Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Tiga tahun di dalam goa.


Hujan deras yang mengguyur bumi sudah berlangsung cukup lama, namun masih belum ada tanda curahan air akan berhenti dari atas langit. sesekali terdengar suara gemuruh guntur dan sambaran petir yang seakan merobek langit.


Seorang pemuda pincang berbaju warna gelap dan membawa sebatang tongkat besi hitam sedang duduk berlindung di bawah sebuah gubuk kecil, tempat para petani beristirahat setelah lelah menggarap sawah. mata pemuda yang bernama Pranacitra itu memandang sekelilingnya yang berupa persawahan luas.


Atap gubuk di tengah sawah itu hanyalah terbuat dari anyaman daun dan tumpukan jerami kering. tiang dan dindingnya yang terbuat dari bambu dan cuma tertutup separuh setinggi dada orang saja membuat air hujan dapat masuk saat terhempas angin.


Pakaian si pemuda yang terbuat dari kain tebal dan sudah lusuh terlihat basah kuyup. namun Pranacitra sepertinya tidak perduli, hujan lebat dan angin yang berhembus kencang membuat tanaman padi yang mulai menguning menjadi porak- poranda dan terendam air yang membanjiri persawahan. mungkin si pemilik sawah bakal kecewa karena terancam gagal panen.


Pranacitra tidak tahu saat ini sedang berada di daerah mana. saat bermaksud hendak mencari sebuah perkampungan untuk membeli makanan pengganjal perutnya yang keroncongan, hujan deras sudah keburu turun. kebetulan sore itu dia sedang melewati sebuah persawahan yang sangat luas. jika ada sawah pasti dekat pula dengan perkampungan kaum petani yang tentunya ada juga warung penjual makanan.


Dengan bersandar di tiang gubuk pemuda itu sejonjorkan kedua kakinya di atas anyaman bilah bambu yang menjadi alas tempat duduk di gubuk itu. terdengar suara otot kaku yang berkerotokan saat kedua kakinya dia renggangkan.


Melihat kaki kirinya yang cacat, tanpa sadar dalam benaknya kembali terbayang peristiwa masa lampau saat pertama kali bertarung melawan 'Lima Begundal Brewok' bersama dengan Srianah si gadis pencopet cilik. meskipun menang dalam pertarungan pertamanya, tapi akibatnya kakinya menjadi pincang karena terputus urat betisnya. setelah mengalami begitu banyak kejadian, sampailah dia ke 'Lembah Seribu Racun'.


Dalam sebuah goa rahasia yang berada di dalam lembah itulah si pemuda berhasil mewarisi ilmu kesaktian tingkat tinggi dari lima orang tokoh silat aliran hitam yang paling di takuti kaum persilatan. meskipun untuk mendapatkannya terlebih dahulu si pemuda mesti melewati siksaan seratus tujuh tikaman pisau.!


Kelima tokoh silat kawakan golongan hitam yang terdiri dari Setan Kuburan, Iblis Naga Rembulan, Pengemis Tapak Darah dan Nenek Tabib Bertongkat Maut juga Burung Hantu Bungkuk Pencabut Nyawa itu mempunyai cara masing- masing yang kadang tidak masuk akal saat mengajarkan imu silat dan kesaktian mereka kepadanya.


Kalau teringat saat masih terperangkap di dalam goa bersama kelima orang tua itu, Pranacitra cuma bisa menarik nafas berat. dia sendiri heran bagaimana dapat sanggup bertahan hidup di sana sambil menjalani serangkaian latihan yang sangat berat sampai akhirnya keluar dari goa rahasia itu.


Nenek tua bermata besar yang di juluki 'Burung Hantu Bungkuk Pencabut Nyawa' selain mengajarinya ilmu silat 'Cakar Burung Hantu Buas' dan pukulan sakti, dia lebih mengutamakan pelajaran ilmu meringankan tubuh. alasannya dengan sebelah kaki yang cacat Pranacitra pasti akan kesulitan jika menghadapi kecepatan gerakan lawan. karenanya dia harus lebih cepat, ringan dan luwes dari siapapun.


Semua itu hanya bisa di dapat jika Pranacitra memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi. pemuda itu meraba kedua pergelangan kakinya yang keras. dalam lorong goa batu yang gelap kedua kakinya di ganduli batu besar, lalu berjalan bahkan berlarian menyusuri lorong goa tanpa boleh terdengar sedikitpun suara.


Jika dia gagal bukan saja caci maki dan pukulan yang dia dapat dari si nenek Burung Hantu Bungkuk, malah gandulan batu yang terikat di kakinya akan dibuat bertambah berat. mungkin pelajaran ini terdengar sangat kejam serta tidak manusiawi, tapi memang itulah yang terjadi.


Ada lagi seorang perempuan tua yang bukan saja punya ilmu silat tinggi tapi juga sangat ahli dalam pengobatan dan racun. dari orang yang di kenal sebagai si 'Nenek Tabib Bertongkat Maut' itulah Pranacitra tidak cuma di warisi ilmu silat hebat, namun yang paling dia utamakan adalah pengetahuan tentang ilmu racun dan pengobatan.


Cara si nenek mengajari pemuda pincang ini juga tidak kalah jahatnya dengan rekannya si Burung Hantu. bagaimana tidak., dia bahkan menggunakan tubuh si pincang sendiri sebagai alat untuk percobaan dan pengujian ilmu racunnya. pertama dia akan meracuni pemuda itu lantas memaksanya untuk membuat penawarnya sendiri. jika sampai gagal terpaksa Pranacitra harus menahan rasa kesakitan, panas dingin, ataupun gatal yang teramat parah. hingga keesokan harinya di saat dia hampir sekarat barulah si 'Nenek Tabib Bertongkat Maut' mau memberinya obat penawar racun itu. begitu seterusnya hingga berulang kali.


