
Dalam kegelapan suasana gubuk Pranacitra dapat merasakan suara degup jantung Jingga Rani yang masih berada dalam dekapannya. pemuda ini meskipun bukanlah kaum buaya darat tapi dari pergaulannya dengan beberapa gadis cantik kenalannya selama ini cukup memberinya pengalaman dan jadi sedikit paham dengan perasaan kaum perempuan.
''Sejujurnya aku tidak pernah menyangka bisa berdiri demikian dekat dengan pimpinan 'Lima Elang Api' yang terkenal cantik jelita dan berilmu tinggi. sebenarnya berdekatan serapat ini dengan dirimu membuatku merasa rendah diri dan tidak pantas..'' bisik Pranacitra kalem.
Dalam gelap Jingga Rani tertegun. ucapan pemuda disampingnya yang terdengar merendah dan halus sungguh berbeda dengan biasanya yang terkesan sombong, jahil serta agak sinis kepadanya. apalagi saat pemuda itu memujinya cantik jelita dan berilmu tinggi. entah kenapa hatinya merasa senang. padahal pujian semacam itu sudah sangat bosan dia dengar dari mulut orang lain.
''Hee., he., orang bilang delapan dari sepuluh orang wanita selalu senang jika dia dipuji berwajah cantik jelita dan pintar. sepertinya ungkapan itu ada benarnya juga. hanya sedikit kata rayuan dan tutur kata halus merendah, gadis sombong ini sudah pasrah dalam dekapanku. aku pikir., mulutku lumayan hebat juga dalam merayu gadis. ehmm tapi., entah kudapat dari mana ilmu merayu ini..'' batin si pincang menyeringai.
''Untungnya aku bukanlah kaum penjahat pemetik bunga, tukang perusak kehormatan para gadis. jika tidak dia pasti sudah habis kukerjai didalam gubuk ini..'' apa yang ada dalam pikiran si pincang sangatlah berbeda dengan yang berada dalam benak Jingga Rani. ''Setelah kupikir- pikir., pemuda ini tidak begitu buruk. malah cukup menarik hati. tapi entah dibagian mana sisi baiknya aku juga tidak tahu. duhh., kenapa aku jadi aneh begini sih..''
''Aah., persetan. berdekapan begini juga tidak ada yang melarang, rasanya juga nyaman. lagi pula., dalam gubuk ini cukup gelap. siapa pula yang melihatnya.?'' pikir Jingga Rani nyengir. jika tadinya tubuhnya masih agak tegang dan menjaga diri, kini dia benar- benar merebahkan diri ke dada si pemuda.
Apa yang diperbuat Jingga Rani agak diluar dugaan Pranacitra. dengan merebahkan diri dalam dekapannya seperti itu membuat dua buah dada gadis cantik itu yang besar dan montok dibalik baju jingganya terasa betul oleh si pincang. meskipun bukanlah pemuda cabul tapi dia juga bukan manusia suci. aliran darahnya seketika mengalir lebih cepat. otaknya juga mulai berpikir ngeres dan panas.
''Mereka yang katamu berada diluar itu ada berapa orang. menurutmu siapakah mereka dan ada urusan apa datang kemari. ataukah., jangan- jangan mereka adalah para murid perguruan 'Gading Emas' yang berniat untuk menuntut balas.?'' tanya Jingga Rani setengah berbisik hingga membuat pikiran Pranacitra yang sempat dikotori nafsu menjadi buyar seketika.
''Kurasa mereka bukan dari padepokan Gading Emas. tapi siapapun mereka yang datang menyatroni kita pastilah membawa niat buruk. mereka semakin mendekat. meskipun dirimu bukan gadis lemah, tapi ada baiknya kau tunggu saja disini. biar aku yang hadapi..'' baru saja Pranacitra selesai berucap dari dua dinding gubuk di kanan kiri melesat puluhan senjata rahasia berupa lempengan besi kecil berbentuk segi tiga dan paku- paku kuning.
'Sheeettt., sheeeett., shaaatt.!'
'Wheeeett., whuuutt., traaaanngg.!'
'Traaaang., plaaang. claang.!'
Berpuluh senjata rahasia yang menerobos didinding gubuk bambu reot itu dibuat mental tersapu tongkat besi hitam Pranacitra. dari datangnya serangan, pemuda itu sudah bisa memastikan dimana keberadaan lawannya. tanpa banyak bicara tongkat besi hitamnya ditancapkan ke lantai tanah gubuk. berikutnya kedua telapak tangannya yang berubah merah panas berbau anyir darah menghantam kiri kanan. jurus 'Tapak Darah Meminta Sedekah.!'
