
Dalam perjalannya mengembara di dunia persilatan Pranacitra sudah banyak bertemu bahkan bertarung dengan orang- orang yang punya ilmu silat tinggi. beberapa diantaranya adalah para pesilat golongan hitam yang kejam. biarpun mereka sangat ditakuti karena kejahatannya yang kadang melewati batas, tapi Pranacitra tidak merasa gentar saat berhadapan dengan mereka.
Tapi sekarang di depan seorang wanita bejubah hitam dan berkedok kain putih yang telah menjebaknya di dalam goa ini, entah kenapa si pemuda justru merasa gelisah atau malah takut.
Wanita berkedok putih ini tancapkan obornya ke celah dinding goa lalu melangkah maju perlahan. sebaliknya Pranacitra bergerak mudur, tapi niatnya untuk kabur keluar goa tidak tercapai karena sekali menutulkan kaki, tubuh langsingnya sudah berkelebat cepat menghadang jalan keluar si pincang. bukan sekedar mencegat malah hampir bersamaan dua tangan halus berkuku tajam kemerahan yang berada di balik lengan jubahnya yang longgar menyambar kakung kantung kulit yang ada di leher si pincang.
Pranacitra sangat terperanjat. bukan saja karena kecepatan gerakan lawannya. tapi juga dengan sasaran yang dipilih lawannya. tapi pemuda ini memang punya sifat aneh, jika awalnya dibayangi ketakutan kini malah timbul rasa penasaran di hatinya.
Saat sepasang tangan lawan bergerak cepat memburu sasaran. pemuda ini tidak lagi mencoba mundur, tapi malah menerjang maju dengan gerakan langkah yang kaku. tubuh setengah membungkuk dan kepalanya menunduk. dari tubuh kurusnya keluar hawa menyeramkan dan gelombang angin tenaga sakti. seiring suara menggerung tinggi bagai jeritan setan penasaran pemuda pincang ini mulai memainkan ilmu silat 'Langkah Aneh Mayat Hidup.!'
Jarak antara Pranacitra dengan wanita berjubah hitam itu cuma beberapa langkah. dalam perhitungan wanita itu lawannya pasti mundur atau bergerak menghindar ke samping kanan kiri. tapi sungguh dia tidak mengira jika pemuda pincang ini malah memilih maju dengan kuda- kuda silat yang sepintas terlihat menggelikan tapi seakan juga membawa hawa kematian.!
Wanita berkedok putih itu keluarkan suara dengusan menghina, ''Ilmu silat bodoh tidak berguna seperti itu berani kau pamerkan di hadapanku. saat menyesal juga tidak akan ada gunanya lagi.!'' geramnya marah. kesepuluh jarinya yang berkuku merah terus menyambar. dari angin serangannya yang tajam menyayat udara, jelas dia tidak hanya berniat merenggut kalung tapi juga sekalian mencabik leher lawannya.
Hanya setengah sejengkal saja kalung kulit itu bakal terenggut, tapi hebatnya bayangan tubuh lawan seakan tiba- tiba lenyap dari hadapannya. sepasang sambaran tangannya menemui tempat kosong. belum lagi hilang rasa terkejutnya tongkat kayu si pincang sudah ganti bergerak kirimkan empat sodokan sekaligus ke arah perut dan dadanya lantas turun kebawah membuat tiga sapuan kearah kaki.
'Whuuuk., Whuuuk., Beeet.!'
'Dhaak., Dhaak.!'
''Bedebah pincang sialan.!'' maki wanita itu. jika saja dia tidak memakai kedok putih, pasti terlihat wajahnya yang pucat berkeringat dingin karena terkesiap dan ngeri. tapi wanita berkedok ini memang berilmu tinggi. mendapat serangan balik yang mengancam kaki dan sebagian tubuhnya sebelah atas, dia cepat menarik pulang serangannya, dari gerakan mencabik kedua tangannya berubah mengemplang dan memotong bersamaan kakinya membuat gerakan mundur dan menginjak beberapa kali.
