Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Cerita sarapan pagi.


Entah sudah berapa lama kedua muda- mudi itu saling menyandarkan tubuhnya setengah berpelukan. meskipun perbuatan ini terasa kurang baik bagi dua orang yang belum lama saling kenal, tapi mereka berdua seakan juga enggan untuk memisahkan diri. mungkin juga dalam hati keduanya sudah bersepakat untuk berpura- pura tidak menyadari, terlupa sopan santun dan masa bodoh. toh., tidak ada yang melihatnya.


Kalau di jaman sekarang kebanyakan anak mudanya jika menghadapi keadaan semacam ini bisa langsung berbuat yang kebablasan. biasanya semua perbuatan itu akan berakhir dengan penyesalan, khususnya bagi pihak perempuan. tetapi semua tentunya juga tergantung dengan kekuatan iman setiap orang untuk saling bisa menjaga diri. maka bersyukurlah bagi setiap orang yang mampu menjaga kehormatan dirinya.


Pagi hari baru saja tiba. meskipun hujan telah lama berhenti tapi udara justru semakin terasa lembab dan dingin. Jingga Rani terbangun dari tidurnya saat merasa sandaran dikepalanya menjadi keras. rupanya bahu si pincang yang tadinya menjadi tempat bersandar tidur sudah berganti tiang bambu dipojokan gubuk. entah sejak kapan pemuda itu pergi.


Teringat si pincang yang menyebalkan itu lenyap dari sampingnya membuat Jingga Rani bingung dan panik. tanpa pikir panjang gadis itu berkelebat melesat keluar gubuk. bahkan tanpa sadar dia berseru memanggil si pemuda pincang yang belum sempat diketahui siapa namanya itu. tapi baru beberapa saat berlalu Jingga Rani menyadari kalau ada sesuatu yang terlewat olehnya.


Sekali kakinya menutul tubuh langsingnya sudah kembali masuk kedalam gubuk. bau aroma masakan yang direbus dalam kuali tanah tercium olehnya. saat berpaling terlihat orang yang dia cari sedang sibuk mengatur perapian dan mengiris daun bawang juga jahe sebelum dimasukkan kedalam kuah yang mendidih.


Jingga Rani menelan air liurnya. aroma sedap yang mengepul sungguh membuatnya tidak tahan untuk mendekat. nampak potongan daging ikan gabus yang timbul tenggelam didalam kuali. dia teringat kalau si pincang mendapatkan beberapa ekor ikan gabus dari sungai. pasti ikan ini sisa kemarin yang belum sempat dibakar.


''Darimana kau mendapat kuali tanah itu, masakan apalagi yang sedang kau buat, sepertinya rasanya enak. Eeh., sudah matang apa belum, bisakah aku mencicipinya.?'' tanya Jingga Rani bertubi- tubi. ''Hei., aku sedang bertanya padamu tahu. juga kenapa kau tidak bilang kalau sedang memasak, Aaa., aku kira kau., kau sudah pergi dari sini..''


Alis si pincang Pranacitra sedikit mengernyit ke atas. ''Begitu banyak pertanyaanmu, lantas mana dulu yang mesti kujawab. dari sejak menjelang subuh aku sudah mencari bahan makanan, sayangnya cuma bertemu beberapa rempah bumbu dapur. kuali ini mungkin bekas punya si pemilik gubuk, aku menemukannya tergeletak diluar dapur..''


''Soal kenapa aku tidak bilang kalau sedang memasak., Hei gadis cerewet yang aneh., memangnya 'Kowe iki si Mbokku tah., saben arep nyapo- nyapo aku kudu pamitan kowe disik.?'' (Kamu ini Ibuku kah., hingga setiap mau berbuat apapun aku mesti omong dulu.?)'' bentak Pranacitra gusar. Jingga Rani tertegun, seumur hidup belum pernah ada pemuda yang berani bicara kasar padanya. tanpa terasa air matanya mengambang saking kesalnya.