Seorang kakek tua bermuka pucat bengis dan gampang naik darah, berjubah putih penuh tambalan dan punya sepasang tangan yang berwarna merah berbau anyir. itulah ciri si 'Pengemis Tapak Darah'. orang tua ini mengajarinya ilmu silat dan pukulan sakti tingkat tinggi dengan cara yang sangat keji.


Awalnya dia membuat ratusan titik lubang kecil di kedua telapak tangan Pranacitra dengan menggunakan sebatang jarum yang di panasi hingga memerah. setiap tusukan jarum selain membuat luka berdarah juga mengakibatkan telapak tangan panas dan melepuh. saat darah sudah membasahi kedua tangannya, si pemuda malah di paksa untuk memukuli butiran pasir besi yang berada di dalam sebuah kuali batu dan di bakar diatas bara api. setiap harinya dia harus melakukan pukulan telapak tangan berdarah sebanyak seribu kali hingga kulit tangannya hancur terlihat tulang jarinya.!


Itu semua harus dia lakukan agar dapat menguasai ilmu pukulan sakti yang di ajarkan oleh 'Iblis Naga Rembulan'. yang paling sulit dalam latihan ini adalah bongkahan batu padas harus berlubang dan tembus tapi tidak boleh sampai hancur. pada latihan tahap akhir, batu padas itu harus mampu di buatnya hancur luluh menjadi butiran pasir halus dalam sekali pukulan.!


Seperti juga yang lainnya, jika gagal dalam berlatih batu padas yang mesti dia lubangi dalam latihan bukan saja tidak di kurangi, malah sebaliknya selain jumlah semakin banyak, ukurannya juga bertambah besar.


Latihan sangat keras yang di luar nalar manusia itu harus di jalaninya setiap waktu, siang malam tidak ada bedanya. pernah dia hampir menyerah dan berniat bunuh diri saking tidak tahan dengan beratnya latihan itu. namun saat teringat guru serta semua saudaranya yang mati di gunung Bisma juga janjinya pada Srianah si copet cilik, semangat hidupnyapun terbangkit kembali.


Orang tua yang terakhir mewariskan ilmu kesaktiannya tanpa banyak gerakan dan bicara. pertama kalinya kakek tua berjubah kelabu menyuruh Pranacitra untuk memainkan seluruh ilmu silat dan kesaktian yang dia miliki sebelum masuk ke dalam goa rahasia untuk di gunakan menyerangnya.


Dari hapalan ilmu silat yang pernah dia lihat saat masih di padepokan gunung Bisma hingga ilmu silat ajaran 'Malaikat Copet' langsung dia kerahkan untuk menggempur orang tua yabg bergelaran angker 'Setan Kuburan' itu. tapi tidak satupun yang mampu menyentuh ujung jubah orang tua sakti itu. hingga berganti saatnya si kakek menyerang.


Si Setan Kuburan sempat terkesiap saat melihat gerakan ilmu silat yang dia kenal betul. ilmu 'Langkah Aneh Mayat Hidup' yang di gunakan Pranacitra itu tentu saja dapat dia buat tidak berguna karena si Setan Kuburan sendirilah pencipta ilmu ini. hanya tiga jurus serangan saja pertahanan si pincang lansung jebol. tubuhnya terjungkal menggelinding di lantai goa.


Walaupun sempat merasa kaget, namun orang tua itu tidak bertanya dari mana si pincang mendapatkannya. empat rekannya biarpun juga turut keheranan tapi juga tidak bertanya apapun.


Pada akhirnya si Setan Kuburan mengajari Pranacitra beberapa ilmu kesaktian yang di milikinya. meskipun cara melatihnya tidak sampai berdarah- darah penuh rasa sakit, tetapi justru lebih menyeramkan. orang tua itu memeragakan cara menggunakan ilmu pukulan sakti miliknya hanya dengan sekali uraian dan gerakan saja tanpa ada pengulangan.


Semua gerakan silat dan penjelasan yang di ajarkan Setan Kuburan biarpun sangat terperinci tapi karena hanya di uraikan sekali saja membuat Pranacitra sangat kesulitan memahaminya. yang lebih membuatnya nyaris menjadi gila dan putus asa, orang tua itu juga memberinya ancaman kematian.


''Dengar bocah pincang sialan., aku hanya mengajarkan ilmu kepandaianku sekali saja. selanjutnya semua tergantung dengan otak, kesabaran jiwa dan juga keberuntunganmu sendiri..''


''Kalau dalam tiga tahun kedepan semua petunjuk ilmu kesaktian yang kuajarkan dapat kau pahami dan kuasai dengan baik, kau bisa pergi keluar dari tempat celaka ini dengan selamat. tapi sebaliknya., kalau dalam tiga tahun kau tetap gagal menguasainya., nyawamu pasti amblas di goa ini bersama kami berlima.!'' ancam si Setan Kuburan dengan suara dingin.


Darah Pranacitra seakan membeku. di antara lima orang tua jahat yang terperangkap dalam goa di 'Lembah Seribu Racun' ini, orang tua berjuluk si Setan Kuburan itulah yang paling dingin dan jarang bicara. tapi dalam hatinya si pemuda justru merasa kalau orang tua inilah yang hatinya paling telengas.


*****


Asalamualaikum., salam sehat sejahtera selalu.,


Terima kasih kami ucapkan kepada para reader pembaca atas segala koment, kritik saran dan dukungannya kepada novel ini.


Untuk pertama kalinya novel PTK ini awal minggu lalu bisa masuk rangking 8, πŸ€—πŸ˜πŸ‘πŸ‘ dalam vote. sekali Terimakasih banyakπŸ™ Wasalamualaikum.πŸ™