Dinding gubuk bambu yang sudah reot penuh lubang bekas hujan senjata rahasia kini benar- benar hancur tidak bersisa. dua jeritan ngeri disertai makian kemarahan terdengar bersama tumbangnya dua sosok tubuh di kiri kanan gubuk. darah tersembur dari luka hangus melesak berbentuk telapak tangan merah di dada dan wajah korbannya. bau anyir darah daging gosong tercium memuakkan hidung.
''Celaka., itu pasti jurus 'Tapak Darah Meminta Sedekah.!'' seru seseorang yang berada agak didepan gubuk. karena dia terhalang dinding depan Prancitra tidak dapat melihat siapa orang ini. meskipun begitu dari suaranya dapat dikira kalau dia adalah seorang lelaki setengah tua.
Disaat seruan- seruan kaget dan dengusan geram penuh amarah bercampur kengerian terdengar bersautan, dari dalam kegelapan ruangan gubuk reot itu berkumandang suara siulan aneh yang membawa perasaan penuh kesedihan hati. tidak ada satu orangpun tahu lagu siulan menyedihkan itu melambangkan apa, tapi yang jelas dibalik perasaan sedih dan duka itu juga terselip suatu hawa kematian.
Entah kenapa semua orang yang berada diluar seketika menjadi terdiam dan merinding. dari dalam gubuk yang gelap terdengar pula suara langkah kaki perlahan yang diikuti benda keras yang terseret menyeruk diatas lantai tanah. 'Shreekk., sreett., tap., tap., shreeek., tap., sreeett., tap., shreet.!'
Setiap kali telinga mereka mendengar suara benda berat menyaruk tanah serta langkah kaki yang terseret perlahan, jiwa setiap orang disana terasa digurat tersayat pisau belati tajam. tengkuk dan hati mereka menjadi dingin seolah ditindih bongkahan es.
Sisa sinar senja yang menyoroti pintu gubuk reot itu terlihat menyinari sesosok tubuh pemuda berpakaian gelap yang berdiri sambil bersandar kusen gawangan pintu. tangannya yang pucat namun kekar berotot kehijauan menggenggam gagang sebatang tongkat besi hitam berukiran kepala tengkorak yang terbuat dari perak.
Saat angin senja yang berhembus menyibak rambut panjang hitamnya yang terikat selembar kain batik lurik, terlihatlah seraut wajah pucat dan dingin. meskipun pemuda ini agak menunduk tapi anehnya orang dapat mengira kalau parasnya cukup menarik dan misterius.
''Jaa., jadi benar berita yang kita dengar, gaa., gadis pimpinan 'Lima Elang Api' itu sedang bersama dengan pemuda pincang keparat itu. sia., sialan., sepertinya urusan ini tidak akan semudah yang kita bayangkan..'' ujar salah seseorang luar disana dengan bibir gemeletuk menahan perasaan seram.
''Laa., lan., lantas aa., apa yang mesti kita perbuat sekarang. tee., tet., tetap berusaha masuk gubuk dan meng., mengha., bisi mereka atau memilih mun., dur lebih dulu untuk mencari bala ban., ban., tuan.?" tanya orang lainnya tergagap tidak kalah takutnya.
''Huhm., kalian tidak perlu merasa ketakutan seperti anak kecil. kami berdua memiliki suatu benda pusaka yang pastinya mampu membuat kita semua bukan saja selamat, tapi juga akan membuat si pincang keparat itu berlutut tidak berdaya..'' dengus salah satu dari kedua orang yang berumur paling tua diantara semuanya.
Keduanya adalah lelaki tua enam puluh lima tahunan, berambut pendek dan sudah ubanan. yang sebelah kiri hidung kecilnya pesek nyaris rata dengan mukanya yang lebar serta memakai pakaian berwarna merah dengan celana selutut. disebelahnya berdiri seorang lelaki gemuk pendek berpakaian rompi kuning. ditengah kepalanya yang kecil dihiasi sebuah hidung besar sehingga nampak aneh. kedua orang tua itu sama membekal tongkat besi pendek yang ditancapi bola besi berduri.
Dengan pandangan mata dingin Pranacitra sekejap menyapu sekelilingnya. ''Jumlah mereka lebih sepuluh orang termasuk dua orang yang sudah mati. kalau kulihat selintas hanya dua orang tua berbaju merah kuning dengan pentungan besi berduri itu yang lumayan berilmu. tadi sempat kudengar kalau mereka punya senjata pusaka yang katanya sanggup membuatku bertekuk lutut..''
