepala gundul. bersama mereka bergerak menghampiri si gadis picak.
''Keparat., lima anak buahku semuanya tewas ditangannya. kalau urusan ini selesai dia mesti kusiksa sepuasnya lebih dulu sebelum dihabisi.!'' geram si Ular Putih Licin menahan hawa dendam kemarahan. tapi tetap saja kakinya sempat menendang dan menginjak bahu kiri gadis itu sampai sambungan tulang sendinya terlepas dan patah. si bopeng sempat menjerit keras sebelum pingsan.
''Tahan dirimu Nyi Sawer Pethak. kalau sampai dia mampus semua rencana kita bakal jadi sia- sia.!'' damprat si kepala gundul. ''Pihak yang memerintah kita sudah mengatur rencana ini. sedikit saja terjadi kesalahan nyawa kita semua bisa terancam.!'' timpal kawannya yang bertubuh paling tinggi turut memperingatkan.
Nyi Sawer Pethak yang dijuluki sebagai Ular Putih Licin itu mendengus kesal tapi dia tidak membantah. ''Kalau begitu cepat bawa bocah ini ke tempat yang aman untuk kita paksa membuka mulutnya mengenai keberadaan pemuda pincang itu..'' dengusnya sambil sarungkan pedang ularnya.
Rekannya 'Empat Begal Bogem Gunung' juga tidak mau membuang waktu. si hidung pesek yang tubuhnya paling besar bergerak hendak memanggul tubuh gadis picak bopeng yang terkapar bersimbah darah. tubuh perempuan belia itu meskipun punya beberapa bekas luka bakar tapi tetap saja menarik apalagi bagian auratnya sebelah atas sudah nyaris tidak tertutupi.
Dua gundukan buah dada gadis picak itu telah tersingkap. aliran darah empat begundal rampok itu seketika berpacu lebih cepat. si hidung pesek terkekeh mesum. dia sengaja berniat mendahului ketiga kawannya agar dapat memanggul si gadis bopeng sekalian meraba- raba seluruh tubuhnya.
Baru saja lelaki mesum berhidung pesek ini hendak membungkuk, mendadak dia sudah terjingkat kembali dengan mata melotot. dari mulutnya terdengar suara 'grookk., grookk.' disertai darah segar yang menyembur. orang ini membalik kebelakang. kedua tangannya menggapai- gapai sambil memegangi lehernya yang bersimbah darah.
Tubuh besar si hidung pesek tumbang terkapar berkelojotan di atas tanah sebelum mati dengan mata melotot seolah menahan kesakitan yang teramat sangat. empat orang kawannya terperanjat kaget. tepat di tengah leher si pesek entah sejak kapan sudah tertancap sebuah pisau dapur yang tembus ke tengkuknya.
Pisau itu hanyalah sebuah pisau biasa yang bentuknya sangat umum dan dapat dijumpai di pasar manapun. tapi sekarang., anehnya pisau yang panjangnya mungkin cuma sejengkal lebih dua ruas jari itu seakan sudah menjadi senjata pembunuh yang membawa hawa menyeramkan jiwa.
Namun mereka tidak sempat lagi berpikir lebih jauh karena dari arah belakang terasa ada sambaran angin sangat panas disertai bau anyir darah pekat. serentak keempatnya membalik. raut muka mereka sama pucat pias dilanda kengerian melihat berlusin cahaya merah darah berbentuk telapak tangan berhamburan menghantam.
''Awas., jurus pukulan 'Tapak Darah Meminta Sedekah' cepat menyingkir.!'' teriak Ular Putih Licin ketakutan. tiga orang yang tersisa dari Empat Begal Bogem Gunung juga tidak kalah ngerinya. sambil hantamkan pukulan Bogem Gunung mereka berusaha untuk menyingkir sejauh mungkin.
''Celaka., setan alas sialan. si pincang itu rupanya ada disini.!'' rutuk Nyi Sawer Pethak sambil babatkan pedangnya berulang kali. gemuruh ledakan terdengar keras. larikan cahaya dan kabut putih beracun yang dia andalkan seketika tersapu lenyap oleh pukulan sakti yang menebar bau anyir darah. begitu juga pukulan Bogem Gunung dari tiga rekannya.
Saat hujan telapak tangan berdarah kembali memburu, empat orang inipun tidak mampu lagi bertahan. mereka menjerit parau dengan tubuh terpental jauh bertumbangan ketanah. diantara debu pasir yang menutupi mata terlihat sesosok tubuh yang berdiri angker. sepasang mata dingin tanpa perasan sekilas menatap bengis empat orang yang terkapar di sana sebelum berkelebat cepat lalu lenyap.
Dengan keluarkan suara erangan lemah dan semburan darah kental, ujung mata Nyi Sawer Pethak masih sempat melihat kesamping. pisau dapur yang menancap di leher si pesek dan tubuh bocah perempuan picak yang telah menghabisi lima anak buahnya telah lenyap dari tempatnya. ''Jaa., jah, jahanam., Aaakh.!'' teriak Nyi Sawer Pethak sebelum tubuhnya mengejang keras lalu terkulai diam tidak bergerak.
*****
Silahkan tulis komentar, kritik dan saran Anda, juga like👍 atau vote👌jika suka. Terima kasih🙏.