Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Pertarungan di tepian sungai canggu. (bag2)


Serbuan hampir tiga puluhan orang murid perguruan silat 'Gading Emas' meskipun tidak sampai membuat Jingga Rani gentar, namun dalam beberapa gebrakan awal sempat juga merepotkan dirinya. baru setelah lewat lima enam jurus dengan berbekal senjata cakar elang bajanya gadis itu perlahan mulai mampu membalik keadaan..


Tiga orang murid yang menjadi korban pertamanya dibuat terjungkal roboh. meskipun cuma satu yang terluka parah diperut akibat sambaran senjata cakar elang bajanya, tapi dua orang lainnya juga tidak mampu bangun lagi setelah tendangan dan sodokan siku Jingga Rani menghajar perut dada mereka.


Jingga Rani benar- benar naik darah. apalagi sifat dasar gadis ini memang rada angkuh serta suasana hatinya juga sedang kesal, membuat dia seakan mendapat tempat pelampiasan. sepasang cakar bajanya walau sudah setengah somplak dan agak bengkok akibat dihantam pukulan Pranacitra tempo hari, tapi senjata itu tetap saja berbahaya.


Dengan jurus silat yang diambil berdasarkan gerakan seekor elang buas sedang memburu mangsa, tubuh Jingga Rani berkelebatan diantara hujan senjata cula besi mirip gading gajah ditangan para murid padepokan Gading Emas. puluhan kali suara bentrokan senjata terdengar diantara jerit kesakitan dan makian kotor penuh amarah.


Berturut- turut gadis cantik pimpinan dari 'Lima Elang Api' itu melancarkan jurus 'Cabikan Cakar Elang Terbang' yang disusul dengan 'Cakar Elang Merah Sungsang' hingga tidak dapat ditahan dua orang lagi pengeroyok roboh tersungkur mandi darah. meskipun jumlahnya terus berkurang, tapi mereka justru semakin rapat mengurung Jingga Rani.


Kejadian pertarungan sengit ditepian sungai Canggu itu membuat para pengunjung warung berserabutan keluar, meskipun takut terkena sasaran tapi beberapa orang juga enggan untuk melewatkannya hingga masih berdiri menonton dari kejauhan. sementara pemilik warung dengan panik dan menggerutu segera menutup warungnya lantas ikut berlari keluar bersama para pelayannya.


Dalam kalangan pertarungan itu yang terlihat hanyalah kelebatan bayangan jingga yang bergerak diantara kepungan orang berbaju kuning. sambaran angin serangan jurus para petarung itu membuat tanah basah ditepian sungai berserabutan kesegala arah. dipimpin oleh Gading Arwana, para murid Nyai Gading Wikuni itu terus berusaha mendesak lawan. tapi hingga jurus ke lima belas korban dari pihak pengeroyok sudah bertambah tiga orang lagi, bahkan dua diantaranya dipastikan mati.!


''Aakh., sialan. Ibunda segeralah tolong kami., perempuan hina ini harus dapat kita habisi secepatnya.!'' seru Gading Arwana ngeri. terpaksa dia meminta pertolongan ibunya karena hampir saja punggungnya tercabik cakar elang baja beracun lawan.


''Dasar pemuda manja, kenapa kau tidak bersembunyi saja dibawah ketiak ibumu.!'' maki Jingga Rani mengejek sambil kirimkan dua tendangan dan babatan cakar bajanya. seorang lagi tumbang tertendang sementara yang satu tercabik wajahnya hingga turun ke leher. darah tersembur dari mulut lukanya yang mengerikan dan otot jakun yang terbetot.


Melihat kejadian itu, Nyai Gading Wikuni sang ketua perguruan Gading Emas tidak dapat lagi menahan diri. ''Perempuan keparat., beraninya kau membunuh murid- muridku. hari ini akan aku tunjukkan jalan kematian bagi dirimu.!'' bentaknya garang. sekali kakinya menutul tanah, tubuh gemuk perempuan setengah baya yang bergelar si 'Gading Gajah Sakti' itu meluruk ke depan.


''Minggir kalian semuanya, biar aku sendiri yang menghabisinya.!'' pakik Nyai Gading Wikuni. senjata tongkat gading gajah purba di tangannya berputar beberapa kali hingga menimbulkan gulungan angin keras yang menderu. saat dihantamkan kekuatannya bagaikan serbuan puluhan ekor gajah sedang mengamuk.


''Haa., ha., dasar perempuan tengik. kau bakal rasakan pembalasan yang setimpal dari guru kami.!'' sorak para murid Nyai Gading Wikuni. ''Huhm gadis sundal., sudah terlambat bagimu untuk menyesal. kekuatan ibundaku tidak akan mampu kau tandingi. bunuh dia Bu., habisi secepatnya.!'' teriak Gading Arwana geram.


Biarpun merasa jengkel dengan seruan para murid Nyai Gading Wikuni dan umpatan kotor Gading Arwana, tapi Jingga Rani tidak dapat berbuat banyak karena dia harus mengakui tekanan dari serangan lawannya berkali lipat lebih mengancam daripada saat dia dikeroyok.