''Itu., itu karena aku khawatir denganmu. tapi tidak kusangka kau., kau malah berkata kasar padaku..'' ratap gadis itu sedih. ''Aduuuhh sudahlah., jangan memasang wajah memelas begitu, aku paling tidak bisa melihat wanita yang menangis. masakanku sudah matang. karena tidak ada periuk, kita gunakan saja batang bambu sebagai tempat makan..'' bujuk Pranacitra memberikan potongan bumbung bambu kepada Jingga Rani sekalian juga mengisinya dengan kuah dan potongan daging ikannya.


Dengan sendok kayu yang sepertinya baru dibuat si pincang Jingga Rani mulai memakan ikan masak kuah yang rasanya segar dan pedas. sangat sesuai dengan suasana dingin seperti pagi ini. tanpa terasa dia sudah empat kali mengambil masakan itu dari kuali tanpa perduli masih panas. melihat tingkahnya tanpa terasa Pranacitra jadi teringat Puji Seruni.


''Kau tahu., dulu semasa kecil aku dan empat saudara seperguruanku juga sering makan hidangan berkuah seperti ini. masakan guruku meskipun tidak seenak buatanmu tapi tetap membawa kenangan yang tidak terlupakan. kami berlima adalah teman sekampung yang selamat dari bencana alam. orang tua dan seluruh keluarga kami meninggal atau hilang karena banjir bandang yang menerjang desa..''


Dengan mengambil kuah daging ikan gabus untuk kelima kalinya gadis itu mulai bertutur tentang dirinya, guru dan keempat saudaranya. tidak ada yang terlalu istimewa dalam cerita itu kecuali saat mereka berlima mulai turun dan berpetualang di rimba persilatan hingga meraih nama besar 'Lima Elang Api'.


Pranacitra cuma diam sambil mengamati kuali yang isinya tinggal sedikit. lima berbanding dua, wanita dihadapannya sudah mengambil masakan ikan gabus kuah pedas tiga kali lebih banyak darinya. ''Eehm., maaf jika ceritaku agak membosankan dan sudah mengambil sarapan pagi lebih banyak darimu. harus kuakui., masakanmu ini sangat enak..'' ucap Jingga Rani tanpa dapat menahan rasa malu.


Pranacitra hanya mengangkat bahunya sambil menghela nafas. dengan enggan dia mengais semua sisa kuah ikan dan meminumnya sampai habis. ''Yah., apa boleh buat, anggap saja diriku memang sedang sial karena telah bertemu wanita cantik yang rakus sepertimu..''


''Hei., kau ini sebenarnya sedang memuji atau malah mengolok diriku. lagi pula ini terasa kurang adil. aku sudah menceritakan padamu tentang riwayat hidup kami Lima Elang Api, tapi kau tidak sedikitpun mau bicara tentang dirimu kepadaku..'' rungut Jingga Rani agak merajuk.


''Eeh., kau., kau mau kemana. kalau tidak mau menceritakan sesuatu tentangmu aku juga tidak akan memaksa. anggap saja diriku tidak pernah bicara apapun..'' ujar Jingga Rani yang mengira si pincang marah dan akan pergi dari sana. diapun berusaha mencegahnya.


''Kenapa kau begitu banyak bicara dan selalu mau tahu urusan orang lain. dengarkan., sekarang aku mau membersihkan tubuhku disungai. memangnya kenapa., kau mau ikut mandi bersamaku.?'' ejek Pranacitra. karuan saja Jingga Rani malu karena salah mengira. ''Huhm., siapa sudi melakukan itu. dasar pincang mesum sialan.!'' makinya geram.


''Hee., he., saat aku keluar, kau bisa menjemur baju luarmu di dekat perapian agar cepat kering tanpa khawatir kuintip. mungkin saja., setelah mandi tubuh dan pikiranku juga segar kembali. bisa jadi aku nanti mau sedikit menceritakan tentang sesuatu padamu..'' meskipun itu diutarakan secara perlahan dan sambil lalu, tapi bagi Jingga Rani seakan ada sebuah harapan untuk dapat lebih mengenal pemuda aneh yang mulai berjalan terseok keluar gubuk.


Waktu yang berlalu seakan lebih cepat dari biasanya. Jingga Rani masih diam diatas batu tempatnya duduk. mata beningnya menatap tidak berkesip pemuda pincang yang duduk bersandar tiang gubuk bambu. sambil memakai ikat kepala batik luriknya, pemuda itu mengakhiri ceritanya.