Dalam sekali perubahan jurusnya, wanita ini bukan saja mampu menangkis serangan tongkat si pincang, tapi juga sanggup menendang patah tongkat kayunya.!
'Whees., Dhaas., Dhees.!'
'Jlaap., Ctaas, Kraaak.!'
Pranacitra tidak perdulikan tongkatnya yang tinggal separuh. dengan sisa senjatanya dia terus menerjang. menggebuk, menotok serta menyapu dilakukannya dengan waktu yang hampir bersamaan. tenaga sakti yang terpancar dari serangan tongkatnya sungguh mengejutkan.
Wanita berkedok putih kembali tercekat melihat kenekatan lawannya yang masih sangat muda. karena apa yang dilakukannya tidak ada bedanya dengan bunuh diri adu jiwa. jika dia teruskan cabikan sepuluh kukunya lawan pasti tewas, tapi akibatnya wanita itu juga bakal cedera parah atau bahkan sama- sama mati. di saat begini pemuda itu tidak terlihat lagi sebagai orang yang cacat dan lemah, melainkan mahkluk buas yang menakutkan.!
Wanita ini boleh jadi berilmu jauh lebih tinggi di bandingkan dengan Pranacitra. tapi soal keyakinanan untuk beradu jiwa, dia bukan tandingan si pincang yang telah berani menantang partai terkuat dalam aliran hitam. jika ada orang yang sudah menganggap hidupnya cuma menunggu ajal dan pernah mendapat siksaan teramat berat yang tidak pernah terbayangkan oleh siapapun, lalu ancaman maut apa lagi yang perlu dia takutkan.,
Dengan merutuk dalam hati wanita berkedok itu kembali menarik balik serangannya. sebelum melompat mundur dia sempat sekejap mengibaskan lengan bajunya untuk lepaskan satu pukulan tangan kosong bertenaga dalam tinggi. rupanya dia juga tidak mau sampai dipandang takut beradu nyawa melawan seorang yang cacat hingga meskipun waktunya sangat sempit dia tetap memaksakan diri membalas.
''Haa., ha., kau bilang ingin merebut batu sakti dariku., tapi kenapa kau malah mundur. jika takut beradu nyawa kenapa tidak pulang saja ke pangkuan bapakmu..'' ejek si pincang tergelak membuat wanita itu semakin gusar. sementara mulut bicara mengejek, tangan kirinya yang sedari tadi berada di belakang punggungnya mendadak menghantam. tidak terdengar ada sambaran angin menggebrak, tapi di mata wanita itu tangan kiri si pincang seolah dapat memanjang dan berubah kehitaman sekeras besi, menyambar serta mencabik secepat petir.
Wanita berkedok itu terpekik keras, marah bercampur kaget sekaligus ngeri. meskipun dalam dunia persilatan dia memang pernah mendengar kalau ada beberapa ilmu kesaktian yang mampu memanjangkan dan melenturkan tubuh serta tulang. tapi baru kali inilah dia menghadapinya secara langsung. hebatnya kedua tangan pemuda pincang ini bukan saja dapat mulur panjang tapi dalam sekejap bisa di tarik memendek seperti sebuah pegas hitam.
Dalam keadaan bergerak mundur untuk menghindari serangan, wanita itu beberapa kali sempat berusaha menendang dan memukul patah tangan si pincang. tapi usahanya bukan saja gagal, malah kedua tangan kakinya yang jadi kesemutan saat menghantam kedua lengan yang berubah sekeras besi itu.!
Tanpa ampun lagi perempuan berkedok kain putih itu terus terdesak hingga beberapa kali punggungnya membentur dinding goa. kesepuluh kukunya yang merah runcing seakan tidak lagi berguna. masih untung ilmu ringan tubuhnya tinggi hingga sampai lewat belasan jurus dia masih mampu bertahan. lagi pula akhirnya orang ini sadar juga kalau tangan itu cuma bisa memanjang tidak lebih dari satu tombak saja. selain itu pada tiga jurus terakhir tadi gerakan si pincang sudah mulai lamban.