Jika sebelumnya dia masih mampu dengan tenang berkelebatan di antara cula gading besi para murid perguruan Gading Emas sekaligus menghantam jatuh mereka, sekarang keadaan menjadi berubah. jangankan untuk balas menyerang, agar dapat lolos dari sapuan dan gebukan tongkat sakti lawan dia mesti kerahkan seluruh ilmu ringan tubuhnya.


Kalau saja Jingga Rani tidak memiliki ilmu silat tinggi dan senjata sakti cakar elang besi beracun, mungkin sudah sejak awal gebrakan dia menjadi pecundang. meskipun ilmu meringankan tubuhnya yang dinamai ajian 'Elang Layang Langit' sangat hebat, tapi jika terus ditekan seperti ini hanya tinggal menunggu waktu saja dia akan terjungkal roboh.


''Orang tua gemuk keparat, jangan dikira aku sudah kalah.!'' rutuk Jingga Rani menghapus tetesan darah dari ujung bibirnya yang indah. meskipun lolos dari maut tapi tekanan tenaga sakti yang besar dari tongkat lawan tetap saja membuat rongga dadanya sesak dan jalan darah menjadi agak kacau.


Sementara mulutnya berbicara sepasang cakar elang baja ditangan juga bergerak ke atas. kepulan asap merah dan kobaran bara api menyelimuti senjata itu. saat berikutnya sepasang cakar membabat bersilangan ke depan. ilmu kesaktian 'Cakar Asap Neraka' menyambar mengejar korban.!


''Gadis jahanam., kau memang tidak dapat diberi ampun. mampuslah.!'' damprat Nyai Gading Wikuni. meskipun marah dia maklum dengan kehebatan ilmu kesaktian lawan. tongkat gading gajah purba disilangkan di depan dadanya. dengan tiga kali putaran tongkat. timbul gelombang angin keras yang menyerupai bayangan gajah raksasa berwarna kehijauan.


''Haa., ha., lihat Nyai guru sudah mengeluarkan ajian 'Gajah Wesi Jagad Ijo.!'' seru seorang murid mengenali ilmu kesaktian gurunya. ''Gadis sialan itu pasti mampus sekarang. Aah., sayang sekali. padahal dia sangat cantik dan menggairahkan. tapi inilah akibatnya jika berani melawanku.!'' timpal Gading Arwana geram sekaligus agak menyesal.


Sepuluh larik cahaya dan asap merah panas melabrak. gajah hijau raksasa meraung keras meluruk kedepan. hempasan angin yang ditimbulkan sampai membuat beberapa batang pohon tumbang terlibas. sebagian dinding warung makan bahkan ada yang terlepas mental lalu hancur diudara.


Dua kekuatan bertemu, ledakan sangat keras itu sempat membuat aliran sungai Canggu terhenti dan semburat tinggi ke udara. banyak murid perguruan Gading Emas yang turut terpelanting. beberapa orang yang berilmu lebih tinggi termasuk Gading Arwana jatuh terduduk. debu bercampur tanah becek berhamburan kesegala penjuru.


Nyai Gading Wikuni tetap berdiri ditempatnya. sebelah tangannya tekulai lemas. jubah kuningnya robek- robek dan bernoda darah bekas cabikan. tubuh wanita gemuk ini terus gemetaran. jika saja tongkat sakti gading gajah purbanya terlepas dari tangan kirinya, mungkin diapun akan tumbang ke tanah.


Dijurusan lain Jingga Rani menjerit tertahan seiring dengan tubuhnya yang terhempas kebelakang. darah yang bergolak tersembur dari mulutnya. setelah beberapa kali gagal berusaha bangkit berdiri, gadis cantik ini hanya bisa terkapar. dia masih sempat melihat Gading Arwana dan beberapa rekannya yang perlahan datang menghampirinya dengan pandangan mata menjijikkan.


Jingga Rani terbatuk keras. karena tubuhnya terbaring diatas tanah, darah yang tersembur malah membasahi bibir dan wajah cantiknya sendiri. sebagai pesilat wanita yang berpengalaman dia tentu paham arti seringai buas di bibir Gading Arwana dan para murid padepokan Gading Emas.


Butiran air bening menetes dari kedua sudut matanya. mungkin dalam petualangannya merambah ganasnya rimba persilatan baru kalu inilah dia merasa sangat takut. meskipun mati terbunuh bukan soal baginya, tapi jika harus terhina kesuciannya tentu dia lebih memilih bunuh diri. sayangnya., dia bahkan tidak punya tenaga untuk dapat melakukan itu. dalam ketakutannya dia teringat seseorang. ''Sob., sobat pin., cang. tol., tolong lah aa., aku..'' gumamnya perlahan.


Sebelum tidak sadarkan diri telinganya sayup mendengar suara siulan yang bernada memedihkan hati. seiring dengan itu udara di sekitar seakan menjadi dingin dan suram. entah kenapa tanpa sadar hati semua orang turut bersedih sekaligus merinding.


Mungkin tidak ada satupun yang dapat memastikankan siulan lagu memilukan itu menggambarkan apa. Jingga Rani tidak tahu juga tidak perduli apakah semua yang dia dengar hanyalah khayalan semu semata ataukah sebuah kenyataan. tapi yang jelas hatinya terasa damai dan tenang.


*****


Mohon sertakan komentar, kritik saran, like👍, vote atau favorit👌 jika anda suka. silahkan share juga novel ini ke teman" anda yang lain. Terima kasih.🙏