Bagi gadis pimpinan Lima Elang Api, cerita si pincang yang baru diketahuinya bernama Pranacitra itu terlalu luar biasa. sempat terpikir olehnya kalau si pincang bicara dusta, tapi itu segera ditepisnya. meskipun agak tidak masuk akal namun dia juga yakin kalau semua yang didengarnya adalah suatu kisah nyata.


''Aku sungguh tidak menyangka kalau ada seorang manusia yang sanggup menahan semua beban penderitaan lahir batin sehebat itu..'' gumamnya tanpa sadar. ada butiran air mata penuh perasaan simpati yang menetes dari sudut matanya. ingin dia memeluk pemuda itu untuk sekedar meringankan beban penderitaannya.


Saat pemuda pincang itu kembali dari mandi di sungai, baju jingganya masih setengah kering hingga dia belum sempat memakainya. dengan menahan malu Jingga Rani terpaksa cuma memakai baju dalam berupa kutang yang juga berwarna jingga. si pincang itu cuma melirik sekejap. anehnya Jingga Rani malah terpikir untuk menguji hati pemuda itu.


Jika tadinya gadis cantik itu merasa malu dan risih berpenampilan seperti itu, sekarang dia malah bersikap santai, bahkan rada sedikit genit dan berani. tapi semuanya terlupakan saat si pincang mulai bertutur sebuah kisah yang menurutnya sangat memukau.


''Ada beberapa bagian cerita yang harus kurahasiakan darimu. hanya ada satu permintaanku, harap jangan pernah kau katakan cerita ini kepada siapapun termasuk kedua saudaramu. Eehm., kalau kau berpakaian terbuka begitu, entah sampai kapan aku bisa menahan diri untuk tidak menindih tubuhmu..'' sindir Pranacitra menyeringai licik.


''Sekarang giliranmu mandi. meskipun kau cantik dan memakai pewangi tubuh, tapi tetap saja harus membersihkan diri, karena sejak kemarin kau juga belum mandi.." tangannya bergerak secepat kilat kebawah lengan kiri wanita itu. Jingga Rani terpekik geli, marah juga malu. lantas mencaci maki geram. ''Dasar kau pincang brengsek, bajingan mesum.!'' sekali bergerak dia menyambar pakaiannya lalu berkelebat keluar menuju sungai. ''Awas saja jika kau berani mengintipku saat mandi.!'' serunya mengancam.


''Mandilah yang bersih sepuasmu. meski aku bajingan, tapi bukan tukang perusak kehormatan wanita.!'' balas Pranacitra. jemari tangannya memilin beberapa helai bulu rambut hitam yang tercabut dari bawah lengan Jingga Rani. ''Walaah., ayu- ayu keleke tibae ono wulune. chuih., asem tenan..'' (Walah., cantik- cantik ketiaknya ternyata ada bulunya. chuih., baunya asem..)'' dengus si pincang mencium jemarinya.


Suasana jadi hening sesat lamanya. ''Sampai kapan kau terus bersembunyi diluar seperti itu Nyi Rondo Kuning. cepatlah masuk dan kita bicara didalam gubuk.!'' seru Pranacitra. tidak lama kemudian berkelebat sesok bayangan kuning menerobos ke dalam gubuk reot. bau harum terpancar darinya.


Seorang wanita cantik tiga puluhan tahun bertubuh sintal dengan pakaian jubah kuning yang tipis berdiri di depan Pranacitra. ditangan kiri wanita ini tercekal sebilah pedang bersarung kuning. ''Pantas saja kau betah kelayapan diluaran meskipun nyawamu terancam. rupanya penggemar wanitamu banyak juga..'' cibir wanita genit yang memang Nyi Rondo Kuning adanya.


*****


Asalamualaikum., maaf jika ada tulisan yang kurang berkenan/ jorok. 🙏 Terima kasih pada para Reader karena sudah bersabar mengikuti novel yang up datenya tidak pernah jelas ini. 😅🙏, Wasalam.