Untuk kesekian kalinya sepasang lengan kehitaman menggebrak, kali ini Pranacitra sengaja menghantam sekuat tenaganya karena melihat lawan sudah terpojok ke sudut goa. biarpun lawan masih berusaha berkelit tapi tetap saja bahunya terhantam.
'Wheeess., Dhaaaass.!'
'Aaaaikh., Ammpuun.!'
Terdengar keluhan panjang yang menghiba dari balik kedok putih itu, kain di bagian mulut terlihat memerah tanda terluka dalam. Pranacitra sedikit tertegun dari menghantam serangannya berubah mencengkeram kedua lengan lawan lalu menariknya mendekat.
Wanita itu seakan pasrah tidak berdaya, tubuh semampainya lemas tanpa tenaga hingga tidak berkutik saat kedua lengannya terkunci. dia cuma merintih serta sedikit keluarkan suara tangisan kesakitan. seiring tubuhnya yang terseret wanita itu goyangkan kepalanya. selembar kedok kain putih kini terlepas, terlihatlah seraut wajah cantik jelita dengan rambut sehitam malam dan mata sebening permata.
Pranacitra bukan pemuda kebanyakan yang gampang terbuai paras secantik bidadadari. tapi melihat wajah jelita di depannya dia sedikit tertegun juga. tapi di luarnya pemuda ini tetap saja dingin tanpa perasaan. raut muka cantik itu sepintas terlihat heran, kini dia sudah berada di hadapan si pincang itu dengan kedua lengan tercengkeram erat. jarak mereka cuma selengan saja.
Pemuda dari gunung Bisma itu mendengus sinis, ''Jangan kau kira dengan raut wajah cantik dan sikap memelas kau bisa dengan mudah menggodaku., tapi meskipun ini pertarungan hidup mati, tapi diriku bukan orang kejam yang gampang turun tangan keji..''
Wanita bermuka cantik itu tertunduk lesu, dari bibir merahnya yang masih bernoda sedikit darah keluar suara helaan nafas pelan. ''Hhmm kau benar., ini pertarungan hidup dan mati. sejujurnya aku tidak pernah menyangka ada lelaki yang tidak terpengaruh oleh wajah secantik ini. baiklah., kalau kau tidak suka bagaimana dengan yang ini.?''
Di ujung katanya wanita cantik itu kembali goyangkan kepalanya, sekelebat asap putih muncul menutupi kulit wajahnya. saat asap itu hilang paras secantik dewi kahyangan itu turut lenyap berganti dengan muka seorang pemuda pucat penyakitan, dengan aura dingin yang penuh beban hidup.
Kali ini si pincang tidak dapat lagi menutupi keterkejutannya, dia sungguh terperangah karena melihat wajah yang ada di depannya itu bukan lain adalah wajah Pranacitra sendiri. seumur hidup bahkan dalam mimpipun pemuda ini tidak pernah percaya ada kejadian seaneh itu di dunia.
Saat dia tersadar semuanya telah terlambat. cengkeramannya yang agak mengendor membuat kedua lengan lawan terlepas. sepasang tangan halus berkuku panjang merah bergerak mencabik dan menghantam dengan kekuatan tenaga dalam penuh.!
Tubuh Pranacitra terhempas jatuh hingga membentur dinding goa batu. darah tersembur dari mulutnya. kalung kantong kulit berisi batu sakti Nirmala Biru sudah terenggut dari lehernya.
Wanita berjubah hitam yang punya kepandaian merubah wajah ini pandangi kalung kantung kulit yang berada di tangan kanannya. seringai puas sekaligus jahat tersungging di mulutnya. tidak terlihat dia pernah terluka dalam. noda darah yang tadinya terlihat di bibirnya juga lenyap tanpa bekas.
Perlahan wajah Pranacitra lenyap berselimut asap tipis. sesaat kemudian muncul sebuah muka buruk berbulu hitam dengan hidung besar. suara ngrook., ngrook., seperti orang tidur mengorok atau dengusan babi liar terdengar dari mulutnya yang bertaring melengkung. seraut wajah jelek yang mirip dengan seekor celeng hutan ada disana.!