''Hee., he., menarik juga. aku agak penasaran pusaka macam apa yang mereka andalkan..'' pemuda itu terkekeh dalam hati. ''Hari sudah diujung senja pertanda waktunya orang untuk beristirahat. tapi sekarang justru 'Dua Dedemit Merah Kuning' malah datang bertamu. ada urusan apa kalian sampai jauh meninggalkan sarang di bukit Cimauk tanah Pasundan.?''
Kedua orang tua itu terkejut saling pandang. ''Haa., ha., tidak kusangka kau kenal juga dengan kami berdua. terus terang saja sebenarnya semua orang yang berada disini tidak ada urusan apapun denganmu. kita hanya mencari seorang gadis muda pimpinan dari Lima Elang Api yang kutahu berada didalam gubuk itu..''
''Kedua orang yang telah mati terbunuh itu bisa kita anggap sebuah ketidak sengajaan. tapi kami harap kau jangan turut campur urusan ini. meskipun kuakui nama besarmu mampu menggocang rimba persilatan, tapi itu belum cukup untuk membuat kami gentar.!'' gertak si 'Dedemit Merah' sementara rekannya si 'Dedemit Kuning' memberi isyarat semua orang untuk mulai merapatkan kepungan.
''Orang yang kalian cari berada didalam gubuk. tapi jika menginginkannya mesti menunggu dia keluar..'' ujar Pranacitra hambar. ''Kenapa mesti menunggunya keluar, bukankah lebih mudah untuk masuk gubuk dan menyeretnya keluar.!'' bantah Dedemit Kuning. orang itu masih mencoba berkoar, tapi saat melihat sorot mata dingin lawannya, perasaan seram dan dingin seketika merasuki jiwanya.
''Kau ingin tahu kenapa tidak boleh masuk ke dalam gubuk. dengar demit tolol berhidung besar., gubuk reot ini milikku dan gadis yang sedang kalian buru adalah tamuku. tentunya kalian juga paham., kalau seorang tuan rumah wajib melindungi dan melayani tamunya..''
Terdengar suara dengusan dan umpatan kotor dari mulut para pengepung. 'Dua Dedemit Merah Kuning' juga merasa sangat gusar hingga berniat untuk mulai melabrak. tapi semuanya langsung berteriak kaget dan ngeri sambil berebutan menghindar sejauhnya saat melihat sembilan larik cahaya hitam pekat berhamburan dari sebatang tongkat besi yang bergerak menusuk ke depan dan diakhiri sebuah pukulan telapak tangan semerah bara api yang menebar bau anyir busuk.!
Hawa panas yang menghampar udara disertai bunyi ledakan beruntun sekeras deru halilintar menyambar bumi membuat suasana senja hari yang tadinya hening berubah menjadi kacau. jeritan penuh rasa ngeri dan ketakutan bercampur dengan gulungan debu angin keras yang menutupi pandangan.
Saat segala yang menghalanginya berlalu terlihatlah suatu pemandangan seram yang menggidikkan hati. ditengah halaman gubuk reot itu bergelimpangan belasan sosok mayat dengan tubuh hangus berlubang. kepala sebagian mayat rengkah dengan darah seisi otaknya berhamburan. banyak juga yang mati dengan dada hancur melesak berbentuk telapak tangan berwarna merah darah.
Lutut semua orang yang tersisa disana terlihat bergetar. wajah mereka pucat pias melebihi pucatnya mayat. Dua Dedemit Merah Kuning sampai hampir terkencing dicelananya. meskipun keduanya sudah sering mendengar kesadisan cara membunuh bajingan pincang ini, tapi sungguh mereka tidak pernah menyangka kalau dia begitu gila.
Sekali serang langsung mampu membantai belasan orang tanpa pernah memberi peringatan atau kesempatan lawan untuk bersiap lebih dulu. biarpun keduanya juga pesilat jahat yang sering bermain licik untuk menang tapi tidak pernah mereka membunuh sekejam ini.
''Eehm., ituu., itu., aku tadi cuma merasakan tanganku yang terlalu lama menggengam tongkat menjadi gatal, pegal dan kesemutan. jadi tanpa dapat kutahan semuanya keluar begitu saja. Hee., he., Nyuwun Ngapunten., Kulo Mboten Sengojo..'' (minta maaf., saya tidak sengaja..) ujar Pranacitra nyengir lugu. tapi bagi para lawannya yang tinggal lima orang saja senyuman bodohnya itu lebih mirip seringai kematian malaikat maut.!
*****
Mohon maaf jika ada ungkapan yang kurang berkenan dalam penulisan cerita dibab iniπ., Terima kasih.π